
Seperti kemarin kemarin, setiap Jum'at malam, sepulang kerja Aline akan menginap di rumah Abah dan Bunda, sesuai janjinya pada keluarga itu dan juga permintaan Hana, karena mereka berdua mendapatkan jatah libur di resto setiap Sabtu dan biasanya para gadis manis itu akan menghabiskan hari berdua, quality time katanya.
Seperti hari ini.
Rencananya mereka berdua akan ke toko buku yang ada di mall. Jadi bisa sekalian cuci mata. Hana akan berburu novel terbaru penulis favoritnya, sedangkan Aline biasanya akan berburu buku-buku best seller.
Selesai sarapan bersama, Abah, Bunda, Aline dan Hana berbincang-bincang di teras samping. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas keluarga Pak Syahrial dan Bu Nurhalimah untuk membangun keakraban di antara anggota keluarga. Sesuatu yang sangat jarang Aline dapatkan dari keluarga kandungnya sendiri walaupun mereka selalu sarapan bersama di setiap ada kesempatan. Oke, lupakan kenangan itu sejenak, nikmati saja hari ini. Aline menengadah untuk menahan air matanya. Entahlah, akhir-akhir ini ia merasa sangat melankolis bila mengingat keluarganya yang ia tinggalkan di Batam. Mungkin karena kerinduannya, namun kekerasan hati papinya menjadi dinding pemisah yang membuatnya tak leluasa menumpahkan rasa rindunya. Ahhh .... Aline menghela napas. Lalu kembali ke dunia ia sekarang.
Abah sedang memberi makan ikan-ikan kesayangannya, sementara ia, Bunda dan Hana asyik duduk bercerita, bercanda, bertukar resep masakan dan menikmati kesejukan taman samping yang asri serta hangatnya mentari pagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 9.00. Itu artinya para gadis harus segera bersiap.
"Dek, siap-siap yuk! Dah jam sembilan nih,"ajak Aline.
"Siyaaaap, Mbak."
"Pada mau kemana? Libur bukannya istirahat di rumah, malah jalaaan terus. Apa gak capek?" protes Bunda.
"Hehehe, enggak kok, Bun. Kita berdua cuma mau ke toko buku hari ini. Aku mau cari novel sama buku pelajaran."
"Biarkan saja, Bun!Kasihan, mereka butuh refreshing," sela Abah membela anak-anak gadisnya. "Yang penting jaga diri dan jaga kepercayaan Abah."
"Tuh Bun, Abah memang the best deh. Insya Allah kami jaga kepercayaan Abah," janji Hana.
"Ya sudah, Bunda nurut aja sama Abah. Buruan siap-siap nanti kesiangan!"
"Siap, Bu Boss!" jawab Aline dan Hana serempak.
"Ck, kalian ini. Pulangnya jangan kesorean ya, biar bisa istirahat!"
"Oke, Bunda Sayaaang." Hana memeluk bundanya.
Tiga puluh menit kemudian, kedua gadis itu sudah siap, rapi dengan busana kasual masing-masing. Hana sedang memasang sneaker-nya, sedangkan Aline sudah siap menunggu di sebelah motor matic Hana. Dia juga sudah memanaskan mesin motor adik angkatnya itu. Lalu mereka berpamitan pada Abah dan Bunda yang juga sudah bersiap ke Resto.
"Udah ready?" tanya Aline.
"Yap. I'm ready. Let's go!" semangat Hana.
Tepat saat ia menstarter motor kesayangannya, ponsel Hana berdendang, menandakan ada panggilan masuk. Hana lalu mematikan kembali motornya dan merogoh kantong untuk mengambil HP yang tak berhenti menyanyikan lagu Korea kesukaannya. Ternyata panggilan dari Debby, teman kuliahnya.
"Bentar ya, Mbak. Aku terima telpon dulu," Aline mengangguk memberi izin.
"Hallo, assalamu'alaikum. Kenapa By?"
.....
"Masih di rumah sih, tapi udah mau jalan sama kakak gue. Kenapa emangnya?"
.....
"What???! Serius lo? Kok bisa mendadak gini sih?"
.....
"Ck, semena-mena banget emang dosen yang satu itu. Ya udah deh. Ini gue jalan ngantar kakak gue dulu, ntar gue jemput lo. Rencananya tadi kita mo ke mall yang deket rumah lo. Lo tunggu di depan ya! Gue berangkat sekarang nih," Hana mendumel.
.....
"Oke. Wa'alaikumsalam."
"Kenapa sih, Dek, ngedumel gitu sama dosen. Gak sopan, tau!" tegur Aline yang mendengar percakapan itu.
Hana lalu menghadap mbak Aline-nya yang masih setia duduk di jok penumpang motornya.
"Hehehehe maap, Mbak. Habisnya kesel."
"Kenapa?"
"Hhmmm maaf, Mbak Aline. Aku tiba-tiba ada kelas pagi ini."
"Kelas mendadak?"
"Iya, Mbak. Ya mau gimana lagi, dosen yang satu ini memang bener-bener. Giliran jam ngajarnya dia gak masuk, eh giliran kita libur dia minta diadakan kelas. Mana matkul dia 3 SKS lagi."
"Ya udah. Gak papa. Lain kali aja kita ke toko bukunya."
"Eh, jangan dong, Mbak. Mbak aku anter ke mall ya, terus aku langsung ke kampus, gak papa ya, Mbak?"
"Hhhmmmm .... Mbak males kalau jalan sendirian. Mending anterin Mbak pulang ke kontrakan aja ya! Lain kali aja kita ke toko bukunya. Gimana?"
"Yaaaah, jangan donk, Mbak. Gini aja. Mbak aku drop di mall. Mbak bisa jalan-jalan ato lihat-lihat keliling mall aja dulu. Ntar habis kuliah aku nyusul ke toko bukunya. Mau ya? Ya? Ya? Pliiiiis," pinta Hana dengan puppy eyes-nya.
Aline menjadi tidak tega dan akhirnya mengangguk. Padahal ia paling malas jika sendirian. Semoga saja kelas Hana cepat bubarnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Aline, Hana segera melajukan motornya menuju mall yang dimaksud. Setelah menurunkan Aline, motor Hana kembali melaju menuju rumah Debby yang tak jauh dari sana untuk berangkat ke kampus bersama.
Aline memasuki mall dengan malas-malasan. Ia benar-benar tak suka berjalan seorang diri. Sebelum ke toko buku, Aline berkeliling mall untuk sekedar melihat-lihat memperbaiki moodnya. Saat ia ke toilet untuk buang air kecil, tak sengaja ia berpapasan dengan Prita, sahabatnya yang berdomisili di Jogja, yang juga sedang berkaca membenarkan tampilannya di kaca sebelahnya.
"Rosaline!!!" histeris Prita yang mengenali Aline terlebih dahulu.
"Prita?!" Aline tak kalah histeris bertemu sahabatnya itu.
Mereka lalu berpelukan dan cipika cipiki. Prita malah memutar-mutar sahabatnya yang kini telah mengenakan hijab itu.
"Waaah, kamu terlihat makin cantik. Aku hampir pangling."
"Hehehe ... gak nyangka ya bisa ketemu di sini?"
__ADS_1
"Iya."
"Kamu sendiri aja?"
"Tadi berdua sih, sama temen, tapi dia udah duluan mau ke rumah sodaranya katanya. Mumpung lagi di Jakarta. Kamu juga sendiri aja nih?"
"Sekarang sih iyaa, tapi nanti ada adik angkat aku yang nemenin. Sekarang dia lagi ada kelas. Btw, kamu apa kabar? Bukannya di Jogja ya?"
"Alhamdulillah, kabar aku baik. Iya, masih di Jogja tapi ini lagi ada acara di sini beberapa hari. Besok rencananya udah balik Jogja. Duuuuh, senengnya bisa ketemu kamu di sini. Kangeeeeen," katanya lagi sambil memeluk gemas Aline yang menurutnya semakin cantik saja dengan hijabnya.
"Ta, aku ga bisa napas."
Prita lalu melepaskan pelukan eratnya dari Aline. "Eh, sori sori. Habisnya aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi. Aku pikir kita gak akan pernah ketemu lagi, soalnya nomor kamu tuh aku hubungi udah gak aktif. Tanya sama teman-teman kamu yang lain, gak ada yang tahu. Bahkan Mario pun gak tahu kabar kamu," jelasnya.
"Eh iya, aku udah ganti nomor."
"Kenapa? Oh iya, kita cari cafe yuk! Masa kangen-kangenan di toilet, hahahahah."
"Yuk!"
Lalu mereka duduk di sebuah cafe, memesan minuman dan mulai bercerita kembali melepas rindu. Prita ini sebenarnya adalah teman yang akan dituju Aline saat diusir oleh papinya dulu. Namun Allah malah mempertemukannya dengan bunda Halimah. Sekali lagi, manusia hanya bisa berencana, tapi Allah jualah yang menentukan segalanya.
"Oh iya, mana HP kamu?" pinta Prita kepada Aline. Aline lalu menyerahkan HP-nya. Prita mengetikkan nomornya di HP Aline lalu membuat sebuah panggilan ke HP-nya. "Nih!" ucapnya kemudian menyerahkan kembali kepada Aline. Dalam hati ia bertanya, biasanya gadis di depannya ini walaupun tidak pernah pamer, tapi ia selalu menggunakan produk dengan kualitas terbaik, seperti HP selalu menggunakan HP dengan spek tinggi, bukan HP biasa dengan spek yang biasa seperti ini, namun ia simpan pertanyaan itu dalam hati.
"Kamu di Jakarta liburan atau gimana?" tanyanya kemudian saat pesanan mereka diantarkan oleh seorang waiter.
"Sekarang sih aku kerja, di salah satu perusahaan property di sini."
"Serius kamu kerja di sini?"
"Iya. Serius."
"Bukannya dulu kamu bilang mau bantu-bantu melanjutkan usaha keluarga kamu?"
"Ha? Iya sih rencananya gitu, tapi aku mau cari pengalaman dulu."
Prita menyipitkan matanya, memindai ekspresi di wajah Aline. Kecurigaannya semakin menjadi. Dia mencium ada ketidakberesan di sini. Prita dan Aline cukup dekat, bukan hanya karena sama-sama berasal dari Indonesia, tapi apartemen mereka berdua juga bersebelahan. Jadi keduanya sangat akrab. Satu-satunya yang dekat dan akrab dengan Aline saat di Jerman dulu, selain Mario, pacarnya yang warga negara Meksiko itu, ya Prita ini.
"Rosaline!"
"Ya?"
"Aku mencium ada ketidakberesan di sini. What happened?"
"Nope. Gak ada apa-apa. Semua baik-baik aja."
"Helloooo, Rosaline Denisa. Kita temenan bukan satu dua bulan. Tapi bertahun. Sekarang cerita sama aku!"
"Beneran, gak ada apa-apa," kilah Aline.
Prita kembali menyipitkan matanya, menatap Aline dengan tatapan yang tajam mengintimidasi. "Kamu pikir aku percaya dengan jawaban 'gak ada apa-apa' kamu itu?" omelnya.
"Oke," katanya sambil mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang tertangkap polisi. "Ceritanya panjang."
"Okee? Aku punya waktu banyak. Kebetulan hari ini aku free."
Lalu, mengalirlah cerita Aline dari saat ia hendak dijodohkan sampai ia bekerja di Atmaja Corp.
Prita memegang, menggenggam tangan sahabatnya itu untuk menguatkan setelah mendengar cerita sahabatnya itu. "Aku turut prihatin," katanya.
"Thanks. Aku bersyukur dengan keadaan aku sekarang." Aline tersenyum, tulus dan ikhlas.
"Kalau kamu butuh bantuan, call aku aja ya. Aku siap 24 jam buat bantuin kamu kapanpun kamu butuh."
"Siap."
HP Prita berbunyi, tanda ada panggilan masuk namun ia abaikan.
"Angkat aja! Siapa tau penting."
"Gak usah. Sepupu aku kok, si Elisa. Kamu masih inget gak? Yang dulu pernah liburan dan nginap di apart aku?"
"Aku agak kurang inget sih yang mana orangnya."
"Nih dia chat. Bentar ya!" lalu Prita membuka aplikasi W.A nya.
"Loh, kok dia nanyain kamu?"
"Ah, masa sih, Ta?"
"Iya, nih baca. Ada foto kamu pula!"
Aline lalu membaca chat yang dikirimkan oleh Elisa, yang ternyata adalah tunangannya Mas Rendi, atasannya.
Elisa : Assalamu'alaikum, Ta
(send)
Elisa : Gue boleh nanya gak?
(send)
Prita : Wa'alaikumsalam.
(send)
Boleh. Mo nanya apa, Sa?
__ADS_1
(send)
Elisa : Temen Lo yang di Jerman itu, yang ini bukan ya orangnya?
(send)
"Kok dia nanyain aku ya, Ta?" tanya Aline heran.
"Bentar ya! Aku tanyain dulu." Lalu ia mulai mengetik di HP-nya
Prita. : Temen aku yang mana satu nih?
(send)
Elisa : Itu, tetangga kamu yang kerja di cafe yang matcha latte-nya aku bilang paling enak itu.
(send)
Prita : Oooo ... Rosa maksud kamu? Seingat aku dia gak pake hijab, trus pake kacamata, matanya juga warnanya biru, bukan hitam apa coklat gini.
(send)
Elisa. : Iya sih. Seingat gue juga gitu. Tapi kok gue ngerasa itu dia, ya? Ah, mungkin perasaan gue aja kali ya? hehehehe
(send)
Prita. : Kenapa emangnya? (kepo mode onðŸ¤)
(send)
Elisa. : Gak kenapa-napa sih
(send)
Prita. : Masa gak kenapa-napa? Terus ngapa nanyain dia?
(send)
Elisa : Dia ini sekretaris baru tunangan gue, Mas Rendi. Namanya Aline.
(send)
Prita : Ooo. Trus?
(send)
Elisa. : Tadinya gue pikir itu temen lo itu. Soalnya, Mas Rendi penasaran sama nih cewek. Katanya gak punya ijazah tapi kerjanya ngalah-ngalahin yang lulus S2. Jadi bosnya sedikit curiga gitu. Kali aja mata-mata lawan perusahaannya.
Prita. : Oooo.
(send)
Elisa. : Ya udah deh, Ta. Sori ya udah ganggu.
(send)
Prita. : No prob.
Aline hanya tersenyum membaca chat Prita dan sepupunya.
"Yah, setidaknya aku gak jujur tapi juga gak bohong kan?" ucap Prita pada Aline.
"Thanks ya, Ta." Prita mengangguk.
"Aku yakin kamu bukan mata-mata atau berniat jahat sama perusahaan itu. Aku tahu kamu orang baik. Oia, jadi sekarang aku mesti ikutan panggil kamu 'Aline' gitu?"
"Yah, mau gimana lagi ya, Ta? Kan papi udah gak ngakui aku jadi bagian dari keluarga itu lagi, jadinya ya mesti ada identitas baru. Lagipula, kedua abang aku lagi nyariin. Takutnya kalau ketahuan namaku Rosaline Denisa, pasti mereka akan dengan mudah nemuin aku dan bawa aku pulang ke Batam."
"Oke kalau begitu." Lalu Prita mengulurkan tangannya kepada Aline.
"Apaan nih?"
"Udah, jabat aja tangan aku!" Dan Aline pun menerima uluran jabat tangan dari Prita.
"Salam kenal. Aku Prita. Semoga kita bisa berteman baik."
Aline lalu tertawa lepas dengan tingkah kocak temannya itu tanpa ia sadari ada sepasang mata yang setia menatapnya sedari tadi.
Setelah puas bertukar cerita, Aline dan Prita bergandengan keliling mall.
"Sa, eh Lin, aku duluan ya. Barusan ada chat dari Jogja, ada sedikit masalah di butik. Jadi kayaknya mesti balik Jogja hari ini juga."
"Oia, gak papa. Mudah-mudahan masalahnya cepat kelar ya, Ya."
"Aamiin. Janji sering-sering call aku ya! Kalo ada waktu, main ke Jogja!"
"Siip. Insya Allah. Thanks udah traktirin aku, hehehe."
"Ck, cuma minum doang mah. Ntar aku kirimin gaun rancangan aku. Aku yakin kamu gak punya gaun kan? Ayo ngaku!"
"Emang gaun buat dipake kemana? Ke kantor atau ke resto? Ada-ada aja!"
"Pokoknya tunggu aja. Ya udah. Aku duluan ya, Lin!"
"Titi dije ya, Ta! Kabarin nanti kalau udah sampai!" Lalu mereka bercipika cipiki khas ibuk-ibuk.
__ADS_1
"Oke. Assalamu'alaikum." pamit Prita.
"Wa'alaikumsalam." Lalu mereka berpisah.