Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Menolak Perjodohan


__ADS_3

Rosaline Denisa, gadis periang dari keluarga konglomerat kota Batam. Si bungsu ini sangatlah jenius. Di usianya yang belum genap 23 tahun, ia sudah menyelesaikan tiga gelar magisternya dengan nilai tertinggi, sangat-sangat memuaskan! Ya, dia baru saja kembali dari Jerman pasca menyelesaikan gelar master ketiganya.


Belum genap sepuluh hari kembali ke tanah kelahirannya, Batam, ia berniat mengadakan syukuran kecil-kecilan bersama anak-anak jalanan ataupun anak-anak panti asuhan, sesuai usulan si mbok, asisten rumah tangganya yang setia. Sebelumnya, sang mami sudah berniat untuk mengadakan party menyambut kepulangan putri bungsunya. Namun Rosa yang cantik tidak menyukai hal yang berbau hura-hura seperti pesta, jadi dengan lembut ia menolak usulan dari maminya dan menyampaikan bahwa ia berniat untuk mengadakan syukuran dengan anak-anak panti saja. Awalnya, maminya tentu saja tidak begitu menyukai ide putri bungsunya itu karena ia tidak mau putrinya bergaul dengan orang luar. Ia masih trauma dengan penculikan beberapa tahun silam. Tapi berkat kesabaran dan kelembutan, akhirnya maminya luluh juga walaupun tidak antusias dengan idenya. "Dapat restu saja sudah cukup," kata si mbok ketika ia bercerita pada si mbok kemarin sore.


Jadilah ia di sini sekarang, di sebuah gerai ATM yang tak jauh dari rumahnya untuk menarik sejumlah uang yang sekiranya cukup untuk membeli makanan dan beberapa hadiah untuk anak-anak jalanan, tuna wisma dan anak-anak panti asuhan. Ia akan mengadakan syukurannya hari minggu besok, dibantu si mbok. Mumpung minggu ini ia masih free karena rencananya mulai minggu depan ia akan mencari pekerjaan. Yah walaupun papi dan kakaknya sudah menawarkan untuk bekerja di perusahaan mereka, namun ia menolak tawaran tersebut dengan dalih ingin mencari pengalaman dan mengaplikasikan yang sudah ia dapatkan.


Setelah menarik sejumlah uang, ia pun menyimpannya di saku jaket bagian dalam. "Agar aman," pikirnya.


Kembali ia lajukan BMW kesayangannya.


Sesampainya di rumah, ia pun memasuki rumah sambil bersenandung ringan mencari keberadaan Si Mbok, sang asisten rumah tangga yang sudah mengasuhnya.


"Mbok, ini aku udah ambil duit, segini cukup gak, Mbok?" tanyanya seraya mengeluarkan amplop dari saku jaketnya.


"Waduh non, banyak betul ini!" ujar Si Mbok setelah mengeluarkan isi amplop.


"Ah gak papa, Mbok. Ini!" Rosapun menyerahkan amplop kepada Si Mbok. Namun Si Mbok hanya mengambil sebagian saja, sisanya ia serahkan kembali kepada majikan kecilnya itu. "Mbok ambil segini aja Non, buat masak-masaknya, sisanya dipegang sama Non aja biar bisa dibelikan untuk hadiah buat anak-anak panti."


"Tapi Mbok...."


"Si Mbok kan gak tau hadiahnya mana yang bagus, jadi Non aja yang belikan!"


"Ooh, yaudah deh. Duitnya aku pegang lagi nih ya. Nanti sore deh aku cariin hadiahnya. Toss dulu dong, Mbok!" Si Mbok geleng-geleng kepala dengan tingkah majikan kecilnya ini tapi tak urung ia tetap melakukan permintaan majikan kecil yang sangat disayanginya itu.


Setelah menemui si Mbok, Rosapun berniat kembali ke kamarnya di lantai dua. Belum lagi kakinya mencapai tangga, suara Mami Nissa menghampiri telinganya, "Princess Rosanya Mami! Kamu dari mana aja sih, Sayang? Ditelponin gak diangkat, dicariin kemana-mana juga gak ketemu. Kamu perginya kok gak bilang-bilang sih, Sayang?" Maminya, Bu Nissa, mengomel memuntahkan kesalnya karena kesulitan menghubungi putri satu-satunya itu.


"Hehehe.... Maap Mam, aku keluar bentar tadi, deket kok, jadi gak bawa HP, cuma bawa ini," katanya sambil menunjukkan sling bag mini kesayangannya.


"Huh, kamu itu kebiasaan deh. Kalo mau pergi-pergi HPnya dibawa dong Sayang, biar Mami atau Papi gampang hubungi kamu! Kalau kenapa-napa gimana?" Maminya mulai menceramahi. "Ish Mami do'ainnya kok gitu. Iya iya Mam, besok-besok aku bawa deh, janji," ucapnya dengan cengiran sambil membentuk huruf "V" dengan jarinya. "Udah ayo ikut Mami, udah ditungguin Papi tuh di ruang kerjanya!" ajak Mami Nissa.


"Tumben banget Mi. Ada apa, Mi? Kok ke ruang kerja Papi segala?"


"Udah, ikut aja dulu Sayang!"


Rosa mengekori maminya menuju ruang kerja papinya. Dalam hati ia bertanya-tanya ada apa gerangan. Kalau udah ke ruang kerja papi, pasti ada hal serius nih.


Dengan langkah yang semakin dekat semakin berat, perasaan Rosa pun semakin tidak enak ketika membuka kenop pintu ruang kerja papinya.


"Papi, Papi nyariin aku?" Sebisa mungkin Rosa menutupi kegugupannya.


"Duduk dulu dong Princess, Sayang. Iya, ada hal penting yang mau Papi omongin ke kamu."


"Idih Papi, buruan dong ngomongnya, bikin was-was aja deh," rajuknya. Papinya hanya tersenyum melihat tingkah manja anak bungsunya itu.


"Sayang .... Ada satu wasiat dari almarhum kakek kamu yang sampai saat ini belum bisa Papi sama Mami penuhi. Dan mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memenuhi permintaan terakhir kakek kamu." Papi memulai ceritanya dengan wajah serius.

__ADS_1


"Terus, hubungan wasiat kakek sama aku apa, Pi?" Dengan harap-harap cemas Rosa bertanya, berharap semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Pikirannya sudah kemana-mana saja.


"Kamu masih ingat dengan Opa Wirawan dan Om Riko?"


"Iya, aku masih ingat, Pi."


"Kakek minta keluarga kita berbesanan dengan keluarga Opa Wirawan." Papinya sengaja berhenti sejenak untuk melihat ekspresi putri bungsunya. Ia yakin kalau putri bungsunya itu sudah menangkap maksud dari pembicaraan ini.


"Ya, seperti yang ada di otak cantik kamu, Sayang, Papi sama Mami sepakat untuk menjodohkan Princessnya Papi yang cantik ini sama Niko, putra sulungnya Om Riko yang -"


"Gak! Aku gak mau Pi! Aku gak mau dijodoh-jodohin! Aku baru aja lulus dan aku pengen kerja, Piiiii. Pokoknya aku gak mau. Titik!" rengeknya manja.


"Tapi Sayang, Papi sama Om Riko udah membicarakan perihal perjodohan ini. Dan kami sepakat untuk menjodohkan Niko, anaknya Om Riko sama kamu."


"Aku gak mau, Piiii. Kenapa bukan Bang Cris atau Bang Rio aja yang Papi jodohkan? Mereka udah tua belum nikah-nikah juga, kenapa mesti aku? Aku kan masih kecil Pi, baru juga lulus. Mamiiiii ...." Kali ini ia bergelayut di lengan Mami meminta dukungan Sang Mami. "Sayang, anaknya Om Riko memang 2, sepasang, tapi yang kecil masih kuliah, baru semester 6. Kamu coba aja dulu kenalan dan berteman sama nak Niko. Mami sama Papi lihat anaknya baik, udah mapan dan ganteng lagi. Kali aja kalian cocok."


"Gak bisa Mi! Niko sama Rosa itu harus menikah! Setelah menikah nanti mereka bisa menciptakan kecocokan satu sama lain. Pokoknya, sudah Papi putuskan! Kamu dan Niko harus menikah!" Papi mulai naik darah menghadapi situasi ini. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa putri bungsu yang selama ini selalu menuruti keinginannya bisa membantah dan tidak menyetujui rencana perjodohan ini. Melihat putrinya yang sudah menangis sambil geleng-geleng menandakan penolakannya, membuat emosinya sampai ke ubun-ubun.


"Kamu! Papi sekolahkan tinggi-tinggi, Papi kuliahkan jauh-jauh ke Jerman bukan untuk membantah apa yang Papi bilang!" Derry mulai naik pitam. Nada bicaranya sudah naik satu oktaf.


Rosa dan maminya terkaget. Pasalnya, baru kali ini Sang Papi membentaknya dengan penuh amarah.


Rosa yang terpancing emosi pun sudah tak terima dengan perjodohan yang diucapkan papinya.


"Gak, Pi! Aku gak mau! Aku belum ada mikir buat berumah tangga!" balasnya tak kalah emosi.


"Aku gak mau, Pi! Aku tetap gak mau! Aku juga capek-capek kuliah, mengorbankan masa kecil aku, mengorbankan masa remaja aku bukan untuk berakhir seperti ini! Aku masih pengen ngerasain dunia kerja, meniti karir, bergaul dan menemukan laki-laki yang aku cintai dan mencintai aku, baru menikah. Ini terlalu cepat untuk aku, Pi! Maafin aku! Aku gak bisa menerima perjodohan ini!" ucapnya final.


"Kamu ...!" Plak! Plak! Dua tamparan melayang di kedua pipi mulus Rosa. Ia tersungkur, tidak menyangka jika papinya akan berbuat sejauh ini.


Nissa terperanjat melihat adegan penamparan yang terjadi di depan matanya itu. Segera ia menghampiri putri bungsunya, membawanya dalam pelukan hangatnya. Sambil berlinang air mata ia memandang garang suaminya yang sudah melewati batas tanpa bisa berkata-kata.


Derry bergeming. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. "Jika kamu menolak perjodohan ini, kamu bukan lagi menjadi bagian dari keluarga ini dan kamu boleh meninggalkan rumah kami!"


Bagai disambar petir, Nissa dan Rosa benar-benar tidak menyangka kalimat seperti itu yang akan diucapkan oleh papinya.


Nissa merangkul putrinya kuat. Sembari menciumi puncak kepalanya berkali-kali, membisikkan agar putrinya mengalah untuk kali ini. Namun Rosa sudah terlanjur kecewa dengan ucapan papinya, dilepasnya pelukan maminya yang hangat, diciumnya maminya. Nissa yang sudah tau apa keputusan anaknya, semakin menangis. "Jangan, Sayang! Mami mohon, kali ini saja, kamu ikuti Papi kamu!"


"Enggak, Mi!" Iapun bangkit berdiri, membawa sang Mami ikut berdiri. Ia menarik napas berat, tapi sudah diputuskannya jika ia tetap menolak rencana perjodohan ini. "Maafin aku, Mi, Pi, kalau sampai saat ini aku belum bisa menjadi anak yang berbakti sama Papi, sama Mami. Tapi maaf, Pi, untuk kali ini, aku gak bisa. Izinkan aku memilih jalanku sendiri! Aku akan pergi jika itu yang Papi inginkan. Aku pamit."


Segera ia langkahkan kakinya keluar ruangan kerja sang papi. Nissa berlari mengejar sang putri. Begitupun Derry, mengejar istrinya.


Si Mbok yang melihat tuan putrinya menangis segera menghampiri sesaat sebelum ia mencapai tangga. "Non ...." Dan Rosa pun segera menghambur ke pelukan si mbok.


"Non kenapa nangis?" Si Mbok ikut menangis. Tak pernah majikan kecilnya ini terlihat sangat kacau dan menyedihkan seperti ini. Bekas tamparan di kedua pipinya membuat ia bertanya-tanya, ada apa gerangan. Namun ia urung bertanya menunggu nona mudanya tenang, tapi ucapan tuan besarnya seketika membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Saya tidak mengizinkan kamu membawa barang-barang dari rumah ini! Kemarikan dompet, HP dan jam tangan kamu!"


Rosapun segera melepaskan jam tangan dan cincin yang ia kenakan, lalu ia masukkan kedalam sling bag yang ia bawa tadi. "HP aku ada di kamar, kunci mobil dan smua ada di sini," katanya sambil menyerahkan sling bag itu ke tangan si mbok. Lalu berbalik menuju pintu keluar.


Nissa histeris dan hendak mengejar putrinya yang sudah berjalan keluar rumah tapi ditahan oleh tangan sang suami.


"Selangkah kamu keluar dari rumah ini, maka kamu bukan lagi seorang Tiocandra!"


Rosa berhenti sejenak, hatinya perih, namun ia tetap melangkah keluar dari rumah yang selama ini menjadi istana baginya.


Si mbok berhasil mengejar majikan kecilnya. Dipeluknya lamat-lamat. "Non, Si Mbok ikut ya?", bujuknya.


"Jangan, Mbok!"


"Tapi Non, Non mau kemana?"


"Entahlah, Mbok. Aku belum tau."


"Kalo gitu, si Mbok ikut ya, Non?"


"Enggak, Mbok. Oia, Mbok. Ini sisa uang yang tadi, aku titip sama Mbok aja ya tolong diserahkan kepada yang berhak!"


"Jangan, Non. Uangnya Non pake aja dulu. Non gak bawa apa-apa kan?"


"Iya Mbok, aku gak bawa apa-apa kecuali yang ada di badan aku sekarang. Boleh memangnya gitu, Mbok?"


Si mbok hanya mengangguk karena tak kuasa menahan kesedihan. "Iya Non. Anggap aja Non pinjem!"


"Iya deh Mbok. Nanti aku balikin kalau udah dapat kerjaan ya. Aku pamit ya, Mbok."


"Non ...," panggil si Mbok membuat nona mudanya kembali menghentikan langkah dan berbalik.


Dilihatnya si mbok sedang melepaskan kalung pemberian neneknya dulu.


"Ini, Non! Kalungnya buat Non aja! Buat pegangannya Non!" Diraihnya tangan nona mudanya, lalu diletakkannya kalung pemberian neneknya itu. Rosa hendak menolak, tapi si mbok kembali bersuara. "Tolong sekali ini aja, Non. Di ambil ya Non, diterima!" Tak punya pilihan, Rosa hanya pasrah dan mengangguk. "Iya, Mbok, terima kasih! Buat nanti kalo aku kangen sama Si Mbok, sama Mami, sama rumah. Aku pergi ya Mbok. Jaga diri, jaga kesehatan Mbok! Aku titip Mami sama Papi ya Mbok!"


"Non juga, jaga diri! Nanti kabari Mbok ya, Non!"


"Pasti, Mbok."


Lama mereka berpelukan hingga akhirnya Rosa melangkahkan kakinya keluar gerbang rumahnya. Berjalan dan berpikir kemana ia akan pergi. Selama ini pergaulannya sangat terbatas karena waktunya yang habis tersita untuk sekolah, kuliah, kursus ini itu dan sebagainya. Ia tak punya teman dekat.


Lama ia berpikir, ke rumah sakit tempat praktik Bang Cris, kakak pertamanya, atau ke kantornya Bang Rio, kakak keduanya? Ia bukan lagi seorang Tiocandra, ucapan papinya kembali terngiang-ngiang. Akhirnya ia putuskan tidak menemui keduanya. Biarlah ia terima semua ini. Mungkin sudah menjadi takdirnya.


Diberhentikannya taksi yang kebetulan lewat.

__ADS_1


"Ke pelabuhan, Pak!"


__ADS_2