Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Lelang Amal (1): Duet


__ADS_3

(Masih) Aline POV


Aku masih setia duduk di kursi yang sama dengan yang kududuki sedari awal pertama kali aku di sini. Belum berpindah sekalipun. Apakah itu artinya aku tipe orang yang setia?🤭


Satu per satu peserta sudah tampil ke depan dan meninggalkan area ini. Hanya tinggal kami bertiga, aku, Mas Lukman dan Mbak Sandy yang menjadi pesertanya, lalu beberapa crew EO atau panitia, entahlah. Mereka mengenakan seragam yang sama, sebagian aku kenali wajahnya sebagai sesama karyawan A.C yang suka berpapasan di lobby, lift, kafetaria, musholla atau toilet, atau sama-sama ngantri di ruang fotokopi, namun sebagian lagi terlihat asing, mungkin orang EO. Aku salut pada Mas Rendi, Ce Shayna dan timnya akan acara malam ini. Sungguh memberikan nuansa mewah nan elegan tetapi tetap menonjolkan kehangatan bagai sebuah keluarga besar.


Aku mengamati mereka yang berlalu lalang di belakang panggung menyiapkan ini dan itu hingga kudengar seseorang memanggil namaku melalui pengeras suara. Ternyata kesibukan memperhatikan mereka yang bekerja membuatku tak sadar bahwa kedua teman pesertaku yang tadi telah menyelesaikan tugas mereka.


Aku menghembus-hembuskan nafas. Suatu kegiatan wajib yang tanpa sadar selalu aku lakukan di saat aku gugup. Aku berjalan menuju panggung, seorang panitia mengarahkanku ke sudut kiri. Aku menaiki tiga anak tangga untuk sampai ke atas panggung indah ini. Di pojokan kanan, ada sepasang MC, yang wanita kukenali sebagai salah satu haters ku sejak di A.C, Lucy, anak HRD yang menyebutku 'Alien'. Entah apa yang membuatnya tidak menyukaiku bahkan di hari pertamaku bekerja.


Lalu yang pria sepertinya seorang artis yang sedang naik daun, tapi aku tidak mengenalnya, hanya sekedar tahu karena pernah muncul beberapa kali dalam timeline akun gosip.


Aku diminta berdiri di tengah-tengah panggung. Di sebelah kiri, berjejer alat musik, antara lain piano, harpa, biola, bahkan ada gamelan, suling dan beberapa lainnya yang disusun dengan rapi, lalu di belakang ada band yang siap mengiringi. MC berdiri membelakangi sebuah layar monitor raksasa yang saat ini sedang menampilkan suasana panggung dengan diriku yang di-zoom, cukup membuatku risih dan semakin gugup. Terlihat pipiku memerah dari layar. Huuufffft.


Setelah perkenalan dan sedikit basa basi yang cukup hangat dengan MC, Lucy berkata, "Baiklah, Mbak Aline. Are you ready?" tanyanya, memulai waktu ku.


Aku mengangguk.


"Peraturannya sama seperti peserta terdahulu," ia mulai menjelaskan dengan terperinci apa yang tadi disampaikan oleh Ce Shayna di belakang panggung. Tentu saja, itu kan tugasnya.


"Anda diberi kesempatan untuk mengambil satu buah tantangan yang terdapat dalam pot kaca ini, yang nantinya akan dijadikan sebagai tantangan pertama anda. Dan anda wajib menerimanya. Keberhasilan anda dalam tantangan pertama ini akan menjadi starter untuk nilai awal lelang tantangan kedua dan ketiga. Tantangan pertama dan kedua berada di dalam pot yang sedang saya pegang ini, sedangkan tantangan ketiga adalah tantangan yang sama yang diberikan pada sembilan peserta lainnya yang telah kita saksikan tadi. Pada tantangan kedua dan ketiga ini, anda memiliki kesempatan untuk menerima maupun menolak. Paham sampai di sini, Mbak Aline?" tanya Lucy.


"Paham," jawabku mantap.


"Bila anda menerima tantangan ketiga, maka permainan berakhir. Jika anda menolak, maka si pemenang lelang berhak memberikan sebuah tantangan baru yang harus anda ikuti. Semua tantangan harus memperhatikan nilai-nilai sara dan budaya timur, jadi bisa dipastikan bahwa tantangan yang akan Anda hadapi harus dinyatakan sah terlebih dahulu oleh para pemegang saham sebagai dewan kehormatan. Semacam yang lulus seleksi." Si MC pria menyambung penjelasan Lucy tadi.


"Dan bagi anda, para hadirin tamu undangan yang terhormat, kami berikan kesempatan bagi anda semua untuk beramal sambil menghibur. Kita mulai sekarang. Mbak Aline, silakan mengambil tantangan pertama anda!" kata si pria.


Aku mengaduk-aduk isi pot kaca, lalu mengucap basmalah dalam hati dan mengambil satu buah gulungan, kuserahkan pada Lucy yang langsung di bukanya. Ternyata, pada tantangan pertama ini ada angka nya, sebesar 30 juta.


"Menyanyikan lagu duet dengan pemilik nomor ..." si pria yang membacakan isi gulungan yang kuambil.


"Wah, kita butuh satu nomor peserta jika begitu." Ia lalu menerima sebuah pot kaca lagi yang disodorkan oleh seorang panitia, lalu berjalan ke arah Mas Rendi. "Mohon kesediaan Pak Rendi sebagai Penanggung Jawab acara ini untuk mencarikan teman duet bagi peserta lelang terakhir kita!" katanya menyodorkan pot kaca itu kepada Mas Rendi. Mas Rendi mengaduk-aduk lalu mengambil satu buah nomor.


Si pria meminta mas Rendi untuk membacakannya. Disodorkannya mic yang ia pakai ke Mas Rendi. "007!" ucap Mas Rendi lantang.


"Yap, the luckiest number, James Bond, 007!" si MC pria yang bernama Dimas itu mengulangi. "Bagi pemilik nomor 007, silakan berdiri!" ucapnya kemudian.


Lalu, berdirilah seseorang yang aku yakini lebih cocok jadi teman berdebat dan bertengkarku daripada teman duetku. Ya, Pak Erlangga a.k.a Elang berdiri dari meja VVIP nya sambil mengacungkan nomor yang ada padanya.


Lucy lalu menghampiri Pak Elang dan mengajaknya ke tengah panggung, bergabung denganku.


Lucy sedikit berbasa basi dengannya. "Wah, ternyata bos besar yang akan menjadi teman duet Mbak Aline, malam ini." Ia terkekeh dan itu berhasil mencairkan suasana tegang. "Pak Erlangga, apakah Anda siap?" tanyanya kelewat ramah.

__ADS_1


Pak Erlangga mengangguk mantap. "Saya malah ragu jika Mbak ini yang tidak siap," ucapnya dengan pandangan mencemoohku, namun terdengar seperti lelucon bagi yang lain, membuat mereka semua tertawa geli dan aku menyimpan wajah cemberutku di balik senyum kecut. Ku lihat Ricky di mejanya. Mata kami bersitatap, lalu ia melakukan gerakan seperti menggorok leher, seolah-olah menyuruhku untuk menghabisi seseorang, Pak Elang, membuatku tersenyum. Ia tahu aku dicemooh dan ia tidak suka. Oh, dia memang lebih tahu siapa aku!


Lalu Dimas memulai lelang untuk tantangan ini dari 30 juta seperti angka yang ada pada kertas yang kuambil tadi. Nilai lelang berakhir di angka 176 juta, cukup W-O-W. Namun, angka segitu hanya receh bagi pengusaha-pengusaha kaya ini, yakinlah, aku tidak bohong.


Pemenang lelang adalah seorang pengusaha tengah baya yang cukup tampan, dan dia mengajukan syarat kami harus membawakan lagu romantis yang disenangi istrinya karena hari ini adalah hari pertemuan pertama dirinya dan istrinya, 22 tahun yang lalu.


Pak Elang mengambil gitar dan meminta sebuah kursi untuknya. Ternyata ia akan bernyanyi sambil memainkan gitar. Lagu yang akan kami bawakan adalah "Perfect" by Ed Sheeran feat Beyonce, sesuai permintaan si pemenang lelang.


 


Author POV


Elang mengecek kesiapan gitarnya. Lalu mengambil posisi di kursi. Sementara Aline berdiri di sampingnya. Namun Elang meminta sebuah kursi lagi pada tim acara untuk Aline. "Agar terlihat romantis maksimal," katanya yang dibalas dengusan oleh Aline.


Elang memetik gitar di pangkuannya, mencocokkan nada lalu memulai intro dengan sangat rapi. Lalu ia bernyanyi. Suaranya bagus. Teknik vokalnya juga bagus. Aline menyimak saja dulu pria itu menyanyikan bagian Ed.


...I found a love, for me...


...Oh darling just dive right in, and follow my lead...


...Well I found a girl, beautiful and sweet...


...Oh, I never knew you were the someone waiting for me...


...Not knowing what it was...


...I will not give you up this time...


...But darling, just kiss me slow, your heart is all I own...


...And in your eyes you're holding mine...


...Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms...


...Barefoot on the grass, while listening to our favorite song...


...When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath...


...But you heard it, darling, you look perfect tonight...


Elang memetik gitarnya memainkan nada-nada indah yang mengalun merdu di telinga setiap orang. Membuai siapa saja yang mendengarnya. Hingga pada saat dimana seharusnya Aline menyanyikan bagiannya, gadis itu masih saja terdiam. Ada keraguan di hatinya. Apakah ia harus bernyanyi atau tidak. Pasalnya, ia sudah lama tidak bernyanyi di depan orang lain dan sangat gugup. Tapi bila ia tidak bernyanyi dengan romantis, maka uang senilai 176 juta akan melayang, tidak jadi masuk ke kas yayasan Merajut Asa. Ada banyak orang yang membutuhkannya di sana.


Para tamu sudah hampir kecewa dibuatnya. Apalagi si pemenang lelang. Terlihat sorot kecewa di matahya. Maksud untuk memberikan hadiah lagu di hari bahagianya nyaris tidak terlaksana. Elang akhirnya menyenggol lengan gadis itu. Melolotinya, bermaksud menyadarkannya akan dana yang sedang dikumpulkannya, menyuruhnya untuk segera menyanyikan bagiannya.

__ADS_1


Akhirnya, setelah perdebatan dalam hati dan pikirannya, gadis itu pun memutuskan memperdengarkan suara indahnya, membuat semua orang yang tadi sudah menahan napas akhirnya bisa bernapas lega. Bahkan Elang memandang takjub pada gadis yang kini menyanyi dengan gaya santainya namun tetap memberikan kesan romantis seperti harapan si pemenang lelang.


...Well I found a man, stronger than anyone I know...


...He shares my dreams, I hope that someday we'll share a home...


...I found a love, to carry more than just a secret...


...To carry love, to carry children of our own...


...We are still kids, but we're so in love...


...Fighting against all odds...


...I know we'll be alright this time...


...Darling, just hold my hand...


...Be your girl, you'll be my man...


...And I see my future in your eyes...


Aline:


...Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms...


...Barefoot on the grass, while listening to our favorite song...


Elang:


...When I saw you in that dress, looking so beautiful...


...I don't deserve this, darling, you look perfect tonight...


Hingga lagu berakhir, Aline dan Elang memainkan perannya dengan sangat baik. Para penonton yang tadinya harap-harap cemas merasa terpuaskan dengan duet barusan.


Akhirnya, Aline mengucap syukur saat MC mengatakan bahwa dirinya berhasil mendapatkan 176 juta dari tantangan pertamanya. Nyaris saja tadi hampir tidak jadi.


Berikutnya, Dimas meminta kesediaan seorang tamu yang duduk di kursi VVIP untuk mengambil gulungan yang merupakan tantangan kedua bagi Aline. Sementara gadis itu masih berdiri di tengah panggung dengan perasaan deg-deg seeerrr.


Saat Lucy membacakan isi dari gulungan itu, Aline menegakkan punggungnya dan menunggu. Lucy sepertinya sengaja membuatnya menunggu. Waktu rasanya bergerak sangat lambat, membuatnya tak sabar. Tapi begitu tahu isinya, hati Aline dibuat mencelos seketika.


***

__ADS_1


__ADS_2