Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Si Mbok Sakit, Pengobat Rindu


__ADS_3

Arya mengantarkan Aline sampai ke kontrakannya. Aline melepas seat belt dan Arya membukakan pintu mobil untuknya. Sebelum turun, ia mengucapkan terima kasih pada Arya yang sudah mengantarnya.


"Aku gak diajak masuk?" goda Arya.


Aline mengangkat sebelah alisnya dan menggeleng kepala, membuatnya terlihat sangat imut di mata Arya. Lelaki itu tersenyum lalu mengedikkan bahu. "Oke, mungkin lain kali. Istirahatlah. Jangan terlalu forsir tenaga kamu," ucapnya penuh perhatian.


Aline mengangguk, lalu turun dan mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam. Kamu masuk dulu, baru aku jalan."


Setelah Aline masuk ke rumahnya, barulah Arya menjalankan mobilnya meninggalkan sejuta kepedihan. Senyumnya memudar. Rahangnya mengeras. Buku-buku tangannya memutih saking erat pegangannya pada stir mobil. Ada beribu-ribu umpatan yang ingin ia lontarkan namun tak terucap pada wanita bernama Nadia yang telah membuatnya kehilangan satu-satunya gadis yang diinginkannya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Menyesal. Itulah satu-satunya kata yang bisa mengungkapkan perasaannya kini.


Aline terhenyak di pinggiran tempat tidurnya. Jujur, keputusannya menolak Arya tadi mempengaruhi emosinya. Aline tahu lelaki itu lelaki baik, lelaki baik-baik. Namun kejadian di malam jahanam beberapa tahun lalu itu benar-benar telah menghapus rasa percayanya pada lelaki yang pernah mengisi hari-harinya dengan tawa bahagia. Satu hal yang ia syukuri dari pertemuan dengan Arya tadi adalah kebenciannya yang sirna entah kemana ketika mendengarkan penjelasan Arya. Namun, rasa itu sudah tak lagi sama. Dalam kegalauannya, Aline memutuskan untuk segera mandi dan berwudhu. Ia selalu mandi dan dan berwudhu setiap kali pulang ke rumah. Kebetulan waktu Dzuhur sudah masuk, jadi Aline menunaikan kewajibannya menghadap Tuhan-nya. Setelah sholat, Aline berencana membuka sosmed yang hampir dua tahun ini diacuhkannya. Belum sempat ia membuka IG-nya, dering HP lebih dahulu menginterupsi kegiatannya. Nama 'si Mbok' tertera di layar HP berukuran 6.7 inchi itu. "Tumben si mbok telpon siang-siang, biasanya pagi-pagi sekali atau malam-malam sekali?" tanyanya heran namun tak urung ia geser icon hijau bergambar gagang telpon itu.


"Halo, Assalamu'alaikum, Mbok."


"Wa'alaikumsalam," suara lelaki menjawab salamnya, membuat yang menelpon dan yang menjawab telpon terkejut bukan main.


"Bang Cris...?" ucapnya dalam hati mengenali suara tegas lelaki di seberang sana. Aline berniat mematikan HP nya, namun suara di seberang sana lebih dahulu mengancamnya.


"Jangan coba-coba matikan HPnya, atau aku lacak sekarang juga posisi kamu!" ancamnya, serius.


"Fine!" Aline kembali meletakkan benda pipih itu di telinganya. Ia masih ingat betul jika abang tertuanya itu sudah ber-aku ke dirinya, itu artinya ia sedang dalam mode marah besar. Dan mengalah adalah pilihan terbaik, karena walaupun jarang marah, tapi bila sekalinya marah, Cris Tiochandra lebih berbahaya daripada Derry Tiochandra, apalagi Rio Tiochandra.


"Bagus. Masih ingat kamu dengan suara aku?"


"Apa kabar Abang Sayang?" kali ini Aline membuat suara semanja mungkin, kelemahan sang abang.


"Baik. Kamu gimana?" jawabnya dengan nada yang masih ketus.


"Alhamdulillah baik, Bang. Gimana kabar papi, mami, bang Rio dan si mbok? Kenapa HP si mbok ada sama Abang? Kok bisa Abang yang telpon aku? Si mbok mana?"


"Nanya tu satu satu, jangan kek kereta api. Kebiasaan!"


"Hehehe, iya maap maap, Bang. Gitu aja marah!" ngambeknya.


"Gak berubah dari dulu!"


"Biarin!"


"Manja!"


"Tapi Abang sayang kaaaan??? Muah muah muah, I love you, Bang Cris," Aline merayu.


"Iya, Abang sayang. Pulang makanya!"

__ADS_1


Aline tersenyum mendengar nada bicara abangnya yang sudah mulai melunak. "Nanti ya, Bang. Sekarang biarin gini dulu. Dan jangan coba-coba lacak posisi aku sekarang kalau gak ingin aku nekad!"


"Kamu ngancam Abang?"


"Yaaaa kan terpaksa. Kan Abang yang bikin janji tadi," ujar Aline sok manja.


"Deal," ucapnya akhirnya melunak. "Papi mami baik, sekarang lagi di rumah om Fian di Singapure. Mungkin besok udah pulang. Bang Rio mending kamu tanya sendiri, masih punya nomor telponnya kan?"


"Iya masih. Kapan-kapan aku telpon. Trus, si mbok gimana? Kok bisa HP si mbok ada di Abang?"


"Si Mbok sakit nih, lagi di rawat. Dari tadi ngigau-nigau terus manggil kamu. Tadinya abang mau telpon saudara si mbok. Lihat di panggilan terakhir, adanya nama 'Nak Alin', jadi Abang call aja. Ternyata itu kamu."


"Gimana keadaan si mbok sekarang?"


"Udah mendingan, cuma masih tidur. Untung tadi Abang pulang ke rumah dulu, kalau enggak ..."


"Stop! Jangan dilanjutin, Bang. Aku gak mau dengar!"


"Kamu tau kenapa si mbok bisa sakit gini? Semua ini karena kamu!" Lalu mengalirkan cerita itu dari Cris.


Flashback on:


Cris kembali ke Batam dengan penerbangan pertama dari Jakarta. Sesampainya di Batam, Rio menjemputnya dan mengantarnya ke rumah orang tua mereka. Sepanjang perjalanan, Cris menceritakan apa yang dilihatnya di RS X Jakarta kemarin.


"Untung aja bukan Rosa ya, Bang. Aku gak bisa bayangin gimana jadinya kalau itu beneran jenazah Rosa." Rio bergedik ngeri.


Mobil mewah Rio Tiochandra memasuki halaman luas rumah orang tuanya.


"Aku langsung ke apart aja, Bang. Mami sama papi gak jadi pulang hari ini. Nginap dulu di rumah om Fian katanya."


"Oh, ya udah. Abang mau istirahat dulu. Sore baru balik ke apart."


"Kalau gitu, aku balik duluan. O iya, Bang, tolong cek si mbok ya. Dari tadi malam gak ada keluar kamar."


"Oke. Kamu hati-hati!"


"Sip, Bang. Jalan dulu ya!"


Cris memasuki rumah mewah orang tuanya. Vita, salah seorang ART membukakan pintu untuk tuan mudanya.


"Si mbok dimana, Vit?"


"Dari kemarin ngurung diri di kamar, Den. Udah saya panggil suruh makan tapi gak nyahut."


Cris berjalan ke arah kamar si mbok. Sementara Vita mengekorinya. Cris mengetuk dan memanggil ART sekaligus pengasuhnya itu tetapi tak ada jawaban. Akhirnya ia putuskan untuk mendobrak pintu kamar si mbok, dan yang ia lihat pertama kali adalah si mbok yang tergeletak di lantai kamar yang dingin.

__ADS_1


Segera Cris memeriksa keadaannya, lalu membopong sang pengasuh ke mobilnya. Cris membawa si mbok ke RS miliknya. Setelah sadar, si mbok menangis sesenggukan memanggil majikan kecilnya, Rosaline.


"Bang, non Rosa belum mati kan? Si mbok dengar sendiri bang Cris sama bang Rio kemarin nerima telpon dari rumah sakit. Non Rosa belum mati kan? huhuhuhu ...."


"Tenang dulu, Mbok. Minum dulu ya!" Cris lalu menyodorkan segelas air putih kepada wanita tua di hadapannya itu. Si mbok meneguk beberapa lalu menyerahkannya kembali pada Cris.


"Non Rosa ... gak kenapa kenapa kan, Bang Cris?" tanyanya masih sesenggukan.


"Mbok nguping pembicaraan aku sama Rio kemarin?"


Si mbok mengangguk. Cris menghela napas.


"Jenazah itu bukan Rosa, aku udah memastikannya sendiri. Ini baru balik dari Jakarta. Sekarang Mbok istirahat, jangan mikir yang aneh-aneh! Berdo'a semoga Rosa baik-baik aja dimanapun dia sekarang!"


Si mbok lega mendengar berita ini. Seorang suster menyuapinya makan. Setelah minum obat, ia pun tertidur.


Cris yang kelelahan akhirnya tertidur di ruangannya di RS itu. Saat menjelang sore, Cris memutuskan pulang ke apartemennya. Namun sebelum pulang, ia memeriksa keadaan si mbok dan berniat untuk menghubungi seorang kerabat pengasuhnya itu untuk menjaganya di rumah sakit. Cris lalu mengambil HP si mbok. Ia memeriksa panggilan terakhir. Baik panggilan masuk maupun panggilan keluar keduanya tertera nama 'Nak Alin'. Tanpa pikir panjang, Cris pun mendial nomor tersebut.


Flash back off.


"Syukurlah kamu baik-baik aja. Sekarang si mbok sedang tidur. Nomor kamu Abang save. Jangan menolak telpon dari Abang kalau gak ingin Abang jemput paksa!"


"Iya, Bang. Kalau aku gak ngangkat telpon, berarti aku lagi kerja. Kalau udah gak sibuk Insya Allah aku telpon balik."


Hening sesaat sebelum Aline melanjutkan ucapannya.


"Bang, tolong biarin aku di sini dulu. Cukup Abang dan si mbok yang tau. Aku janji akan jaga diri baik-baik di sini!"


"Selama kamu gak memutus komunikasi, Abang akan jaga."


"Abang gak coba-coba lacak posisi aku kan? Kan tadi udah janji!" protesnya dengan suara ketakutan.


"Tenang aja. Abang gak akan ingkar janji. Tapi kalau kamu berhasil Abang temukan dengan cara Abang sendiri, Abang akan bawa pulang kamu!"


"Pulang kemana, Bang?? Rumah aku di sini. Jangan lupa, aku udah bukan bagian dari keluarga itu lagi." Suara Rosaline yang bergetar membuat hati Cris pilu mendengarnya.


"Sampai kapanpun, kamu akan tetap jadi bagian dari keluarga ini. Papi cuma emosi waktu itu."


"Bang Cris, telponnya dilanjut nanti ya. Aku harus siap-siap kerja."


"Kerja? Kamu kerja apa hari Minggu begini?"


"Adaaaa deh. Yang penting halal. Udah ya, Bang. Titip si mbok. Nanti ngobrolnya disambung lagi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Aline mengakhiri telpon dengan abang tertuanya. Ada perasaan rindu yang terobati.


Begitu juga Cris. Tadinya ia ingin memarahi adik kecilnya yang nakal itu, tapi urung ia lakukan. Ternyata, sakitnya si mbok membuat berkah tersendiri untuknya. Ia jadi tahu kondisi adik yang sangat disayanginya itu. Alhamdulillaah, rindunya terobati.


__ADS_2