
Aline berjalan kaki dari ujung jalan ke rumah Abah. Tadi ia naik angkot dan berhenti di ujung jalan. Ketika sampai di depan rumah kontrakan Bunda, Aline melihat mbak Oki keluar dari kontrakannya sambil menggeret kopernya.
"Mau pulang kampung, Mbak Oki?" tanya Aline asal.
"Eh, Aline. Iya, Mbak mau pulkam. Kan seminggu lagi Mbak nikah," balasnya.
"Wah, selamat ya, Mbak! Semoga lancar sampai hari H! Aamiin."
"Aamin. Makasih ya, Lin. Undangan buat kamu udah Mbak titipin ke Bunda tadi. Kalau sempat, datang ya, Lin!"
"Insya Allah, Mbak. Acaranya dimana, Mbak?"
"Untuk akadnya sama pestanya di rumah ortu Mbak di Semarang. Tapi seminggu setelahnya ada acara ngunduh mantu di Bogor."
"Ooo ... insya Allah aku datangnya pas ngunduh mantu aja, soalnya Semarang kejauhan, Mbak, hehehehe ...."
"Iya deh iya. Tapi pasti datang ya. Soalnya setelah menikah Mbak ikut suami ke Manado. Nanti malah gak bisa ketemu lagi kita," canda mbak Oki.
"Eh, Mbak langsung pindah ya?"
"Iya. Tadi juga udah ngomong sama Bunda."
"Trus, kontrakan Mbak gimana? Udah ada yang gantiin?"
"Ish ... kok kamu jadi kepo gitu sih, Lin? Kenapa? Kamu minat ngontrak di sini?"
"Iya, Mbak."
"Eh, seriusan, Lin? Kamu gaj betah emangnya tinggal di rumah Bunda sama Abah?"
"Yeee ... sekarang gantian Mbak Oki yang kepo, hehehehe ...."
"Ya gak gitu juga kali, Lin. Aneh aja kamu nanya kontrakan gitu."
"Hehehehe, becanda Mbak. Aku memang pengen cari kontrakan deket-deket sini. Mbak kan tau sendiri, aku bukan keluarga Abah atau Bunda. Udah enam bulan aku menumpang di sana. Gak enak akunya, Mbak. Meskipun Abah dan Bunda udah anggap aku seperti anak sendiri, tapi tetap aja aku ini orang asing."
"Iya, Mbak paham posisi kamu. Kalau kamu mau, kamu boleh ngelanjutin kontrakan ini. Nanti juga Mbak akan bawa barang seperlunya saja. Sisanya nanti Mbak tinggal aja buat kamu ya, Lin. Kalo gitu jangan lupa kasih tahu Bunda secepatnya. Takut nanti udah ada peminatnya."
"Beres, Bos!"
"Ya udah, Lin, itu taksi online Mbak udah datang. Mbak berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, Mbak. Semoga lancar sampai hari H, jadi keluarga sakinah mawadah warrahmah. Aamiin."
"Aamiin. Makasih ya, Lin. Sampai jumpa!"
Sepeninggal Oki, Aline kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Abah. Aline ingin langsung membicarakan perihal kontrakan mbak Oki yang sebentar lagi available biar gak keburu diambil orang. Rumah kontrakan Bunda ini seperti paviliun, terdiri dari teras, ruang tamu, dua buah kamar, dapur, kamar mandi dan sedikit halaman belakang untuk tempat menjemur kain. Ada enam kontrakan di lantai dasar dan dua belas kamar kost-kostan, ruang tamu dan dapur di lantai atas. Dalam satu area bangunan ini penghuninya ada mahasiswi, karyawati atau keluarga kecil. Kontrakan Bunda juga terbilang bersih dan aman karena berada dalam area yang diberi pagar. Fasilitas yang disediakan juga terbilang cukup lengkap. Ada satu buah tempat tidur, satu unit lemari, satu set meja belajar, dan kipas angin. Biaya sewanya juga terjangkau, gak bikin kantong bolong deh. Belum lagi berada di kawasan yang sangat jarang terkena banjir, dekat dari stasiun, halte busway, dan fasilitas umum lainnya juga gak terlalu jauh dari sini.
Baru juga Aline mengucap salam saat memasuki rumah, suara Bunda menginterupsi langkahnya yang hendak menuju kamar.
Dan di sinilah ia berada sekarang, di teras samping rumah menemani Abah dan Bunda bersantai.
"Ekkheem ..." Abah berdehem menarik perhatian semua orang.
"Lin, ada yang mau Abah sama Bunda omongin sama kamu."
"Ooo - mongin apa Bah, Bund?"
"Mengenai usulan kamu yang tempo hari."
"Usul?" tanya balik Aline karena ia bingung mengenai usulan mana yang dimaksud Abah.
"Itu lho, Lin, usulan kamu tentang konsep resto dan cafe," Bunda Halimah bantu menjelaskan melihat dahi Aline yang berkerut menandakan kebingungannya.
"Oooo ... iya, Bah, Bund. Jadi gimana?"
"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga usaha Abah dan Bunda selalu dimudahkan Allah SWT. Aamiin."
"Aamiin".
"Kita mulai dari mana proses transformasinya, Lin? Abah sama Bunda gak ngerti, ikut kamu aja."
Dan detik selanjutnya Aline sudah menjelaskan secara detail konsep dan proses transformasi resto Abah. Abah dan Bunda hanya manggut-manggut tanda sepaham.
"Tapi kamu siap-siap lembur ya, Lin."
"Siap, Bah. Nanti kalau Aline gak kerja di rumahnya Bu Suci, Aline akan ke resto lihatin perkembangannya."
"Ya sudah kalau begitu. Bismillah!" Abah bermasmalah.
"Bismillah!" ucap Bunda dan Aline serempak.
"Hhhhmmmm .... Bah, Bund. Aline juga ada yang mau diomongin sama Abah sama Bunda."
__ADS_1
"Oalah, kamu ini gak mau kalah sama Abah. Mau ngomongin apa tho, nduk?"
"Hhhhmmmm, begini, Bah, Bund. Kalau restonya Abah sama Bunda aja bisa bertransformasi, Aline juga gak mau ketinggalan. Aline juga mau ikut bertransformasi, Bah, Bund."
"Maksud kamu gimana, Lin. Jangan bikin Bunda penasaran deh!"
"Hehehe, Bunda bisa aja. Jadi gini Bah, Bund. Tadi dalam perjalanan pulang, Aline sempat ngobrol sama mbak Oki. Mbak Oki bilang akan segera menikah dan ikut suaminya ke Manado. Kalau diizinkan, besar harapan Aline untuk diizinkan, Aline ingin melanjutkan kontrakannya mbak Oki. Aline ingin mencoba hidup mandiri, Bah, Bund." Sebelumnya Aline mengucapkan terima kasih, Aline gak tahu caranya gimana membalas kasih sayang Abah dan Bunda selama ini. Tapi, Aline benar-benar ingin belajar hidup mandiri!"
"Apa kamu gak betah di sini, nduk?"
"Betah, Bund. Aline sangat betah, tapi bagaimanapun, Aline ingin mencoba hidup mandiri!"
"Yaaah, nanti Bunda gak ada yang temenin dong di rumah?"
"Bunda tenang aja, nanti Aline akan tetap main ke sini kok. Lagi pun pindahnya kan gak jauh-jauh, hehehehe," Aline membujuk Bunda Halimah.
"Kalo gitu ngapain pindah?" Bunda tetap kekeuh mempertahankan Aline.
"Udahlah Bund. Diizinin aja Aline nya!" sela Abah.
"Ya udah deh ... tapi kamu janji sering-sering ke sini ya. Janji lho!"
"Iya, Bunda sayaaaang!"
"Ya udah, kamu sekarang masuk gih. Makan dulu, trus siap-siap ke resto."
"Siyap Bu Boss!" Aline pun beranjak ke dalam.
Sepeninggal Aline.
"Bah, kok Aline nya dibiarin pindah? Bunda sama Hana udah terlanjur sayang sama dia," Bunda memulai protesnya.
"Abah juga sudah sayang sama Aline, Bund. Sejak anak-anak kita dewasa, lalu memiliki kehidupan mereka masing-masing, rumah ini terasa sangat sepi. Hana juga semakin pemurung dan pendiam. Sejak kedatangan Aline, rumah ini kembali ramai. Entah mengapa, padahal kalau dipikir-pikir Aline sendiri bukan tipe yang cerewet, banyak omong atau yang rame begitu. Tapi, sejak kedatangannya, rumah ini terasa lebih hidup aja."
"Iya, Bunda setuju sama Abah. Lha terus, kenapa Abah izinin Aline untuk pindah?"
"Bund, walau bagaimanapun, kita ini orang asing di hidup Aline. Abah hanya berpikir, mungkin Aline butuh ruang yang lebih privasi untuk dirinya. Sampai saat ini dia sendiri belum menceritakan siapa diri dia sebenarnya. Darimana asalnya. Siapa orang tuanya. Yang kita tahu, dia diusir dari rumahnya karena menolak dijodohkan. Itu saja sudah jelas jika Aline butuh privasi untuk bisa menyelesaikan masalah hidupnya tanpa harus kita tanya-tanya."
"Iya, Bah. Bunda ngerti."
"Lagipula pindahnya bukan jauh, Bund. Masih di satu kawasan sama rumah kita, di rumah kontrakan kita pula lagi. Pun Aline juga udah berjanji sama Bunda kalau dia akan tetap sering main ke sini, kan?"
__ADS_1
Bunda hanya menanggapi ucapan Abah dengan anggukan tanda mengerti.