
Aline keluar dari ruangan Elang dengan wajah ditekuk seribu. Ia merasa Elang sengaja balas dendam padanya dengan semua data ini karena lelaki itu kesal ditinggal makan siang tadi. "Dasar pendendam!" umpatnya dalam hati.
"Apanya yang harus diperiksa ulang? Emangnya aku tim audit? Toh semua laporan ini juga sudah dibahas di dalam rapat? Dasar bos kekanak-kanakan!" Aline masih saja mengumpat meluapkan kekesalannya. Namun tak urung juga ia kerjakan. Anggap saja ia menjadi anggota auditor yang sedang melakukan audit untuk seminggu ke depan. "Semangat! Bismillaahirrohmaanirrohiim." Aline meletakkan semua berkas ke mejanya. Kembali duduk di belakang layar komputer dan mulai memilah dan menata data-data.
Hari ini ia hanya akan mengerjakan itu saja, lalu pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaan di resto, yang disenanginya.
Aline melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Jam pulangnya sudah lewat. Rencananya, ia baru akan lembur mulai besok. Namun ternyata untuk memilah data pun membutuhkan waktu yang cukup lama jika dikerjakan setengah hati seperti ini. Pantas saja Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk selalu bersyukur, sabar dan ikhlas, ternyata itulah kunci kebahagiaan. Bila hati dan jiwa sudah bahagia, maka apapun yang dikerjakan akan terasa ringan dan lancar jaya.
"Astaghfirullaah," berulang kali gadis itu beristighfar dalam hati, menyesali sikapnya yang telah berburuk sangka pada atasan, dan mengerjakan pekerjaan dengan setengah hati. Hangus sudah nilai ibadah dari pekerjaan yang telah dilakukannya dari siang sampai sore ini. Akhirnya, hanya lelah yang ia dapatkan. Saat ini, gadis itu hanya ingin segera pulang dan meminta izin cuti untuk seminggu ke depan kepada Abah dan Bunda dari pekerjaannya di resto, atau mungkin ia akan membawa pulang saja pekerjaan selama seminggu ini. Entahlah, nanti saja dipikirkan, ia perlu membahas mengenai ini nanti di resto.
Baru saja Aline selesai merenggangkan otot-ototnya, smartphone milik gadis itu berbunyi. Rencana untuk segera pulang ditunda dulu. Aline merogoh laci dan mengeluarkan smartphone miliknya. Senyumnya mengembang begitu melihat nama si penelepon.
"Assalamu'alaikum abang sayaaaang," ucapnya manja menatap layar yang menampilkan wajah tampan abang bungsunya, Lavenderio Denis Tiocandra.
Rio mendapat pesan dari si Mbok yang mengatakan bahwa adiknya itu rindu. Ternyata si Mbok langsung laporan begitu selesai melakukan panggilan telpon dengan nona kecilnya itu tadi siang. Namun karena kesibukannya, akhirnya Rio menelpon setelah pekerjaannya hari itu selesai.
"Wa'alaikum salam adek sayaaaang," Rio membalas salam Aline dengan cara yang sama, membuat gadis itu terkikik geli.
"Kenapa tertawa kek gitu? Ada yang lucu?" Rio menatap heran pada sang adik. "Perasaan aku cuma menjawab salam aja, kenapa Rosaline tertawa sampai cekikikan begitu?" bathin Rio yang terheran sendiri dengan tingkah laku absurd adiknya.
"Ehmmm..." Aline berdehem dan menarik napas untuk menetralkan tawanya.
"Iya, Abang yang lucu. Gemeeeesssh deh kalo jawab salamnya kek gitu!" kembali gadis itu bermanja-manja.
"Ya, kan kamu yang mulai duluan, Abang cuma meniru!" kilah Rio. "Udah ah. Kamu lagi ngapain? Kayaknya masih di kantor ya? Ngelembur kamu? Udah jam berapa ini?" tanyanya tak suka sembari melihat jam mahal di pergelangan tangan kirinya.
"Iya, nih baruuu aja selesai. Bentar lagi juga siap-siap pulang." Aline tersenyum manis ke layar, menatap laki-laki yang disayanginya itu dengan tatapan penuh kerinduan.
"Ya udah, tunggu aja di sana. Abang kirim supir buat jemput kamu!" titah Rio.
"Eh... eh... apa-apaan Abang main kirim-kirim supir aja ke mari? Ini baru jam lima sore kali, Bang. Langit juga masih terang. Pakai ojek tiga puluh menit juga sampai di rumah. Abang gak usah lebay deh!" ledek Aline.
Baru saja Rio hendak membuka suara kembali, Aline sudah terlebih dahulu menanyakan hal lain untuk mengalihkan pembicaraan.
"Abang gak ada rencana punya urusan di Jakarta gitu? hehehe," Aline cengengesan karena pertanyaan bodoh yang terpaksa ia lontarkan sendiri. Jika tidak, Rio akan tetap memaksa mengirim orang untuk menjemputnya.
"Gak ada!" jawab Rio ketus.
"Iisssh, biasa aja kali jawabnya, Bro, gak usah jutek gitu. Kalau gak ada ya udah. Gak papa gak mama. Orang aku cuma nanya aja, weeeeek!"
__ADS_1
Begitulah Rosaline dan Rio, bila sudah berjauhan seperti ini, kadang akur tapi lebih sering saling ejek dan saling membuat kesal, kalau bicara gak ada manis-manisnya gitu, padahal sama-sama saling merindu.
Pembicaraan kakak beradik itu pun berlanjut hingga dua puluh menit kemudian. Tanpa disadari keduanya ada seseorang yang melihat interaksi mereka dengan pandangan tak suka dari dalam kantornya.
Selepas melepas rindu dengan abangnya, Aline bergegas merapihkan area kerjanya dan bersiap untuk pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 17.17 WIB. Ia sudah meminta izin kepada Abah tadi untuk datang terlambat hari ini. Ada sedikit perasaan aneh mengingat bosnya juga belum pulang di jam seperti ini, padahal sudah lewat jam kantor. Namun pemikiran itu segera ia singkirkan. Buat apa juga memikirkan bosnya itu. Jadi, segera ia memesan ojek online yang akan sangat efektif pada jam pulang kantor seperti ini. Paling tidak, dirinya tidak akan mengalami macet yang cukup parah.
*Malam harinya*
Aline sedang berada di resto Abah. Ia sudah membicarakan masalah lemburnya di AC dan keinginan untuk berhenti bekerja di sana setelah sekretaris utama Pak Elang selesai cuti melahirkan nanti. Abah dan Bunda mengatakan tidak masalah dengan kondisi Aline dan jam kerjanya yang "tidak beraturan" seperti sekarang selama gadis itu mampu menghandle tugas utamanya di resto mereka. Toh, mereka juga yang dulunya mendorong Aline untuk memiliki dua pekerjaan sekaligus karena sayang jika kemampuan gadis itu tidak dikembangkan. Toh ini juga hanya sampai sekretaris Pak Elang selesai cutinya, setelah itu tentu pekerjaan Aline di sana menjadi lebih ringan. Abah dan Bunda hanya meminta agar pekerjaan Aline di resto tetap selesai, aman dan terkendali seperti yang sudah berjalan selama ini. "Nanti Hana bisa kamu berdayakan untuk membantu, hitung-hitung belajar dia," sela Abah berusaha meyakinkan Aline. Bagaimanapun, mereka hanya mempercayakan urusan keuangan dikerjakan oleh Aline. Berkat kemampuan gadis itu, perekonomian keluarga mereka semakin membaik.
Tapi, kedua orang tua angkat Aline itu tetap menyerahkan semua keputusan pada Aline karena gadis itu yang akan menjalani. Memang diakui, double job itu melelahkan. Baik buruknya, Aline juga yang akan merasakan. Mereka hanya menyarankan agar Aline memikirkan masak-masak dengan kepala dingin keputusannya. Apapun keputusannya, Abah dan Bunda berjanji akan tetap mendukungnya. Pasangan itu benar-benar menganggap Aline seperti putri kandung sendiri dan menempatkan diri layaknya orang tua kandung pada gadis cantik itu. Dan Aline sangat menikmati kepercayaan orang tua angkatnya itu. Kepercayaan mengambil keputusan sendiri yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Aline sedang mengerjakan pekerjaannya di resto bersama Hana sembari mengajari perempuan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu kala suara ketukan di pintu mengganggu konsentrasi keduanya.
Tok...tok...tok...
"Assalamu'alaikum." Pintu diketuk dari luar dan salam pun diucapkan.
"Wa'alaikumsalam," jawab gadis-gadis belia itu serempak.
"Masuk!" Suara Hana terdengar sangat lembut, namun masih tetap bisa di dengar orang yang berada di balik pintu.
"Tamu buat saya? Siapa, Mas Tama?" Aline bingung sendiri. Pergaulannya sangat terbatas selama di Jakarta. Teman-teman yang cukup dekat dengannya pasti menghubungi dulu jika ingin berkunjung ke kafe Abah ini.
"Hhmmm, aku gak pernah lihat, Mbak. Baru sekali ini ke sini. Mas-mas pake jas rapih gitu, ganteng lagi orangnya. Tamunya milih duduk di meja 25, Mbak." Tama mulai mendeskripsikan laki-laki yang menjadi tamu Aline.
"Ooh. Oke, Mas. Bentar lagi aku turun. Mas Tama duluan aja! Makasih ya." Aline memutuskan untuk menemui tamunya. Ia pamit pada Hana dan bergegas ke bawah.
Di anak tangga paling bawah, Aline menangkap sosok laki-laki berambut cepak yang sangat ia kenali. Sontak senyuman mengembang di bibir merah mudanya.
"Bang Riooo!!!" jeritnya dan segera menghambur ke pelukan sang kakak. Begitupun dengan Rio, ia menerima pelukan adik satu-satunya dengan hangat.
"Gak usah teriak gitu. Malu tuh dilihatin orang!" Rio menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rosaline yang terkadang sangat kekanakan, padahal usianya sudah hampir seperempat abad.
Mungkin karena ini efek masa kecil yang kebanyakan belajar, jadi kurang waktu bermain dan bersikap sesuai anak seusianya. Akhirnya, di saat yang lain sudah dewasa, ia masih saja berkelakuan seperti anak-anak, hehehehe ..." Rio terkekeh dalam hati atas pemikiran konyolnya.
"Elllleh, biasanya juga senang jadi pusat perhatian," balas Aline mencibir. Tapi kemudian ia segera menyadari kondisi sekitar. Untung saja Rio memilih meja yang berada di pojokan, jadi tidak terlalu terlihat oleh pengunjung resto yang lain.
"Kenapa Abang gak ngabarin aku kalau mau ke sini? Tadi katanya gak ada rencana mau punya urusan di Jakarta, eh tau-taunya udah di sini aja."
__ADS_1
Rasa rindu membuncah di dada keduanya. Padahal baru tadi sore mereka selesai melakukan panggilan video. Sejak pertemuan mereka tempo hari, baru kali ini keduanya kembali bertemu.
"Kenapa memangnya? Kamu mau jemput Abang di bandara gitu kalau Abang ngabarin dulu?"
"Eh, ya enggak gitu juga kali, Bang. Aku kan lagi kerja ini, cuma nanya aja. Biar kelihatan care aja gitu sama abangnya, hehehehe" Aline cengengesan melihat Rio yang melengos mendengar jawabannya.
"Huuh, basa basi gulai tiga hari kamu, Dek!" Rio menjawil hidung adiknya itu. "Ya kejutan dong. Kalau ngabarin nanti kamunya gak terkejut, hehehehe," kekeh Rio dengan jawaban konyolnya.
"Ck, apaan sih, Bang Rio! Sendiri aja nih? Bang Cris gak ikutan?" Rosaline celingak celinguk mencari kehadiran Cris.
"Kenapa? Kamu gak suka ketemu Abang aja?" Rio pura-pura merajuk untuk menggoda adiknya.
"Iish, bukan gitu. Sensi amat sih, Bang?" Aline memanyunkan bibirnya. "Maksud akuuu, Abang gak barengan sama Bang Cris gitu jengukin adeknya? Sibuk banget kayaknya dia sekarang. Nelpon juga jarang" protes Aline.
"Hei manja," Rio menarik hidung Aline membuat si empunya hidung tambah manyun, "sekarang aja ngomongnya gitu. Pulang makanya biar kamu bisa ketemu semua keluarga. Semua orang merindukan kamu, tau?" Rio kembali mencubit ujung hidung adiknya. Yang dicubit hidungnya malah tambah manyun bibirnya.
"Bang Cris gak tau Abang ke sini. Mungkin dia lagi siap-siap sekarang karena besok mau ikut Papi perjalanan bisnis ke Spanyol. Mau gak mau udah harus mulai ngurusin bisnis Papi. Papi udah semakin tua, terlebih sejak kamu tinggal, semakin nampak tuanya." Rio prihatin dengan kondisi kedua orang tuanya semenjak pengusiran Rosaline dari istana Tiocandra. Lama ia mengamati perubahan air muka adiknya saat mengucapkan kalimat demi kalimat. Dapat ia simpulkan bahwa adiknya itu juga sangat merindukan kedua orang tua mereka. Namun, adik yang ia tau memiliki prinsip dan sifat keras pada dirinya sendiri itu terlihat menahan diri.
"Aku cuma mau pulang kalau papi yang suruh pulang, dan udah anggap aku sebagai anaknya lagi. Kalau gak, aku gak akan pulang. Aku juga rindu sama mami, tapi aku tau, mami gak kan mungkin menentang papi. Dan aku juga gak mau kalau mami jadi istri yang durhaka pada suami demi aku," jelas Aline penuh kesedihan.
"Jadi, kamu memilih jadi anak durhaka kalau mami yang minta kamu pulang?" tanya Rio, tepat sasaran.
Aline menatap nanar pada abangnya. Pertanyaan ini sungguh membuatnya mati gaya.
"Abang gak tau gimana rasanya. Aku yang udah biasa dilimpahi perhatian dari papi, dari mami, abang, bang Cris dan semua orang. Semua keinginan papi udah aku turuti. Bukannya aku ingin hitung-hitungan sama papi. Enggak sama sekali! Hanya ini yang aku tolak karena aku gak mau hidup berumah tangga dengan laki-laki yang aku tahu bukanlah laki-laki baik. Hanya ini, tapi kenapa... kenapa papi..." Aline tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suaranya tercekat karena luapan rasa sedih yang mendera. Bayangan hari itu dan perjuangannya demi bertahan hidup di kota besar ini seorang diri menjadi anak terbuang tanpa identitas berkelebat di benaknya.
Rio berpindah duduk ke samping adiknya. Ia membelai kepala yang ditutupi pashmina hitam itu. Niatnya tadi hanya ingin menggoda sang adik, tapi malah menjadi pembicaraan yang serius.
"Ssst... ssssst... sssst.... udah... udah! Abang ngerti. Maapin Abang ya! Abang gak bermaksud bikin kamu sedih. Abang sama bang Cris akan selalu ada buat kamu. Kamu bisa pulang ke apart Abang atau Bang Cris kalau kamu mau pulang ke Batam, kapanpun kamu mau. Atau kalau kamu mau tinggal sendiri di apartemen kamu juga boleh, nanti Abang beliin buat kamu. Sekarang, udahan nangisnya ya! Abang lapar nih, tadi belum sempat makan. Kamu gak nawarin Abang makan atau minum gitu? Aduuuh, Abang mesti komplen ini sama pemilik restonya, masa pengunjung keren gini gak dilayani dengan baik?" Rio mengusap-usap punggung Rosaline mengusir kegundahan gadis itu sekaligus mencoba berkelakar mengubah topik pembicaraan yang menurutnya sangat rumit ini.
Padahal, karena kepergian Rosaline, Cris dan dirinyalah yang harus menanggung akibat gagalnya perjodohan adiknya itu dengan Niko, cucu dari teman kakek mereka. Cris yang awalnya harus menggantikan Rosaline untuk dijodohkan dengan perempuan belia, adik dari Niko, menolak dengan konsekuensi harus rela berbagi peran dan waktu untuk mengurusi sebagian perusahaan sang papi. Padahal, berbisnis bukanlah pasionnya. Sedangkan Rio, terpaksa menerima perjodohan dengan gadis yang seusia dengan adiknya itu demi kesehatan papi yang tiba-tiba menurun karena terpikir upaya menunaikan permintaan terakhir sang kakek. Namun kisah rumit mereka itu segera ia singkirkan dari benaknya. Hanya membuang-buang waktu memikirkan itu semua.
Aline mengelap ingus yang meleleh bersama air matanya. Lalu menghapus air matanya dengan kasar dan bergegas ke arah belakang untuk membasuh muka tanpa berani menatap Rio yang juga sedang berwajah muram. Aline memesankan makanan untuk Rio dan membantu menyiapkannya.
Sepeninggal Aline, Rio terlihat sibuk dengan smartphonenya yang telah bergetar sedari tadi. Panggilan dari tunangannya ia abaikan begitu saja. Pesan di aplikasi telepon hijaupun akhirnya ia jawab seperlunya. "Dasar perempuan posesif," ucapnya kesal lalu melemparkan smartphone mahal itu ke saku jasnya. Tubuhnya terasa sangat letih. Bagaimana tidak, setelah melakukan panggilan video dengan Rosaline tadi sore, Rio memutuskan untuk segera terbang ke Jakarta menjenguk adiknya itu tanpa sempat pulang ke apartemennya hanya untuk sekedar mandi atau istirahat sebentar.
Tak berapa lama kemudian, Aline kembali ke meja Rio membawa beberapa menu yang ia yakini pasti disukai kakaknya itu. Mereka makan malam dengan suasana hangat. Aline sangat senang melihat abangnya makan dengan lahap. Rio Tiocandra memakan makan malamnya ditemani sang adik tanpa diketahui sang adik bahwa ia makan dengan mengabaikan telpon dan pesan dari tunangan yang dicapnya sebagai perempuan posesif itu.
***
__ADS_1