Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Ricky Alvaro Tiocandra


__ADS_3

Seorang pria dengan pakaian formal tiga lapisnya baru saja menginjakkan kaki di Jakarta. Khas eksekutif muda dengan kaca mata hitam yang bertengger manja di hidung mancungnya, mendorong sebuah koper berukuran kecil dengan sebuah paket berukuran sedang bertengger di atas koper yang dibawanya. Wajahnya tampan dengan garis-garis yang tegas. Bodinya oke punya, pelukable dan sandarable. Pria 181 cm itu berjalan mencari seseorang yang ditugaskan menjemputnya.


Dihampirinya seorang lelaki berusia pertengahan tiga puluhan, yang mengenakan T-shirt Polo berwarna hitam yang memegang kertas berisikan namanya sedang menunggu di pintu keluar.


"Gilang?" tanya pria yang mengenakan pakaian formal.


"Ya, Pak. Selamat datang. Apakah penerbangan anda menyenangkan?" basa basi lelaki yang dipanggil namanya itu.


"Lumayan," jawabnya membuka obrolan.


"Mari ikut saya, Pak. Sebelah sini," katanya kemudian memimpin jalan. Gilang mengambil alih bawaan lelaki itu yang cukup banyak. Sebenarnya bukan barang bawaannya saja, tapi juga titipan yang diambilnya tadi dari tempat penitipan di bandara.


"Kita langsung ke lokasi saja ya, Pak. Acaranya akan segera dimulai," Gilang menjelaskan yang dijawab dengan anggukan samar oleh lelaki yang duduk di bangku belakang mobilnya. Lelaki itu nampak sibuk dengan tabletnya membuat Gilang sungkan untuk mengajaknya berbicara lagi.


"Apakah dia sudah sampai?" tanya lelaki itu setelah hening beberapa saat.


"Belum, Pak. Masih diperjalanan. Jika perjalanan kita lancar, kita yang akan sampai duluan." Gilang menjelaskan. Sesekali matanya menatap lelaki yang ia jemput tadi melalui kaca spion dalam.


"Baguslah."


Mobil yang dikemudikan oleh Gilang berhenti tepat di depan lobby sebuah hotel bintang lima. Tentu saja hotel ini dijadikan pilihan, karena selain merupakan aset perusahaan, lokasinya yang memang dekat dengan bandara memudahkan bagi para tamu yang datang dari luar kota atau luar negeri nantinya.


Lelaki tinggi itu turun dari mobilnya. Berjalan menuju red carpet dan melakukan sesi foto seperti yang diarahkan oleh orang-orang EO atau panitia acara. Setelah mengisi buku tamu, dan menyimpan nomor yang diberikan oleh panitia, ia memilih kembali ke lobby, menunggu seseorang yang membuatnya harus terbang terburu-buru dari Bali ke Jakarta.


Tak lama kemudian, sebuah Honda jazz silver berhenti tepat di depan pintu lobby. Seorang gadis yang sangat dikenalinya namun dengan penampilan yang berbeda, lebih agamis karena mengenakan hijab, turun dengan anggunnya. Keanggunannya persis seorang putri raja. Nampak gadis itu berinteraksi dengan perempuan lain yang mengemudikan mobil. Seperti mengucapkan terima kasih atau semacamnya. Lalu tersenyum dan melambaikan tangan ketika mobil yang ia tumpangi tadi melaju meninggalkan area hotel. Semua pemandangan itu tak luput dari pengamatan lelaki yang duduk di salah satu sofa tunggu yang ada di lobby.


Gadis itu berjalan ke arahnya sambil menundukkan pandangan.


karena banyak lelaki yang berada di sekitarnya terang-terangan menatap kagum gadis itu. Ia berjalan dengan anggun melewati red carpet dan berfoto di booth yang telah disediakan oleh panitia. Sementara lelaki itu mengikutinya dengan jarak aman.


Setelah selesai sesi foto, gadis itu mengisi buku tamu dan mendapatkan sebuah nomor, "Seperti peserta ujian saja pake nomor nomor segala," komentarnya sambil tersenyum lucu, membuat wanita yang menyerahkan nomor itu tersenyum kikuk.


"Silakan masuk, Mbak. Acara sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu," ucap mbak-mbak pagar ayu itu ramah yang dibalas anggukan oleh gadis semampai itu.


Tapi tepat sebelum kaki gadis itu melangkah memasuki ballroom acara, lelaki dengan pakaian formal itu menariknya dan menyeretnya ke tempat yang cukup jauh dari pintu utama. Ia mendahului gadis itu berjalan, membuat sang gadis terseok-seok mengikuti langkah lebarnya di belakang, persis seorang bapak yang memaksa anaknya yang sedang asyik bermain untuk pulang dan mandi. Ia sengaja melakukan itu untuk mengerjai gadis cantik yang telah lama tidak ia jumpai itu. Lelaki itu menarik tangan lalu mendorong si gadis hingga ke dinding, berhadap-hadapan dengannya. Kedua tangannya memegang erat kedua tangan gadis cantik itu sedemikian erat membuatnya tak bisa berkutik. Gadis itu tersengal-sengal mengikuti langkahnya, ketakutan nampak menjalar di wajahnya yang sangat mulus.


"Suka dengan kejutannya, Princess?" ucap lelaki itu dengan senyum smirk khas miliknya.


"Kau!" cicit gadis itu masih dengan ekspresi kaget bercampur takut yang kentara.


"Yap, it's me, princess Rosaline!" balasnya enteng.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, Rik!!!" Raung gadis yang ia panggil 'princess' tadi dengan suara seperti menggeram.


"Auuu ... garang betul, macam biase. Santai je laah, jangan risau pakai ekspresi takut macam tu. Aku ni bukan hantu," ucap lelaki yang dipanggil Rik itu dengan wajah geli, kental dengan logat Melayunya. "And call me ABANG Ricky! Aku ni tua tiga tahun dari engkau," ucapnya menyentil ujung hidung Aline yang sedang berada dalam kungkungannya.


Gadis yang bernama Rosaline atau Aline itu mencoba melepaskan tangannya dari tangan Ricky, namun percuma.


"Lepasin!!! Posisi berdiri kita berdua sekarang ini persis kayak pasangan yang sedang berbuat tindakan asusila," berangnya karena risih bila ada yang melihat mereka dengan posisi seperti itu.


"Peduli amat dengan pikiran orang. Kita sudah dewasa dan ini di hotel, Cantik, di Jakarta pula. Biar saja mereka berpikiran terserah mereka." Ricky tidak terpengaruh dengan permintaan gadis yang masih ia kungkung.


Aline menginjak kaki lelaki itu membuatnya mengaduh merasakan tumit setinggi tujuh senti menusuk sepatu mahalnya, tapi tetap tak melepaskan tangannya. "Tentu saja! Sekarang aku sudah menggunakan jilbab, jadi harus menjaga marwahnya." Aline mencoba bernegosiasi, bila tidak berhasil juga, ia akan menggunakan kekerasan pada lelaki ini.

__ADS_1


"Oke ... oke ...! Panggil dulu aku dengan sebutan 'BANG RICKY'!" Ricky bersikeras agar Aline memanggilnya dengan sebutan abang.


"Baiklah, BANG RICKY! Tolong lepasin tangan aku! SE-KA-RANG!!"


"Baiklah, Rosaline Tiocandra! Aku akan melepaskan tanganmu SE-KA-RANG." Ucapnya meniru permintaan gadis itu lalu melepaskan tangan gadis yang bernama Rosaline itu. Aline lalu terdorong tubuh kekar Ricky sedikit ke belakang, memberi jarak bagi mereka berdua.


Ricky Alvaro Tiocandra adalah anak dari adik papi Aline, Haikal Tiocandra. Mamanya, Erika, meninggal saat melahirkannya sehingga Ricky disapih oleh mami Nissa yang saat itu sedang menyusui Rio yang masih berusia sepuluh bulan. Papanya terlalu sibuk bekerja demi melupakan kesedihan ditinggal sang istri, membuat Ricky kecil banyak menghabiskan waktu di rumah kediaman kakak dari papanya itu daripada di rumah mereka sendiri, terlebih lagi sang kakak yang terpaut umur cukup jauh menaruh benci padanya karena menganggap ialah sebagai pembunuh mama mereka. Kemudian, setelah papanya menikah lagi, lalu sang kakak memilih untuk kuliah di luar negeri, membuat Ricky yang saat itu sudah beranjak remaja semakin merapat dengan tiga saudara itu, terlebih dengan Rio. Bagi Ricky kecil, Lavenderio Tiocandra adalah idolanya! Setelah lulus SMA, kakek dari pihak ibunya mewariskan ia sebuah perusahaan yang seharusnya diwarisi oleh ibunya Erika, karena Erika merupakan anak tunggal. Dan Rickypun memutuskan menerima warisan itu dan terbang ke Bali, untuk tinggal bersama sang kakek dan belajar menjalankan perusahaan seperti sekarang. Begitu juga Esti. Setelah lulus kuliah dan menikah, ia tinggal di Jogja, menjalankan cabang perusahaan kakeknya yang ada di sana.


Sekarang, hubungan Esti dan Ricky sudah harmonis layaknya kakak-adik. Suaminya lah yang membuatnya sadar bahwa Ricky tidak memiliki salah apapun atas kepergian ibu mereka. Karena itulah, setiap ada kesempatan, Ricky akan selalu mengunjungi kakak dan keluarga kecilnya itu di Jogja.


"Apaan sih rese kali jadi orang? Sama siapa ke sini?" tanya Aline sambil melihat kiri kanan.


"Sama bang Rio!" jawab Ricky santai.


"Mana? Mana?" tanya Aline ketakutan. Takut kalau-kalau ia akan diseret pulang oleh abangnya itu.


"Hahahahaha .... Segitu takutnya. Bang Rio tak de lah. Aku je. Plan B." Ricky menyatakannya dengan gamblang, karena Rosalinepun tahu arti dari plan B. Yang ia tak tahu adalah bahwa ketiga lelaki ini sudah mengetahui keberadaannya.


"Tentu aja. Ko tu kan anak buahnya bang Rio! (Ko adalah bahasa gaul di kampung halaman mereka sama seperti lu/lo). Kalau dia suruh A, ko kerjakan, kalau dia suruh Z pun ko kerjakan. Mana peduli ko kalau itu merugikan orang lain," jelas Aline.


Sekali lagi Ricky menyentil pucuk hidung Aline, membuatnya mengaduh.


"Heh ... mulut ko tu ye! Panggil aku 'ABANG'! Dah pakai jilbab tapi kelakuan tetap tak berubah." Ricky kesal karena sedari dulu Rosa tak pernah memanggilnya dengan baik. Sekarang setelah lama tak berjumpa pun ternyata gadis cantik itu tetap menganggap mereka sebaya.


"Tua tua tapi kan kita lulus SMA nya barengan. Jadi kita impas." Ricky sebenarnya anak yang pintar, namun ia tak ingin menghabiskan masa remajanya dengan belajar dan belajar sehingga ia memilih kelas reguler. Sementara Rosaline, sudah masuk SD nya kepagian, ikut kelas aksel pula sehingga ia bisa mengejar Ricky.


"Tak de hubungaaan. Dah lah. Jom masuk." Ricky melipat tangan sebelah kirinya meminta Aline untuk menggandengnya dan mengakhiri drama tidak berbobot mereka. Namun setelah beberapa saat menunggu, gadis itu tak jua kunjung menggamit lengan kekar Ricky.


"Hey manja! Aku ni muhrim engkau. Bisa menikahkan engkau kalau papi sama abang-abang engkau tiada."


"Tapi tunggu dulu! Ko tahu dari mana ini 'aku'?" tanya Aline yang baru saja teringat darimana Ricky mengenali dirinya, secara dari tampilan saja sudah berbeda dari beberapa tahun yang lalu.


Ricky yang sudah tahu bakal mendapat pertanyaan ini sudah menyiapkan jawaban. Ia harus bermain cantik seperti kata Cris.


"Heh! Kita ni hidup bersama dah bertahun-tahun. Dari ko mandi tak pakai baju sampai ko pakai baju model apapun aku dah tau. Yaaah, dari radius 1 km je, aku ni dah bisa tercium bau engkau. Oke?"


Aline pun paham akan jawaban Ricky. Ia pun bisa mengenali lelaki ini meskipun ia sudah lama tak bertemu. Ricky jauh lebih tampan dan dewasa dari pada saat SMA dulu.


"Tapi kan, orang tak tau kalau kita ni keluarga?"


"Ya sudah, kalau gitu kita kasih tahu aja!"


"Eh, jangan macam-macam ko ya, Rik! Jangan lupa aku punya kartu As ko. Bisa aku buka ke kak Esti!"


"Ck. Beraninya main ancam! Gak sopan sama Abang! Ya udah. Kalau macam tu anggap aje lah aku ni kekasih engkau. Kapan lagi ko punya pacar ganteng macam aku ni!"


"Ganteng macam banteng! Malas!"


"Ck! Selain manja ko ni merepotkan pula. Cepatlah. Acara dah mulai dari tadi."


Akhirnya, Aline menggamit tangan Ricky juga walau dengan terpaksa. Ia membisikkan kepada lelaki itu untuk memanggilnya Aline, yang diangguki begitu saja oleh Ricky karena memang ia sudah mendapat cerita dari bang Cris.


Flashback on:

__ADS_1


Cris mendial nomor seseorang yang juga telah dianggapnya sebagai adik lelaki bungsunya.


"Halo, Bang," salam dari seberang.


"Halo, Rik. Apa kabar?" Basa basi ala Cris.


"Alhamdulillah sehat, Bang. Abang dan keluarga sehat juga kah?"


"Mami agak drop, tapi yang lain sehat."


"Abang ganggu tak?"


"Tak lah, macam sama siapa je."


"Abang mau minta tolong. Ricky sibuk tak weekend ni?


"Tak sibuk sama sekali, Bang. Cuma berencana ke Jogja jenguk kak Esti. Ada apa?


"Abang minta tolong kamu menghadiri undangan Atmaja Corp malam ini."


"Mendadak sekali. Kenapa bukan Abang sendiri yang datang? Papi atau bang Rio barangkali?"


"Biasa, plan B."


"Oh." Ricky mengerti arti plan B. Plan B adalah rencana cadangan bila baik Cris maupun Rio berada dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menjalankan sebuah rencana. Dari dulu juga begitu atas permintaan nya sendiri. Bahwa ia lebih suka menjadi pilihan terakhir bagi ketiga saudara itu.


"Tunggu Abang jelasin dulu. Jadi begini-," Crispun mulai menceritakan asal usul ia mendapatkan lokasi keberadaan adik mereka. "Tapi Rosa gak tau kalau dia sudah terlacak. Jadi musti bermain cantik."


"Ooh oke oke, Bang. Kalau gitu aku berangkat siang ini juga ke Jakarta."


"Oke. Nanti ada Gilang yang akan menjemput di bandara. Ingat, buat senatural mungkin!" titah Cris sekali lagi.


"Siap, Boss!"


Flashback off.


Aline yang berjalan digandeng oleh Ricky memasuki pintu utama Ballroom. Ricky yang mengenakan stelan jas hitam dengan kemeja putih gading tampak serasi dengan pakaian yang digunakan Aline. Mereka terlihat seperti pasangan dengan baju couple. Sangat serasi. Kedatangan pasangan menawan ini menarik perhatian sebagian besar orang, termasuk Erlangga yang sedang berdiri di atas panggung menyampaikan kata sambutan.


Ricky memilih meja yang berada di sebelah kiri dari pintu masuk tadi. Ia sengaja memilih di sana karena dekat dengan stand-stand makanan. Jujur saja, ia sangat lapar.


Saat duduk, Ricky meminta HP Aline dan menyimpan nomornya di sana. Lalu ia membuat panggilan ke nomornya sendiri. Ia akan berbicara dengan gadis ini besok. Biarlah malam ini mereka menikmati pesta yang digelar secara meriah di hotel berbintang lima dengan suasana super mewah.


Saat Aline dan Ricky sedang beramah tamah dengan kolega dan rekan bisnis Ricky yang juga menghadiri pesta yang sama, seorang gadis berpakaian seragam EO dan panitia menghampirinya dan memintanya untuk mengikuti ke belakang panggung.


"Maaf, Mbak. Apakah Mbak pemilik nomor 080?" tanya gadis itu.


"Ya, betul. Itu nomor yang ada pada saya." Aline mengeluarkan nomor yang disebutnya sebagai nomor ujian tadi.


"Mari, Mbak. Silakan ikut kita ke belakang. Karena acara lelang akan segera dimulai," jelasnya.


"Maaf, Mbak. Tapi saya tidak mendaftar untuk mengikutinya."


"Begini, Mbak. Nomor Mbak di request langsung oleh Bu Shayna." Perempuan itu kembali menjelaskan. "Nanti sistem lelangnya akan dijelaskan langsung oleh Bu Shayna di belakang. Mari, Mbak."

__ADS_1


Aline pun mengangguk dan meminta izin kepada Ricky. Ricky akhirnya menyetujui dengan syarat nanti gadis itu harus pulang dengannya. Setelah meng-iyakan persyaratan Ricky, Aline mengikuti arahan untuk segera ke belakang panggung.


***


__ADS_2