
Rendi dan Elisa makan siang bersama di sebuah restoran Jepang favorit Elisa. Elisa memang sangat mencintai masakan Jepang, mungkin karena ia memiliki darah Jepang dari neneknya. Suasana di restoran itu sangat ramai, karena memang jam makan siang. Restoran ini merupakan salah satu restoran favorit para pecinta makanan Jepang. Beruntung mereka masih mendapatkan meja walaupun belum melakukan reservasi.
"Sa, udahan dong main HP-nya!" tegur Rendi yang jengah melihat tingkah tunangannya yang sejak tadi sibuk dengan gadgetnya.
"Ha?" Elisa seperti baru tersadar ada orang di sekitarnya.
"Udahan main HP-nya ya!" Rendi lalu mengambil HP dari tangan gadis itu.
"Yaah, kok diambil sih, Mas? Aku tuh mau mencari sesuatu," rayunya.
"Nanti aja! Itu makanannya udah datang. Sekarang makan dulu. Nanti makanannya keburu dingin."
Mereka lalu makan sambil membicarakan rencana pernikahan yang rencananya akan diadakan bulan Februari tahun depan, tertunda beberapa bulan karena kesibukan keduanya.
"Aku pilih yang model ini aja untuk akadnya, Mas. Simpel tapi tetap elegan. Tapi nanti dikasih sedikit hiasan, payet atau pita atau gimana gitu biar gak terlalu polos," katanya menunjuk salah satu model kebaya berwarna putih gading yang sangat menawan hatinya.
"Terserah kamu aja mana baiknya. Mas menyesuaikan aja. Terus yang untuk resepsinya?" tanya Rendi kemudian.
"Itu belum bisa sekarang lah, Mas. Kan kita mesti tentuin konsep resepsinya gimana. Aku sih belum kepikiran. Atau mungkin Mas ada ide konsepnya gimana gitu?"
"Nanti Mas cari referensi dulu. Maunya sih gak usah yang mewah-mewah banget. Ya udah, kamu urus aja dulu baju untuk akadnya. Nanti yang untuk resepsinya nyusul," usul Rendi.
"Oke, Mas. Nanti aku minta bikinkan sama sepupu aku aja biar lebih hemat, lumayan buat mangkas budget, hehehehe."
"Memang sepupu kamu ada yang desainer gitu?"
"Iiiish, Mas Rendi nih. Kan ada si Prita, Mas. Udah ketemu beberapa kali juga, masiiiih aja lupa."
"Bukannya gitu. Dia kan di Jerman. Masa iya kamu bikin bajunya sampai segitunya? Mending sama Delila aja, adiknya Elang," usulnya lagi.
"Yeee, siapa bilang. Dia itu udah balik ke Jogja, udah setahunan. Malah sekarang udah buka cabang butik yang ke berapaaa gitu. Rencananya juga mau buka cabang di Jakarta dalam waktu deket. Kalau bisa sama keluarga sendiri, kenapa enggak?" sanggah Elisa lalu menyeruput ice green tea-nya.
"Kamu yakin dia udah balik?"
"Ya yakin lah, Mas. Kalau Mas gak percaya, coba kesiniin HP aku. Lihat di IGnya dia!"
Rendi lalu menyerahkan HP tunangannya yang tadi sempat disita olehnya.
"Nih, Mas. Bener kan? Dia itu kan udah selesai kuliahnya. Oh iya, Mas. Sebentar ya!" Elisa lalu menggeser ke bawah foto-foto di IG sepupunya itu.
"Elisa, kita sedang membahas pernikahan kita. Plis jangan urus yang lain dulu!"
"Bentaran aja kok, Mas. Aku tuh mau memastikan sesuatu."
"Apaan sih yang mesti dipastikan? Dari tadi bikin kamu gak fokus!"
"Itu lho, Mas. Sekretaris baru kamu itu."
"Aline? Kenapa dengan Aline?" Rendi mulai tertarik.
"Aku tuh tadi sempat mikir. Pernah ketemu dia dimana gitu ya. Soalnya wajah dia itu familiar. Makanya dari tadi aku ngecek-in IG. Siapa tau ketemu di foto-foto salah satu temenku," paparnya panjang lebar. "Sekarang aku ingat, kalau gak salah dia itu temannya Prita waktu di Jerman. Aku pernah dikenalin sama dia. Dia tetangga di apartemennya si Prita. Tapi dia gak pakai jilbab sih. Malahan aku pikir dia itu non-muslim. Wajahnya aja indo gitu." lanjutnya menjelaskan membuat Rendi menjadi tertarik untuk membuktikan perkataan gadis manis itu.
Elisa terus saja mengecek foto-foto Prita yang kebanyakan isinya adalah foto-foto baju rancangannya. "Aku ingat waktu itu kita ada foto bertiga, waktu aku diajak Prita makan di cafe tempat dia kerja."
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Rendi antusias.
"Ya yakin gak yakin, Mas. Ini makanya mau mastiin. Duuuh ... gila fotonya banyak banget lagi. Ini aja masih foto beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku ke Jerman-nya pas musim semi dua tahun lalu, bulan April kalau gak salah."
"Emangnya foto itu gak di-tag ke kamu?"
"Oh iya ya, Mas. Kok aku gak kepikiran sampai ke situ ya?"
"Ya udah, buruan deh cek!"
"Kok Mas Rendi jadi antusias gini sih?" tanya Elisa mulai cemburu dan tiba-tiba meletakkan HP-nya di atas meja mereka.
"Gak kok, biasa aja." Intonasi Rendi yang dengan nada kelewat biasa membuat Elisa meradang.
"Iya. Mas Rendi jadi antusias sejak aku sebut nama Aline. Tadinya respon Mas biasa aja, malah sedikit keberatan, gak kayak gini. Aku jadi curiga, jangan-jangan Mas Rendi ada rasa sama Aline?" tuduh Elisa.
"Eh, bukan gitu, Sayaaaang" sanggahnya. Lalu mengalirkan cerita mengenai kecurigaan Elang terhadap gadis itu sehingga ia dipindahkan menjadi sekretaris kedua Rendi.
"Oooh ... aku pikir Mas Rendi mulai ada rasa sama dia. Soalnya waktu dia kerja di rumah Mas dulu, Mas juga sering cerita dia, yang hasil setrikaannya rapi lah, yang masakannya enak lah. Pas tadi aku ketemu dia, ternyata orangnya yang dulu udah cantik banget sekarang malah tambah cantik dengan hijabnya. Perempuan mana yang gak cemburu coba?!"
"Jangan cemburu gitu. Buat Mas, kamu tetap yang paaaaaling cantik."
"Gombal".
"Kok gombal? Ini kita lunch buat bahas rencana pernikahan kita loh, Sa. Kalau Mas ada rasa sama dia atau perempuan lain manapun, mana mungkin sekarang kita berada di sini buat bahas ini semua." Rendi mulai habis kesabaran menghadapi kecemburuan calon istrinya itu.
"Iya, Mas. Maafin aku ya."
"Iya. Jangan cemburu-cemburu lagi!"
Lalu mereka berdua meninggalkan restoran itu.
Saat di mobil, sambil berbincang Elisa tetap mencari foto yang dimaksud, namun hingga mobil Rendi berhenti di depan kantornya, foto tersebut belum juga ia temukan. Sebelum turun, Elisa berjanji bila nanti foto itu ketemu, ia akan langsung mengirimkannya pada Rendi.
Setelah mengantarkan Elisa ke kantornya, Rendi juga kembali ke kantornya. Banyak laporan keuangan cabang yang harus diperiksanya. Tapi jujur saja, sejak adanya Aline, kerjaannya jauh lebih terbantu. Terlebih akhir-akhir ini saat fokus Rendi dan Shayna tersita untuk acara HUT Perak perusahaan mereka, Aline mampu meng-handle pekerjaan di kantor dengan sangat baik. Gadis itu sungguh-sungguh jelimet dan cekatan. Benar-benar kombinasi yang menguntungkan! Shayna saja yang lulusan terbaik di kampusnya mengaku kalah dari Aline dan bahkan terang-terangan mengagumi gadis cantik yang selalu menggunakan pashmina itu.
Setelah kembali dari makan siangnya, Elang langsung menuju ruangan Rendi. Saat kakinya menginjak lantai dimana Rendi berada, ia melihat sekeliling. Tak jua ia temukan gadis itu di mejanya.
"Selamat siang, Pak Erlangga. Mau ketemu Pak Rendi, Pak?" tanya Shayna sopan.
"Rendinya udah balik?"
"Sudah, Pak. Silakan langsung saja! Pak Rendi ada di ruangannya."
Setelah dipersilakan masuk, Elang langsung mendaratkan bokongnya di kursi tamu di hadapan Rendi.
"Kenapa lu, Nyet?"
"Gak kenapa kenapa. Lagi bosen aja di ruangan."
"Ya elah, kerjaan segini banyak lu malah pakai acara bosen. Mentang-mentang boss!"
"Kopi ada gak Ren?"
__ADS_1
"Bentar, gue minta OB bikinin."
"No! Lo suruh tu sekretaris lu bikinin. Punya sekretaris dua kok yang bikin kopi masih OB. Semena-mena lo sama OB."
"Sialan lu ngatain gue semena-mena. OB gitu-gitu digaji ya. Sembarangan aja nuduh gue!" Rendi sewot namun ia tetap menekan interkomnya.
.....
"Yak, siang, Lin. Tolong lo bikinin kopi hitam buat Pak Erlangga kita tercinta ini. Gulanya gak usah banyak-banyak, ntar dia diabetes. Sama buat gue minta cappucino aja, yang sasetan aja juga gak papa, Lin."
.....
"Yap, itu aja. Tapi tolong lo yang bikinin ya, Lin. Pak Erlangga gak suka kopi buatan OB," titahnya sambil melirik Erlangga yang memasang tampang tanpa dosanya
.....
"Thanks ya, Lin."
Rendi segera mematikan sambungan begitu mendapatkan jawaban dari Aline.
"Eh, itu Aline?"
"Emang siapa lagi? Shayna? Bedain mana gula mana garam aja dia masih ragu-ragu. Kecuali lu mau dibikinin kopi asin, biar gue suruh Shayna yang bikin," sarkas Rendi.
"Ck, gitu aja pake ngambek. Ngomong-ngomong Aline, gimana kerjaannya?"
"Baik. Malah terlalu baik. Shayna aja yang lulusan terbaik ngaku kalau Aline lebih jelimet dan cekatan dari dia. Ngapain lu tanya-tanya soal Aline? Mau bersaing sama si Arya dan Ethan?"
"Apa maksud lo gue bersaing sama Arya dan Ethan?"
"CK, kebanyakan jalan-jalan keluar kota sih, Lu."
"Sialan lo, Nyet. Gue keluar kota buat kerja bukan jalan-jalan. Dasar! Emang ada apa sama mereka? Cinta segitiga?"
"Khayalan lu kejauhan. Yang ada, si Arya sama si Ethan kabarnya lagi ngebet ngejar-ngejar Aline. Tapi Aline-nya kagak respon."
"Si Ethan bukannya udah punya istri? Trus, si Arya sejak kapan dia doyan perempuan? Bukannya terkenal dingin? Tapi bodo amatlah. Bukan urusan gue!"
"Serius gue. Banyak karyawan laki-laki yang kagum sama dia. Yang terang-terangan sih cuma berdua itu, soalnya sempat berantem di parkiran dan dipanggil HRD. Mungkin karna yang berdua itu jabatannya udah tinggi, jadi yang lainnya pada ciut jadi milih menjadi secret admirer gitu deh. Asal lu tahu ya, Lang. Hampir tiap pagi meja si Aline itu ada bunga, coklat dan kado-kado!"
"Ah, gosip aja kerjaan lo. Lo udah jadi periksa cabang yang di Semarang?" tanya Elang mulai serius. Karena kehadirannya kali ini memang benar-benar untuk bekerja, bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan misinya kepada Aline.
Percakapan mereka terhenti karena Aline datang menyuguhkan kopi yang dipesan oleh kedua lelaki tadi.
Aline segera meninggalkan kedua pria tampan itu dengan kopi mereka masing-masing. Pekerjaannya masih banyak dan ia bertekad untuk menyelesaikannya sebelum jam 14.30, jam pulangnya.
Sepeninggal Aline, kedua pria itu menyeruput kopinya, dan keduanya memberikan nilai A+ untuk kopi buatan Aline. Lalu keduanya larut dalam pembicaraan dari cabang-cabang perusahaan, persiapan HUT sampai cerita Elisa yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu Aline di Jerman.
"Jadi, sekarang Elisa lagi nyariin foto mereka bertiga."
"Kenapa gak tanya langsung aja ke sepupunya itu?"
"Katanya, sepupunya itu sekarang lagi sibuk buat persiapan launching koleksi terbarunya, jadi gak mau ganggu. Tapi dia bilang yakin banget kalau pernah ketemu Aline di Jerman."
__ADS_1
Elang menggosok-gosok dagunya sambil memikirkan cerita Elisa tentang Aline. Jika diingat kontrak berbahasa Jerman yang diterjemahkan dengan baik oleh gadis itu tadi malam, bukan gak mungkin jika ia pernah menetap di Jerman, bukan?
Sungguh, Elang sangat penasaran dengan gadis pashmina yang penuh misteri itu. Semoga saja ingatan Elisa tidak salah.