Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Don't Baby Me, I'm Not Your Baby Anymore!


__ADS_3

Weekend ini, Cris dan Rio pulang ke rumah besar orang tua mereka. Papi dan maminya akan sampai besok subuh di Batam dari perjalanan panjang mereka. Keduanya melakukan perjalanan panjang dengan jet pribadi selama beberapa bulan terakhir. Cris dan Rio berencana menjemput kedua orangtua mereka di bandara.


Cris dan Rio sedang bersantai di ruang TV. Keduanya bercakap-cakap membahas perkembangan pencarian adik bungsu mereka yang sudah setahun berjalan tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.


Rio menceritakan perkembangan pencarian dari detektif yang disewanya. Begitupun dengan Cris. Pernah beberapa kali Cris mendapat informasi ada korban tindakan penganiayaan, kecelakaan bahkan perkosaan dan pembunuhan yang ciri-cirinya mirip dengan Rosa, adik bungsunya. Syukurnya, setelah Cris mengirimkan foto terakhir adiknya itu kepada rekan sejawat yang memberi informasi tersebut, tak satupun dari korban itu yang merupakan adiknya.


Handphone Cris berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Cris mengambil HP nya yang tak jauh dari si mbok yang sedang menghidangkan cemilan untuk kedua tuan mudanya itu.


"Halo, selamat siang dokter Zaki. Apa kabar?" Cris berbasa basi.


...


"Ada kabar baikkah, Dok?"


....


"Bagaimana maksudnya, Dok? Saya agak kurang paham."


....


"Apa dokter yakin?"


....


"Baik, Dok. Saya akan segera ke sana kalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Selamat siang."


Cris menutup panggilan telpon dengan seorang koleganya.


"Ada apa, Bang?" tanya Rio harap-harap cemas.


"Tadi senior Abang yang kerja di RS X Jakarta ngabarin kalau ada korban pembunuhan yang menurut warga yang mengantar korban merupakan pendatang di kampung mereka yang bernama Rosaline dengan ciri-ciri mirip adek Rosa, tapi wajahnya rusak karena pembunuh menyiramkan air keras ke wajah korban. Abang harus segera ke sana!" ucap Cris yang entah kenapa kali ini hatinya sedikit cemas.


"Aku ikut, Bang."


"Gak, kamu di rumah aja, Yo. Abang kabarin nanti apapun yang terjadi. Abang cuma mau mastiin itu Rosa atau bukan."


"Tapi, Bang ...."


"Abang gak pengen mami sampai tau hal ini. Jadi kamu tetap di sini biar gak menimbulkan kecurigaan. Kalau nanti mami tanyain Abang, bilang Abang ada operasi mendadak!"


"Ya udah," Rio menurut.


Cris lalu memesan tiket ke Jakarta dan segera berangkat ke bandara di antar oleh Rio. Sementara si mbok yang sedari tadi menguping pembicaraan abang dan adik itu segera berlari ke kamarnya dan mengambil HP lalu segera mendial nomor Rosa yang diberinya nama 'Nak Alin'.


Beberapa kali mencoba, tetapi telpon yang ditujunya tidak aktif membuat wanita tua itu semakin cemas. Takut kalau-kalau informasi yang didapat tuan mudanya tadi benar adanya. Berkali-kali si mbok mencoba menghubungi nona kecilnya, tapi tetap tak dapat dihubungi sehingga akhirnya wanita tua itu kelelahan dan tertidur di kamarnya hingga malam menjelang.


Sementara itu, tanpa tahu kegusaran kedua abangnya, Aline menikmati makan siang di Resto Abah bersama dengan keluarga angkatnya dan juga om Rahman dan aunty Jessy, istrinya. Seperti yang disampaikan oleh om Rahman kemarin, ia berjanji tidak akan mengungkap identitas Aline, tetapi beliau juga menegaskan kepada Abah dan Bunda bahwa Aline ini masih memiliki keluarga, hanya saja memilih untuk hidup mandiri. Hal ini dianggap perlu dilakukannya agar orang tua angkat Aline tahu batasan dan mampu menghargai hak-hak gadis itu. Sekalipun ia melihat bahwa keluarga angkat keponakannya itu merupakan keluarga baik-baik, tetap saja pak Rahman merasa perlu melakukan hal ini. Sementara abah dan bunda menganggap jika hal ini wajar saja dilakukan. Kedua keluarga bercengkerama penuh keakraban di ruangan private Resto dan Cafe Abah yang saat ini tren dengan sebutan RCA di kalangan anak muda, pelanggan setianya.


Saat sore menjelang, Pak Rahman dan istrinya berpamitan dan memaksa Aline untuk ikut bersama menginap di rumah mereka. Mau tidak mau, Aline terpaksa mengikuti. Setelah berpamitan, ketiganya bertolak ke kediaman pak Rahman.

__ADS_1


Sore itu, Aline sedang duduk dan ngobrol santai di teras samping rumah oomnya. Baik Rahman maupun istrinya, Jessy, tidak ada yang menyinggung perihal perjodohan yang direncanakan oleh Derry Tiocandra. Mereka menghargai privasi keluarga itu. Mereka lebih banyak membahas perkuliahan Aline dan pekerjaannya.


Di saat yang bersamaan, pesawat yang ditumpangi Cris mendarat di Bandara Soetta sore itu. Cris langsung menuju RS X sesuai petunjuk dr. Zaki. Ia menghubungi seniornya itu saat memasuki taksi dari bandara. dr. Zaki yang saat itu sedang berada di rumah segera bersiap menuju RS tempat ia berpraktik untuk bertemu dengan Cris dan membantu juniornya itu untuk mencari adiknya yang menghilang sejak setahun yang lalu.


dr. Zaki sampai bersamaan dengan Cris yang turun dari taksinya. Keduanya lalu bersalaman.


"Maaf, Dok, saya mengganggu waktu istirahatnya."


"Tidak apa-apa, dr. Cris. Saya senang bisa membantu."


"Terima kasih, Dok. Bisa kita langsung saja?"


"Sure. Silakan lewat sini. Saya tadi sudah menghubungi pihak RS meminta izin. Semoga bukan adik Anda, dr. Cris."


"Semoga saja, Dok. Saya merasa sangat cemas kali ini."


"Iya. Kondisi korban benar-benar memprihatinkan. Sampai saat ini belum ada sanak keluarga almarhumah yang datang mencari atau menjemput jenazah korban."


Mereka berjalan menyusuri koridor panjang RS menuju ruang jenazah yang terletak di bagian paling belakang sebelah kiri RS. Baik Cris maupun Zaki mengayun langkah panjang mereka untuk segera melihat jenazah yang bernama Rosaline itu.


Sesampainya di ruangan jenazah, Cris lalu membuka kain penutup jenazah. Dengan perasaan takut dan tangan bergetar, ia meneliti korban. Benar, ada banyak kemiripan fisik antara korban pembunuhan ini dengan adiknya Rosaline. Cris menarik napas dalam-dalam. Ia berdoa semoga jenazah ini bukan jenazah adik tercintanya. Rambut jenazah ini berbeda dengan rambut adiknya. Jika rambut wanita ini berwarna hitam legam dan ikal dengan helaian yang cukup kasar, rambut adiknya berwarna dark brown, lurus dan halus. Tetapi itu saja tentu belum cukup membuktikan bahwa jenazah ini bukan jenazah adiknya. Bisa saja adiknya hidup susah dan tidak ada waktu untuk merawat dirinya apalagi ke salon untuk sekedar melakukan perawatan rambut. Lalu, Cris meminta izin untuk memeriksa mata korban sebelah kiri yang selamat dari air keras. Rosaline tidak memiliki tanda lahir. Bahkan tahi lalatnya juga tidak ada di sekitaran wajah. Entahlah jika di bagian lain. Tapi Cris sungguh tidak tahu jika soal itu. Satu-satunya harapannya adalah bagian mata. Adiknya memiliki bola mata sebiru samudra. Untung saja sebelah mata jenazah ini masih selamat dari penyiraman air keras itu. dr. Zaki lalu mengambil handscun dan memakainya. Lalu ia juga mengambil senter mata dari dalam sakunya. dr. Zaki mulai memeriksa mata korban. Cris memastikan betul-betul bahwa korban sedang tidak memakai softlens. Ia bernapas lega begitu memastikan bahwa korban bermata hitam. Hal itu tak luput dari perhatian dr. Zaki. Ia turut bernapas lega. Lalu, Cris pun menanyakan apa golongan darah korban. dr. Zaki lalu mengambil file korban dan membacanya. Ia mengatakan bahwa korban bergolongan darah AB, dan itu membahagiakan untuk Cris. Fix, jenazah ini bukan jenazah adiknya, Rosaline. Adiknya itu bergolongan darah O, sama seperti dirinya. Itu artinya, masih ada kemungkinan bahwa adiknya itu masih hidup. Semoga saja.


Setelah melakukan pemeriksaan, Cris mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dr. Zaki. dr. Zaki bahkan menawarinya untuk menginap di rumahnya. Namun Cris menolak dengan alasan bahwa ia tidak ingin merepotkan dr. Zaki lebih lama lagi dan letak hotelnya juga tak jauh dari bandara, sehingga ia bisa segera kembali ke Batam esok pagi-pagi sekali. dr. Zaki akhirnya mengalah dan mengantarkan Cris ke hotel tempat ia menginap. Lalu, mereka bersalaman dan berpisah. Cris memesan kamar dan membersihkan diri. Setelah mandi, ia menelpon Rio dan menyampaikan kabar ini. Setelah itu, ia pun turun ke resto untuk makan malam karena jam sudah menunjukkan pukul 19.30.


Jam sudah menunjukkan jam 8 malam ketika makan malam itu berakhir. Setelah istirahat sejenak menemani om dan tantenya, Aline pamit untuk istirahat di kamarnya. Sementara pak Rahman dan istrinya masih menonton film di ruang TV.


Aline : Assalamu'alaikum. Maaf, Kak, HP aku mati seharian ini. Baru aktif🙏


(send)


Ethan : Wa'alaikumsalam. Iya, gak papa. Besok kamu sibuk?


(send)


Aline : Besok aku ada acara, Kak. Ini lagi nginap di rumah oom dan tanteku.


(send)


Ethan : Oh, ya udah. Lain kali aja. Kamu istirahat gih.


(send)


Aline : Oke. Wassalamu'alaikum.


(send)


Setelah memastikan pesannya dibaca oleh Ethan, Aline lalu mulai membalas chat dari Arya.


Aline : Assalamu'alaikum. Jangan telpon. Kita chat aja.

__ADS_1


(send)


Sengaja Aline mengirim chat begitu karena ia tahu bahwa Arya pasti akan menelponnya bila ia tidak melarangnya.


Arya : Wa'alaikumsalam. Oke.


(send)


Aline : Bisa ketemu besok? Di Green Cafe jam 10?


(send)


Green Cafe adalah cafe yang cukup terkenal dan sempat viral yang berada di sebuah mall, tak jauh dari kediaman om Rahman.


Arya : Oke. Insya Allah.


(send)


Aline hanya membaca tanpa ingin membalas.


Arya : Terima kasih, Sayang.


(send)


Aline : Untuk?


(send)


Arya : Waktu dan kesempatannya.


(send)


Aline : Sama-sama.


(send)


Arya : Kamu sedang ngapain?


(send)


Aline : Sampai ketemu besok. Assalamu'alaikum


(send)


Arya : Wa'alaikumsalam. Good night, Baby.


(send)


Aline membaca pesan terakhir Arya. "Don't baby me. I'm not your baby anymore," lirihnya lalu meletakkan HP di nakas samping tempat tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2