Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Aryaka Revanno


__ADS_3

Arya menghela napas begitu Aline memasuki lift. Ia beranjak dari tempatnya berdiri sekarang, tepat di depan pintu ruangan pak Aditya, menuju meja absensi manual tepat di sebelah meja sekretaris atasannya itu. Lalu tanpa sepatah kata mengambil map paling atas yang ia yakini baru saja ditandatangani oleh Aline. Dan benar saja. Nama Aline dan tandatangannya berada di map dengan kode LG, yang artinya Subdivisi Legal. Arya tersenyum dengan sangat manis kepada Dian yang sedari tadi memperhatikannya, sehingga membuat gadis itu merona mendapat senyuman dari salah satu jejeran pria tampan di kantornya itu, namun terkenal sangat dingin pada wanita. Mimpi apa dia semalam sehingga mendapatkan senyum dari lelaki tampan di depannya ini.


"Pak Arya mencari sesuatu?" tanya Dian salah tingkah.


"Tidak. Saya hanya heran dengan Mbak yang tadi. Sepertinya sudah pulang saja padahal baru jam segini," dalihnya melihat jam tangan yang bahkan belum menunjukkan jam tiga sore.


Dian mengangguk mengerti. "Oh, Aline maksud, Bapak? Aline memang beda, Pak. Jam kerjanya hanya sampai jam 14.30."


"Bukan jam 17.00?"


"Bukan, Pak. Saya juga kurang tau kenapa bisa begitu. Pak Adit gak menyebut alasan detailnya."


"Ooh. Ya sudah kalau begitu. Saya permisi."


"Silakan, Pak".


Arya kembali ke ruangannya di Subdiivisi Proyek. Ya, Arya merupakan Kepala Subdivisi Proyek Atmaja Corp. Arya merupakan anak salah satu pendiri dan pemegang saham di perusahaan tersebut. Arya sendiri adalah kakak tingkat Aline saat di Australia dulu, hanya saja ia di Teknik Sipil sementara Aline di Teknik Arsitektur. Keduanya merupakan mahasiswa berprestasi di kampus mereka. Arya yang tampan sangat memuja Rosaline yang cantik. Dimana ada Rosaline, pasti ada Arya. Keduanya tak terpisahkan, hingga malam itu.


Flashback on:


Arya menunggu Aline di lobby apartemennya. Setelah lulus kuliah, Arya memutuskan untuk bekerja di negeri kanguru itu sampai gadisnya juga lulus kuliah. Rosaline, Aline adalah gadis yang sangat dicintainya. Hubungan mereka sudah berjalan lebih dari satu tahun. Gadisnya itu sedang berbelanja di supermarket tak jauh dari sana. Ketika sedang menunggu, Arya bertemu dengan Nadia, mantan pacarnya saat cinta monyet zaman SMA dulu. Keduanya larut dalam obrolan mereka. Aline yang sudah kembali dari acara berbelanjanya hanya mengawasi tak jauh dari pintu samping lobby dimana ia memarkirkan mobilnya. Hingga Nadia mencium tepat di bibir Arya dan dengan bodohnya Arya terbuai dan membalas ciuman itu walaupun hanya sesaat, ketika kesadarannya kembali, lelaki itu segera mendorong tubuh Nadia menjauh dari tubuhnya. Namun sayang, semua itu tak luput dari penglihatan Aline. Akan tetapi, Aline memilih diam dan pura-pura tidak melihat kejadian itu. Ia berjalan ringan menuju pasangan yang baru saja berciuman itu dan menyapa kekasihnya seolah tidak melihat apapun.


"Sayang," panggilnya. Arya yang kaget dengan kedatangan Aline menjadi kikuk dan salah tingkah.


"Iya, Sayang. Kamu udah selesai belanjanya?"


"Udah, nih," jawabnya sambil mengangkat kantong berisi belanjaannya. Matanya kini beralih pada gadis di sebelah kekasihnya


"Oia, Sayang, kenalin ini temen SMA aku. Namanya Nadia. Nad, ini Rosaline, pacar gue," Arya memperkenalkan kedua gadis di depannya.


Wajah Nadia yang tadinya bahagia saat bertemu Arya seketika berubah masam mendengar kata pacar yang keluar dari mulut cinta pertamanya itu. Dengan malas-malasan ia membalas jabat tangan dari Aline.


"Nadia, mantan pacar Arya."

__ADS_1


"Rosaline."


"Yaudah, gue cabut dulu. Bye Ar!" ucapnya lalu mencium pipi kiri Arya dan melenggang pergi.


Sementara Arya berubah pucat mendapat perlakuan demikian di depan Aline terlebih reaksi Aline yang biasa saja, yang artinya ada dua kemungkinan, pacarnya itu tidak perduli sama sekali atau sangat marah sekali, yang keduanya tak ada yang diingininya.


"Naik yuk. Atau kamu mau ikutan cabut?" ucap Aline dingin.


"I ... i ... iya, Sayang. Yuk kita ke atas!" ucapnya tergagap. Pasalnya, reaksi Aline yang seperti inilah yang paling ditakutinya, dingin dan tak terbaca, khas Aline bila sedang menimbang sesuatu di otak cantiknya.


Merekapun menaiki lift menuju unit apartemen Aline.


Sesampainya di apartemen, Aline segera menuju dapur dan menata belanjaannya ke dalam kulkas dan rak-rak di dapur. Ia asyik dengan kegiatannya sendiri tanpa menghiraukan sang pacar. Arya yang merasa dianggap tak ada di sana menjadi bingung sendiri.


"Sayang ..." panggilnya.


"Ya?"? jawab Aline tanpa menatap sang kekasih.


"Kamu marah?"


" Nadia memang mantan pacar aku waktu SMA dulu. Tadi gak sengaja ketemu waktu aku nungguin kamu di bawah. Apa kamu marah sama aku gara-gara aku yang ketemu dia?" tanyanya lagi.


"Kenapa bisa berpikiran begitu? Apa kamu membuat kesalahan dengan dia yang bisa membuat saya marah sama kamu?" jawabnya masih sibuk dengan belanjaannya, tidak menatap lawan bicaranya.


Arya yang ditanya begitu hanya bisa terdiam ditambah lagi bicara Aline yang formal membuat Arya semakin yakin bahwa kekasihnya itu sedang sangat marah padanya.


"Kenapa diam?" cecar Aline.


Arya hanya terdiam di tempatnya. Tak tau bagaimana cara menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis cantik di depannya. Ingin menjelaskan bahwa ia tak ada hubungan sama sekali dengan mantan pacarnya itu sungguh tak mungkin, karena pacarnya pasti melihat adegan tadi? Ingin membantah, tapi jelas-jelas tadi dirinya sedikit terbuai dan bahkan sempat membalas ciuman itu karena itu rasa yang berbeda baginya. Arya bingung.


"Saya melihat semuanya, dan itu sudah cukup membuat saya harus menilai kamu bagaimana," ucap Aline sambil menatap tajam mata lawan bicaranya.


"Sayang ... maafin aku!" Arya segera menghampiri sang kekasih. Saat akan mendekat, Aline memberikan kode padanya agar tetap menjaga jarak dengan gadis itu. Aline mengunci pandangannya pada tatapan sendu lelaki di depannya.

__ADS_1


"Kita, saya dan kamu, saat memulai hubungan ini, sudah sepakat untuk saling menjaga. Kamu menjaga saya, saya menjaga kamu. Saya menjaga diri saya untuk kamu, dan kamu menjaga diri kamu untuk saya. Tetapi apa yang saya lihat tadi, sungguh tidak bisa dikatakan kamu bisa menjaga diri kamu untuk saya. Jika sebagai lelaki kamu menginginkan adanya hubungan ataupun kontak fisik dengan wanita melebihi apa yang bisa saya berikan saat ini, maka kamu boleh mencari wanita lain. Saya, mundur. Silakan keluar dari apartemen saya! Hubungan ini sudah berakhir!" ucap Aline dingin. Setetes air mata luruh ke pipi mulus gadis cantik itu ketika mengucapkan kalimat terakhir dan itu tak luput dari penglihatan Arya. Sungguh ia telah bodoh membiarkan Nadia menciumnya tadi, di bibir dan di pipinya. Arya berusaha mendekati Aline sambil terus mengucapkan kata maaf dan penolakan atas pemutusan sepihak Aline. Tapi Aline malah menghindar, berjalan ke ruang tamu dan membukakan pintu apartemennya untuk Arya.


"Sayang, jangan seperti ini. Maafin aku. Aku gak akan mengulanginya lagi. Aku janji. Aku juga gak akan pernah menemui wanita itu lagi. Aku janji, Sayang, tapi jangan begini. Aku tau aku salah, aku mohon maafin aku. Kasih aku kesempatan kedua. Aku janji gak akan membiarkan wanita manapun dekatin aku lagi, kecuali kamu. Hanya kamu, Sayang."


"Maafin saya, saya gak bisa. Kamu membuat rasa percaya itu pecah. Kalaupun bisa disatukan lagi, semua akan tetap berbekas. Apa yang saya lihat di lobby tadi sungguh membuat sesak dan itu sangat menyakitkan!" Air mata sudah mengalir deras dari pipi gadis cantik itu ketika mengucapkan kata perpisahan. "Lebih baik diakhiri daripada menjalani hubungan dipenuhi rasa curiga, tanpa rasa percaya."


Arya terpaku di tempatnya. Ia tak punya pilihan lain saat ini kecuali menerima konsekuensi atas kebodohannya tadi. Dengan lesu, ia berjalan menuju pintu apartemen. Saat berpapasan dengan Aline, ia pun meraih tangan yang selama ini selalu membelainya dengan penuh cinta. Aline menatap tangannya yang digenggam oleh Arya dengan tatapan pilu. "Aku tau aku salah. Aku mohon, maafin aku. Jangan benci aku. Jangan tinggalkan aku. Jangan putuskan aku. Aku sangat mencintai kamu. Kejadian tadi hanya kesalahan. Aku gak akan mengulanginya lagi. Aku mohon, Sayang. Aku sangat mencintai kamu."


Lalu, untuk terakhir kalinya, Arya melihat wanita itu tersenyum, namun penuh kepedihan. Mata sebiru laut yang selama ini menatapnya penuh cinta kini berubah menatapnya dengan penuh kesedihan. Sebegitu dalamkah ia telah menyakiti gadis yang selalu setia padanya?? Yang selalu ada untuknya?


Arya berjalan gontai menuju mobilnya. Tadinya ia berencana untuk memberitahu pacarnya itu bahwa ia akan pulang ke Indonesia besok karena kondisi kesehatan mamanya yang memburuk. Kini, semua itu sudah tidak perlu. Seandainya tadi ia menyusul pacarnya itu ke supermarket mungkin ia tak akan bertemu Nadia. Seandainya tadi ia langsung naik dan menunggu di unit apartemen gadisnya itu, mungkin ia tak perlu beramah tamah dengan mantan pacarnya itu. Seandainya tadi ia tidak terbawa suasana dengan Nadia, mungkin ciuman itu tak akan terjadi. Seandainya tadi ia langsung menolak Nadia, mungkin semua ini tak akan terjadi. Seandainya dan seandainya. Terlalu banyak seandainya yang hanya bisa ia sesali sekarang.


Arya sampai di apartemennya. Ia mengirimkan pesan pada Aline.


Arya : Sayang, maafin aku. Aku mengaku salah. Aku gak mau putus sama kamu. I love you.


(send)


Aline : (read)


Arya langsung menelpon Aline begitu tau gadis itu telah membaca pesannya. Namun, panggilan tersebut langsung ditolak oleh Aline. Arya pun tak putus asa.


Arya : Sayang, tadi aku ke apart kamu mau bilang kalo aku besok harus pulang ke Indonesia. Mama masuk ICU karena serangan jantung. Doakan mama ya, Sayang!


(send)


Aline : (read)


Arya terus saja mengirimi Aline pesan yang berisi ungkapan cinta dan juga penyesalannya atas kejadian di lobby apartemen Aline tadi. Dan tanggapan Aline masih sama, hanya membaca tanpa berniat untuk mengetik balasan barang satu huruf pun.


Hari berlalu, minggu terlewati, bulan berganti. Arya mulai jarang mengirimi pesan kepada Aline karena dirinya disibukkan dengan pekerjaan barunya di Indonesia. Kondisi mamanya sudah membaik dan atas keinginan sang mama, Arya akhirnya pindah ke Indonesia, bekerja di perusahaan yang dibangun bersama oleh papa dan sahabat papanya, Atmaja Corp. Sedangkan Aline, gadis itu sibuk dengan kegiatan akhir perkuliahan. Ia telah menyelesaikan magister hukumnya dan sebulan lagi akan menghadapi ujian akhir arsitekturnya. Waktunya benar-benar tersita untuk belajar dan belajar sehingga rasa frustasinya karena putus cinta perlahan terlupakan. Hingga keduanya hilang kontak karena setelah lulus, Aline melanjutkan magister teknik, magister ketiganya, di sebuah universitas top dunia di Jerman.


Flashback off.

__ADS_1


Senyum tak hilang dari wajah tampan Arya, membuat kadar ketampanannya bertambah berkali kali lipat. Hatinya sangat bahagia mengetahui sang pujaan hati ternyata bekerja di gedung dan divisi yang sama dengannya. Rasa itu masih tetap sama meskipun sudah empat tahun berlalu.


Sejak pertemuan terakhir saat ia menumpahkan kopi di baju gadis itu, Arya mencari tau di divisi mana Aline bekerja. Ia bahkan menanyakan kepada pihak HRD, sayangnya tidak ada karyawan yang bernama Rosaline ataupun Aline di daftar karyawan. Dan tadi, tanpa sengaja ia melihat gadisnya itu, gadisnya yang bertambah cantik dengan mengenakan hijab. Ia pun mulai memikirkan cara untuk mengajak gadis itu bicara berdua. Karena yang ia ingat, terakhir kali bertemu, Aline menghindarinya. Dan ia bertekad untuk membuat Aline memaafkannya.


__ADS_2