Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Para Lelaki Tiocandra


__ADS_3

Sebelumnya, author mau ucapin terimakasih dulu buat semua pembaca setia Rosaline Denisa. Makasih, makasih, makasih dan makasih banget buat supportnya, komennya, votenya, hadiahnya dan do'anya.


Ini karya pertama author yang dipublish. Sebelumnya author cuma berani menulis untuk bacaan sendiri, itu pun baru cerpen dan puisi. Dan author sadari, pasti karya ini banyak kurangnya di sana sini. Tapi author janji bakal terus belajar, belajar dan belajar lagi supaya bisa menyuguhkan bacaan yang baik, bermanfaat, dan menghibur tentunya walopun waktu updatenya gak tentu, hehehe. Bukan bermaksud tak serius, hanya saja peran di dunia nyata kadang memaksa author untuk fokus sampai seharian, jadi ide-ide dan imajinasi belum bisa dituangkan dalam rangkaian kata.


Terima kasih buat kalian semua yang udah mendukung dan terus dukung author dengan votenya, jempolnya, hadiahnya serta komen-komen lainnya (gak maksa sih tapi ngarep🤭) yang dijamin bikin author bahagia dan tambah semangat✌️.


***


Batam, Kepulauan Riau


"Bagaimana bisa?!" Rio membentak seseorang di seberang sana. Bahkan buku tangannya sampai memutih karena menggenggam benda pipih itu terlalu kuat. Lelaki itu menghadap dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Batam sore hari dengan tangan kanan yang menggenggam HP dan tangan kiri yang dimasukkan ke saku celana. Rahangnya mengeras menahan amarah. Pria yang semakin gagah dengan stelan jas mahalnya itu baru saja mendapat laporan dari orang suruhannya yang bertugas mengawasi adik bungsunya, Rosaline.


Sebuah kabar yang mampu membuatnya murka.


Sebuah kabar yang rasanya mustahil akan dilakukan adiknya itu. Lantas sekarang? Kenyataan kadang memang tak dapat disangka.


Kemana pikiran adiknya itu? Ingin rasanya Rio segera terbang ke sana lalu menyeret pulang adiknya dengan atau tanpa persetujuan siapapun. Tak peduli bila nanti adiknya itu akan memusuhinya.


Namun apa dayanya, kali ini ia harus berpikir jernih. Pasti tak akan mudah menyeret gadis itu pulang. Dia terlalu cerdas untuk diremehkan. Terlebih Papi Derry dan Bang Cris masih dalam perjalanan bisnis ke Eropa. Seperti pesan kedua lelaki yang dihormatinya itu, dirinya harus tetap stay di Batam hingga keduanya kembali dari perjalanan bisnis mereka, apapun alasannya, karena perusahaan harus tetap berada dibawah kendali seorang Tiocandra. Terlalu banyak keluarga yang menggantungkan hidup di perusahaan ini. Tak hanya di Batam, tapi juga di beberapa daerah dan beberapa negara juga. Oleh karena itu, ia terpaksa harus menghilangkan opsi ini.

__ADS_1


Perusahaan mereka memang bukanlah perusahaan kemarin sore yang kondisinya belum stabil dan mudah goyah. Perusahaan mereka sudah berdiri berpuluh-puluh tahun yang lalu. Namun, mereka sadari, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Tak boleh lengah sedikitpun. Bahkan kini Mami Nisa memilih untuk kembali terjun ke dunia kerja guna membantu memastikan perusahaan baik-baik saja selama ditinggal pergi kedua lelaki kesayangannya itu. Juga sebagai alasan untuk mengalihkan beban pikirannya dari kepergian anak gadis satu-satunya hampir dua tahun yang lalu.


Cari tahu apa yang mereka lakukan di sana! Dan terus awasi mereka! Laporkan setiap detilnya padaku, bila perlu setiap jam! Dan pastikan mereka tidak tidur sekamar! AKU TIDAK MAU TAHU!" ucapnya final lalu memutuskan sambungan telepon sepihak.


Lelaki itu berbalik, berjalan menuju meja kerjanya. Duduk di kursi kebesarannya sambil memijit pangkal hidung yang tiba-tiba saja terasa berdenyut. Lalu diraihnya kembali benda pipih itu dan mendial nomor Cris. Seandainya saja Cris masih menekuni profesi dokternya, pasti saat ini kakaknya itulah yang akan bertindak. Namun sayang, demi kebahagiaan sang adik, Cris rela meninggalkan profesi dokternya dan menerima tanggungjawabnya sebagai putra mahkota kerajaan bisnis Tiocandra.


Flash back on:


Hampir d**ua tahun yang lalu...


"Temukan segera dan bawa putriku kembali ke sini!" titah penuh perintah seorang Derry Tiocandra kepada orang-orang suruhannya.


Mami Nisa, Cris dan Rio mendengar sebagian percakapan via telpon itu karena pintu ruangan kerja Derry terbuka. Mereka bertiga tadinya hendak bernegosiasi dengan Derry, namun urung demi mendengar kelanjutan percakapan itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki setengah baya itu. Dia yang telah mengusir putri tunggalnya, lalu dia pula yang menyuruh orang-orang untuk mencari dan menemukan sang putri.


"Kenapa Papi tega melakukan itu semua? Kenapa memaksakan kehendak Papi kepada Rosa?" Rio yang sudah geram sejak tadi dengan papinya segera menerobos pintu ruang kerja Derry membuat sang empunya terkejut, namun ia kembali bisa menguasai dirinya.


"Sudah cukup dia mengikuti semua keinginan Papi sejak ia kecil dulu. Sekarang ini dia sudah dewasa, biarkan dia memilih hidup yang akan ia jalani sendiri, Pi," mohon Cris kepada sang ayah, tak habis pikir entah kenapa papinya bersikeras memaksakan perjodohan itu. Kakek tentu tak ingin melihat cucunya menderita karena sebuah wasiat yang berjudul perjodohan itu, bukan? Namun karena diliputi rasa kecewa berbalut amarah, permohonan putra sulungnya itu terdengar seperti kritikan yang seolah menyalahkan dirinya yang tak becus menjadi orang tua. Derry semakin murka.


"Kamu! Jangan pernah mengajari bagaimana saya harus mendidik anak-anak saya! Kalian tumbuh besar dengan segala kelebihan ini semua berkat kerja keras kakek kalian! Sudah sewajarnya kalian berbakti padaku juga pada kakek kalian!" Derry bahkan menunjuk-nunjuk Cris memperlihatkan amarahnya tanpa ditutup-tutupi.

__ADS_1


Ya, papi mereka memanglah orang yang sangat keras. Demi baktinya pada almarhum ayahnya, Derry memaksakan wasiat sang ayah tetap berjalan. Di saat Cris dan Rio mengetahui perihal pengusiran Rosaline, mereka menentang Derry habis-habisan. Perang dingin tak terelakkan antara ayah dan kedua anak laki-lakinya itu. Perseteruan ini membuat kondisi kesehatan mami Nisa menjadi buruk. Belum lagi pikiran bagaimana hidup putri kesayangannya yang tidak tau dimana rimbanya kini membuat wanita itu semakin sering keluar masuk rumah sakit. Akhirnya, demi kesehatan wanita yang mereka cintai, mereka memilih berdamai.


Baik Cris maupun Rio selalu rutin mengunjungi kediaman papi dan maminya. Kali ini mereka sepakat untuk kembali bernegosiasi dengan sang papi. Awalnya, Rio menawarkan diri menggantikan perjodohan itu, Rio mengajukan perjodohan dengan adik dari Nico yang terpaut usia cukup jauh. Namun Derry tetap bersikeras ingin menjodohkan Rosaline dan Nico, hingga akhirnya Cris pun memberikan penawaran lain, yaitu ikut terjun ke dunia bisnis seperti permintaan sang papi selama ini.


Namun, Derry tetaplah Derry. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Otak pengusahanya tetap berjalan. Walaupun ini keluarganya, namun mengambil keuntungan di saat yang sangat langka ini bukanlah suatu dosa. Akhirnya ia memilih mengalah asalkan ia mendapatkan masing-masing tawaran dari kedua anak laki-lakinya itu.


Awalnya, kedua putra kebanggaannya itu tidak setuju. Begitu pula dengan mami Nisa. Baginya, kebahagiaan anak-anaknya berada di jalan yang mereka inginkan dari hati, bukan jalan yang mereka tempuh melalui negosiasi ini. Kembali terjadi perang dingin antara ayah dan anak-anaknya itu. Bahkan, Derry semakin memperbanyak orang untuk mencari keberadaan putrinya, dan mengancam kedua anak laki-lakinya jika sampai Rosaline didapatkan, maka ia akan langsung dinikahkan dengan Nico, sesuai rencana awal. Rio dan Cris yang sudah menyelidiki Nico tentu saja tidak setuju. Nico Wirawan adalah lelaki brengsek! Itulah kesimpulan dari penyelidikan mereka. Dan tentu saja mereka tidak setuju jika adik yang mereka sayangi harus menikahi lelaki brengsek itu.


Namun karena perang dingin tersebut, kesehatan mami Nisa kembali menurun. Hingga pada akhirnya, Cris dan Rio kembali mengalah terhadap papi mereka dan mengikuti semua keinginan Derry. Semua itu mereka lakukan semata-mata agar papinya itu melupakan rencana perjodohan Rosa dan Nico.


Dan beginilah mereka sekarang. Rio menjalani pertunangan dengan adik Nico. Sedangkan Cris, terpaksa menomorduakan profesi dokternya dan menjalani hidup barunya sebagai pengusaha.


Flashback off.


"Baiklah, Bang. Akan kusuruh mereka mengawasinya dan melaporkannya."


.....


"Iya, Bang. Abang juga jaga kesehatan di sana. Aku matikan telponnya. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


Rio mengakhiri telponnya.


Ingin rasanya Rio langsung terbang dan menyeret pulang adik bungsunya itu, namun Cris melarangnya. Bila saja Cris tidak melarangnya untuk meninggalkan kota Batam apapun yang terjadi. Bila saja...


__ADS_2