Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Menyesal


__ADS_3

Flashback on.


Elang dan keluarganya menghadiri jamuan makan malam di kediaman orang tua Ethan. Mama Ethan sedang berulang tahun dan mereka mengadakan pesta kecil-kecilan yang hanya mengundang sahabat dan kerabat dekat.


Elang duduk di bangku tak jauh dari area kolam renang di rumah itu. Ditemani Ethan dan Aura.


"Tumben nih nempel terus, biasanya seperti orang gak saling kenal," sindir Elang pada Aura yang memang sejak pertemuan tempo hari dengan Aline membuatnya tak ingin melepaskan Ethan. Ethan hanya diam, tak menganggapi serius ucapan Elang. Namun berbeda dengan Aura.


Aura tersenyum renyah. "Ngejagain suami gue dari sekretaris Kak Elang." Aura melirik suaminya yang pura-pura tidak mendengar.


"Dira? Kenapa sama dia?"


"No. Maksud gue Aline, bukan Dira," terang Aura. "Yah, gue gak pengen aja suami gue juga diembat sama dia..."

__ADS_1


"Aura!" tegur Ethan. Yang ditegur hanya membuang muka sebal.


"Wait. Coba jelasin ke gue. Ada apa dengan Aline?"


"Gak ada apa-apa!" jawab Ethan ketus.


"Gak ada apa-apa gimana?" Nada suara Aura sudah mulai meninggi mendengar suaminya yang membela dan menurutnya berusaha menutupi kelakuan buruk dari wanita yang bernama Aline itu, wanita yang disukai suaminya. "Jelas-jelas dia menginap bersama para pria itu. Perempuan baik-baik mana yang menginap dengan tiga lelaki sekaligus di malam yang sama! Gila aja gak tuh!"


"Cukup!!! Hentikan omong kosong kamu!" Suara Ethan penuh penekanan, lalu beranjak pergi meninggalkan istri dan sahabatnya. Sementara Aura tersenyum getir, berusaha memaklumi, karena bagaimanapun ia tahu bahwa suaminya masih menyukai perempuan itu. Mengetahui seseorang yang kita sukai ternyata tidak sebaik yang kita kira bukanlah perkara yang mudah untuk diterima, jadi ia memaklumi, walaupun hatinya serasa diremas juga oleh karena sikap suaminya itu. Tapi ia menerima. Anggaplah ini karma untuknya karena pernah menyia-nyiakan perasaan lelaki itu.


Flashback off.


Percakapan singkat dirinya dengan Aura beberapa hari yang lalu kembali berputar di kepalanya. Ia tak memungkiri karena ia melihat sendiri di beberapa kesempatan gadis itu jalan bersama lelaki yang berbeda selama seminggu ini.

__ADS_1


Elang melemparkan kasar berkas yang sedang ia pegang ke atas meja. Pikirannya masih tak teralihkan dari gadis yang sudah seminggu ini menjadi sekretarisnya. Kinerja gadis itu sangat baik, sejauh ini. Tak salah Dira merekomendasikan gadis itu untuk menggantikannya. Bahkan, performanya melebihi Dira sendiri. Rendi juga benar tentang pengetahuan dan wawasan sang sekretaris. Gadis itu nyambung diajak berbicara membahas topik apa saja. Dia juga bisa menjadi teman diskusi yang baik. Ide-ide, kritik dan masukan-masukan darinya cukup membantu. Cerdas dan cekatan, levelnya di atas rata-rata. Itulah nilai Aline yang selama seminggu ini bekerja bersamanya.


Memang dirinya saja yang terkadang suka memberi pekerjaan yang sebenarnya tidak urgent-urgent benar. Entah karena kekesalannya melihat gadis yang biasanya tak tersentuh itu malah berjalan dengan beberapa orang lelaki, dua di antaranya ia kenali sebagai crazy rich dari klan Tiocandra, sedangkan yang seorang lagi hanya ia lihat dari belakang tapi ia yakini bukan kedua Tiocandra. Dari penampilannya, sepertinya juga lelaki kaya. Masa sih Aline tipe wanita yang mengejar harta dengan mendekati lelaki kaya? Bukankah sampai saat ini gadis itu masih bekerja sampingan di sebuah kafe milik orang tua angkatnya? Sekalipun tuduhan itu benar, ia tidak punya hak untuk menghakimi.


Tatapan penuh kekecewaan yang dilayangkan gadis itu padanya sesaat sebelum meninggalkan kantor membuat pikiran Elang menjadi semakin kalut. Jika sebegitu marahnya, apakah yang disampaikan Aura padanya beberapa hari yang lalu itu salah? Tapi apa yang ia lihat selama seminggu ini, tidak menunjukkan jika apa yang dikatakan Aura hanya sebuah kebohongan belaka.


"Aaaarrrrgghhhh!" teriaknya, kedua tangan memegangi kepala dan menarik-narik rambutnya. Pusing dan bimbang. "Dia emang beda! Kenapa dia berbeda? Kenapa dia gak nampar gue aja? Atau teriak-teriak memaki gue?" Elang menarik-narik rambutnya. "Di saat perempuan lain lebih suka memberikan cap tangan di pipi kaum pria, ternyata gadis itu lebih suka memberi bogem mentah, dan tenaganya benar-benar luar biasa! Dan tatapannya itu, bikin gue nyesal!" monolognya pada diri sendiri sambil mengelus-elus perut yang masih terasa perih. Elang merebahkan kepalanya ke atas meja. Semangatnya untuk bekerja di sisa hari ini musnah sudah. Perutnya terasa sangat perih. Elang beringsut menuju kamar tidur yang terdapat di ruangan kantornya.


Mencoba memejamkan mata namun tatapan gadis itu kembali menghantui. Ada rasa bersalah yang kuat di dalam dirinya. Entahlah. Elang merasa bingung sendiri bagaimana harus menghadapi gadis itu hari Senin nanti. Pikiran yang terasa berat membawa lelaki itu tertidur pulas hingga Maghrib menjelang.


Entah dapat pikiran darimana, Elang melajukan mobilnya ke resto dan kafe tempat sekretarisnya itu bekerja sampingan. Ia duduk di salah satu kursi di sudut kafe. Seorang gadis berpakaian seragam sebuah resto dan cafe terlihat murung di sudut dapur. Ia baru saja selesai meracik kopi pesanan seorang pelanggan yang paling tidak ingin dilihatnya, untuk saat ini. Ya, dia adalah Aline. Ia sedang menggantikan barista cafe yang sedang menunaikan sholat Isya.


"Duuh, adji lama banget sih sholatnya. Eneg banget lihat bos yang menyebalkan itu. Sayang banget Bang Rio udah balik ke Batam, padahal kalau belum kan bisa minta temenin di sini. Huuuffffttt, asli suntuk banget lihat dia!" keluh Aline. Pertengkaran tadi siang dengan atasannya membuat mood gadis itu rusak seharian. Aline memilih untuk diam jika sudah begini. Dan sekarang, pria itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan memesan kopi padanya. Aline menarik napas berulang-ulang kali untuk mengendalikan tensinya yang terasa tiba-tiba naik.

__ADS_1


Dari sudut kafe, Elang memperhatikan sang barista dari kejauhan. Barista yang tidak lain adalah sekretarisnya itu terlihat letih dan murung. Ada rasa bersalah karena mengucapkan kalimat serupa tuduhan tadi tanpa pernah ia pastikan kebenarannya. Ada rasa bersalah di hatinya. Ada pula keraguan di sana. Ia sendiri tak habis pikir, bagaimana bisa terpengaruh dengan kalimat Aura tempo hari. Padahal, ia tidak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu selain hubungan pekerjaan. Seharusnya ia tidak terhasut oleh ucapan Aura. Seharusnya ia tidak jadi bos yang baperan. Seharusnya ia bisa lebih profesional. Seharusnya ia tidak mengurusi kehidupan pribadi sekretarisnya itu. Seharusnya dan seharusnya... dan sekarang, ia menyesal.


***


__ADS_2