
Sudah sebulan sejak percakapan terakhir Aline dengan Abah dan Bunda saat itu. Esok lusa ia berencana akan menghuni kontrakan barunya. Mbak Oki sudah menikah dan pindah ikut suaminya sejak 8 hari yang lalu. Semua barang-barang sudah ia pindahkan, hanya beberapa saja yang ia tinggal di rumah Abah dan Bunda. Kontrakannya pun sudah ia sulap menjadi rumah mini yang akan sangat nyaman untuk ia tinggali seorang diri nantinya. Ah, sudah tak sabar rasanya.
Hari-harinya berlalu dengan aman. Rutinitasnya pun masih tetap sama, dua kali dalam seminggu ia akan bekerja di rumah Bu Suci dari pagi sampai siang, lalu di sisa harinya ia bekerja di restoran dan cafe milik Abah dan Bunda, orang tua angkatnya, yang saat ini menjadi Resto & Cafe. Bedanya, disana sekarang Aline lebih banyak memegang pembukuan, keuangan dan pelaporan kas resto dan cafe, hanya sesekali ia ikut melayani pelanggan, bahkan tak jarang Aline menjadi barista dadakan bila cafe sedang sangat ramai, sebuah kepandaian yang ia dapatkan sewaktu di Jerman dulu. Ya, sejak resto Abah bertransformasi menjadi Resto & Cafe Abah (RCA), pelanggan yang datang semakin ramai, baik itu dari kalangan anak muda hingga orang tua, ditambah pula sekarang jam bukanya sudah dari pagi hingga malam. Abah bahkan sudah menambah beberapa orang karyawan lagi. Dan semua pencapaian ini tak lain berawal dari ide Aline. Konsepnya sederhana saja. Lantai dasar tetap menjadi resto yang lebih banyak disukai oleh kaum dewasa dan keluarga dengan suasana yang homy banget, lantai dua menyediakan meeting room bagi pebisnis, ada area kantor, musholla, dan area istirahat juga bagi para karyawan, lalu lantai tiga dan rooftop adalah cafe dengan desain yang dibuat seapik mungkin, jika kids jaman now menyebutnya kekinian dan Instagramable banget. Tentu saja smua tak lepas dari campur tangan Aline yang sebenarnya menguasai dunia arsitektur, ekonomi bisnis dan juga hukum. Tiga bidang yang pernah didalaminya saat di bangku kuliah.
Saat ini Aline sedang berada di kamar Mbak Salwa, anak ketiga Abah dan Bunda. Kamar ini yang ditempatinya selama berada di rumah Abah. Seperti malam-malam sebelumnya, Aline selalu menyempatkan diri untuk me-review tentang hidupnya hari ini. Semacam kegiatan wajib yang harus ia lakukan sebelum memejamkan mata dan melepas lelah di atas kasur empuk itu.
Ada dua kejadian yang menurutnya menarik hari ini.
Pertama, ialah pertemuannya dengan Mas Rendi, anak sulung Bu Suci. Tadinya ia berencana hendak memberitahu perihal ia yang akan berhenti bekerja di sana mulai bulan depan. Tetapi niatnya itu tak kesampaian karena Bu Suci yang buru-buru harus ke rumah sakit membawa bibi yang sedang muntah-muntah hebat sewaktu ia tiba tadi.
Flashback on:
"Lin, Ibu minta tolong titip rumah ya!" ucap Bu Suci terburu-buru. Tak sempat ia menjawab, Bu Suci sudah berlari memasuki mobilnya yang di dalamnya sudah ada bibi yang sedang muntah-muntah. Kasihan sekali melihat kondisi bibi yang seperti itu.
Aline memasuki rumah. Setelah selesai dengan tugas menyetrikanya, Aline mulai menjalankan niatnya untuk membantu Bu Suci membersihkan rumah dan memasak sembari menunggu sang empunya rumah pulang.
Saat itu Aline sedang membersihkan rumah ketika bel pintu berbunyi. Segera setelah menjawab salam, Aline membukakan pintu untuk tamunya.
"Maaf, Masnya mau cari siapa?" Aline buka suara duluan melihat tamunya yang tampan hanya terdiam diri di depan pintu rumah Bu Suci.
Rendi bingung siapa gerangan gadis cantik di depannya yang sedang membukakan pintu untuknya ini. Ia yakin jika ia tidak salah rumah. Gadis itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rendi, membuatnya segera sadar begitu ia mendengar suara setengah cempreng cewek cantik di depannya yang menanyakan apakah ia masih di dunia ini, ada-ada saja. Segera ia normalkan wajahnya untuk mempertahankan imej kelelakiannya.
"Ehem ... siapa lu? Kenapa lu yang bukain pintu? Mana bibi atau nyokap gue!" jawabnya jutek.
Wajah bingung itu seketika menjadi sedikit merona. "Oh, mas ini Mas Rendi ya? Maaf, Mas, saya gak ngeh sebelumnya."
"Lu siapa? Kenapa bisa masuk rumah gue?" Acuhnya karena jengkel bahwa si gadis ini gak mengenali dia, padahal foto keluarganya tercetak menghabiskan hampir setengah dinding ruang tamunya ini.
"Saya Aline, Mas. Ibu sedang ke rumah sakit membawa bibi yang muntah hebat tadi, jadi ibu mas titip rumah ke saya", jelasnya.
"Oh, jadi lu yang namanya Aline?"
"Iya, Mas."
"Cantik banget," bathinnya memuji. "Ya udah! Lu lanjut aja kerjanya!" ucapnya sambil berlalu menuju kamarnya.
Hari ini Rendi memang pulang lebih awal, ia merasa tidak enak badan. Barangkali karena ia belum sarapan tadi pagi. Ia akan selalu begini bila tidak sarapan. Akan tetapi rutinitasnya pagi ini benar-benar membuatnya tak memiliki waktu bahkan untuk sekedar ngemil pagi. Bosnya itu memang benar-benar, tiba-tiba bilang tak masuk hari ini, padahal seharusnya mereka menghadiri rapat penting dan juga bertemu klien penting. Tapi apalah daya, bos mah bebas. Alhasil, ialah yang menggantikan dan berujung pulang lebih awal karena badannya tak sanggup lagi diajak kompromi, tentunya setelah semua urusannya selesai.
Aline sedang mengelap peralatan masak yang telah dicucinya ketika Rendi turun ke dapur. Rendi langsung menuju kulkas mengambil beberapa buah tomat untuk dibuat jus. Ia akan selalu merasa lebih baik bila meminum jus tomat di saat kurang fit seperti ini. Aline yang saat itu sedang menata makanan tak ia anggap ada. Aline sendiri tidak ada masalah dengan hal itu. Ia tetap melanjutkan kegiatannya seperti hanya ia sendiri di dapur itu.
Rendi semakin jengkel karena Aline tak menganggap ada kehadirannya, padahal ini rumahnya. Mendelik saja bahkan tidak. Memang dia pikir dia siapa? Berani sekali gadis itu.
"Mas, saya pamit dulu. Makan siang sudah di meja makan. Titip salam buat bibi, semoga bibi lekas pulih," pamitnya.
"Tunggu dulu!" ucapan Rendi barusan membuat langkah Aline terhenti.
"Temani gue makan! Gue lagi malas makan sendiri." Sebenarnya Rendi tak berniat begitu, ia hanya ingin mengerjai Aline karena berani mengacuhkan dirinya di rumahnya sendiri.
Aline menghela napas dan akhirnya berbalik menuju counter dapur dan mengambil alih membuat jus tomat dari tangan Rendi. "Biar saya aja, Mas. Mas Rendi makan aja!" Ia akan menemani anak majikannya itu makan karena Aline melihat bahwa Rendi memang sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari guratan letih di wajah pria tampan itu, dan terkadang ia merintih. Walaupun sebenarnya ia agak risih berdua saja dengan lelaki di dalam rumah ini. Tapi, ia luruskan niat baik untuk membantu sesama, takut jika anak majikannya itu tiba-tiba pingsan." Awas saja jika pria itu macam-macam, akan kubanting-banting!" ancamnya dalam hati.
Rendi melihat menu yang terhidang, seleranya terbit melihat sup ayam yang menggiurkan ditambah perkedel kentang, tempe dan tahu geprek dengan sambal terasi. Segera ia menyendok nasi dan lauk pauk. Sementara Aline sibuk membuat jus tomat di dapur.
Aline puas melihat Rendi makan dengan lahap. Itu artinya masakannya sesuai dengan lidah pria tampan itu. Sengaja ia berlama-lama membuat jus tomat hanya untuk menghindari duduk semeja dengan anak majikannya itu. "Lin, mana jus gue? Buruan! Bikin jus aja lamanya kebangetan." Aline kembali menghela napas untuk kesekian kalinya meredakan tensinya yang tiba-tiba terasa naik. Anak majikannya ini memang pandai membuatnya jengkel.
"Ini, Mas, jus nya. Pelan-pelan aja makannya, saya temani kok sampe selesai," sarkasnya.
"Lu gak ikutan makan?"
__ADS_1
"Makasih, masih kenyang, Mas. Tadi udah makan di rumah, sebelum ke sini."
"Masakan lu enak banget," pujinya membuat Aline sedikit tersipu.
"Makan yang banyak kalo gitu, Mas!"
"Ya pasti banyak. Ini gue mo nambah. Lu belajar masak dimana?"
"Belajar dari chef di restonya Abah." Aline tidak berbohong walaupun juga tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya ia belajar dari si mbok dan maminya yang selalu pandai mengolah bahan-bahan masakan menjadi makanan lezat dan bergizi.
"Bokap lu punya resto? Kenapa lu kerja di sini? Jadi buruh setrika lagi?" Rendi mulai kepo.
"Ayah angkat saya yang punya restonya, Mas, kalo boleh jujur. Kenapa kerja di sini ya karena saya ingin bekerja saja. Gak ada yang buruk dengan menjadi buruh setrika." Untuk pertanyaan ini Aline benar-benar tak ingin membahasnya. "Toh kata Bu Suci dua orang lelaki yang tinggal di rumah ini sangat menyukai hasil kerjaan saya," lanjutnya menyindir.
"Uhuk ... uhuk ...." Rendi tersedak dengan kalimat Aline barusan. Memang benar dirinya dan juga papanya menyukai hasil kerja Aline yang rapi dan wangi, tapi gak perlu juga kan mamanya sampai bercerita pada gadis ini. Huh, mama bikin malu aja.
"Lu udah lama kerja di sini?" tanyanya mengubah topik.
"Ha? Udah 6 bulan jalan 7."
"Ooh ... gue baru sekarang liat lu. Setrikaan lu rapi kaya hasil laundry terkenal!" puji Rendi akhirnya karena ia tak tau harus ngomong apa lagi. "Lu pernah kerja di laundry juga sebelumnya?" tanyanya lagi, asal.
Aline yang ditanya begitu mengangkat alis karena heran.
"Yaaa, kali aja lu juga pernah kerja di laundry, hehehe ...."
"Eh, enggak, Mas Rendi. Saya belajar dari seorang teman saat di Je ...." Aline segera mengatup kedua bibirnya, hampir keceplosan kalau ia pernah tinggal di Jerman. "Ingat, Lin. Sekarang kamu bukan Tiocandra lagi, jadi gak usah bawa-bawa kenangan Tiocandra lagi!" bathinnya mengingatkan.
"Je - apa, Lin?"
"Ha?"
"Oh, itu. Temen saya yang kerja di laundry, Jenita. Gitu Mas."
"Oooh". Rendi melanjutkan makan siangnya tanpa canggung lagi. Ia mengajak Aline bercerita kesana kemari dan ia merasa Aline nyambung diajak ngobrol topik apapun. Begitupun dengan Aline.
Setelah selesai makan, Aline membersihkan peralatan makan dan pamit pulang.
Flashback off.
Lalu, kejadian kedua yang menarik hari ini baru saja dialaminya saat pulang.
Flash back on:
Jam sudah menunjukkan pukul 10.08 malam ketika Aline, Tika, dan Bang Haikal menutup resto Abah. Mereka lalu berpisah karena memang arah rumah yang berlainan. Aline bermaksud ingin singgah ke minimarket tak jauh dari resto, sebelum simpang menuju rumah Abah. Ia ingin membeli beberapa keperluan pribadinya. Walaupun Bunda dan Abah bersikeras ingin menunggunya tadi, tapi Aline berhasil meyakinkan kalau ia bisa pulang sendiri karena jarak rumah dan resto memang tidak begitu jauh.
Jadilah ia berjalan sambil menenteng belanjaannya menuju rumah Abah dan Bunda di tengah malam begini. Jam sudah menunjukkan lewat dari jam 11 malam. Jalanan sudah mulai lengang. Lampu-lampu rumah di sepanjang jalan sudah mulai padam. Menyisakan lampu teras dan halaman yang masih menyala dan lampu-lampu jalan dengan cahaya temaramnya.
Baru beberapa langkah keluar dari minimarket, Aline melihat ada seorang pria berkemeja biru muda dikeroyok oleh tiga orang pria dan seorang pria lain yang menonton adegan itu sambil bersandar di mobil mewahnya. Aline yakin bila pria yang menonton itu adalah bos nya. Semua pria itu berpenampilan menggunakan kemeja rapi dan si bos nya bahkan menggunakan dasi dan jas. "Apakah mereka mafia?" pikir Aline mengada-ngada.
"Woyyy berhenti!!!" teriak Aline dengan suara cemprengnya. Aline segera berlari mendekat.
"Heh, Lo gak usah ikut campur! Pulang sana, Dek! Udah malam, jangan keluyuran. Besok sekolah!" jawab seorang pria yang mengeroyok, diikuti tawa yang lainnya.
Aline sengaja mengulur waktu agar pria yang menjadi korban itu bisa mengambil napas. Aline tadi melihat bahwa pria itu sebenarnya bisa bela diri, tapi ia kalah jumlah.
"Om ngapain keroyok-keroyok di sini. Kalo mau berantem sana di ring!"
__ADS_1
"Gak usah ba**t Lo. Pergi sana!" Si bosnya mendorong Aline membuat Aline terjengkang ke aspal dan belanjaannya terjatuh.
"Heh, Om! Sopan dikit sama perempuan kenapa? Kasar amat!" ucap Aline sambil berdiri dan menepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan dari tanah aspal yang menempel. Ia biarkan kantong belanjaannya di aspal.
"Lo ga usah ikut campur! Mending sekarang Lo pulang! Jangan ganggu urusan gue!" ucap si bos dingin.
"Menjadi urusan saya karena kalian melakukan tindakan keji di depan mata saya!"
"Wooo ... woo ... woo ... lu denger Lang? Lu dibelain anak kecil, cewek pula, hahahahaha ...."
Aline diam dibilang anak kecil, padahal sebenarnya ia paling benci jika dibilang anak kecil. Bang Cris dan Bang Rio aja pasti dibantingnya jika mereka mengatainya anak kecil. Walaupun ia jangkung, tapi tetap wajah imutnya selalu bikin orang berpikiran jika ia adalah anak SMP kelas IX atau SMA kelas X yang bongsor, huh. "Awas saja. Ada kesempatan kamu akan kubanting," janji Aline dalam hati.
Para pria itu diam saja memperhatikan Aline mendekat ke arah pria korban keroyokan yang kini berusaha untuk duduk. Mereka bingung mau berbuat apa, karena sebenarnya mereka bukan orang jahat, mereka berteman. Hanya saja situasinya membuat mereka terpaksa baku hantam.
Aline meringis seolah ikut merasakan sakit dari korban keroyokan itu saat ia mencoba membantu si korban untuk berdiri.
"BUBAR!!" teriak Aline.
"Pergi sana Lo! Jangan ganggu urusan gue!" Si bos berang, mulai tidak sabar dan ia berniat untuk kembali mendorong Aline. Tapi kali ini Aline tidak membiarkan ia di dorong lagi. Diraihnya tangan si bos yang mencoba mendorongnya lagi, lalu dibantingnya hanya dalam sekali gerakan sekejap mata, membuat pria itu merasakan sakit yang teramat di bagian pinggang hingga bokongnya dan pria lainnya diam tak berkutik, kaget akan kejadian barusan. "Huh, kesampaian juga banting kamu, Om. Makanya jangan suka bilang saya anak kecil!"
Ketiga orang yang mengeroyok segera menghampiri bos nya. "Van, lo gak papa?" tanya yang berkemeja hitam.
"Sialan. Habisi sekalian bocah ini! Kasih pelajaran! Sialan!" kata si bos penuh amarah mencoba berdiri sambil mengusap-usap pinggang dan bokongnya. Baru kali ini ia diperlakukan begitu kasar oleh seorang perempuan. Biasanya para perempuan akan memujanya. "Sialan perempuan ini," pikirnya.
Setelah mendapat aba-aba, ketiga pria yang mengeroyok mulai menyerang Aline dan pria berkemeja biru muda tadi. Pria itu sudah kembali jatuh, tinggallah Aline seorang yang melawan keempat pria yang sepertinya sedang dalam mode marah itu. Aline menggunakan segenap kemampuan bela diri yang ia pelajari pasca penculikannya dulu. Bagaimanapun, ia adalah seorang wanita yang tenaganya tak bisa dibandingkan dengan tenaga empat orang pria dewasa yang sedang marah pula. Sedikit saja ia lengah, maka akan berakibat fatal baginya. Bagaimana bila ia kalah dan berakhir diperkosa keempat lelaki itu. Pemikirannya itu membuat Aline bergidik ngeri dan memutar otak cerdasnya. Bila ia tak cerdik dan gesit, ia pasti kalah. Akhirnya Aline memilih untuk berusaha menghindar dan bertahan dulu daripada melawan. "Syukur-syukur bila nanti ada bantuan," pikirnya. Setelah keempat pria itu kelelahan, barulah Aline melawan sehingga ia berhasil melumpuhkan ke empat pria di depannya.
"Sebaiknya om-om ini pulang sebelum bapak-bapak di sana menangkap kalian!" kata Aline seraya menunjuk Pak RW yang kebetulan sedang ronda bersama dua orang lainnya yang tak jauh dari mereka.
Keempat pria itu segera ngacir masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, si bos dingin sempat memberi peringatan, "Lo denger baik-baik, Lang! Skali lagi lo bikin Kania bersedih, gue gak akan segan-segan menghabisi nyawa lo!" Lalu merekapun pergi meninggalkan Aline dan pria berkemeja biru muda yang sudah babak belur.
"Oh, masalah cewek rupanya," celetuk Aline. Pria itu hanya memandangnya sekilas lalu mencoba berdiri.
"Mas, Mas masih kuat jalan?" Yang ditanya hanya mengangguk. "Mobil gue di sana!" tunjuknya ke arah sebuah mobil yang tak kalah mewah dari mobil para pengeroyok tadi. Aline lalu membantu si pria berkemeja biru muda itu ke mobilnya. Seluruh badannya sakit semua. Aline yang mengerti ekspresi pria tadi lalu memasukkan pria itu ke bangku penumpang. Lalu ia sendiri menuju pintu yang satunya lagi. "Mana kuncinya, Mas?" tanya Aline begitu ia mendudukkan bokongnya di kursi pengemudi.
Setelah mendapatkan kunci mobil, Aline menjalankan mobilnya menuju rumah Abah dan Bunda.
Rumah sudah sangat sepi ketika Aline sampai. Semua penghuninya pasti sudah terlelap karena hari ini memang sangat melelahkan di resto tadi. Bi Inah yang membukakan pintu dan membantu Aline membawa pria berkemeja biru muda itu ke kursi teras. Setelah mengambilkan kotak P3K dan semangkok kecil nasi panas beserta sebuah handuk 'good morning', Bi Inah membawakan sepiring nasi beserta lauk pauknya dan dua gelas air putih sesuai permintaan Aline. Lalu ia pamit pergi tidur.
Aline mengompres memar di wajah pria yang sudah babak belur itu menggunakan nasi panas, cara tradisional yang ampuh menghilangkan memar bila ia terjatuh saat kecil dulu. Aline ikut meringis ketika orang yang sedang diobatinya itu meringis. Pria itu tidak banyak bicara. Ia hanya diam dan meringis. Setelah mengompresi memar dan mengolesi lukanya dengan obat, Aline menyuruh pria itu untuk makan.
"Nah, sudah selesai. Sekarang Mas nya makan dulu!"
"Gue gak lapar. Thanks, by the way," tolaknya.
"Makan dulu, baru pulang! Mas butuh tenaga untuk bawa mobil sampai ke rumah. Makanlah! Saya temani. Kasihan bibi sudah repot-repot," bujuk Aline.
Akhirnya pria itu memakan makanan dan meminum air yang diberikan. Setelah mengucapkan terima kasih, iapun segera pulang.
Flashback off.
Aline merenungi hari ini di dalam kamarnya. Aline bersyukur kepada Allah karena hari ini ia telah menjadi orang yang berguna terhadap sesama. Ia bersyukur si mbok mengajarinya bersih-bersih rumah walaupun tanpa sepengetahuan maminya, karena pasti maminya akan marah melihat anak gadis kesayangannya melakukan pekerjaan ART. Aline tersenyum mengingatnya.
Ia bersyukur mami dan si mbok mengajarinya memasak.
Ia bersyukur dikirim kuliah ke luar negeri yang membuatnya menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.
Dan ia bersyukur papi menyuruhnya mengikuti berbagai kursus bela diri sejak ia kecil dulu. Pasca penculikan yang pernah dialaminya saat berusia 7 tahun dulu, papi dan seluruh keluarganya menjadi overprotektif padanya.
__ADS_1
Ahhhh, ia merindukan keluarganya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan papinya yang telah dengan tega mengusirnya. Walau bagaimanapun, tidak ada yang namanya mantan anak atau mantan papi. Ia berharap suatu saat papinya akan datang menjemputnya. Setetes air mata lolos ke pipi Aline mengingat keluarganya.
Entah do'anya akan terkabul suatu saat nanti atau tidak, yang pasti saat ini Aline merasa sangat bersyukur atas apa yang telah dilaluinya. "Ya Allah, nikmat-Mu beribu-ribu, tapi sujudku terburu-buru," ucapnya seraya berdiri menuju kamar mandi untuk berwudhu.