
Setelah perkenalan singkat dengan atasan barunya, Aline dibawa oleh Ethan ke ruangannya. Paparan yang disampaikan oleh pak Ethan benar-benar mudah dicerna oleh Aline. Aline sudah paham dan mengerti apa yang akan dan harus dikerjakannya di divisi barunya ini. Aline mengingat betul apa yang disampaikan oleh pak Adit kemarin, bahwa ia dalam masa penilaian dalam dua minggu ke depan. Oleh karena itu, Aline bertekad akan bekerja dengan maksimal untuk memberikan hasil yang terbaik.
Berbeda dengan pak Adit, pak Ethan merupakan pribadi yang hangat. Walaupun di usianya yang belum kepala tiga, tapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Membuat Aline dan seluruh staf Subdiv Legal merasa nyaman bekerja di bawah kepemimpinan beliau. Sungguh, divisi ini dipenuhi oleh anak muda yang kompeten di bidangnya dan Aline merasa terpacu untuk belajar dan bekerja lebih giat lagi. Walaupun saat ini tugasnya sebagai staf junior yang lebih banyak berkutat dengan surat menyurat, membuat surat permintaan, penawaran, membuat kontrak kerja sama, termasuk fotokopi, dan filling dokumen tak membuatnya berkecil hati. Sesekali ia akan diajak oleh seniornya untuk me-review legal contract terkait project perusahaan.
Hari berganti, kemampuan Aline dalam berkomunikasi, bekerja dan bertukar pendapat membuatnya semakin dekat dari hari ke hari dengan anggota tim yang lain, tak terkecuali dengan pak Ethan sendiri, sang atasan tampan yang semakin kagum dengan kemampuan Aline. Ya, Ethan memang sudah menyukai Aline sejak kali pertama mereka bertemu di ruangan pak Adit tempo hari. Ada rasa baru di hati pria 29 tahun itu yang tak bisa ia deskripsikan saat menatap gadis yang selalu berhijab pashmina itu. Sejak saat itu, Ethan sering mencuri kesempatan untuk mengenal Aline lebih dekat. Seperti saat ini, Aline sedang membantu Ethan di ruangannya untuk mereview sebuah project. Ada diskusi dan juga debat yang membuat entah kenapa Ethan merasa jika gadis ini bukan gadis sembarangan. Ada kilat kecerdasan di matanya, ada tutur terpelajar dari setiap ucapannya dan ada santun dari gerak gerik gadis yang kini duduk di seberang mejanya. Sementara itu, Ethan yang tidak pelit ilmu membuat Aline betah berlama-lama bekerja dengannya, bertanya ini itu. Bukan sekali dua kali mereka berdiskusi seperti ini. Aline sangat menyukai jika Ethan meminta bantuan padanya karena akan semakin mengasah kemampuannya.
"Nah, Lin. Lusa kamu ikut saya buat ketemu sama investor project 5. Pelajari dulu file-file ini"!" ucapnya mengakhiri diskusi mereka siang itu. Ethan menyerahkan beberapa buah map berisi dokumen kerjasama Atmaja Corp dengan investor project 5 yang dimaksud kepada Aline.
"Baik, Pak," ucapnya menerima file-file yang dimaksud.
"Oke, sekarang kamu boleh kembali."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
"Ya."
Ethan mengusap wajahnya kasar setelah gadis berpashmina itu meninggalkan ruangannya. Ia tak tahu bagaimana caranya untuk mengenal gadis itu lebih dekat lagi. Ia akui, sebagai personal, Aline, tak membatasi diri dalam bergaul, bersikap dan bertutur kata. Ia tak pilih-pilih teman. Pembawaannya pun asyik. Akan tetapi, untuk masuk lebih dalam ke hatinya, Ethan merasa ada dinding tak kasat mata yang menghalangi langkahnya yang entah sengaja atau tidak diciptakan oleh gadis cantik itu. Saat ini sepertinya ia harus pasrah hanya bisa memanfaatkan sedikit jabatannya untuk bisa sering berdekatan dengan gadis yang diam-diam telah berhasil mencuri hatinya itu.
Tak terasa, masa penilaian Aline telah ia lewati dengan baik. Baik pak Adit maupun pak Ethan menyatakan ia puas dengan hasil kerja Aline. Resmilah ia menjalani hati-harinya di Subdiv Legal.
Seperti hari ini, Aline yang mendampingi Ghani untuk membahas pembangunan proyek baru Atmaja Corp dengan pihak investor 7 di sebuah cafe.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 ketika pekerjaan mereka selesai.
"Lin, lo mau ke kantor dulu atau mau langsung pulang?"
"Ke kantor dulu aja, Mas, kan mesti absen dulu."
__ADS_1
"Oh, ya udah. Buruan aja yuk. Takut kena macet."
"Siyap, Mas!"
Merekapun lantas memasuki mobil Ghani untuk kembali ke kantor.
Di dalam mobil, pembicaraan tak jauh dari apa yang telah mereka bahas dengan bu Tika, perwakilan investor project 7 yang mereka temui tadi.
"Lin, boleh nanya gak?" Setelah hening beberapa saat.
"Nanya aja boleh, tapi gak janji kasi jawaban ya, Mas, hehehe," timpalnya bercanda. Aline dan anak-anak Subdiv Legal sangat dekat, padahal mereka baru mengenal dua minggu. Aline yang pandai membawa diri sudah dianggap sebagai adik bungsu di subdiv yang beranggotakan sepuluh orang itu. Pasalnya, Aline satu-satunya anggota yang berusia di bawah 27 tahun. Dan Aline senang dianggap seperti itu, setidaknya mengobati kerinduannya dengan kedua abangnya yang ia tinggalkan di kota Batam.
"Kirain lo orangnya serius, eh gak taunya bisa bocor juga, hahahaha."
"Emangnya ban sepeda, pake bocor segala. Emang mau nanya apaan, Mas?"
"Ohh"
"Kok cuma 'ooh'?"
"Terus maunya gimana? Bukannya Mas Ghani cuma cerita, gak bertanya?"
"Hahahahahahahaha." Ghani terbahak dengan jawaban Aline yang menurutnya sangat polos itu.
"Kok Mas Ghani malah ketawa? Lucunya dimana?"
"Hahahahahaha ... Lo kelewat polos atau pura-pura bego sih, Lin?"
__ADS_1
"Ish ...."
"Ya lo klarifikasi lah, Lin. Beneran lo cuma tamat SMA atau bener dugaan kita semua kalau elo itu sebenarnya lulusan hukum?" geramnya.
"Ooh ...."
"Kan, cuma 'ooh' lagi!"
"Hehehehhehe, gitu aja ngambek. Malu sama anak, Mas, hahahahaha."
"Sialan!"
"Hahahahahaa."
"Jadi, mau aku lulusan SMA atau lulusan hukum, kualitas kerja aku gak mengganggu kualitas kerja Mas Ghani dan teman-teman yang lain kan?"
"Iii ... iya enggak sih. Malah kami semua senang lo gabung di Legal," jawabnya jujur.
"Oooh, ya udah."
"Udah apanya?"
"Ya udah gak perlu dipermasalahkan aku cuma lulusan SMA atau lulusan hukum, yang penting hasil akhirnya, Mas. Betul gak?"
"Betul ... betul ... betul ...."
Selama sisa perjalanan menuju kantor, mereka berbincang banyak hal ringan.
__ADS_1
Setelah melakukan absensi pulang, Aline segera mendial nomor babang ojek langganannya. Aline ingin cepat sampai di kontrakannya agar ia bisa datang ke resto Abah lebih awal. Ia harus memeriksa ulang pembukuan bulan lalu sebelum diserahkan kepada Abah dan Bunda ba'da isya, malam nanti. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mengikuti geriknya saat melakukan absensi di meja Dian, sekretaris pak Adit. Arya, pemilik sepasang mata itu, tak sengaja melihat Aline melakukan absensi manual saat ia baru saja keluar dari ruangan atasannya itu. Ia tahu betul bahwa meja tersebut adalah meja absensi manual seluruh anggota Divisi Teknik dan Perencanaan. Seulas senyum merekah di bibir seksinya mengetahui bahwa sang mantan bekerja di divisi yang sama dengannya. Seketika tekadnya untuk membuat gadis cantik itu kembali semakin kuat. Arya mengawasi Aline hingga gadis itu memasuki lift.