
Hujan lebat tiba-tiba mengguyur bumi diselingi gemuruh menjelang subuh tadi membuat pagi ini kian dingin. Setelah berkabar dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Bang Cris, Aline menghubungi si mbok, sekedar menanyakan kabar kedua orang tuanya dan bertukar cerita sedikit hingga adzan subuh berkumandang.
Selepas sholat subuh ini, Aline memutuskan untuk kembali bergelung di dalam selimut, melupakan kegiatan rutinnya setiap pagi. Seharusnya saat ini ia sedang khusyuk memasak sarapan dan menyiapkan bekal makan siangnya. Namun dinginnya udara membuat gadis yang katanya hanya ingin bergelung saja sekedar mencari kehangatan malah tertidur pulas di atas kasurnya.
Dalam tidurnya, sekelebat kejadian saat hari pengusiran itu muncul di alam bawah sadarnya. Tamparan yang dilayangkan oleh papinya sangat kentara di kedua pipinya, terasa panas dan memilukan. Belum lagi teriakan-teriakan dan ucapan bernada tinggi yang bersahut-sahutan diselingi tangisan menyayat hati mami berkeliaran di kepalanya membuat gadis itu gelisah dalam tidurnya hingga sebuah teriakan penolakan dan pengusiran papi yang diucapkan begitu dingin tak berhati, seolah kata-kata itu mencekiknya, membuat gadis itu tercekat, terlonjak kaget terbangun dengan butir-butir keringat membasahi dahi hingga lehernya.
Aline berteriak dan terbangun dengan paksa dari tidurnya. Gadis itu beristighfar berkali-kali dan membuang sedikit ludahnya ke sebelah kiri, sesuai tuntunan bila mendapat mimpi buruk. Mimpinya itu membuatnya sesak dan tersengal-sengal di saat bersamaan. Aline mengelap keringatnya dengan punggung tangan. Seharusnya ia tidak tidur selepas subuh tadi karena Rasulullah melarangnya. Ternyata benar, tidur selepas subuh itu tidak baik, malah membuatnya mimpi buruk. Benar-benar sial.
Aline menyibak selimut yang membungkus tubuh semampainya. Gadis itu berjalan ke dapur sambil menggelung rambutnya membentuk simpul sanggul dan menjerang sepanci air. Ia sedang menuangkan air panas yang baru mendidih ke dalam bak mandinya ketika HPnya berdering beberapa kali namun ia abaikan. Dinginnya hari tak mengurangi niatnya untuk segera berangkat ke kantor. Hujan masih setia membasahi bumi. Itu artinya, ia harus bergegas karena jalanan bisa saja sangat macet jika hujan begini, bahkan sedikit banjir.
Aline tiba di kantor dua menit sebelum jam kerja dimulai. Ia melipat payung lipat 'barbie' kesukaannya. "Sangat kekanakan," komentar Shayna yang ditanggapi biasa saja oleh gadis itu.
Aline sedang mengerjakan pekerjaannya ketika Pak Rahman datang berkunjung ke ruangan Rendi. Tak lama kemudian, lelaki itu memanggil Aline untuk memasuki ruangan atasannya itu, meninggalkan Shayna seorang diri di meja kerja mereka yang bersebelahan.
Setelah selesai dengan urusannya, Aline keluar ruangan tanpa diikuti oleh Pak Rahman, Manajer HRD mereka, membuat dahi Shayna berkerut karena tak biasanya Manajer HRD mereka itu mendatangi langsung karyawannya.
"Ada apa, Lin? Kok mukanya ditekuk gitu?" Shayna sudah tak mampu menahan rasa ingin tahunya segera memberondong Aline dengan pertanyaan yang sudah sejak tadi bersarang di kepala cantiknya namun tak mampu ia jawab.
"Hmm, biasa, Ce. Aku mau dipindahin lagi. Padahal udah seneng banget bisa kerja sama-sama Cece di sini," ungkap Aline jujur.
Shayna mendesah kecewa juga mendengar jawaban partner kerjanya itu. "Cece juga udah nyaman kerja sama lo. Lo yang sabar ya!" ucapnya penuh simpati.
Aline mengangguk meng-iyakan.
"Dipindah kemana memangnya, Lin? Setau Cece lo ditempatkan di sini atas permintaan pak Erlangga."
"Jadi sekretarisnya pak Erlangga, Ce. Mbak Dira kan udah mau melahirkan, jadi posisinya kosong. Mbak Dira sendiri yang merekomendasikan aku, katanya."
"Oooh .... Kan enak naik pangkat, Lin. Jadi sekretaris CEO A.C."
"Idih, Ce Shayna aja kalau gitu. Aku rada syerem aja gitu di ruangan atas itu, Ce. Mana pemiliknya juga nyeremin, hiiiiy." Aline bergidik ngeri.
"Hahahahaha .... Pak Erlangga guanteng gitu kok dibilang syerem. Mata lo pasti nambah minusnya tuh, ckckckck ...."
"Aduuuh, Cece gak tau ya kalau pak Erlangga itu pemaksa dan tukang perintah-perintah? Pokoknya super nyebelin deh. Salah apa aku sampai dipilih sama mbak Dira?" gerutu Aline.
"Hahahahaha ...." Lagi-lagi Shayna tergelak. "Gimana kalau nanti kita tanya aja sama mbak Dira? Bentar ya, Cece telpon dulu."
"Iiiiiiih, jangan donk, Ce. Cece mau ngapain telpon mbak Dira segala?"
"Udah, lo tenang aja. Percaya aja sama Cece. Oke?"
Beberapa saat Shayna sibuk berbalas pesan dengan seseorang yang diyakini Aline adalah mbak Dira. Shayna akhirnya memilih menghubungi Dira lewat chat di aplikasi si telpon hijau, takut kalau-kalau ia mengganggu sekretaris CEO itu.
"Oke. Sip, Lin. Ntar kita lunch bareng mbak Dira ya. Lo bisa tuh tanya-tanya sama dia nanti."
"Ok, Ce. Thanks ya."
"Siiip. Yuk kerja lagi."
Saat jam istirahat tiba, Shayna dan Aline bergegas ke lobby dan menunggu Dira di sana. Mereka janjian untuk makan siang bareng di sebuah restoran masakan Padang yang katanya sederhana namun tidak sesederhana katanya.
"Jadi, Pak Rahman udah sampaikan ke kamu, Lin?" Dira membuka pembicaraan siang itu saat mereka menunggu pesanan.
__ADS_1
"Udah, Mbak." Shayna yang menjawab. "Katanya Mbak Dira yang rekomkan Aline ke pak Erlangga."
"Iya, Shay. Pak Erlangga butuh orang yang cekatan. Jujur aja sebenarnya Mbak keteteran selama ini. Mbak malah sempat iri lho kamu punya partner, Shay, hehehehe ... Sebenarnya Mbak udah minta dari jauh-jauh hari buat cariin partner buat Mbak, karena kehamilan Mbak cukup berat, morning sickness-nya sampai bulan ke tujuh baru hilang, mungkin karena kehamilan pertama kali ya jadi agak berat, tapi pak Erlangga gak mau tuh. Dia lebih rela bawa kerjaan pulang daripada nambah sekretaris, katanya ribet. Jadinya ya pas mau lahiran gini deh baru dicariin. Itu pun setelah Mbak masukin surat cuti baru diproses buat cari pengganti Mbak. Dan dari cerita kamu, Shay, sama Mbak denger dari yang lain-lain juga, sepertinya Aline cocok. Dan Mbak sendiri juga udah lihat kinerja kamu, Lin, jadi ya udah, Mbak rekomkan kamu deh, Lin." Dira menjelaskan panjang lebar kepada dua orang gadis di depannya.
Kedua gadis yang lain hanya ber-oh ria menanggapi penjelasan panjang lebar Dira.
"Eh, Mbak Dira tahu gak kalau Aline ini sering banget dimintain tolong sama Pak Erlangga buat bantuin dia?" Shayna mulai mengghibah, padahal orang yang dibicarakannya ada di antara mereka. Membuat Aline mencubit ringan tangan Shayna.
"Ih, Cece ngapain sih pake bahas-bahas itu segala? Gak penting tahu gak?" protes Aline.
"Ck, santai aja kali, Lin. Mbak Dira ini orangnya asyik kok. Ya kan, Mbak?"
"Iya, Lin. Santai aja. Jadi bener kamu sering dimintai tolong sama pak Erlangga? Pantesan aja Mbak jarang kena tegur gegara kerjaan banyak ditumpuk ke dia, hehehehe .... rupanya kamu yang bantuin. Thanks ya. Cucok dah tu kamu yang gantiin Mbak." Dira menaik-turunkan alisnya menggoda gadis yang paling muda di antara mereka itu.
"Pa an sih, Mbak. Yang minta tolong itu pak Rendi ..."
Belum selesai, Shayna malah memotong kalimat Aline, "Tapi kan itu sebenarnya kerjaan Mbak Dira, Lin. Pak Rendi bilang sendiri ke Mbak kalau dia banyak kasih kamu kerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh sekretarisnya pak Erlangga."
"Ooo ... ya udah deh, terserah aja. Namanya juga anak bawang, Mbak. Jadi mesti siap mengerjakan apa saja dan ditempatkan di mana aja."
"Kamu bukan anak bawang, Lin. Tapi kamu serba bisa. Makanya aku merekomkan kamu ke pak Erlangga. Mbak yakin kamu berkompeten," ucap Dira tulus.
"Gak perlu diragukan lagi, Mbak! Aku yang jamin!" ujar Shayna membenarkan.
"Pa an sih, Ce Shayna nih terlalu melebih-lebihkan, Mbak. Tapi makasih buat kepercayaan dan dukungannya. Insya Allah aku akan belajar semaksimal mungkin."
"Nah, gitu donk. Yuk, makan. Keburu dingin nih semua. Mbak yang traktir deh. Anggap aja perkenalan dengan debay sama aunty-auntynya yang cantik ini."
Aline, Shayna dan Dira sudah kembali ke meja mereka masing-masing melanjutkan pekerjaannya. Suara ketukan sepatu yang beradu dengan keramik lantai menggema dimana bagian keuangan bernaung. Langkah kaki seorang wanita yang cantik dan anggun dalam balutan rok span dan blazer berwarna lila berhenti tepat di meja Aline membuat Aline dan Shayna memandang serentak wanita itu.
"Kamu yang namanya Aline?" tanya wanita asing itu dengan gaya angkuhnya seraya membuka kacamata hitam mahalnya.
"Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Mulutnya mengucapkan kalimat itu, namun hatinya berteriak "Ada apa lagi ini!"
"Saya Aura, istrinya Ethan, Nyonya Jonathan Prasetya." Wanita itu menegaskan kalimat terakhir.
"Bisa kita bicara? Berdua saja di tempat yang lebih private?" ucapnya straight to the point menatap dan menyindir Shayna yang terang-terangan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Oh, maaf, Bu Aura. Saya sedang dalam jam kerja. Saya harus mendampingi atasan saya untuk menghadiri rapat beberapa menit lagi. Tapi saya tidak keberatan untuk kita berbincang di waktu lain," ucap Aline dengan gayanya yang sedikit angkuh juga, membuat aura wanita yang bernama Aura itu semakin tidak enak. Walaupun Aline tahu sikapnya itu tidak baik, tapi tetap dilakukannya. "Sesekali orang angkuh harus diperlakukan angkuh juga biar gak ngelunjak dan nginjak-nginjak orang," pikir Aline.
Memang benar. Aline akan mendampingi Rendi dalam sebuah pertemuan, sedangkan Shayna ditugasi Rendi untuk meninjau kesiapan acara HUT A.C setelah jam istirahat usai.
"Baiklah. Sabtu saja, di Lagoena Cafe jam 10!" katanya memerintah.
"Insya Allah," jawab Aline.
"Oke. Sebaiknya kamu tidak menceritakan pertemuan kita dengan Ethan!" ucapnya dan wanita itupun berlalu begitu saja tanpa mendengar jawaban Aline.
Shayna yang sedari tadi mendengar pembicaraan Aline dengan wanita yang mengaku istri dari pak Ethan itu langsung berbalik, menunda niatnya yang semula akan beranjak menuju basecamp panitia HUT A.C.
"Dia bilang apa tadi, Lin? Istri pak Ethan? Gak salah ngomong tuh? Sejak kapan pak Ethan punya istri?" bisik gadis bermata sipit itu penasaran.
"Aku gak tahu sih, Ce. Dia istrinya pak Ethan atau bukan. Tapi bener, pak Ethan sudah menikah." Aline menanggapi dengan berbisik pula. Jadilah mereka berbicara dalam mode berbisik-bisik.
__ADS_1
"Serius lo, Lin? Setau Cece pak Ethan itu masih single. Fansnya dia banyak banget di A.C. Makanya heboh seantero A.C waktu dia unggah siluet seorang wanita di akun sosmed dia kemarin siang, pake backsound lagu 'sempurna' yang dinyanyiin dia pula. Bikin banyak hati terpotek-potek. Wah, bisa gempar nih A.C kalau tahu pak Ethan udah beristri," ujar Shayna lebay yang ditanggapi Aline dengan gelengan kepala sambil terkekeh.
"Kira-kira ada keperluan apa ya dia pengen ketemu lo, Lin? Apa jangan-jangan ...." Shayna sengaja menggantung kalimatnya saat sebuah kemungkinan tiba-tiba parkir begitu saja di kepalanya.
"Jangan-jangan apa, Ce?"
"Ini analisa Cece aja ya, Lin. Setelah Cece hubung-hubungin dengan gosip yang beredar beberapa waktu lalu."
"Gosip?"
"Iya. Cece denger pak Ethan dan pak Arya ribut di parkiran karena lo makanya lo sampai dipindahin ke sini. Yah, walaupun itu atas permintaan pak Erlangga, tapi tetap saja perkelahian pak Arya dan Pak Ethan menjadi pemicunya. Terus kemarin gak sengaja Cece juga denger di lift ada yang bilang kalau dia lihat lo sama pak Ethan kemarin siang keluar barengan dari lift yang sama. Kemarin siang juga pak Ethan mengunggah foto siluet itu. Jangan-jangan, wanita dalam siluet itu elo, Lin? Istrinya tahu trus ngedatangin elo ke sini." Shayna mengambil gawainya yang tergeletak di atas meja. Membuka akun sosmed milik Ethan dan menatap gawainya dan Aline dengan bergantian.
Aline berdehem berulang kali untuk melicinkan tenggorokannya. "Cece jangan mikir yang aneh-aneh deh," sanggah Aline yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis berkulit putih bak porselen itu.
"Lo tahu darimana kalau pak Ethan udah punya istri?" selidik Shayna tak gentar.
"Udah deh, Ce. Gak usah mikir yang bukan-bukan. Pak Ethan sama aku cuma temenan!"
"Jadi bener, cewek dalam siluet itu lo, Lin?" Perkataan Shayna barusan terdengar seperti sebuah penegasan di telinga Aline. Mau tak mau gadis berpashmina krem itu mengangguk dengan jujur.
"Kemarin gak sengaja ketemu di rooftop, Ce. Aku juga gak tau kalau pak Ethan ambil gambar itu dan mengunggahnya."
"Fix! Pak Ethan suka sama lo, Lin!" Shayna menarik kesimpulannya sendiri.
"Cece jangan ngomong sembarangan! Aku sama pak Ethan cuma temenan!" tegasnya sekali lagi.
"Kalau lebih pun juga gak papa, Lin. Wajar aja pak Ethan gak betah sama tuh perempuan, songongnya gak ketulungan. Kasihan pak Ethan yang lembut dinikahin perempuan angkuh seperti dia."
"Huuussh .... Cece gak boleh ngomong gitu. Aku gak suka!" Kali ini Aline terdengar merajuk di telinga Shayna, membuatnya tambah ingin menggoda gadis manis itu.
"Kalau sama pak Arya, gimana? Itu kemarin mamanya datengin kamu juga. Apa bener gak ada hubungan sama bapak ganteng yang dingin-dingin misterius gimanaaa gitu?" oceh Shayna menggoda.
"Cuma temenan juga kok, Ce. Udah ya Ce. Jangan dibahas lagi!" pinta Aline.
"Kenapa? Kamu dideketin dua orang pria most wanted loh di sini, anak pemilik saham lagi keduanya!"
"Justru itu, Ce. Takut kedengaran sama fans-fans nya. Ntar haters aku tambah banyak," canda Aline.
"Bisa aja lo. Tapi nanti janji cerita ya kalau udah ketemu 'nyonya' Ethan."
Belum sempat Aline menolak perkataan Shayna, seorang OB menginterupsi keduanya. OB tersebut menyerahkan sebuah paket yang cukup besar. Setelah menerima dan mengucapkan terima kasih, Aline membolak-balikkan paket itu, mencari nama pengirim atau kartu ucapan yang entah terlupa atau memang sengaja tak dibuat.
"Duuuh, apa lagi sih ini?"
"Itu namanya paket, Non!" jawab Shayna gemes ikut menggoncang-goncangkan paket, menerka-nerka apa kira-kira isi paket sebesar itu.
"Iya, Ce. Aku tahu. Tapi ini dari siapa? Gak ada nama pengirim atau kartu ucapannya," jawab Aline mulai frustasi menghadapi hari ini. "Hari apa sih ini?" gerutu Aline.
"Ini hari Selasa kali, Lin," jawab Shayna polos membuat Aline mengusap kasar mukanya, semakin frustasi.
Belum selesai rasa penasarannya tentang paket itu, Rendi sudah terlebih dahulu singgah di mejanya, meminta untuk segera mengikutinya ke ruangan rapat. Aline pun segera menyimpan paket itu ke bawah mejanya karena memang ukuran paket yang cukup besar tapi tidak terlalu berat. Sementara Shayna pun segera berlalu menuju basecamp panitia HUT A.C untuk memantau perkembangan persiapan acara.
"Ini baru Selasa, Lin. Kamu gak boleh putus asa!" gumamnya memikirkan permasalahan hidupnya yang bermunculan dari hari ke hari.
__ADS_1