Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Titik Jenuh


__ADS_3

Aline menginjakkan kaki kembali di lantai 10. Menyimpan cangkir bekas Ethan di wastafel pencucian piring lalu mengambil cangkir yang baru, berniat membuat minuman tadi secangkir lagi. Gadis itu mulai meracik minumannya. Menakar bahan-bahan dengan seksama lalu menuang air panas secukupnya hingga asap mengepul dari cangkirnya. Sebelum beranjak, dihampirinya wastafel, dicucinya cangkir yang tadi ia bawa. Baru melangkah menuju berkas-berkas di atas meja yang sudah memanggil-manggilnya untuk segera dieksekusi.


Di sela-sela tugasnya, fokus gadis itu terbagi kala mengingat cerita tadi. Ungkapan dari pria beristri itu saat di rooftop semakin berani saja. Entah apa yang dirasa gadis itu kini. Yang pasti, pertemuannya dengan Ethan tadi meninggalkan rasa yang sulit ia terjemahkan.


"Eheem!"


Lamunan gadis itu terputus kala deheman seorang pria menyapa telinga.


"Eh" kagetnya. "Bapak sudah mau pulang?" katanya begitu tersadar siapa yang berdiri di depan mata. Untung ia sempat melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 17.15 jadi bisa sedikit berbasa basi.


"Belum, gue mo ngawasin lo kerja dari sini. Dari tadi gue perhatiin kerjaan lo cuma melamun. Lihat tuh, laporan belum ada yang selesai! Sudah jam berapa ini? Buruan selesaikan!" Tanpa jeda lelaki itu memerintah bak raja lalu menyeret kursi dan duduk di hadapan sekretarisnya. Sungguh, Elang sangat tahu jika sekretarisnya sedang memikirkan Ethan, dan ia tak suka.


"Udah tinggal dikit lagi kok, Pak. Bapak tunggu di dalam aja! Bentar lagi kelar kok ini, nanti saya antar ke ruangan Bapak. Atau mau saya e-mail aja, biar Bapak bisa pulang dan langsung istirahat," ucapnya menawar titah CEO. "Demi apa coba aku kerja dilihatin dia," bathin gadis itu. Namun Elang bergeming, memelototi sang sekretaris lalu mulai duduk dengan tenang seperti guru yang sedang mengawasi murid yang ketahuan menyontek saat ulangan. Sementara Aline, hanya bisa pasrah usahanya berbuah sia-sia, terpaksa kembali menyibukkan diri dengan laporan di bawah tatapan sang atasan.


Jengah karena lama ditatap sebegitu intens oleh atasannya, Aline pun mulai mengomando otak cantiknya untuk berpikir mencari cara agar bos menyebalkannya ini kembali ke habitatnya.


"Pak, Bapak mendingan masuk deh. Saya gak konsen kerja kalau dilihatin begini!"


"Udah, gak usah bawel. Kerjakan aja kerjaan lo. Anggap gue gak ada di sini!" Elang kekeuh tak ingin beranjak.


"Gimana caranya badan segede gajah gitu dianggap enggak ada, malah posisinya pas di depan mata lagi," celetuk Aline yang masih dapat didengar Elang.


"Gak usah muji gue!" balasnya membuat sang gadis terdiam sambil mengerucutkan bibir, membuat pria itu merasa terhibur dengan tingkah sekretarisnya itu. Namun, tak urung juga ia berdiri dan kembali berjalan ke ruangannya.


"Buruan siapin! Kalau gue lihat lo ngelamun lagi, meja lo bakal gue pindahin ke ruangan gue, biar tiap saat gue bisa ngawasin lo kerja!" ancamnya sembari berjalan.


"Hhhh...." Aline menghembuskan napas lega. Namun hal itu tak berlangsung lama. Karena beberapa saat kemudian, Ethan sudah duduk di kursi yang ditinggalkan Elang tadi.


"Lembur lagi? Aku temani ya!" Ethan dengan pede nya menawarkan diri. Ia tadinya hendak pulang, namun karena teringat ucapan gadis ini saat di rooftoop, ia memutuskan membelokkan langkah ke lantai dimana gadis ini bertugas.


"Aku gak perlu dan gak ingin ditemani. Pulang sana! Aku lagi males lihat orang!" usir gadis itu yang memang sedang tidak ingin bertemu siapapun, masih kesal teringat ancaman Elang, seolah-olah dirinya dianggap tidak becus bekerja.


"Mendingan lihat aku daripada lihat makhluk lain. Cakep lagi!" Entah apa yang merasuki Ethan sampai ia bisa bersikap seperti ini, benar-benar bukan seperti Ethan yang ia kenal, membuat gadis itu semakin pusing, kehabisan ide cara mengusir lelaki beristri di depannya.


"Gak usah, Kak. Kakak pulang aja, istirahat. Udah ditungguin istri di rumah. Lagipula a..." Kalimat gadis itu tak selesai ia ucapkan, keburu dipotong oleh lelaki beristri yang memaksa untuk tetap di sana.

__ADS_1


"Lanjutin aja. Aku gak ganggu kok, cuma mau nemenin kamu. Habis itu aku pulang. Aura palingan juga belum pulang. Kalau gitu aku duduk di sana ya!" tunjuknya pada sofa di lobby yang hanya beberapa langkah dari meja Aline. Ethan memang hanya berniat untuk menemani gadis berpashmina ini menunaikan lemburnya. Tanpa ia tahu bahwa CEO mereka juga belum pulang. Khawatir jika gadis itu kemalaman pulangnya. Syukur-syukur ia bisa mengantarkan gadisnya pulang disertai makan malam bersama saat di perjalanan.


Aline hanya mendelik. Entah kenapa hari ini ia merasa Ethan sangat berani menunjukkan rasa sejak pertemuan mereka di rooftop tadi. Tapi ya sudahlah. Daripada berdebat hal tidak penting, Aline memilih kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Benar-benar menganggap tak ada siapa-siapa di sana.


Adzan Maghrib berkumandang dari HP milik Aline. Ethan yang duduk tak jauh darinya, berdiri menuju meja gadis itu. "Kita sholat maghrib dulu di musholla, nanti dilanjut lagi!" ajaknya pada gadis itu.


Aline bergeming. Ia masih ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, agar selepas maghrib nanti ia sudah tinggal menge-print saja.


"Ayo, sholat dulu! Jangan ditunda! Melalaikan sholat itu ganjarannya neraka wail. Jadi, kalau gak mau jadi penghuni neraka wail, mendingan ikut aku ke musholla sekarang!" ancamnya sembari berjalan menuju lift dengan keyakinan penuh kalau gadis itu akan mengekorinya.


Membayangkan dirinya berada di neraka wail membuat Aline bergidik ngeri sendiri. Bergegas ia mengikuti langkah Ethan yang sedang menunggu lift.


Ethan berteriak gembira dalam hati kala si gadis mengikutinya. Ia berharap bisa menjadi imam bagi gadis yang sedang berdiri di sampingnya ini, namun karena keadaan, tidak bisa menjadi imam kehidupan, menjadi imam saat sholat pun ia sudah sangat bersyukur.


Selepas sholat berjamaah, mereka kembali ke meja Aline. Aline kembali menyelesaikan pekerjaannya dan Ethan menonton dirinya bekerja. Aline merasa gerah, namun ia sudah kehabisan tenaga untuk sekedar berdebat. Tenaga yang ia punya harus ia simpan untuk menyicil pekerjaannya yang terbengkalai di resto nanti.


Sementara itu, di ruangannya, Elang tertegun melihat pemandangan di layar laptopnya. Layar yang menunjuk langsung ke area kerja sekretarisnya. Ia yang tadi berniat menikmati softdrink sembari menunggu sekretarisnya menyelesaikan laporan yang ia minta seketika merasa tensinya naik. Diletakkannya kembali kaleng minuman itu, lalu bergegas menuju meja sekretarisnya di luar. Elang tak terima perlakuan tidak adil gadis itu pada dirinya. "Gadis itu benar-benar. Aku diusir, sementara dia berduaan dengan suami orang." Elang mengomel sendiri sambil berjalan keluar ruangan.


Aline sedang membundel laporan yang telah ia cetak ketika tiba-tiba saja atasannya itu menyerang Ethan yang sedang duduk memainkan HPnya. Ethan yang tidak tahu tiba-tiba terjungkal karena pukulan Elang.


Empat orang petugas keamanan berhasil memisahkan Elang dan Ethan. Keduanya masih memberontak dipegangi masing-masing oleh dua orang. Aline menghembuskan napas lelah melihat kedua atasannya.


Saat keduanya tenang, baru petugas keamanan melepaskan atasan mereka. Elang menyuruh keempat security itu meninggalkan mereka bertiga dengan mengancam akan dipecat bila tidak mengikuti perintahnya. Dengan berat hati dan atas persetujuan Aline yang meminta mereka tadi, keempat petugas keamanan itu beranjak kembali ke pos mereka.


"Matikan komputer kamu, kita pulang!" titahnya pada satu-satunya perempuan di ruangan itu, namun matanya masih menyorot tajam Ethan yang sama kacaunya seperti dirinya.


Aline yang memang sudah selesai dengan pekerjaannya dan tidak ingin ribut segera mematikan komputer dan merapikan meja kerjanya. Ia menatap prihatin pada Ethan, yang ditatap hanya mengangguk samar.


"Dan lo!" tunjuk Elang pada Ethan. "Lo mendingan pulang! Lo gak ingat udah punya istri! Meskipun lo sahabat gue, tetap gue gak akan biarkan lo mengkhianati Aura! Lo ingat itu baik-baik! DAN-JA-NGAN-GANG-GU-SEK-RE-TA-RIS-GUE!" ucapnya penuh penekanan.


"Lo gak berhak mengatur hidup gue!" ucap Ethan tak mau kalah. Aura permusuhan sangat kental terasa di ruangan itu. Namun berbeda dengan Aline, dirinya pergi begitu saja meninggalkan kedua lelaki yang sedang berseteru karena dirinya. Tak ingin terlibat pada hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Bukan salahnya jika Ethan bersikeras menungguinya? Ia tidak meminta untuk ditemani, namun lelaki itu yang memaksa. Dirinya sudah amat lelah. Saat ini yang ia inginkan hanya ke resto, makan malam dan mengambil pekerjaannya untuk ia bawa pulang dan kerjakan nanti selepas sholat malam sembari menunggu subuh tiba. Raganya sudah amat lelah. Semakin cepat ia sampai di resto akan semakin cepat ia pulang dan mengistirahatkan lahir dan bathinnya.


Elang berlari, menggapai tangan gadis yang hampir sampai di depan lift.


"Lepaskan, Pak!" Aline berusaha mengibaskan tangan kekar milik Erlangga Atmaja, namun tidak berhasil.

__ADS_1


"Mau kemana kamu!" tanyanya mulai tersulut amarah pada gadis tak tahu diri ini. Dirinya terluka karena gadis ini dan lihatlah gadis ini malah pergi begitu saja.


"Saya lelah, mau pulang," jujurnya.


Namun Elang tak jua melepaskan tangan itu.


"Lepasin tangan lo dari Aline! Lo gak lihat dia kesakitan!" Ethan berkata dingin namun tetap menjaga jarak. Ia tak ingin Aline menjadi korban pelampiasan Elang.


"Gak usah ikut campur, Than!" Elang tak kalah dinginnya menunjuk tepat ke arah lelaki yang tak lain adalah sahabatnya juga.


Elang menyeret Aline memasuki lift yang sudah terbuka. Menutupnya dan meninggalkan Ethan.


Aline diam seribu bahasa. Dirinya diseret sepanjang jalan menuju basement dimana mobil Elang terparkir. Ia sudah tak peduli dengan pandangan beberapa karyawan yang sepertinya juga selesai lembur. Benar-benar sudah tak ingin membuang tenaga untuk sekedar mengelak yang pastinya akan berakhir dengan perdebatan yang tiada akhir.


Elang membuka pintu mobilnya dan setengah memaksa Aline untuk masuk. Aline menurut patuh. Mobil berjalan dan mereka duduk dalam keheningan.


"Lo tahu Ethan sudah beristri kan? Gue udah pernah bilang ke elo hal ini!" tegas Elang, dingin.


Aline hanya menatap lelaki yang masih fokus mengemudi tanpa minat untuk menjawab. Lalu kembali menatap jalanan.


"Lo ngaku perempuan baik-baik. Gue curigai sebagai perempuan gak bener berkedok muslimah lo malah musuhin gue. Trus sekarang lo ngegoda suami orang. Lo mau gue sebut apa?" Elang terus saja memberondong dengan kesal di dada.


Aline masih tetap diam tak bergeming. Ia tak harus menjelaskan apapun pada lelaki ini. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan sekretarisnya. Tak lebih.


"Kenapa diam? Lo gak bisa membantah karna apa yang gue bilang benar semua?" cecar lelaki itu semakin kesal.


"Saya tak harus menjelaskan apapun pada Bapak. Terserah Bapak mau menganggap saya seperti apa. Saya gak peduli! Saya heran kenapa Bapak se-kepo itu sama urusan pribadi saya?" tandasnya tajam. Aline sangat jengah dihadapkan pada situasi ini. Dirinya tak ingin ambil pusing, namun yang namanya manusia, walau bibirnya berkata tak ingin peduli, tetap saja hatinya memberontak inginkan kebenaran dan pembelaan.


"Karena yang akan lo rusak itu adalah rumah tangga sahabat gue!" Elang membentak geram, membuat gadis itu bungkam dan membuang muka. Berusaha meredam emosi yang semakin ke sini semakin susah untuk ia kendalikan. Jiwa pongah sang putri dari keluarga sekelas Tiocandra di dalam tubuhnya sudah menggebu-gebu tidak sabaran untuk menunjukkan kuasanya karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Sekuat tenaga gadis itu menahan. Sekali lagi saja lelaki di sampingnya ini merendahkannya, maka tamatlah sudah.


"Jauhi Ethan! Gue gak pingin lo dicap sebagai pelakor oleh orang-orang!" Elang berkata lembut, penuh perasaan, mengabaikan apa yang ia dengar saat di rooftop tadi. "Tetaplah menjadi gadis baik-baik yang tanpa cela dan dicintai banyak orang," lanjutnya, balas menatap gadis yang juga sedang menatapnya dengan tatapan terluka di kursi penumpang di sebelahnya.


Aline merasa lelah. Ia jenuh dengan kenyataan yang ada. Dan lelaki di sebelahnya ini memiliki banyak andil membawanya berada pada titik jenuh ini.


***

__ADS_1


__ADS_2