
Setelat apapun Aline tidur, matanya akan tetap terbuka di jam 3 dini hari. Seolah tubuhnya sudah tersetel otomatis untuk terjaga di jam segitu. Seperti ada alarm tak kasat mata yang berdering tepat di telinganya. Kebiasaan. Ya, itulah jawabnya. Semua bisa jika sudah biasa. Ia sudah biasa bangun untuk mengadu dan bermunajat pada Rabb-nya. Suatu kebiasaan yang sudah menjadi kebutuhan baginya sejak ia mengenal Islam lebih dekat.
Walaupun hujan sudah berhenti dan masih meninggalkan rasa dingin yang menusuk tulang, tak membuat gadis berambut panjang indah itu tergiur untuk kembali ke dekapan hangatnya selimut. Ia bangun, mengambil gelas di nakas dan meminum habis isinya. Meregangkan otot-otot tubuh yang kaku setelah terbujur beberapa jam lamanya. Berjalan ke arah kamar mandi dan berwudhu.
Jam masih menunjukkan pukul 4. Aline sudah selesai dengan ibadah malamnya. Ia lalu memasukkan kain kotor ke dalam mesin cuci dan mulai menggilingnya. Lalu beranjak ke kamar belakang, mengambil laptop dan membawanya ke ruang tamu. Rencananya ia akan bertanya pada Mbah Google tentang siapa sebenarnya istri Ethan yang bernama Aura itu. Walaupun ia tak tahu nama lengkapnya, mencoba tidak ada salahnya, bukan? Tentu saja ia harus melakukan ini semua. Hari ini ia sudah berjanji akan menemui wanita itu. Jadi, ia harus mengetahui seperti apa orang yang akan dihadapinya agar ia bisa menentukan bersikap seperti apa nantinya pada wanita itu.
Ditemani segelas susu hangat dan dua lembar roti tawar, Aline mulai berselancar di dunia maya. Matanya jeli membaca dan melihat setiap hasil pencarian yang ditunjukkan oleh Mbah Google yang serba tahu. Pertama ia memasukkan kata kunci Aura, lalu Ethan, lalu Aura dan Ethan, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak kata kunci, ia tak menemukan apapun yang ia cari. Iseng, ia membuat kata kunci Aryaka Revanno dalam pernikahan Aura. Hanya iseng karena seingatnya Arya tahu jika Ethan sudah menikah dengan Aura. Mungkin saja dia menghadiri pernikahan perempuan itu.
Entah nasib baik sedang berpihak padanya atau memang sudah jalannya demikian, si Mbah pun menampilkan foto-foto Arya yang menghadiri sebuah resepsi pernikahan pasangan itu, bersama orang tuanya. Aline membuka satu per satu foto itu, dan pada sebuah foto yang sepertinya diambil setelah akad berlangsung tertulis: Selamat berbahagia sahabatku, Jonathan Prasetya dan Aura Juliana Dika.
Aline tertegun membaca keterangan pada foto itu. Bukan karena keakraban antara Arya dan Ethan yang ada di foto itu. Namun fokusnya beralih pada nama si pengantin pria. Jonathan Prasetya, JP? Pikiran Aline sudah berkeliaran pada paket perhiasan yang ia terima beberapa hari lalu. Segera ia menepis pikiran itu jauh-jauh. Tak mungkin Ethan yang mengiriminya. Walaupun sebagian pikirannya membenarkan, namun ia tetap menolak kemungkinan itu.
Mengembalikan fokusnya pada sang pengantin wanita yang tampak anggun dalam balutan busana kebaya berwarna putih. Aline segera mengetikkan nama sang pengantin wanita pada kolom pencarian Mbah Google. Ia membaca satu per satu, halaman demi halaman artikel yang memuat prestasi dan liku kehidupan seorang Aura Juliana Dika.
Aura memiliki segalanya, kecantikan alami, prestasi yang membanggakan dan kekayaan serta status sebagai anak tengah dari seorang pengusaha yang saat ini merangkap juga sebagai salah satu pejabat tinggi negara. "Pantas saja sikapnya sombong dan memandang remeh semua orang. Apa dia juga berlaku sama seperti itu kepada suaminya? Wajar saja jika suaminya sampai putus asa dengan pernikahan mereka," gumam Aline.
Setelah dirasa cukup, ia mematikan laptop dan berjalan ke arah kamar mandi, mengurusi cuciannya. Setelah ibadah subuh, Aline menjemur pakaiannya di belakang rumahnya. Walaupun cuaca cukup dingin, tapi awan hitam sudah mulai pecah, menampakkan semburat keemasan di ufuk timur, pertanda bahwa hari ini akan ada matahari yang bersinar cerah.
Aline sudah siap dengan pakaian casual mahalnya karya seorang desainer ternama. Ya, Aline memilih menggunakan pakaian ini untuk menemui wanita angkuh yang sayangnya cantik dan kaya itu. Ia juga memoles wajahnya dengan sedikit make up natural yang membuatnya tampil tanpa cela. "Well, kau akan bertemu dengan Rosaline Tiocandra, Aura. Dan aku akan memberimu pelajaran karena telah mengacuhkan kehadiran suamimu!" gumamnya meninggalkan rumah.
Sebenarnya Aline tidak ada keinginan untuk mencampuri urusan rumah tangga pasangan itu sama sekali, namun karena dirinya sudah dibawa-bawa baik oleh si suami maupun si istri, jadi ya, mau tidak mau ia harus nyebur sekalian.
Walaupun sudah datang sedari tadi, Aline sengaja berkeliling-keliling mall, membuat wanita yang bernama Aura itu kesal menunggu hampir dua puluh menit lamanya.
"Kau terlambat delapan belas menit. Benar-benar tidak tahu cara menghargai waktu orang!" ucapnya datar namun tak urung ia melirik kursi di depannya.
Aline hanya mendelik mendapat sapaan pedas dari Aura, menarik kursi di seberang Aura lalu duduk dengan manis.
"Jangan khawatir, aku tahu siapa yang harus kuhargai dan siapa yang tidak layak untuk kuhargai," ucap Aline tak kalah datar, sengaja memancing kemarahan wanita di depannya.
"Kau!!!" ucap Aura geram, merasa tersinggung dengan kalimat Aline barusan.
__ADS_1
Aline menatap sinis wanita di hadapannya.
"Ah, apa Anda tidak akan menawariku memesan sesuatu? Minum barangkali?"
Aura diam mengatur emosinya. Aline sangat tahu itu, terlihat dari hidung Aura yang kembang kempis.
"Baiklah. Aku akan memesan sendiri. Aku lupa Anda tidak pandai menghargai orang padahal baru saja kukatakan tadi." Aline berbicara lirih seolah ia mengomeli dirinya sendiri tapi tentu masih dapat didengar oleh wanita itu membuat telinga Aura memerah karena amarah. Namun ia masih dapat menguasai diri. Diakui Aline, wanita ini cukup piawai mengendalikan dirinya.
Aline memesan flat white untuk menemaninya menghadapi wanita yang menatap dingin padanya. Tak ada percakapan di antara mereka sampai minuman itu diantar ke hadapan Aline. Sepertinya Aura sengaja agar pembicaraan mereka tidak terganggu nantinya.
Baru saja pelayan kafe itu beranjak meninggalkan meja yang ditempati dua wanita cantik itu, Aura kembali buka suara.
"Jadi ... kau 'wanita' itu?" Aura meletakkan gawainya yang memperlihatkan foto siluet yang diunggah Ethan beberapa hari yang lalu. Ia memperhatikan gerak gerik Aline, mencoba mencari cela dengan menilai gadis di depannya namun tak ia temukan. Gadis di depannya saat ini terlihat sangat berkelas. Tidak ada yang berlebihan dalam penampilannya. Cantik anggun rupawan dengan gestur tubuh yang tenang dan bahasa sangat tertata. Satu kata untuknya, Sempurna. Seperti lagu yang dinyanyikan oleh suaminya untuk wanita dalam siluet itu. Membuatnya cemburu. Ya, Aura merasa cemburu pada Aline.
"Ketahuan ya?" Aline balik bertanya, mengucapkannya dengan nada seringan bulu, membuat wanita di seberangnya meradang.
"Tinggalkan Ethan!" Suatu perintah yang diucapkan dengan nada rendah, pertanda si pemberi perintah sedang sangat serius dengan perkataannya.
Aline menanggapi santai perintah itu. Tak tahukah ia, bahwa seorang Rosaline Denisa Tiocandra bukanlah orang yang mudah untuk diperintah?
"Karena lelaki yang kau panggil 'KAK' itu sudah beristri!" Aura menggeram.
"Ah, jadi Anda mengakui pernikahan kalian? Pada akhirnya? Setelah dia merasa lelah dan menyerah?" tangkas Aline, telak.
Wajah Aura pias seketika. Ia merasa tertohok dengan kalimat barusan. Memang pernikahannya di ambang perceraian, dan itu akibat ulahnya. Ethan memang berjuang mempertahankan pernikahan mereka, tapi dirinya?
"Anda tahu? Anda tidak bisa menyuruhku meninggalkan KAK Ethan!" Aline kembali mengeluarkan kalimat yang membuat Aura terbakar.
"KAU!!!" Aura berdiri dari duduknya, mengangkat tangan hendak menampar wanita yang telah lancang memasuki kehidupan rumah tangganya namun Aline menahan tangan itu.
Keduanya saling menatap tajam seolah ada aliran yang sedang mengalir dan berkelahi di antaranya. Dering telponlah yang menghentikannya.
__ADS_1
Aura menjawab panggilan itu dalam bahasa Prancis yang fasih. Entah dengan siapa ia berbicara namun membuat Aline cukup berang karena perkataan wanita itu pada lawan bicaranya, membuat sisi pongah sang putri Tiocandra meronta-ronta. "Kau akan tahu sedang berhadapan dengan siapa, Aura!" Aline membathin.
"Selain kasar, ternyata kau juga seorang pemfitnah!" Ucap Aline straight to the point. "Pantas saja Kak Ethan menyerah denganmu!" cecar Aline, membuat Aura kembali terbakar namun tidak menjawab karena ia tidak mengerti arah pembicaraan Aline.
"Siapa yang Anda maksud dengan 'wanita pengganggu' itu, Nyonya Aura yang terhormat?" tanya Aline dengan suara rendah penuh penekanan, mengintimidasi lawan bicaranya.
Aura terkejut bukan main. Ia tak menyangka jika gadis di depannya ini mengerti apa yang dibicarakannya via telpon tadi.
"Kau? Kau mengerti?" ucapnya terbata, merasa malu tertangkap basah mengatai orang di depan yang bersangkutan.
Aline menyeringai mengangkat sebelah alisnya. Habis sudah keinginannya untuk bermain-main.
"Apa kau fikir hanya dirimu yang bisa berbahasa Prancis di sini? Oh lihatlah, betapa sempit pikiranmu, Aura Juliana Dika! Tadinya aku masih menaruh hormat padamu karena kau istri Kak Ethan. Tapi dengan sikapmu yang seperti ini, maaf saja, rasa hormatku luntur tak bersisa!" Aura terdiam, terpukul dengan apa yang diucapkan Aline. Wanita itu menarik napas berkali-kali. Wajahnya sudah sangat merah. Entah menahan marah atau menahan malu. Yang mana saja, Aline tidak perduli. Ia lanjut mencecar wanita itu tanpa ampun.
"Melihat dirimu yang seperti ini, aku jadi merasa kasihan pada Kak Ethan. Wajar saja jika dia menyerah. Apa kau tahu?" ucapnya angkuh. "Foto siluet itu diambil oleh suamimu secara diam-diam sesaat setelah aku menolaknya." Aline menjeda kalimatnya, melihat Aura menatap nanar ke arahnya. Wanita itu terlihat rapuh membuat sisi lembut seorang Aline tiba-tiba menguasai dirinya.
Aline menarik napas panjang dan menghembuskannya. Mengatur kata-kata yang akan diucapkannya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan sisi angkuhnya itu.
"Saat itu, kami tidak sengaja bertemu di rooftop. Ia menyadari jika aku sedang berusaha menghindarinya karena mengetahui statusnya sebagai suami orang. Ia bercerita sedikit. Dari ceritanya, aku menangkap kelelahannya. Aku mengatakan padanya bahwa ia adalah nakhoda yang hebat yang bisa menjalankan bahtera rumah tangganya meskipun istrinya masih enggan membantunya. Aku masih memintanya untuk menjaga agar kapalnya tidak karam. Karena ia masih punya Allah. Tapi apa? Ia malah mengunggah foto itu dan menulis caption 'Belum berlayar sudah karam duluan. Haruskah aku berlayar dengan kapal yang sudah porak poranda ini?' Aku rasa kau cukup pintar untuk mengartikan kalimat itu!" ucap Aline dengan nada prihatin melihat wanita di depannya sudah menangis sesenggukan. Runtuh sudah kesombongannya.
"Cobalah memperbaiki hubungan kalian sebelum semuanya terlambat! Aku percaya jika maut, rezeki dan jodoh itu ditentukan oleh-Nya. Tak ada gunanya kau mengharapkan laki-laki yang sudah menjadi suami orang. Jadilah wanita bermartabat yang juga menjaga martabat suaminya! Berlayar lah bersamanya! Tak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Tak ada kapal yang berlayar tanpa menerjang badai. Yakinlah kalian bisa melaluinya! Mulailah semua dari awal!" Aline menggenggam tangan Aura di atas meja, menyalurkan kekuatan kepada wanita yang tengah menyesal itu. Lama Aline membiarkan Aura menghabiskan tangisnya.
"Terima kasih. Terima kasih telah membukakan hatiku. Selama ini aku dirundung penyesalan atas pernikahan ini ...."
"Sudahlah! Sungguh aku tak ingin mendengar masalah di keluarga kalian. Apapun dan bagaimanapun keadaannya, berkomunikasilah layaknya sepasang suami istri!"
Aura mengangguk membenarkan masih dengan menyeka air matanya. Dalam hati ia berjanji akan pulang pada suaminya dan menyelamatkan pernikahannya, juga sepotong hati yang semoga saja masih tersisa untuknya.
"Baiklah, kurasa semuanya sudah beres. Tidak ada lagi kesalahpahaman. Kudo'akan yang terbaik untuk pernikahanmu dan kak Ethan." Aline merogoh tasnya, mengeluarkan dua lembar uang merah, menyelipkannya di bawah gelas, untuk membayar minumannya dan juga minuman Aura lalu beranjak pergi.
Saat berjalan melewati Aura, tangan gadis itu diraihnya. Membuat Aline berbalik menatap manik yang masih sendu itu. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Aura dengan suara parau.
__ADS_1
Aline tersenyum simpul dan menjawab, "Siapa aku itu tidaklah penting. Kau hanya perlu mengingat, bahwa di atas langit, masih ada langit!"
Setelah mengucapkan itu, Aline segera berlalu meninggalkan Aura yang terpaku.