
Sudah hari Rabu dan Aline belum juga memutuskan di divisi yang mana satu ia akan bekerja mulai Senin esok, padahal besok ia sudah harus memberikan jawaban kepada pak Rahman, Manajer HRD tempat ia bekerja. Sementara seharian ini ia disibukkan dengan menyelesaikan apapun tugas yang bisa ia kerjakan, itung-itung membantu mbak Nita yang pasti sangat kerepotan mengurusi anak yang baru pulih dari sakit dan debay sekaligus. Besok dan lusa ia akan serah terima dengan mbak Nita. Semuanya telah selesai ia kerjakan.
Jam di tangannya menunjukkan pukul 15.04. Itu artinya ia harus segera bergegas menuju halte busway jika tidak ingin telat lagi ke resto.
Aline mengumpulkan semua peralatannya, lalu ia menyusun dan menumpuk map-map berisi data laporan di dalam laci meja kerjanya. Tak lupa ia menguncinya. Diperiksanya kembali tas, dompet, hp, kunci rumah, tas bekal. Semua lengkap. Kemudian ia mematikan komputer dan printer. Buru-buru ia melangkah ke ruangan atasannya, bu Mira untuk berpamitan. Lalu ia melangkah ke luar ruangan sembari melambai pada satu dua orang rekannya yang kebetulan memperhatikannya. Aline berjalan tergesa-gesa, menekan tombol lift dengan tidak sabarnya.
Begitu keluar dari lift, karena buru-buru tanpa sengaja ia menyenggol lengan seseorang.
"Maaf, Pak. Saya gak sengaja," sesalnya seraya sedikit membungkuk.
"Lain kali hati-ha ... Aline?" tanya seorang pria dengan kening berkerut tanda ia sedang bingung.
"Eh, Mas Rendi?"
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rendi kemudian.
"Saya bekerja di sini sekarang, Mas. Mas Rendi sendiri di sini?"
"Kantor saya di lantai 9."
"Oooh .... Mas Rendi kerja di sini juga? Ya udah dulu ya, Mas. Saya buru-buru. Sekali lagi maaf tadi gak sengaja," pamitnya.
Aline berjalan terburu kadang berlari kecil meninggalkan area gedung. Sementara Rendi hanya menatapi kepergiannya dengan penuh tanya. Segera ia melangkah menuju lift yang kebetulan sudah kembali terbuka. Rendi menuju kantornya, lantai 9 dimana bagian keuangan berada.
Aline berlari kecil menuju halte busway. Jam segini halte sudah mulai ramai oleh karyawan yang bekerja di shift pagi. Sesampainya di tujuan, Aline berjalan kaki menuju rumah kontrakannya yang tak begitu jauh dari halte. Buru-buru Aline mandi dan bersiap menuju resto Abah.
Hari ini cukup melelahkan bagi Aline. Bagaimana tidak, resto Abah sangat ramai hari ini. Selepas Maghrib, Aline turun menjadi pelayan di resto. Tamu-tamu berdatangan hingga beberapa di antara mereka rela antri untuk mendapatkan meja dan menikmati menu spesial hari ini. Alhamdulillah.
Lalu menjelang jam 9 malam hingga tutup, Aline harus menjadi barista dadakan untuk cafe di lantai tiga karena banyaknya anak muda yang nongkrong sekedar melepas lelah hingga berkumpul dengan teman-teman. Sungguh hari yang melelahkan. Tetapi ia dan seluruh karyawan di resto Abah tak henti mengucap syukur atas kondisi seperti ini, karena itu artinya insentif mereka akan bertambah bulan ini, insya Allah.
Aline berjalan menuju rumah kontrakannya setelah menutup resto bersama dua orang rekannya yang lain. Mereka berjalan menuju arah yang berlainan karena memang rumahnya yang berbeda arah. Aline meletakkan tas di meja kecil di sudut kamar. Mengambil piyama dan handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi, Aline mengambil buku agenda kecil miliknya dan mulai membuka halaman per halaman. Matanya terhenti pada catatan kecil "Kamis pagi ke ruangan pak Rahman!" Mengingat tugasnya dari pak Rahman, ia kembali dilanda kebimbangan. Dua divisi yang ditawari oleh pak Rahman membuatnya tertarik untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajarinya. Dalam kebimbangannya, Aline beranjak menuju kamar mandi, lalu berwudhu. Ia akan menghadap Tuhan-nya, meminta petunjuk dan memilihkan yang terbaik untuknya.
Selesai sholat, Aline merangkak menuju tempat tidur single miliknya dan langsung tertidur hingga adzan subuh berkumandang.
Setelah melaksanakan sholat subuh dan tadarusan, Aline menuju dapur untuk membuat sarapan dan bekal makan siangnya hari ini. Aline memilih membuat roti sandwich dan segelas jus Sunkist untuk menu sarapannya dan sempedas udang dengan bakso goreng asem manis serta lalapan ketimun untuk bekal makan siang. Setelah semua selesai, Aline bersiap menuju kantor.
Ojek online yang ditumpangi Aline berhenti tepat di depan lobby Atmaja Corp pukul 07.45. Dengan mengucap basmalah Aline berjalan santai memasuki gedung kantornya, bertegur sapa atau sekedar saling melempar senyum simpul dengan beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.
Sesampainya di kubikelnya, Aline menyimpan tas ke dalam laci meja, menyalakan komputer dan menata map-map berisi bahan yang akan ia serah-terimakan dengan mbak Nita. Lalu Aline berjalan ringan menuju ruangan pak Rahman. Ia memutuskan untuk menunggu pak Rahman di ruang tunggu HRD.
Lima menit Aline menunggu, pak Rahman memasuki ruangannya. Ia meminta Aline untuk mengikutinya.
"Selamat pagi, Aline. Sepertinya semangat sekali pagi ini," ucapnya memulai pertemuan mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak. Harus selalu semangat, Pak, buat mengumpulkan energi positif."
"Betul ... betul ... saya setuju. Bagaimana? Apakah sudah memilih divisi selanjutnya?"
"Sudah, Pak!"
"Bagus, kalau begitu apa pilihan kamu?" tanyanya to the point.
"Saya memilih Divisi Teknik dan Perencanaan, Pak."
Pak Rahman hanya mengangguk-angguk. "Boleh tau alasannya?" tanyanya kemudian.
"Tidak ada alasan spesifik, Pak. Mungkin karena di resto saat ini saya lebih banyak bertugas di pembukuan dan keuangan, jadi, menurut saya tidak ada salahnya saya mencoba divisi yang lain," jelas Aline jujur.
Pak Rahman menyimak jawaban Aline dengan seksama.
"Resto milik orang tua angkat kamu itu?"
"Iya, Pak."
"Oh begitu. Saya pikir apa tidak lebih baik bila kamu di Divisi Akunting saja agar lebih mengasah kemampuan kamu?" usulnya.
"Mungkin suatu saat, Pak. Tapi tidak untuk saat ini!" tolaknya sambil memberikan senyum tidak enak karena telah menolak usulan yang diberikan.
"Baiklah," ucapnya kemudian. "Senin kamu sudah bertugas di divisi yang baru, saya harap kamu tetap memberikan kinerja yang baik dan memberi aura positif di sana nanti."
"Insya Allah, Pak. Saya akan bekerja dengan baik!"
"Hari ini Nita sudah mulai bekerja lagi. Selesaikanlah serah terima sampai besok sebelum istirahat. Setelah istirahat, saya akan memperkenalkan kamu dengan divisimu yang baru."
"Baik Pak. Apa ada yang perlu saya persiapkan lagi, Pak?"
"Tidak, tidak ada."
"Baiklah kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan, Pak!"
Pak Rahman hanya mengangguk tanda memberikan izin pada Aline untuk meninggalkan ruangannya, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tetapi Aline menghiraukannya.
Tepat akan mencapai handle pintu, Pak Rahman kembali bersuara "Rosaline!" panggilnya.
"Ya, Pak?" seketika Aline menyadari apa yang baru saja terjadi. Dirinya terdiam di tempat. Melihat gadis itu mematung, pak Rahman lantas bersuara.
"Kemari dan duduklah lagi!" titahnya.
__ADS_1
Aline membalikkan tubuh dan duduk kembali di kursi yang tadi didudukinya dengan kaku. Mukanya pucat seolah tidak dialiri darah. Aline duduk dengan gelisah. Pak Rahman yang menyadari kegelisahan gadis di depannya hanya diam menatap gadis itu, menikmati raut penuh gundah dan takut di depannya.
"Baa-pak mengenal saya?" tanyanya terbata. "Bagaimana bisa?" lanjutnya.
Pak Rahman mengambil napas dalam-dalam.
"Sekarang saya yakin kalau kamu adalah Rosaline Tiocandra!", ucapnya mantap.
Aline semakin pucat. Hanya puncak hidungnya yang berwarna merah seolah seluruh darahnya hanya berkumpul di sana.
"Tadinya saya juga tidak mengenali kamu, karena kamu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dan berhijab. Waktu begitu cepat berlalu," ucapnya seolah menerawang ke masa-masa lampau. "Sampai beberapa minggu yang lalu saya ketemu tidak sengaja dengan orang tua kamu di Sydney. Mami kamu sudah menceritakan semuanya. Tapi istri sayalah yang mengenali kamu saat tanpa sengaja melihat kamu hari Selasa yang lalu. Apa kamu tidak mengingat kami?" tanyanya balik.
Aline terlihat mengingat-ingat pria di hadapannya ini, tapi hasilnya nihil, lalu ia menggeleng dengan perasaan malu. "Maaf, Pak. Saya lupa," katanya kemudian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Sudah Om duga. Bagaimana dengan Aunty Jesslin, istri saya?"
Aline reflek menepuk jidat nya. "Maaf Om. Saya tak mengenali Oom dan Tante. Sudah lama sekali," jawabnya kikuk.
"Ya, sudah lama sekali sejak kamu pertama kali kuliah di Aussy, sekitar 9 apa 10 tahun yang lalu".
"Bagaimana kabar Aunty Jessy? Saya tidak tahu kalo sudah kembali ke Indonesia."
"Baik, Alhamdulillah baik semuanya. Ya, kami sekeluarga kembali sekitar 3 tahun yang lalu. Hanya Brian yang masih di Sydney melanjutkan studinya. Sementara Erick dan Xander sudah menikah dan menetap di Surabaya dan Denpasar," ceritanya.
"Oh ... begitu. Hhmmm, mengenai identitas saya..."
"Ya, Oom paham. Om akan rahasiakan tentang kamu baik di perusahaan ini maupun dari keluarga kamu. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat?"
"Ya. Kondisi kesehatan mami kamu tidak stabil sejak kepergian kamu tahun lalu. Bila Om merasa kehadiran kamu dapat memperbaiki kondisi mami kamu, maka Om sendiri yang akan membawa kamu kembali ke Batam. Bagaimanapun, mami kamu tetaplah keluarga Om. Om menyayanginya walaupun kami hanya sepupu jauh. Kamu mengerti?"
"Iya, Om. Akan ada saatnya aku kembali. Tapi belum saat ini. Terima kasih atas pengertian Om."
"Baiklah. Ini kartu nama Om. Hubungi Om bila kamu membutuhkan sesuatu!"
"Baik, Om."
"Sekarang kembalilah ke ruangan kamu dan persiapkan diri kamu untuk divisi baru kamu," ucap pak Rahman kembali ke mode Manajer HRD.
"Baik, Pak!"
Aline meninggalkan ruangan Pak Rahman dengan langkah gontai. Ternyata, aunty Jessy lah yang mengenalinya. Aunty Jessy memang sangat menyayanginya karena mereka tidak memiliki anak perempuan. Saat awal kuliah di benua kanguru itu, Aline memang tinggal bersama keluarga Om Rahman. Tapi saat itu, beliau jarang sekali berada di rumah karena pekerjaannya sehingga wajar saja jika Aline sudah tidak mengenali sepupu jauh maminya itu.
__ADS_1