Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Dasar Tukang Balas Dendam!


__ADS_3

Aline turun menggunakan escalator. Ia teringat harus membeli persediaan makanannya. Isi kulkas dan dapurnya sudah banyak yang habis, mumpung masih di mall. Segera ia telpon pengendara ojek online tadi menanyakan apakah ia mau menunggu atau tidak. Ternyata si pengendara ojol itu tidak mau menunggu dan meminta Aline untuk membatalkan pesanannya saja. Aline mengikuti keinginannya dan meminta maaf berkali-kali.


Selesai dengan urusan ojol yang batal, Aline berjalan berbelok menuju pintu masuk supermarket. Ia mengambil sebuah troli dan mulai berjalan menyusuri rak-rak di supermarket. Aline mengumpulkan bahan-bahan makanan yang ia butuhkan satu per satu ke dalam troli yang ia bawa. Setelah dirasa cukup, Aline mengabsen belanjaannya satu per satu. "Oh iya, bumbu belum ada," katanya kemudian. Aline mendorong trolinya ke rak-rak khusus bumbu. Ia membeli lada bubuk, lada hitam bubuk, ketumbar bubuk, kapulaga, bunga lawang, kayu manis, daun oregano, kecap Inggris, minyak zaitun dan kecap ikan yang kebetulan stok di rumahnya sudah menipis. Lalu ia mendorong trolinya yang sudah penuh ke arah kasir dan ikut mengantre. Setelah membayar belanjaannya, kemudian, Aline berjalan keluar mall, ia akan memesan taksi online saja melihat ia membawa begitu banyak tentengan.


Saat ia menerima telpon dari driver taksi online dan mengatakan bahwa ia menunggu di pintu keluar samping mall, sebuah mobil Fortuner putih berhenti tepat di depannya.


Elang, si pengendara mobil itu, membuka kaca jendela bagian penumpang dan melongokkan kepalanya ke arah Aline yang sedang berdiri di pintu samping mall arah gerbang keluar.


"Aline, masuk!" perintah Elang.


Aline menggeleng. "Makasih, Pak. Saya sedang nunggu taksi online. Itu sudah datang!" Aline segera mengangkati kantong belanjaannya dengan susah payah dari troli yang ia bawa.


Elang lalu membuka pintu mobilnya, berjalan menuju si driver, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menyerahkannya ke bapak driver sambil mengucapkan, "Pesanannya dibatalkan saja, ya, Pak! Mbak ini ikut sama saya," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu tadi. Driver taksi online itu mengangguk patuh lalu segera pergi tanpa menaruh curiga. Ia berpikiran bahwa sepasang muda mudi ini adalah suami istri dimana si istri sedang merajuk pada suaminya. Dan ia tidak rugi sama sekali karena si suami memberikan bayaran berkali lipat untuk pembatalan transaksi istrinya tadi.


Aline heran kenapa taksi online pesanannya itu tiba-tiba pergi begitu saja padahal ia baru akan membawa belanjaannya ke sana. Ia letakkan kembali plastik-plastik belanjaannya ke dalam troli. "Mungkin salah mobil," pikirnya positif. Namun pikiran positifnya hanya bertahan beberapa detik sebab di detik selanjutnya ia melihat Elang mulai mengangkati palstik-plastik itu dan menyusunnya ke dalam bagasi mobilnya. "Pasti ada apa-apa!", pikirnya.


Lalu ia protes pada atasannya yang menyebalkan itu.


"Pak, pasti Bapak yang nyuruh taksi online saya tadi pergi, kan?" sembur Aline.


Elang mengedikkan bahu, masih menyusun belanjaan gadis itu ke dalam mobilnya.


Aline lalu mengeluarkan kembali kantong belanjaan yang telah disusun Elang dari dalam mobilnya. Namun lelaki itu kembali mengambil dan menyusunnya. Mereka benar-benar seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar dimana si suami berusaha membujuk si istri. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan terang-terangan di area tersebut.


"Kamu gak malu apa seperti ini. Tuh dilihatin banyak orang. Saya sih gak masalah. Paling mereka berpikir kalau kamu istri yang sedang merajuk pada suaminya, hehehehehe ...." Elang terkekeh dengan kalimatnya barusan. Sementara Aline, menatap sekitar. Benar apa yang dikatakan bos menyebalkannya ini. Akhirnya Aline mengalah dan membiarkan lelaki itu menyelesaikan menyusun belanjaannya ke bagasi mobil. Sementara Aline masuk ke mobil dan duduk di kursi tengah, ia masih jengkel dengan tindakan Elang barusan.


"Kamu pikir saya supir kamu?" kata Elang setelah ia memasuki mobilnya.


"Kan Bapak yang ngusir taksi saya? Jadi ya sudah, saya anggap Bapak pengen gantiin si driver tadi. Ayo segera jalan, Pak!" jawabnya cuek namun memancing amarah si empunya mobil.


Elang tak terima dirinya disebut driver taksi online. Ia kembali turun, membuka pintu penumpang di sampingnya. Lalu ia membuka pintu penumpang Aline. "Sekarang, pindah ke depan!" perintahnya


"Saya gak mau!" tolak Aline keras kepala. Elang membuka kaca mata hitamnya lalu menatap garang gadis keras kepala di depannya ini. "Saya bilang pindah ke depan! Kamu mau pindah sendiri atau saya gendong?" tanya Elang menahan geram.


"Saya tinggal teriak kalau Bapak berani sentuh saya!" jawab Aline tak mau kalah.


"Dasar keras kepala!" bathin Elang. Lalu sebuah ide muncul di kepalanya. Elang tersenyum devil. "Teriak saja! Saya tinggal bilang kalau kamu istri saya yang lagi ngambek. Pasti orang-orang akan percaya." Lalu Elang mulai masuk ke kursi penumpang, berpura-pura ingin menggendong Aline. Aline yang mendapat perlakuan begitu, spontan menonjok wajah tampan Elang.


"Aiiissssh ... shit!!!" erang Elang mendapat bogem mentah dari gadis bar-bar itu. Ia lupa kalau gadis ini menguasai bela diri dengan sangat baik. Elang memegang wajahnya. Sementara Aline terkejut akan tindakan refleksnya. "Maaf, maaf, Pak. Saya gak sengaja! Itu tadi refleks. Lagipula, siapa suruh dekat-dekat saya!"


Elang menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan untuk meredakan amarahnya. Ia mengalah, lalu berbalik, menutup pintu penumpang bagian depan dan segera menuju kursi pengemudi tanpa bersuara lagi. Wajahnya perih, pasti akan ada memar nanti.


Elang memakai kembali kacamata hitamnya dan melajukan mobil ke rumah orang tua angkat gadis itu. Tak ada percakapan di antara keduanya selama perjalanan. Suasana di mobil hanya diisi oleh lagu-lagu dari playlist lelaki itu. Aline bungkam sambil sesekali melirik Elang. Tadi itu benar-benar refleks. Sementara Elang, ia tahu gadis bar bar itu merasa bersalah padanya, namun ia abaikan. Elang masih kesal pada gadis itu yang membuatnya menjadi driver dadakan. Asalkan dia tahu, seumur-umur, baru kali ini ia dijadikan driver oleh orang lain, apalagi seorang gadis. Asal ia tahu, banyak gadis di luaran sana yang ingin menaiki mobil berdua dengannya. Ini dikasih kesempatan malah menolak, pakai acara nonjok segala.

__ADS_1


Elang melewati kontrakan Aline di ujung jalan dan terus melajukan mobil menuju rumah Abah. Ia tidak tahu gadis itu tinggal di sana, dan Aline pun sengaja tidak memberi tahu. Elang menghentikan mobilnya tepat di depan rumah orang tua angkat gadis itu.


"Sudah sampai, Nona!" sindirnya.


Aline tergagap. Ia merogoh dompetnya, dan turun. Rumah Abah memang masih sepi jika jam segini. Tak apa, nanti ia akan berjalan saja menuju kontrakannya.


Elang membuka pintu belakang mobilnya, menurunkan kantong-kantong plastik belanjaan Aline di dekat pagar yang masih tertutup rapat.


Setelah selesai, Aline mengucapkan terima kasih dan maaf pada laki-laki yang adalah atasannya itu.


"Terima kasih dan sekali lagi saya minta maaf, Pak. Tadi itu bener-bener refleks."


Elang mengangguk tapi tak bersuara. Lalu masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya.


Setelah mobil Elang berjalan, Aline memunguti semua kantong belanjaannya dan mulai berjalan ke arah kontrakannya di ujung jalan. Belanjaannya kali ini cukup banyak karena memang isi dapurnya sudah pada habis semua. Ia berjalan sangat pelan dan sedikit tertatih karena beratnya beban yang harus ia bawa.


Tak jarang ia berhenti di pinggiran jalan karena tangannya sakit memegang plastik belanjaan yang berat. Peluh membasahi wajah dan tubuhnnya. Mentari sedang terik-teriknya.


Sementara itu, Elang masih berusaha meredam amarahnya. Tak sengaja melirik kursi yang diduduki oleh gadis keras kepala tadi melalui kaca spion tengah, dan seketika amarahnya kembali memuncak. "Sialan!!! Gue benar-benar dijadiin taksi online sama cewek bar bar itu!" berangnya, melihat tiga lembar uang biru yang ditinggalkan oleh Aline di kursi yang ia duduki tadi. Segera ia memutar balik mobilnya. Tujuannya adalah kembali ke rumah itu dan memarahi gadis keras kepala itu. "Ternyata gadis ini benar-benar ingin menguji kesabaran seorang Elang!"


Baru beberapa puluh meter ia memasuki jalan yang menuju rumah dimana ia menurunkan gadis itu, dari kejauhan ia melihat seorang perempuan berjalan tertatih membawa semua belanjaannya sekaligus, ke arahnya sekarang. Elang yakin jika perempuan itu adalah gadis keras kepala yang diantarkannya tadi. Tapi kenapa ia tidak masuk saja tadi? Apa rumahnya dikunci dan ia tidak membawa kuncinya? Lalu kenapa dia malah berjalan menjauhi rumahnya? Elang menurunkan kecepatan mobilnya dan melewati gadis itu. Aline tidak memperhatikan sekitarnya. Baginya, cepat sampai di rumah, mandi dan minum sirup cocopandan dingin adalah pilihan yang sangat menggiurkan.


Elang sampai di depan pagar rumah orang tua angkat Aline. Ia turun dan memastikan bahwa pagar itu terkunci. Lalu ia kembali menjalankan mobilnya ke arah gadis tadi. Ia melihat gadis itu berhenti di pinggir jalan, mungkin istirahat, sambil meniup-niup kedua telapak tangannya. Mobil Elang berhenti tepat di depan gadis itu. Namun Aline tidak peduli. Ia masih saja meniupi telapak tangannya yang perih.


"Kenapa dibawa lagi?" tanya laki-laki itu.


"Ya mau dibawa pulang. Kontrakan saya kan di ujung jalan sana," tunjuk Aline ke arah kontrakannya yang sudah tak jauh lagi.


"CK, kenapa gak bilang tadi?" Ia lalu masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya ke arah kontrakan yang ditunjukkan Aline. Ia sengaja meninggalkan gadis itu karena masih kesal.


Sementara Aline, ia hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah boss nya itu. "Dasar anak-anak! Mau balas dendam rupanya!" Lalu Aline berjalan cepat menuju kontrakannya.


Elang sudah menurunkan belanjaan Aline dan sudah mengangkatnya.


"Rumah lo yang mana?"


Aline berjalan ke rumahnya.


"Bukain pintunya, biar gue anterin sampai dalam!"


Aline diam.


"Skalian gue pinjam kamar mandi."

__ADS_1


Aline membuka pintu rumah kontrakannya. "Kamar mandinya ada di belakang."


Elang membawa semua belanjaan Aline ke belakang, meletakkannya di meja dapur. Lalu ia bergegas ke kamar mandi.


Setelah selesai, ia kembali ke teras. Aline duduk di sana, menunggu.


"Duduk dulu, Pak!" katanya begitu Elang keluar dari rumahnya. Aline masuk, mencuci tangannya. Ia membuatkan sirup cocopandan dingin, dan membawa semangkok kecil nasi hangat dan sebuah saputangan ke teras.


"Ini, Pak, silakan di minum!"


Elang meneguk minumannya sementara Aline mengisi saputangan dengan nasi hangat yang ia bawa.


"Ini, buat ngompres memarnya."


Elang mengambil saputangan itu lalu membolak balikkannya.


"Bukan buat mainan lho ini, Pak. Ini tuh buat di taruh di memarnya!" Aline gregetan sendiri melihat tingkah laku bossnya ini.


"Begini maksud kamu?"


"Iya. Tapi agak ditekan-tekan gitu!" Elang mengikuti instruksi yang diberikan Aline dan meringis karena panas dari nasi membuat luka memarnya perih.


Ia ingat di waktu malam pengeroyokan itu, gadis ini juga melakukan hal yang sama padanya. Dan itu cukup berhasil.


"Lin?"


"Ya?"


"Gue laper."


"Ooo, saya pikir Bapak mau pamit pulang."


"Ada yang bilang kalau bawa mobil itu butuh tenaga."


"Trus?"


"Ya bikinin gue makanan kek! Itu aja nanya!"


"Kenapa harus saya? Kan Bapak bisa pesan?"


Elang lalu mengambil tiga lembar uang biru yang ditinggalkan Aline di mobilnya tadi. Lalu meletakkannya di meja. "Ini, gue pesan makanan!" katanya dengan cengiran.


Aline mendengus, namun tak urung ia beranjak. "Dasar tukang balas dendam!" umpatnya.

__ADS_1


"Hahahahahahahaha ...."


__ADS_2