
Aline berjalan keluar ruangan Rendi dengan hati yang tak bisa ia deskripsikan seperti apa yang ia rasa. Sepanjang hari, ia tak bisa fokus pada pekerjaannya. Lamunan demi lamunan bergantian hadir di benaknya. Ada tanya yang butuh jawaban. Ada amarah yang tak bisa ia lampiaskan. Ada angkuh yang harus ia tahan. Benar-benar menguras emosi jiwa dan raganya. Semua menyatu dalam kesal tak tersalurkan.
"Lin, kamu cuci muka dulu sana, gih!" Shayna menganjurkannya, kasihan melihat gadis yang biasanya segar bugar itu berakhir kusut padahal belum setengah hari ia berada di sini. "Touch up dikit, habis itu 'cece' traktir ngopi. Gimana? Mau ya?" Shayna sudah mengganti panggilan untuk dirinya sendiri, dari 'mbak' menjadi 'cece' karena ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan yang artinya 'kakak' itu dalam keluarga-keluarga keturunan Thionghoa.
Aline mengangguk, berjalan menuju toilet dengan membawa bedak dan lipstiknya. "Pikiran masih kalut kok disuruh bedakan sih? Ce Shayna memang ajaib," pikirnya berjalan menuju toilet meskipun ada enggan merasuk beranjak dari singgasananya kini.
Setelah mencuci muka, Aline mengaplikasikan bedak dan lipstik, membuatnya terlihat segar kembali.
Saat kembali ke mejanya, dua gelas kopi dan satu gelas matcha green latte dingin dengan merk warung kopi Utara, sebuah cafe yang terkenal di komplek perkantoran itu, sudah tertata rapi di meja mereka. Shayna sudah menghalau kertas-kertas di sekitar sana, membuatnya jadi meja cafe dadakan, lengkap dengan cemilan tela-tela dan jamur crispy, cemilan favorit mereka masing-masing.
"Yuk, ngopi dulu. Ini udah Cece pesanin tadi. Gak tega Cece lihat partner Cece kucel gak terurus gitu!" ucapnya dengan mulut masih mengunyah jamur crispy kesukaannya.
"Makasih, Ce". Aline mencomot tela-tela favoritnya yang pasti dibeli kang OB di belakang gedung kantornya ini.
"Kamu tenang aja, Lin. Masalah tadi udah kelar, kan? Jangan dimasukin hati ya! Anggap angin lalu aja! Ibu-ibu sombong kaya Ibu Ivanka tadi gak cuma ada di sinetron, tapi banyak di dunia nyata! Jadi, kita mesti siap-siap mental kalau sewaktu-waktu ketemu satu atau dua yang model begitu!" Shayna menasihati Aline persis seorang kakak pada adiknya.
"Iya, Ce. Makasih ya. Mungkin aku shock aja tadi pertama kali digituin," jawabnya jujur.
"Sekarang, simpan aja kejadian tadi di sini," ucapnya menunjuk kepalanya, "bukan di sini," lanjutnya menunjuk tepat di hatinya. "Paham maksud Cece?"
"Paham, Ce."
"Ya udah, yuk buruan diminum kopinya! Ntar keburu dingin!"
"Iya, Ce Shayna, makasih ya."
"Yup. Habisin ya. Habis ni Cece mau meninjau lokasi acara sama pak Rendi. Duuuh, gugup deh. Tinggal dua minggu lagiiiii."
"Tenang aja, Ce! Cece Shayna, pak Rendi, dan seluruh tim kan udah usaha maksimal. Gak ada hasil yang mengkhianati usaha lho, Ce. Aku yakin itu!"
"Thanks ya, Lin. Cece gugup sekali."
Shayna memberikan Aline matcha green latte, "Untuk bekal ditinggal sendiri," katanya pada gadis itu sebelum ia meninggalkan Aline untuk meninjau lokasi acara bersama atasannya.
Aline sedang membenarkan pekerjaannya yang amburadul karena permasalahan tadi pagi. Setelah ngopi, pikirannya jadi lebih baik. Kadang memang tubuh kita butuh kafein di saat gagal fokus seperti ini, hehehehe....
Di saat Aline sedang geli dengan selorohannya sendiri, HPnya berbunyi. Ada notif chat masuk dari Arya.
Arya. : Assalamu'alaikum.
(send)
Aline. : Wa'alaikumsalam. Ya, Kak?
(send)
Arya. : Lagi sibuk?
(send)
Aline. : Lumayan. Lagi ngecek ulang kerjaanku.
(send)
Arya. : Maaf untuk sikap mamaku tadi pagi. 🙏
(send)
Aline. : Udah, lupain aja, Kak. Cuma salah paham.
(send)
Arya. : Bisa ketemu nanti setelah jam kantor? Aku antar pulang?
(send)
Aline. : Aku bisa pulang sendiri, Kak.
__ADS_1
(send)
Arya. : Ada yang perlu aku jelasin ke kamu. Please?
(send)
Aline. : Aku udah maafin kok, Kak.
(send)
Arya. : Tapi aku berhutang penjelasan sama kamu.
(send)
Aline menimbang-nimbang apakah ia akan menerima ajakan Arya atau tidak. Tapi ia tahu betul sifat Arya yang tak akan berhenti sebelum ia memenuhi keinginannya. Akhirnya Aline mengalah daripada ia harus terus berurusan sama Arya.
Aline. : Nanti saja ba'da Isya di Resto dan Cafe Abah ya, Kak. Gak jauh dari kontrakanku.
(send)
Arya. : OK. See you.
(send)
Aline kembali menghadap layar komputernya. Ternyata, banyak juga pekerjaannya yang salah. Dan semua ini karena sarapan pedasnya tadi pagi.
"Huuuuffft ...."
Selepas istirahat siang, hampir semua pekerjaan Aline telah ia selesaikan. Ternyata ungkapan "May your coffee be strong and your Monday be short" itu berlaku juga untuk dirinya yang hanya penikmat kopi biasa, bukan yang fanatik apalagi pecandu kopi.
Aline kembali memeriksa laporan dan data-data yang masuk. Setelah semuanya selesai, Aline membawa matcha latte nya ke rooftop. Tempat favoritnya menghabiskan waktu.
Kembali, Aline bersila di atas bangku taman yang sudah terkelupas catnya itu. Ia menyesap minumannya, pelan.
"Ekhem". Seseorang dengan suara bariton berdehem di belakangnya, dari pintu rooftop.
Aline mengangguk.
"Tempat yang sangat tenang untuk menenangkan pikiran," lirih lelaki itu namun masih dapat didengar dari jarak mereka berdua.
"Ya."
Lelaki itu berjalan menuju pembatas di sebelah kanan Aline. "Aku mendengar tentang kejadian tadi pagi," ucapnya dengan nada prihatin.
"Beritanya begitu cepat menyebar ya?" Aline tersenyum kecut.
"Ya, begitulah, ditambah sedikit bumbu di sana sini," ia terkekeh. Aline menolehkan kepalanya menatap sosok yang sedang berdiri di pinggiran pagar pembatas. "Tante Ivanka memang begitu, apalagi bila menyangkut Arya, putra satu-satunya," imbuhnya.
"Kakak mengenal Ibu Ivanka?"
Pria itu kembali mengangguk. "Tentu saja. Keluarga kami sangat dekat. Mamaku dan tante Ivanka bersahabat sejak kecil."
"Kamu ... gak papa?" tanyanya setelah menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada respon dari gadis yang sedang bersila menikmati minumannya itu.
"Tadinya sedikit terganggu, tapi Alhamdulillah sudah bisa diatasi."
"Syukurlah," katanya lalu berbalik, menyandar pada dinding pembatas yang hanya setinggi pinggang itu menghadap ke langit yang berawan. Tidak terik sama sekali, tapi juga tidak mendung.
"Lin ..." panggilnya, namun ragu untuk melanjutkan saat orang yang dipanggilnya menoleh. Lelaki itu diam. Tidak melanjutkan.
"Ada yang ingin Kakak ceritakan?" tebak Aline setelah ke-diaman tercipta di antara mereka.
"Apa kamu sudah mendengar berita tentangku?" tanyanya to the point.
"Sayang sekali, aku tidak suka bergosip," Aline mengedikkan bahunya dan tersenyum simpul.
"Kamu menjauhiku," entah pertanyaan atau pernyataan yang diucapkannya. Entah pula sebuah tuduhan.
__ADS_1
"Aku hanya berlaku selayaknya," ujar gadis itu pada akhirnya setelah menimbang cukup lama.
"Dari jawabanmu, sepertinya kamu sudah mengetahuinya," tembaknya.
"Dari jawabanmu, sepertinya kamu berniat menyembunyikannya," Aline membalas.
Lelaki itu terkekeh. "Tidak. Aku tak bermaksud begitu. Andai saja kamu berada di posisiku, pasti kamu mengerti."
"Sayangnya, aku tak berada di posisimu, jadi aku tak mengerti." Gadis itu memilih kata tanpa basa basi.
"Aku lelah. Aku hanya ingin bahagia," jeritnya tertahan, "dan rasa itu hadir bersamaan dengan aku mengenalmu." Pria tampan itu melihat ke arah dimana Aline sedang menyesap minumannya.
Gadis itu diam. Tak memberi respon apapun.
Lalu lelaki itu melanjutkan. "Setahun yang lalu, kedua orang tuaku menjodohkan kami," mula ia bercerita. "Aku menerima, tapi tidak dengannya. Dia sudah memiliki seorang kekasih, namun apa dayanya. Ia terpaksa menikah denganku." Ia terdiam, menunggu gadis itu memberi respon.
"Tidak usah menceritakan aib keluargamu! Aku tak ingin mendengar." Kalimat yang keluar dari bibir merah mudanya.
"Dengarkan saja. Aku tak akan meminta saran. Tapi bila kamu memberikannya, akan aku dengarkan," pintanya.
Aline merasa tak punya pilihan. Pun merasa iba pada nada putus asa yang terdengar jelas di suara bariton itu. Ia lalu meluruskan kakinya, berselonjor.
"Awalnya dia menyalahkanku yang tak menolak perjodohan kami. Dan dia semakin membenciku karena beberapa bulan yang lalu kekasihnya menikahi wanita lain. Aku sudah berusaha mempertahankannya, karena bagiku menikahinya bisa membahagiakan orang tua kami. Dan aku berharap bisa berbahagia pula dengannya, pilihan orang tuaku. Pernikahan bukanlah mainan untukku. Aku menghormati pernikahan kami." Jeda sejenak. Ia menghela napasnya sebelum melanjutkan. "Tapi bila hanya nakhoda yang bekerja seorang diri, maka kapalpun akan hilang kendali, cepat ataupun lambat akan karam juga. Bukankah begitu?" Ia mengakhiri ceritanya.
Aline menoleh, menatap pada lelaki tampan yang kini menatap pula ke arahnya. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah depan.
"Bukankah nakhoda yang tangguh mampu menaklukkan samudera seorang diri dengan bantuan dari Rabb-nya?" tanya Aline.
Pria itu menatap takjub kalimat yang keluar dari mulut gadis yang masih berselonjor tak jauh darinya. Sungguh, gadis itu tak menghakiminya sama sekali. Tidak pula mencecar wanita yang menjadi istrinya. Tidak seperti orang lain yang memilih salah satunya.
"Aku sudah melakukannya, tapi ... tetap saja ..." katanya lagi.
"Banyak orang di luar sana yang rela menunggu dengan sabar hanya untuk sebuah kabar. Kamu bahkan bisa membuat kabarmu sendiri. Kenapa tidak sabar lalu berhenti berjuang? Bila lelah, maka mengadulah pada-Nya. Bila gundah, maka curhatlah pada-Nya. Jika buntu, maka mintalah petunjuk dari-Nya. Mungkin selama ini kamu lupa mengikutkan-Nya pada setiap langkahmu." Aline mengatakannya dengan nada selembut kapas. Ia tak bermaksud menggurui.
Deg! Apa yang diucapkan gadis itu ada benarnya. Ia perlu meluruskan niatnya. Namun asanya terhadap gadis ini jauh lebih kuat sejak pertama kali mereka bertemu daripada keinginan untuk mempertahankan rumah tangganya. Ingin rasanya ia membawa gadis itu ke KUA sekarang juga. Hatinya mengatakan bahwa gadis di depannya ini adalah 'orangnya'. Sementara Aline merasa jengah ditatap begitu intens oleh lelaki yang masih setia berdiri di dinding pembatas yang tingginya hanya sepinggang itu.
"Jangan menatapku begitu! Kamu membuat aku jengah," katanya berterus terang.
Pria itu tersenyum lalu menoleh ke sembarang arah.
"Aku bukanlah orang yang paham tentang agama sama sekali, pada awalnya. Sampai suatu kejadian menimpaku. Dan seseorang mengatakan jika aku seorang muslim, maka aku punya Allah SWT sebagai tempat meminta segala-galanya," cerita Aline kembali mengingat bapak supir taksi yang mengantarkannya ke pelabuhan kala itu.
"Cukuplah Allah SWT yang jadi segalanya bagimu. Dengan-Nya, kamu akan temukan bahagia yang lebih." Lembut Aline berkata.
"Kamu berbeda, Lin," ungkapnya.
"Aku tak menganggap itu pujian." Aline menatap ujung sepatunya.
"Bukan, itu bukan pujian, tapi kenyataan. Kenyataannya aku ingin mengenalmu lebih dekat," tuturnya terus terang.
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa, terlebih kamu suami orang." Jelas itu adalah penolakan seorang Aline.
"Ya. Kamu benar. Aku masih suami orang," pandangannya mengawang. "Masih," ulangnya.
Aline berbalik. Menatap lelaki itu yang kini pun menatapnya.
"Bertahanlah! Kau nakhoda yang hebat. Aku akan mendo'akanmu dan kapalmu." Gadis itu beranjak dari duduknya. Bersiap meninggalkan rooftop dan seorang lelaki tampan yang sedang mencari arah.
"Jangan biarkan kapalmu karam!" ucapnya berlalu meninggalkan lelaki yang kini hanya menatap pintu dimana punggung ramping itu menghilang.
-----
Mudah saja bagimu berkata
Kamu tak tahu apa yang kurasa
Sungguh, ini sangat menyiksa
__ADS_1
Namun apa daya bila ini kehendak Yang Kuasa?