
Aline baru saja selesai memfotokopi laporan keuangan dari sebuah kantor cabang yang diminta oleh Rendi. Aline melihat jam tangannya, sudah pukul 15.10. Setelah ini, ia bisa pulang karena pekerjaannya hari ini telah selesai semua.
Aline berjalan memasuki ruangan Rendi, sementara yang empunya ruangan sedang berbicara dengan seseorang di saluran HP-nya. Aline meletakkan laporan beserta fotokopinya di meja Rendi. Rendi mengucapkan terima kasih dengan gerakan bibir dan memintanya untuk menunggu dengan bahasa isyarat, membuat gadis itu berdiri diam di tempatnya menunggu atasannya itu selesai dengan panggilannya.
"Lin, lo masih ada kerjaan?" tanya Rendi begitu ia menutup telponnya.
"Udah gak ada, Mas. Ini udah mau pulang. Tapi mau sholat Ashar dulu, nanggung," jawab Aline.
"Hm, boleh minta tolong gak?"
"Boleh, Mas."
"Tolong lo anterin ini ke pak Erlangga ya!"
"Oke, Mas. Lantai paling atas kan?" tanyanya menyebutkan lokasi ruangan CEO berada.
"Bukan ke ruangannya, Lin, tapi ke apartemennya. Tolong ya, Lin! Pak Erlangga gak masuk hari ini, sementara sekretarisnya udah izin pulang tadi ke gue karena kandungannya kontraksi katanya, gue juga gak ngerti. Pokoknya dia mau ke dokter kandungan gitu. Mumpung lo mau pulang juga. Boleh ya?"
"Oooh. Boleh kok, Mas. Kirimin aja alamatnya kalo gitu!"
"Minta sopir kantor aja yang ngantar. Bilang aja gue yang suruh!"
"Oke, siap Mas."
Rendi lantas mengetikkan alamat Erlangga lalu mengirimkannya ke Aline. "Pastiin yang nerima pak Erlangga sendiri ya, Lin! Soalnya penting, buat rapat direksi sama dewan komisaris."
"Siap Mas!"
Aline merasa de Javu. Lalu ia teringat saat bu Suci, mamanya Rendi, pernah meminta tolong padanya dulu, saat ia masih bekerja sebagai buruh setrika di rumah mereka. Bu Suci juga meminta agar paket yang ia titipkan diterima langsung oleh bu Luna. "Ibu dan anak ternyata sama," pikirnya.
Aline menekan bel sebuah unit apartemen mewah. Sudah lima kali namun belum juga ada yang membukakannya pintu. "Bener gak sih ini alamatnya? Ah, tunggu aja deh lima menit lagi. Kalau gak dibukain pintu juga, aku tinggal pulang, mau?!" Aline berbicara dengan pintu karena kesal belum juga ada yang merespon bel dan ketukannya.
Hampir saja Aline balik kanan, bunyi klik terdengar dari balik pintu, pertanda seseorang sedang membukakannya pintu dari dalam.
"Ehh ... Pak Elang??" tanyanya bingung, lalu melihat HPnya untuk memastikan alamat pak Erlangga yang dikirim Rendi. Sementara Elang berdiri menyandar di kunsen pintu mengamati tingkah laku karyawannya itu.
"Maaf, Pak. Saya mencari Pak Erlangga, mau nganterin titipan dari pak Rendi dari Atmaja Corp. Pak Erlangganya ada, Pak Elang?" Aline berbicara dengan nada yang sedikit ragu.
"Masuk!" kata lelaki itu lalu berjalan mendahului Aline ke dalam apartemennya.
"Mau masuk atau diam di situ?" Elang menjadi kesal sendiri karena kesibukannya terganggu, terlebih melihat si nona pashmina itu hanya berdiri di ambang pintu.
"Ii ... iiiya, Pak." Aline lalu berjalan ragu-ragu memasuki apartemen mewah itu. Ia ingat pesan Bunda bahwa lelaki dan perempuan itu tidak baik berada di satu ruangan, karena yang ketiganya adalah setan. Namun karena pekerjaannya, ia terpaksa memasuki ruangan yang luasnya melebihi kontrakannya kini. "Interiornya benar-benar manly banget," pikir Aline.
Melihat Aline yang diam seperti orang yang sedang menunggu sambil mengamati seisi apartemennya itu, membuat Erlangga atau yang kerap disapa Elang mempertanyakan titipan dari Rendi.
"Ekhem ... Mana?"
__ADS_1
"Maaf, Pak, tapi Pak Rendi meminta saya untuk menyerahkannya langsung pada pak Erlangga," ucapnya tegas namun tetap sopan. Elang lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Si gadis pashmina ini gimana sih? Masa gak kenal sama gue? CEO-nya sendiri? Benar-benar!" bathinnya.
"Ya sudah, kalau begitu cepat kemarikan! Lo gak lihat gue sedang sibuk, gak ada waktu buat main-main!" Nada bicaranya sudah mulai meninggi karena ternyata ia kembali tidak dikenali oleh gadis cantik tapi ah, entahlah...
"Anda??? Pak Erlangga?" tanyanya kaget.
"Sudah nyambung? Sekarang cepat kemarikan titipan Rendi!"
"Dia????" Aline kaget dengan orang yang dimaksud. Dalam pikirannya, pak Erlangga, CEO Atmaja Corp itu, lebih muda sedikit dari pak Gunawan. Mungkin sedikit buncit atau agak botak, mirip-mirip dikit sama pak Gun. Yah, mungkin saja kan kalau Erlangga itu adik beliau karena memang di awal pak Gun menyebutkan bahwa perusahaan ini adalah perusahaan keluarganya. Tak terlintas di pikirannya bahwa Erlangga yang dimaksud adalah pak Elang, anak tertua pak Gun dan Bb Luna. Yah, walaupun kalau dipikir-pikir sih wajar juga.
Aline lalu menyerahkan paperbag yang dititipkan oleh Rendi tadi. Memang benar pak Elang ini sepertinya sedang sangat sibuk sekali, terlihat dari kertas dan berkas-berkas yang bertebaran di sekitar meja dan sofa yang ada di depannya, lalu laptop dan mesin printer yang sedang menyala. Tapi kan tetap gak boleh menyebalkan seperti ini. Masih syukur aku mau nganterin titipan ini. "Huuusshhh, istighfar! Kamu harus ikhlas", bathinnya mengingatkan. Aline lalu beristighfar dan mengucap kata sabar berkali-kali sambil mengelus dadanya.
Sementara Elang membuka paperbag dan amplop yang ada di dalamnya. Dikeluarkannya berkas dari amplop yang ternyata adalah materi untuk rapat direksi dan dewan komisaris esok , lalu dibolak-baikkannya amplop itu, seperti mencari sesuatu yang mungkin tersangkut atau terselip di bagian dalam amplop. "Softfile nya gak lo bawa?" tanyanya kemudian.
"Eh? Maaf, Pak, saya kurang tahu. Pak Rendi cuma menitipkan itu ke sayajawabnya," jawabnya.
Elang mengangguk mengerti lalu meraih HPnya dan mendial nomor Rendi.
"Halo Nyet, lo masih di kantor?" Elang melihat jam tangan mahalnya.
.....
"Gue butuh softcopy yang tadi. Bisa lo email ke gue sekarang?"
.....
.....
"Ah lo gak biasanya ceroboh. Ya udah lah. Lain kali gue gak mau ada yang beginian lagi ya, Ren!"
.....
"Ya udah". Elang lantas mematikan telponnya.
"Duduk", titahnya melihat Aline yang masih berdiri.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya cuma mau mengantarkan ini. Kalau begitu, saya permisi."
"Duduk!" ulangnya dengan penekanan di setiap suku katanya. "Gue belum izinin lo pulang. Tunggu di sini, gue butuh bantuan lo buat ngetik ulang ini semua!" Kali ini Aline menurut. Laki-laki ini benanr-benar. Dia minta tolong tapi terdengar seperti perintah di telinga Aline. Lalu Aline duduk di sofa yang tidak ditebari kertas.
"Setelah ini, lo ketik ulang terus lo print sama fotokopiin buat rapat direksi ... krrrrriiiiiiiuuukkk ...." Belum selesai Elang memberikan instruksinya, suara perutnya menyela, berdendang, membuatnya malu bukan kepalang, hilang sudah wibawanya di depan si nona pashmina ini. Sementara Aline, jangan ditanya. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa di depan bos menyebalkannya ini.
"Apa senyum-senyum? Cepat sana buatkan saya makan siang! Dapur ada di sana!" tunjuknya menutupi rasa malunya.
"Itu sepertinya sebuah permintaan tolong, tapi kenapa terdengar seperti perintah ya, Pak?" Aline menyuarakan isi hatinya sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Gak usah senyum- senyum!", Elang masih menahan malu.
Mau tidak mau, Aline berjalan ke arah dapur masih dengan menahan senyum. Lebih baik ia di dapur daripada berduaan di ruangan itu dengan bos menyebalkan yang sedang kelaparan. Bisa-bisa nanti ia yang dimakan bos nya itu. "Hiiiiiiiy, syereeem." Aline bergedik ngeri dengan pikirannya sendiri. Aline lalu memeriksa kulkas dan ia hanya menemukan dua bungkus mi instan rasa ayam bawang, dua butir telur ayam, seledri yang sudah mulai menguning, daun bawang yang sudah agak mengering, sedikit rawit, wortel sebiji, beberapa potong nugget dan juga bakso. Lalu Aline beralih ke rak-rak dapur. Di sana ia menemukan bawang merah, bawang putih, garam, teh, kopi, merica, kecap yang sudah kedaluwarsa, lalu ada juga saos sambal yang belum kedaluwarsa tapi tampilannya sudah tidak meyakinkan untuk dimakan, dan wadah gula yang sudah tidak ada isinya.
"Katanya CEO, orang kaya, punya kulkas besar tapi kosong, rice box nya keren sih tapi berasnya cuma beberapa butir doang. Huh ... dapur aja yang gede tapi gak ada isinya dan gak terawat," celetuknya tanpa sadar bahwa Elang sudah berada di dapur dan ikut mendengar celetukan Aline. Entah mengapa ia menikmati celetukan unfaedah gadis yang sedang bergerak lincah ke sana ke mari mencari perlengkapan perang di dapurnya itu.
"Pak, saya gak menemukan apapun yang bisa dimakan kecuali mi instan!" ucapnya sedikit berteriak sambil tetap sibuk mencari pisau, talenan, wajan dan kawan-kawannya.
"Gak perlu teriak-teriak! Gue gak budeg. Lo pikir apartemen gue hutan?"
"Ennnggg ... maap, maap, Pak. Saya pikir bapak masih di dalam," ucap Aline menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Masak aja apa yang bisa lo masak asal bisa dimakan. Setelah itu, lo isikan kulkas gue dan skalian rapikan dapur gue yang katanya gede tapi gak terawat ini," ucap Elang menyebalkan sembari berjalan meninggalkan dapur sambil menahan tawanya. Sudah terbayang olehnya ekspresi marah dan kesal si gadis pashmina itu. Sementara Aline, jangan ditanya. Wajah gadis itu sudah merah seperti kepiting rebus menyadari celetukannya tadi didengar oleh si bos galak ini.
"Huuuh, bos mah bebas perintah-perintah." Aline lalu memulai acara masak mi instantnya. Tak lama kemudian, ia sudah menyajikan masakannya kepada pak Bos nya itu.
"Silakan dimakan, Pak. Itu semua isi kulkas Bapak," ucapnya enteng.
"Maksudnya?"
"Ha? Gak ada maksud apa-apa, Pak. Yang ada di mangkok itu semua bahan makanan yang ada di dapur bapak dan alhamdulillahnya masih layak makan. Cuma tadi telurnya yang 1 gak bisa dimasak karena udah busuk, jadi saya buang," jelasnya panjang lebar.
"Ya sudah. Kalau gitu lo ke supermarket sana, belanja buat isi kulkas dan dapur gue. Bawa ini!" katanya menyerahkan sebuah kartu debit lalu menyebutkan pin nya.
"Oh iya. Password pintu apart gue 19101986. Takut nanti ga kedengaran soalnya mesti translate kontrak buat bokap besok."
"Tapi, Pak. Saya harus pulang. Saya ...."
"Anggap lo sedang lembur! Setelah belanja nanti, lo ketik ulang nih semua buat materi rapat, perbanyak untuk 12 orang!" katanya menunjuk dokumen yang dibawa Aline tadi yang sedang dicoret-coret, revisi, olehnya. "Sekarang buruan sana! Semakin lama lo berangkat, semakin lama lo pulang," ancamnya membuat Aline bergegas ke supermarket seperti yang diperintahkan. Sementara Elang menikmati makan siangnya yang kesorean, yang ternyata memang sangat enak. "Rendi bener, masakannya enak. Masak mi aja bisa seenak ini, apalagi masak yang lain-lain," celetuknya di sela-sela makannya.
Setelah perutnya terisi, Elang kembali fokus dengan pekerjaannya, namun kepalanya terasa sangat berat dan badan rasanya ngilu semua. Alhasil, ia tertidur dalam posisi yang benar-benar tidak nyaman masih menggenggam kontrak yang sedang ia kerjakan.
Sementara Aline, ia membeli banyak persediaan makanan karena ia berpikiran bahwa Elang suka memasak, terbukti dari perlengkapan tempur di dapurnya yang terbilang cukup lengkap untuk seorang bujangan, dan bahan-bahan masakan yang tersisa sedikit. Lalu ia menitipkan belanjaannya di dekat kasir karena hendak menunaikan sholat Maghrib terlebih dahulu. Setelah sholat, baru ia membayar belanjaannya dengan kartu yang diberikan Elang dan segera pulang ke apartemen lelaki itu.
Setelah memencet bel dan tidak ada yang membukakan pintu, ia pun memasukkan password yang disebutkan Elang tadi. Saat masuk, ia melihat bahwa bos nya itu sudah tertidur dalam posisi bersandar dengan tidak nyamannya di sofa. Aline tak menghiraukan bos nya itu. Bodo amat. Ia langsung menuju dapur dan menyusun belanjaannya. Setelah selesai, ia kembali ke dalam, hendak mengetik yang disuruh tadi. Dipanggil-panggilnya Elang untuk membangunkan lelaki itu, tetapi tidak ada pergerakan. Saat Aline mendekat, ia melihat wajah Elang memerah dan berkeringat, sementara tubuhnya seperti menggigil. Aline meraba dahi Elang, dan ternyata pria itu demam. Aline teringat saat di Jerman dulu, pacarnya, Mario, pernah mengalami hal seperti ini. Pada saat itu Mario hanya mengatakan jika kaum pria sakit demam, itu tandanya ia sudah sangat kelelahan. Jadi yang mereka butuhkan hanyalah selimut dan bantal yang nyaman untuk tidur dan beristirahat. Maka Aline berinisiatif untuk memberikan ruang istirahat untuk Elang. Sambil terus mengucapkan kata maaf, Aline merubah posisi Elang dari duduk menjadi telentang. Ia lalu mengambil berkas kontrak yang digenggam oleh lelaki itu, menaruhnya ke meja di sebelah laptop, kemudian mengambil bantal kursi untuk alas kepalanya. Untuk selimut, Aline tidak berani mengambilnya dari kamar lelaki itu. Tak mungkin kan ia masuk ke kamar lelaki lain selain kedua abangnya? Apa kata dunia?? Aline memutar otaknya dan sebuah ide muncul di kepalanya.
Ia rogoh isi paperbag yang slalu ia bawa. Ia keluarkan mukena yang biasa ia pakai dan pashmina cadangan yang selalu ia bawa, lalu ia selimutkan ke tubuh lelaki yang sedang menggigil itu.
Kemudian, ia beranjak ke arah dapur, memeriksa kotak P3K yang ada di pilar counter dapur, mengambil obat penurun panas, memeriksa tanggal kedaluwarsanya dan sebuah handuk kecil.
Sambil mengompresi Elang, Aline meraih laptop Elang untuk mengerjakan tugas yang diberikan padanya tadi. Ternyata lelaki itu sedang menerjemahkan kontrak dan menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia ketika ia tertidur tadi, terbukti dari tab yang sedang terbuka di layar laptop. Aline menutup tab itu, lalu membuka lembar baru untuk mengerjakan tugasnya. Setelah selesai, Aline menyimpan dan menge-print laporan tersebut menjadi beberapa rangkap. Setelah itu, ia rapikan dan ia tumpuk menjadi satu lalu ia susun di sudut meja. Tak lupa ia salin ke 'Seagate' (hard disk eksternal) milik Elang dan diberinya sticky note yang berisi "Tugas Ketik Ulang, 12 eksp. Soft copy di Seagate folder: Untuk Pak Boss."
Aline memeriksa suhu badan Elang, yang sudah turun. Tanpa sadar, tangannya meraih salinan kontrak yang tadi digenggam oleh Elang. Ternyata kontrak itu berbahasa Jerman. Aline menimbang-nimbang apakah ia harus membantu CEO-nya ini atau tidak. Setelah lama berpikir, akhirnya ia putuskan untuk membantu menerjemahkan walaupun Aline tidak tau alasan spesifik kenapa kontrak itu harus diterjemahkan segala. Mungkin pak Gun tidak menguasai bahasa Jerman. Mungkin saja. Tapi bukannya pak Gun sudah pensiun? Ahh... bodo amat.
Setelah selesai, Aline mencoba membangunkan bos menyebalkannya itu. Tapi tak berhasil. Lantas, ia beranjak ke dapur, membuatkan sup untuk makan malam kalau-kalau lelaki itu terbangun nanti malam dan kelaparan. Lalu ia juga membuat bubur yang rencananya untuk sarapan si Pak Bos besok pagi, lalu ia masukkan keduanya ke dalam kulkas. Tak lupa ia menuliskan sticky note dan menempelkannya di pintu kulkas berisi pesan untuk menghangatkan makanannya terlebih dahulu.
Setelah semua selesai, Aline mengambil segelas air dan menaruhnya di meja yang sudah ia rapikan. Meletakkan sebutir obat penurun panas dan sebuah sticky note.
__ADS_1
Ia melirik jam tangannya, sudah hampir jam 9.30 malam. Ia pun bergegas pulang ke rumahnya. Aline sudah mengabari Abah tadi saat di supermarket, untuk meminta izin tidak masuk hari ini karena harus lembur dan berjanji akan mengganti jam kerjanya hari ini dengan hari Sabtu nanti saat ia mendapatkan jatah libur. Dan itu semua berkat bos menyebalkan yang saat ini sedang beristirahat dengan pulas di apartemen mewahnya. Huuuffft ....