
Pesta masih terus berlangsung hingga malam semakin larut. Menjelang tengah malam, satu per satu tamu undangan pamit undur diri, begitupun dengan Tiocandra bersaudara. Mereka menghampiri Erlangga dan deretan petinggi-petinggi A.C. Rio dan Ricky mengucapkan selamat pada mereka. Sementara Aline langsung dipeluk oleh mama Elang.
"Ya ampun, Sayang, kamu cantik sekali, Tante sampai pangling!" Mama Elang berbinar bahagia menatap gadis di hadapannya yang sedang tersipu malu. Ia masih teringat bagaimana Satria dan Elang tadi berebut untuk makan malam dengan gadis ini. Sebagai seorang ibu, tentu ia mengerti jika kedua anak bujangnya tertarik dengan gadis elok rupa di hadapannya ini.
"Terima kasih, Tante. Tante juga tampak sangat menawan malam ini." Aline balas memuji dengan tulus. Aline juga memberi hormat kepada mama Arya dan keluarga Ethan. Mama Arya membuang muka, sedang mama Ethan balas tersenyum ramah padanya. Tadi Aline melihat Arya bersama seorang wanita cantik, sedangkan Ethan bersama dengan istrinya.
"Ah, bisa aja kamu, Lin." Mama Elang terkekeh mendengar pujian Aline.
"Selamat ya, Tante. Semoga A.C semakin jaya!" ucap Aline. Ada ketulusan dalam ucapan yang diberikannya.
"Terima kasih, Sayang. Mempertahankan lebih berat daripada memperjuangkan. Semoga Elang dan seluruh karyawan bersatu untuk membesarkan A.C lebih dari sekarang!"
"Aamiin."
"Oh ya, Tante dengar kamu jadi sekretarisnya Elang sekarang?"
"Baru saja, Tante, sementara menggantikan Mbak Dira yang baru saja melahirkan."
"Oh ya? Sudah melahirkan ya? Tante baru dapat kabar dari kamu ini, Lin."
"Iya, baru tadi sore lahirannya, Tante, sebelum saya berangkat ke sini. Alhamdulillaah debay dan ibunya sehat."
"Alhamdulillaah."
Di detik selanjutnya, Mama Elang dan mama Ethan mengobrol ringan dengan Aline. Namun mama Arya telah pamit terlebih dahulu. Sementara Elang, papanya, beberapa petinggi A.C, Rio dan Ricky terlibat perbincangan seputar bisnis. Niat yang tadinya ingin pamit terpaksa harus ditunda dulu.
__ADS_1
Baru lewat tengah malam ketiganya meninggalkan hotel.
"Ky, ko di depan ya. Aku mau kangen-kangenan sama tuan putri yang hilang ini." Rio memerintah, membuat Ricky hanya bisa mendengus. "Baiklah, Paduka Raja!" sindirnya.
Rio menggamit tangan adiknya, Rosaline. Tak tersinggung dengan sindiran Ricky. Baginya, hal ini sudah biasa.
"Bang, malu dilihatin orang!" Aline berusaha melepaskan tangannya dari Rio.
"Kamu nurut aja. Abang kangen kali sama kamu, Dek. Sampe apart nanti kita telpon bang Cris. Bang Cris nungguin kita v-call an!"
Sama seperti Ricky, Aline pun hanya bisa mendengus mendengar perintah abangnya ini.
"Aku mau pulang ke rumah aja ya, Bang. Gak mau ikut ke apart. Gak enak nanti digosipin yang enggak-enggak tidur di apart dua anak bujang."
"Justru kalau anak bujang tidur berdua yang akan terkena gosip. Lagian, gak akan ada yang berani gosipin kamu. Udah, ikut aja! Gak usah banyak pikir!" Rio semakin erat menggamit tangan adiknya itu, seolah-olah takut bila sang adik kabur kembali. Tentu saja. Nyarinya gak mudah, sampai bertahun-tahun. Ngumpetnya di perumahan rakyat jelita dan berani hidup susah. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya selama ini. Adiknya yang selalu hidup mewah bergelimang harta dan dimanja serta dipuja seluruh anggota keluarga berani keluar dari zona nyamannya, menjadi rakyat biasa, bahkan berani hidup sengsara serta mengubah penampilannya. Untuk yang terakhir, Rio sangat mendukung. Rosaline terlihat sangat cantik bak putri-putri Arab ternama.
Mereka bertiga akhirnya sampai di apartemen mewah milik Rio. Supir yang mengantar mereka ikut naik, membawa barang bawaan Rio dan Ricky yang memang masih berada di bagasi mobil. Sementara berjalan, Rio mendahului mereka. Di belakang ada Rosaline, Ricky lalu pak supir. Aline yang berada di tengah hanya bisa pasrah, merasa dirinya terkepung oleh kedua abangnya ini. Seakan-akan mereka takut bila ia berhasil melarikan diri. Lagi! Padahal sudah lewat tengah malam, mau lari ke mana? Dengan apa? Ada-ada saja! Ia berjalan dengan setengah kesal. Bukan tak senang bertemu keluarga, tapi sekarang ia harus menjaga marwahnya sebagai wanita dewasa mengingat identitasnya yang belum terbuka dan juga hijab yang selalu ia kenakan menutupi kepala.
Setelah sampai, Aline lantas masuk ke kamar yang memang sudah disiapkan oleh Rio untuk dirinya.
"Apartemen bang Rio ternyata gede banget, lebih gede dari apartemennya bang Cris!" Rosaline terkagum dengan apartemen mewah milik abang keduanya yang memiliki empat kamar tidur.
"Ternyata bang Rio tajir melintir, bang Cris kalah kayaknya, hehehe ..." Ia terkekeh geli sendiri dengan oemikiran absurdnya. Tak menyangka jika Abang keduanya ini ternyata sekaya ini.
Ingin rasanya ia keluar kamar, bercengkerama dengan kedua lelaki di luar sana. Namun matanya yang sudah lima watt sudah tidak mampu diajak berkompromi lebih lama lagi. Akhirnya ia terlelap.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Rio mengetuk pintu kamar adiknya. Rasa rindu yang terpendam membuatnya tak bisa menunda lagi untuk mengajak video call dengan bang Cris, yang baru mengabari jika ia sudah selesai melakukan operasi. Namun, setelah beberapa lama, pintu tak kunjung dibuka dari dalam. Rio mencoba membuka kenop pintu, ternyata pintunya tidak dikunci. Rio masuk ke kamar adiknya itu. Dilihatnya sang adik tidur dengan pulasnya. Napasnya teratur dan terdengar dengkuran halus, pertanda sang putri tengah terlelap. Didekatinya sang putri tidur. Rio lantas duduk di tepi ranjang. Membelai rambut indah adiknya. Diusapnya dengan sayang. Dipandanginya Rosaline, sang putri kesayangan kerajaan Tiocandra. Gadis itu terlihat sedikit lebih kurus, namun aura wanita dewasa jelas terpancar dari wajah damainya. Kehidupanlah yang telah menempa gadis manja ini. Lalu dikecupnya dan ia berjalan meninggalkan kamar itu. Hatinya menjadi lebih tenang setelah bertemu langsung dengan sang adik.
Rio dan Ricky lantas menghubungi Cris. Mereka menceritakan pesta tadi. Cris sangat tertarik dengan kisah lelang amal dimana adik bungsunya menjadi bintang. Dan ia berjanji akan segera menyusul begitu selesai operasi keesokan harinya.
--------
Seperti sudah menjadi kebiasaannya, Rosaline terbangun pukul 3.30 dini hari. Setelah sholat malam, ia lanjutkan dengan mengaji dengan Al Qur'an digital yang sudah ia download di HP.
Di kamarnya, Rio terbangun. Ia mendengar sayup-sayup suara nan merdu milik sang adik melantunkan firman Allah. Air mata membasahi pipi Rio. Ada perasaan tersentuh dan perasaan yang menenangkan mendengarnya. Hingga adzan subuh berkumandang, suara adiknya berhenti. Lelaki itu merenung di kamarnya. Ada rasa bersalah, rasa berdosa, rasa malu, dan damai di saat bersamaan. Perasaan apa ini?
Setali tiga uang dengan Rio, Ricky juga terbangun mendengar ayat-ayat suci yang dilantunkan oleh Rosaline. Ia yang sudah mulai mengenal agama Islam merasa sangat damai, tentram dan ada perasaan bahagia yang tak bisa ia jelaskan. Saat adzan subuh berkumandang, suara itu terhenti. Pasti adiknya itu akan menunaikan sholat subuh. Segera ia turun dari ranjangnya, keluar kamar dengan tergesa dan mengetuk pintu kamar Rosaline. Rosaline yang tengah bersiap untuk sholat membukakan pintu kamar terlebih dahulu.
"Ada apa, Rik?" tanya Aline malas.
"Yang sopan, Ncess! Bang Ricky! Jangan lupa. BANG Ricky."
"Iya iya. Ada apa BANG RICKY? Subuh-subuh udah ketuk pintu kamar orang?"
"Mau ngajak sholat subuh berjamaah. Tungguin ya! Aku wudhu dulu." Ricky berbalik ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Sementara Aline terkejut dengan permintaan Ricky barusan, namun tak urung seulas senyuman terukir manis di bibirnya. Ternyata Ricky juga sudah mengenal Islam.
Rio yang sudah terbangun, mendengarkan interaksi kedua adiknya dari dalam kamar dengan pintu yang sengaja ia buka sedikit. Saat keduanya tengah menunaikan sholat subuh berjamaah di ruang TV, Rio keluar dari kamarnya. Ia menyaksikan kedua adiknya melaksanakan sholat berjamaah. Sepercik keinginan untuk sholat muncul di dalam dirinya. Namun, ia sudah lupa caranya, begitu pula dengan bacaannya. Namun, jika Ricky dan Rosaline saja bisa menunaikannya dan menghapal bacaan berbahasa Arab itu, maka ia pun pasti bisa. Bukankah mereka dulu bersekolah di sekolah yang sama? Bekal ilmu agama yang mereka dapatkan pasti juga sama.
Setelah sholat, Ricky melanjutkan dengan do'a. Rosaline meng-amin-kan di belakang. Setelahnya, Rosaline pun mencium tangan Ricky yang sejatinya adalah abangnya juga. Ricky mengusap sayang kepala Rosaline.
__ADS_1
Saat berbalik hendak kembali ke kamar, Aline mendapati Rio tengah duduk menghadap mereka. Ada bekas air mata di pipi abangnya itu. Ricky terdiam melihatnya. Namun Aline mendekat dan mengambil tangan Rio dan menciumnya. Rio mengusap lembut kepala adiknya. Dipeluknya Rosaline erat, dan dibisikinya, "Ajari Abang sholat!"
Seketika air mata bahagia lolos di pipi mulus Aline. Ia mengangguk dengan antusias. Ia sangat tahu rasa bahagia mendapatkan hidayah. Ia juga sangat tahu bagaimana pergolakan bathin dalam mengalahkan keangkuhan ego. Abangnya mengalah pada rasa malu untuk belajar agama padanya yang notabene adalah adiknya sendiri yang usianya jauh lebih muda. Ia sangat tahu bagaimana rasanya. Ia pun dulu begitu saat diajari oleh Siti yang adalah anak seorang ART di rumah om Harry. Aline memeluk erat Rio, begitu juga Ricky. Ia duduk di samping Rio dan menepuk pundaknya. Menurutnya, Rio butuh dirangkul. Sama seperti dirinya dulu. Memang, jika Allah SWT sudah berkehendak, maka tak ada yang tak mungkin. Seorang Rio yang sudah memiliki segalanya, namun buta agama pun tak bisa mengelak bila hidayah datang menghampirinya.