
Aline meninggalkan rooftop. Ia menuruni anak tangga sampai ke lantai dimana bagian keuangan berkantor. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan gawai yang ternyata sudah banyak pesan yang masuk dari Siska, teman dari Divisi Marketing. Hari ini, ia janjian dengan trio kwek-kwek, sebutannya untuk Siska, Irwan dan Natalie karena ketiganya sangat dekat dan selalu bersama. Mereka akan makan siang bersama di sebuah cafe yang baru buka. Irwan sudah melakukan reservasi sejak beberapa hari yang lalu.
Aline menekan lift dan menunggu beberapa saat. Saat memasuki lift, ia kembali bertemu dengan Ethan yang sepertinya baru turun dari rooftop. Ethan menatap Aline dan tersenyum kecut mengingat kalimat terakhir yang diucapkan oleh gadis manis itu sebelum meninggalkannya sendirian di rooftop. Sebuah semangat sekaligus sebuah penolakan!
"Mau makan siang?" tanya Ethan pada akhirnya.
"Iya, Kak. Janjian sama trio kwek-kwek dari marketing," sahut gadis itu riang, membuat Ethan terkekeh dengan sebutan grup trio anak-anak jaman ia bocah dulu.
"Punya teman juga rupanya," seloroh lelaki itu mencairkan suasana.
Aline terkekeh dengan candaan pria tampan di sampingnya. "Bisa bercanda juga rupanya," balasnya.
Mereka berdua tertawa bersama, bersamaan dengan membukanya pintu lift. Seorang wanita cantik menggunakan dress bunga-bunga di atas lutut ikut memasuki lift?, membuat tawa keduanya mereda, terpaksa.
"Hai, Than," katanya.
"Halo, Kania," jawab Ethan. "Dah lama gak ketemu." Sebuah basa basi seorang Ethan.
"Yah. Gue nyari Elang mau ngajak lunch bareng, tapi dianya gak ada," ucapnya sedih.
"Sudah coba tanya sama sekretarisnya?"
"Udah, katanya tadi ke lantai 4 sini, tapi udah gak ada juga."
"Oooh."
"Kalian ... mau pergi lunch?" tanyanya sambil menggoyangkan telunjukknya bergantian pada Ethan dan Aline.
"Ya!" jawab Ethan mendahului Aline.
Aline sedikit kesal dengan jawaban Ethan yang menurutnya bisa menimbulkan spekulasi negatif. Walaupun yang dikatakannya tidak mengandung kebohongan sama sekali. Tapi tetap saja orang akan berpikir kalau mereka akan makan siang bersama.
"Oooh." Wanita itu ber-oh ria. "Gue duluan ya, mo nyari Delila," ucapnya berlalu.
Suasana hening kembali tercipta selepas kepergian wanita bernama Kania itu.
"Namanya Kania, wanita yang dijodohkan dengan Elang. Dia temannya Delila Atmaja." Ethan menjelaskan perihal gadis tadi.
"Ooh."
"Kenapa kami bertiga harus terlibat dengan perjodohan ya? Seolah kami ini lelaki yang tidak laku saja." Ethan bermonolog membuat Aline tersenyum mendengarkannya.
"Hei, kenapa tersenyum?"
"Mungkin karena kalian terlalu sibuk bekerja hingga lupa bahwa ada jiwa-jiwa yang merindu kehadiran seorang cucu."
"Hahahahaha .... Ucapanmu persis seperti apa yang dibilang mamaku. Hahahaha ...." Ethan tertawa lepas.
Mereka melemparkan ejekan dan candaan sampai lift terbuka dan mereka berpisah dengan arah masing-masing.
Di cafe
Siska, Aline, Natalie dan Irwan duduk di sebuah meja di pojokan dengan dua sisi yang memperlihatkan suasana trotoar dan jalanan karena berdinding kaca. Benar-benar tempat strategis.
Cafe benar-benar ramai siang itu. Sebagian besar adalah para karyawan yang sedang menghabiskan waktu istirahat siang mereka.
Mereka berempat sudah memesan, tetapi karena cafe memang benar sedang ramai, jadi ya mesti bersabar menunggu pesanan.
"Lihat ... lihat!" Natalie bersuara membuat ketiga teman lain yang masih sibuk dengan gawai masing-masing menoleh.
"Pa an sih, Nat. Bikin kaget aja!" tegur Irwan.
"Nih lihat!" unjuknya, memberikan gawainya yang sedang membuka laman IG seorang Jonathan_Prasetya.
"Busyet dah!!! Seriusan? Gue penasaran siapa nih cewek. Beruntung banget!" teriak Siska tak kalah histeris.
"Beruntung kenapa nya?" tanya Irwan sok polos.
"Ck .... Babang tamvan gue itu gak pernah kelihatan dekat sama cewek, apalagi posting-posting cewek di sosmed dia. Ini tiba-tiba posting cewek, walaupun cuma siluet doang, tetep aja nih cewek beruntung banget!" Siska menjelaskan.
__ADS_1
"Eh, gue gagal fokus sama caption-nya. 'Belum berlayar sudah karam duluan. Haruskah aku berlayar dengan kapal yang sudah porak poranda ini?' Apa maksudnya ya?" tanya Irwan lalu menyerahkan gawai ke hadapan Aline. Membuatnya mau tak mau menerima dan ikut melihat karena tak asing dengan caption-nya
Aline yang tadinya tidak tertarik dengan pembicaraan unfaedah trio kwek-kwek ini menjadi berminat setelah melihat siluet dirinya yang dia yakini diambil secara diam-diam oleh Ethan saat mereka di rooftop tadi. Tentu saja dia mengenali dirinya yang berada di dalam foto itu. Itu dirinya ketika duduk di bangku sedang menyesap matcha green latte-nya. Foto itu diambil dari samping, persis dari arah dimana Ethan berdiri di dinding pembatas. Juga kata kapal dan karam yang mereka bahas tadi. Foto ini baru diunggah beberapa menit yang lalu. Itu artinya? Aaaarrrggggh ... Aline menggelengkan kepala mengusir segala pikiran yang ada.
Aline menyerahkan kembali gadget seharga belasan juta itu pada si empunya, Natalie.
"Asli. Gue penasaran banget sama ni cewek!" ujar Siska semangat 45.
"Sama. Gue juga!" timpal Nat.
"Ah, biasa aja. Perlu kalian tahu ya, ladies, Pak Ethan itu standarnya tinggi. Kalian ini gak masuk itungan!"
"Tapi kalo dilihat-lihat, ini garis-garis orangnya mirip sama lo, Lin." Nat memperhatikan gawainya dan Aline dengan seksama. Membuat Aline tiba-tiba tersedak dengan minumannya.
"Uhuk ... uhuk .... Mbak Nat, kalo ngomong jangan sembarangan. Ngada-ngada aja!" tegur Aline.
"Hehehehe .... Ya maap, Lin. Itu kan cuma tebakan gue aja. Habisnya mirip, hehehehe." Nat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit sungkan karena telah mengusik ketenangan gadis cantik di depannya itu.
"Tapi gue rela dan ikhlas kalau babang tamvan gue jatuh ke pelukan Aline." Siska bermonolog, namun efeknya tetap membuat seorang Aline tersedak.
Lalu trio kwek-kwek itu tertawa karena berhasil menggoda si gadis manis yang tidak banyak bicara itu.
Mereka menghabiskan waktu siang itu dengan bersenda gurau. Kadang diselingi gosip yang tak bisa dipisahkan dari trio kwek-kwek itu.
Saat kembali ke kantornya, Aline kembali memeriksa laporan dari Divisi Akunting di mejanya hingga jam pulangnya berakhir. Lelah, itu yang ia rasa. Berharap menjadi hari yang pendek, ternyata Senin ini jadi hari yang sangat panjang penuh emosi. Luar biyasah pemirsah!
Setelah semua rapi, Aline turun ke lobby, ingin rehat sejenak di sofa empuk yang ada di sana, niatnya. Hari ini, Aline sedang malas menggunakan busway, ia berencana untuk minta jemput sama babang ojek saja. Dan bergegas ke resto, karena malam nanti ia akan izin untuk pulang cepat dan menyelesaikan apapun yang akan disampaikan oleh mantan pacarnya, Arya.
Setelah membuat pesanan, Aline menunggu. Sangat susah mendapatkan driver jam begini. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, ia mendapatkan driver-nya. Setelah diberitahukan bahwa si driver agak sedikit jauh posisinya, Aline duduk bergabung dengan beberapa karyawan lain yang sedang duduk di sofa.
"Iya, gue juga penasaran," ucap seorang karyawati berambut pendek yang diketahui Aline dari divisi promosi.
"Kira-kira bakal ada lanjutannya gak ya?" Kali ini karyawati berambut sebahu dengan wajah yang sangat imut bersuara.
"Mudah-mudahan dibawa pas acara HUT A.C besok ya. Gue gak sabar lihat Pak Ethan gandeng tuh cewek. Gak sabar lihat muka nenek lampir, pasti asem banget. Pokoknya gue dukung Pak Ethan sama cewek ini!" Kali ini seorang karyawati dengan rambut sebahu dengan wajah dan make up yang cantik menyahuti teman-temannya. Dan pembicaraan mengenai siluet gadis di instastory seorang Jonathan_Prasetya masih berlanjut hingga babang ojek pesanan Aline menjemput.
Selepas isya, Ryu, sang barista meminta Aline untuk menggantikannya untuk makan sebentar. Setelah itu Aline bersiap. Ia memang sengaja membawa baju ganti.
Tepat pukul 8 malam, Arya memasuki cafe. Ia mengedarkan pandangan mencari seseorang, namun tak ditemukannya. Saat hendak menghubungi, sebuah pesan masuk dan ia segera membukanya.
Aline : Kak, minum dulu sebentar ya, aku siap-siap dulu. Minta saja 'pesanan Aline' sama baristanya!
Begitulah isinya. Arya menghampiri meja bar dan meminta pesanan Aline. Sementara menunggu, ia meminjam piano pada Ryu, kebetulan malam ini tidak ada pertunjukan. Arya memulai permainan indahnya. Kali ini lagu "Aku yang Salah" dari Nuca dan Mahalini yang mewakili perasaannya.
Sungguh, penampilan Arya membuat beberapa tamu terharu. Beberapa merekamnya dan mengunggahnya ke media sosial. Terlebih saat Arya menyatakan jika lagu itu ia persembahkan untuk seorang gadis yang sangat spesial riuh pengunjung semakin menjadi.
Aline duduk di meja bar menunggu pianis selesai dengan pertunjukannya. Syukurlah Arya hanya melirik sebentar ke arahnya tadi sehingga tidak ada yang menyadari keberadaan gadis yang dipersembahkan lagu oleh lelaki itu.
Mereka lalu turun bergantian. Aline yang duluan disusul oleh Arya memasuki mobilnya yang terparkir sedikit jauh.
"Kita mau ke mana?" tanya Aline setelah beberapa saat menempuh perjalanan.
"Hanya berkeliling. Kecuali kamu punya tujuan, aku ikut aja."
"Ke taman di depan itu aja yuk," tunjuk Aline ke sebuah taman yang sudah mulai terlihat. Taman yang tidak terlalu ramai karena sudah cukup malam.
"Baiklah, Tuan Putri." Arya tersenyum sangat manis.
Aline duduk di kursi taman, sedangkan Arya menyandar pada kap mobilnya.
Aline melirik arlojinya. Sudah hampir jam 9.
"Kak ... " panggil Aline.
Arya menoleh, menyadari bahwa inilah saatnya.
"Kamu udah siap mendengarkan?"
Gadis itu mengangguk.
__ADS_1
"Aku dijodohkan dengan anak kolega papa," ucapnya mulai bercerita. "Namanya Khanza. Kami berteman dari kecil, tapi tak cukup dekat. Aku menolak, tentu saja. Hatiku masih dipenuhi olehmu. Jujur. Jangan marah padaku. Aku sudah berusaha, namun tak bisa. Rasa ini terlalu kuat untuk kuhapus begitu saja." Arya menatap lekat Aline yang lebih banyak menunduk malam ini.
"Sementara mama sangat menginginkan melihat aku segera menikah. Aku tak bisa. Aku menolak, pasti. Beberapa kali aku menyebut namamu. Maafkan aku. Tapi aku tak bisa berdusta. Bahwa hanya ada kamu di sini. Aku tak ingin mengisinya dengan nama yang lain lagi." Arya menengadah ke atas, menghalau kabut di pelupuk matanya. Hatinya perih, memilih kebahagiaan orang tua atau kebahagiaan dirinya.
"Sungguh, aku tak ingin menjadi anak durhaka dengan menomorduakan kebahagiaan perempuan yang telah melahirkanku. Namun aku juga tak bisa memungkiri bahwa keberadaan kamu masih sangat kuat memberikan kebahagiaan untukku. Aku bingung dan kalut lalu meninggalkan rumah orang tuaku. Memilih tinggal di apartemen yang dulu sekali ingin aku hadiahkan untuk kamu, harta pertama yang sangat berharga dari jerih payahku sendiri, seperti kamu yang sangat berharga bagiku, tapi tak sempat karena kamu keburu menjauh dan menghilang."
"Itu sebabnya mama kamu mendatangiku?"
"Ya, Lucy juga berperan di situ. Aku minta maaf yang sedalam-dalamnya atas nama mamaku."
Aline mengangguk pelan. "Aku tak tahu kenapa Lucy tidak menyukaiku sejak pertama kali bekerja di A.C. Aku merasa tak pernah berurusan langsung dengannya."
"Lucy itu sepupuku. Orangnya ya seperti itulah. Sebentar ya, aku mau beli es krim dulu." Arya berlari. Bila ini adalah kencan terakhirnya, maka akan ia manfaatkan sebaik mungkin.
Tak berapa lama, lelaki itu kembali dengan dua buah es krim di tangannya.
"Makasih," ucap Aline seraya mengambil es krim rasa coklat vanila kesukaannya yang disodorkan lelaki itu.
Mereka menikmati es krim dalam diam.
"Jadi, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Arya.
"Entahlah. Kamu salah orang untuk bertanya, Kak!" jawabnya karena ia sendiripun juga pergi dari rumah karena tidak ingin dijodohkan. Lalu ia melanjutkan. "Aku pernah berada di posisimu." Lirih ia berkata.
"Maksud kamu?"
"Ya. Kamu ingat waktu di cafe, kamu tanya sejak kapan aku berubah?"
"Ya, tentu saja aku masih ingat. Apa semua ini ada hubungannya dengan pernyataan kamu barusan?" Arya menyimpulkan.
Aline mengangguk, namun tak langsung bersuara. Ia merangkai kata-kata yang pantas untuk ia ceritakan agar tak menghakimi.
"Aku pergi dari rumah, lebih tepatnya diusir dari rumah karena menolak perjodohan yang telah direncanakan oleh papi." Aline menengadahkan kepalanya menatap langit malam yang ditaburi bintang-bintang. "Tadinya aku ingin menetap di Sydney untuk melanjutkan pascasarjanaku, tapi karena hubungan kita yang kandas, aku butuh suasana baru untuk melupakan rasa sakitku, maka aku memilih pulang lalu terbang ke Berlin. Setelah menyelesaikan studiku, aku kembali ke rumah. Aku ingat, di hari kesepuluh aku kembali, papi memanggilku ke ruangan kerjanya. Beliau memberitahukan wasiat kakek yang ingin keluargaku dan keluarga sahabatnya berbesanan. Saat itu tentu saja aku yang ingin dijodohkan papi. Aku menolak mentah-mentah. Dan berakhir dengan pengusiran ku dari keluarga Tiocandra. Tadinya aku ingin ke Jogja, tapi Allah SWT berkehendak lain. Jadilah aku terdampar di Jakarta, dengan hanya membawa baju di badan dan beberapa lembar rupiah yang aku pinjam dari pengasuhku."
"Itukah alasanmu merubah identitas kamu?" tanya Arya.
Aline mengedikkan bahu. "Bisa ya, bisa tidak. Papi ngusir aku dan tidak lagi mengakuiku sebagai putrinya. Papi ku anak yang berbakti, beliau sangat menyayangi almarhum kakek, karena kakek merupakan ayah sekaligus ibu baginya." Aline berhenti karena air mata yang sedari tadi ditahannya luruh juga. "Lagipula, aku tak membawa identitas apapun saat pergi dari rumah. Papi tidak mengizinkan. Menurut Kakak, apakah aku harus tetap memakai nama Tiocandra."
Arya terkekeh, "Itu bukan pertanyaan, apalagi pernyataan. Itu adalah sebuah penegasan!" katanya.
Aline mengedikkan bahunya tanda setuju.
"Tapi inti dari semua cerita, saat aku menumpang taksi seorang bapak saat ke pelabuhan. Ya! Aku naik kapal. Jangan memandang aku seolah-olah naik kapal adalah hal mustahil untukku!" ujar Aline melihat Arya menaikkan sebelah alis tidak percayanya saat ia mengatakan ke pelabuhan. "Oke ... oke ....!" Arya mengangkat tangannya tanda menyerah dan memberi waktu gadis itu menyelesaikan kisahnya.
"Melalui dialah Allah SWT memberiku sebuah hidayah. Hanya kalimat pendek namun masih kuingat sampai sekarang. Katanya kalau kita seorang muslim, kita punya Allah SWT. Lalu ia menyuruhku untuk banyak bersabar dan bersyukur."
"Jadi, sekarang kamu menyampaikan kalimat si bapak supir taksi itu padaku?" Arya lalu terkekeh.
"Kita punya awal cerita yang sama, alur cerita yang sama. Jangan berakhir sepertiku, Kak! Dulu aku tak mengerti bagaimana dekatnya Allah pada kita. Sedangkan kamu, punya kesempatan itu. Sholatlah dan minta petunjuk-Nya! Biarkan Dia menuntunmu untuk menentukan pilihan! Dan mintalah agar ia mempermudah segalanya! Lalu bersabar dan bersyukurlah atas pilihan yang Kakak buat nanti! Lagipun, coba saja mengenal gadis itu terlebih dahulu. Siapa tahu, dia memang jodohmu." Aline tersenyum sangat manis seusai mengucapkan kalimat itu membuat lelaki itu batal membantah dan hanya fokus menikmati senyuman semanis madu yang selalu membuatnya tergila-gila.
"Bagaimana bila jodohku adalah kamu?" tanyanya menyerang balik.
"Aku percaya, jika jodoh, rezki dan maut ada di tangan Tuhan," pungkas Aline.
"Dan aku percaya jika jodoh itu dijemput, bukan ditunggu!" ucap lelaki itu.
Aline melihat arlojinya. "Sudah sangat malam, apa kakak tidak berniat memulangkan aku?"
"Bila saja menculik kamu itu sah saja, ..."
"Cukup berandai-andainya Kak. Kita pulang sekarang ya karena besok harus bekerja."
"Baiklah, Princess."
"Issssh ...."
Mereka tergelak bersama dan kembali ke rumah masing-masing.
Di atas tempat tidurnya, Arya masih mengulang-ulang apa yang diucapkan oleh gadis yang memiliki hatinya itu. Lalu ia putuskan untuk berwudhu dan sholat meminta petunjuk. Menyerahkan sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa, seperti nasihat Aline padanya di taman tadi.
__ADS_1