Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Tugas yang Tidak Menyenangkan


__ADS_3

Elang melangkah tergesa-gesa menuju kantornya. Langkah kakinya ia ayunkan panjang-panjang demi mencapai ruangan kerjanya secepat yang ia bisa. Ia yang tadinya berencana akan agak siang ke kantor karena masih lelah akibat lembur semalaman terpaksa menghilangkan agendanya itu hari ini. Pasalnya, Dira, sekretarisnya yang baru beberapa hari kembali bekerja, memberinya kabar buruk tadi pagi. Jadi, di sinilah ia sekarang. Di dalam lift menuju ruangannya.


Elang sampai di lantai dimana ruangannya berada. Ia melihat kedua sekretarisnya yang duduk rapi di meja mereka masing-masing. Ada kelegaan yang dirasanya. Keduanya terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan tak ada yang menyadari kedatangannya.


"Ehem!" Elang berdehem memberitahukan keberadaannya. Kedua sekretarisnya serempak mengangkat kepala memandang ke asal suara.


"Selamat pagi, Pak!" kompak keduanya menyapa.


"Selamat pagi. Dira, ke ruangan saya sekarang!" Elang menjawab sapaan kedua sekretarisnya tanpa menghentikan langkah menuju pintu ruangannya yang tinggal beberapa langkah lagi itu.


"Baik, Pak."


Dira bergegas keluar dari kursi kerjanya dan melangkah mengikuti sang atasan yang tampak tidak baik-baik saja di mata Aline pagi ini. Entahlah, gadis itu hanya merasa aura atasannya itu tidak sebaik hari-hari biasanya, kendati senyuman masih menghiasi wajahnya yang tampan, tapi auranya sangat terasa berbeda.

__ADS_1


Sepeninggal Dira, Aline kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ia sudah menyerah-terimakan sebagian pekerjaannya kepada Dira, sekretaris CEO yang sesungguhnya. Namun, Dira yang baru saja kembali bekerja beberapa hari ini meminta bantuan pada gadis itu untuk membantunya terlebih dahulu menjelang si buah hati cukup umur untuk ia tinggalkan bekerja dengan jam penuh, yaitu tiga bulan lagi.


Perusahaan milik Elang ini sangat menghargai kodrat seorang wanita, baik itu sebagai istri maupun sebagai ibu. Hal ini terlihat dari banyaknya peraturan perusahaan yang memberikan toleransi dan memudahkan posisi wanita sebagai pekerja tanpa harus meninggalkan peran mereka di kehidupan rumah tangganya. Seperti Dira yang masih menyusui bayinya, diberi jam kerja hanya sampai pukul 13.00 WIB saja hingga bayinya berusia 6 bulan, dan banyak lagi peraturan yang memang memberi kesan menghormati wanita.


Namun, hal itu tidak berlaku bagi wanita lajang seperti Aline. Mereka dianggap belum memiliki tanggung jawab yang membatasi gerak lingkupnya, jadi peraturan bagi mereka sama halnya seperti laki-laki, meskipun mereka tetap dilindungi haknya oleh perusahaan.


Aline mulai merasa gelisah setelah hampir satu jam yang lalu Dira keluar dari ruangan atasan mereka. Pasalnya, ibu muda tersebut mengatakan bahwa dirinyalah yang akan menemani CEO mereka menghadiri beberapa agenda di Bandung. Ya, Dira tidak berbohong mengenai ini. Dirinya masihlah menyusui si buah hati dan mau tak mau Aline sebagai sekretaris dua CEO yang harus mendampingi.


"Duuuuh, Mbak Dira. Apa gak bisa Pak Erlangga pergi sendiri aja?" rengeknya tiba-tiba membuat Dira kaget bukan main.


"Maaf, Mbak. Akunya galau," cicit gadis itu.


"Lagian ya, kamu itu apa salahnya sih DL (dinas luar) sama Pak Erlangga? Itu juga termasuk dalam job desc kamu lho. Kok malah uring-uringan sih? Gak akan terjadi apa-apa. Udah, tenang aja!" omel sekaligus bujuk Dira mencoba menenangkan gadis yang memang uring-uringan sejak ia mengatakan bahwa Aline lah yang akan menemani Pak Erlangga ke Bandung selama beberapa hari ke depan.

__ADS_1


Aline hanya bisa menghembuskan napasnya, gusar setelah rekannya itu tidak memberikan solusi apapun. Bukannya ia tak profesional. Tapi benar, ia tak pernah terpikir untuk menjadi sekretaris sebelum-sebelumnya. Dan mengingat dirinya dalam masa pelarian ataupun pengusiran, ia yakin bahwa entah itu papi ataupun maminya pasti akan mengirim orang untuk mencarinya. Dan Bandung bukanlah pilihan yang tepat untuk bersembunyi. Terlalu banyak kolega mami di kota kembang itu. Ia tak ingin tertangkap dan dipaksa pulang, lalu dipaksa menikah dengan laki-laki yang sudah dijodohkan dengannya itu. Dan lagipula, ia masih belum siap untuk bertemu dengan papinya. Walaupun ia sangat merindukan papi dan maminya, namun tetap saja ia merasa belum siap bertemu mereka kembali. Masih ada secuil rasa kecewa di hatinya.


Lalu, alasan lain mengapa gadis itu keberatan mengikuti sang CEO untuk beberapa agenda di Bandung. Yang pertama ia pikirkan adalah dirinya yang akan bolos selama itu di resto, bagaimana pekerjaannya? Dan kendatipun Abah dan Bunda tidak keberatan, dan gadis itu sangat yakin kalau kedua orang tua angkatnya itu tidak akan keberatan dengan izinnya, ia akan merasa tidak enak sendiri pada mereka dan pada rekan-rekan kerjanya di resto. Okelah, pekerjaannya bisa ia kerjakan sepulang dari Bandung nanti, tapi ia tidak ingin dicap sebagai anak emas Abah dan Bunda yang terus-terusan mendapatkan keringanan dan pengampunan. Ia hanya ingin bekerja normal, dengan baik, dengan tenang layaknya karyawan pada umumnya.


Yang kedua, ia bingung bagaimana cara mengatakannya pada kedua abangnya, terlebih Rio yang menjadi sangat protektif padanya akhir-akhir ini. Aline tau kedua abangnya itu mengirimkan orang untuk memantaunya secara diam-diam. Ia tidak ingin ada cekcok dan terlebih lagi membuat kedua abangnya tersebut tidak tenang. Terlebih Rio yang pastinya tidak akan segan-segan menggunakan segala cara agar semua berjalan sesuai kehendak lelaki tersebut. Dan ia sungguh-sungguh tak ingin Erlangga berurusan dengan bang Rio-nya.


Lagi, gadis itu menghempaskan napasnya kasar. Sejak tadi, entah sudah berapa kali ia begitu.


Dira yang menyadari kegalauan temannya itu hanya geleng-geleng kepala, tidak mengerti mengapa gadis berpashmina lilac itu sangat keberatan. Sudah tugas seorang sekretaris mendampingi atasannya bila diperlukan, menurutnya. Jadi kenapa harus segitu lebaynya dengan tugas kali ini. Oke mungkin Aline hanya gugup karena ini tugas pertama dirinya mendampingi sang atasan keluar kota. Lama-lama juga akan terbiasa karena akan banyak sekali agenda sang CEO keluar kota dalam waktu mendatang.


"Kamu kenapa sih, Lin? Galau banget gegara ini?" tanya Dira lembut. Akhirnya ibu muda itu tak tahan juga untuk tidak menanyakan langsung. Mendengar Dira yang sudah berusaha berkomunikasi dengannya, Aline pun tak ragu menyampaikan kegelisahannya. Ia pun menceritakan alasannya, tidak semuanya. Tak mungkin ia juga turut menceritakan alasannya yang terkait dengan keluarganya. Gadis itu hanya menceritakan kegelisahannya dengan pekerjaan di resto saja. Dan tentu saja ditambahi bumbu di sana sini agar terkesan dramatis.


"Mbak ngerti. Kalau Mbak boleh saran, sebaiknya kamu izin ke pihak resto selama beberapa hari. Nanti Mbak coba bicarakan dengan Pak Erlangga agar setelah dari Bandung kamu bisa mendapatkan izin tidak bekerja selama beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaan kamu di resto", putus Dira setelah berpikir cukup lama.

__ADS_1


Ia dan Erlangga tidak mempertimbangkan masalah ini tadi. Mereka asyik menyusun rencana dan melupakan bahwa gadis ini memiliki tanggung jawab lain. Bukan karena ketidakprofesionalan dirinya dalam bekerja, justru karena ia sangat profesional lah makanya menjadi sangat risau akan tugas ini.


Aline terdiam. Ia menarik nafas lelah. Sangat buntu baginya jika sudah begini. Dan saran rekan kerjanya ini cukup membantu walaupun tetap tidak memecahkan masalah. Jadi ya sudah. Tunggu dan terima saja.


__ADS_2