Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Introgasi


__ADS_3

Hari-hari Aline di Atmaja Corp berjalan dengan baik. Banyak yang menyukainya, tapi tak sedikit juga haters-nya. Sesekali ia masih mendengar karyawan dari divisi lain menggosipkan dirinya. Mengatainya sebagai 'anak titipan' owner, pemain pengganti, pemain cadangan hingga anak bawang. Akan tetapi semua itu tak ia hiraukan. Aline sudah memiliki banyak teman, beberapa bahkan dari divisi lain.


Kemampuan Aline dalam pelaporan perlu diacungi jempol. Tak jarang bu Mira memuji laporan yang dibuatnya, karena cara penyajian yang berbeda dari karyawan lainnya, data-data disusun dengan begitu apik lengkap dengan tabulasi dan grafik, perbandingan dari periode lalu serta beberapa simulasi. Ditambah kepiawaiannya dalam mengetik cepat, membuat ia semakin dikagumi. Semua pekerjaan selalu selesai sebelum jam makan siang. Setelah jam makan siang, biasanya Aline akan membantu fakturis atau pengarsipan.


Saat ini, Aline, Siska, Natalie dan Irwan sedang berada di kantin kantor. Empat orang ini sudah sangat akrab dari hari ke hari. Hari ini Aline tidak membawa bekal karena kemarin sudah berjanji akan makan siang bersama teman-temannya. Tadinya mereka akan makan di luar, tetapi karena Siska ada tugas mendadak dari bu Mira, akhirnya mereka memutuskan makan di kantin kantor saja agar bisa cepat-cepat kembali ke ruangan.


"Aaaahhh ... akhirnya setelah sekian purnama, berhasil juga kita-kita ngajak lo keluar goa di jam makan siang, Lin," ucap Siska. Yang lain hanya mengangguk tanda setuju.


"Apaan sih, Mbak Sis?"


"Bener, Lin. Kita kan pengen kenal lo lebih deket, udah hampir tiga bulan tapi kita jarang kumpul, makan bareng, nongkrong bareng, nonton bareng, ya palingan di ruangan. Mana bebas," timpal Irwan.


"Yeeee, itu mah elo nya aja yang ngebet," ujar Natalie. "Tapi bener juga sih. Biasanya slalu bawa bekal. Emangnya lo bangun jam berapa sih Lin, sampe keburu gitu masak buat makan siang?" katanya kemudian.


"Ya keburulah. Emang elo kerja kayak siput. Lo pada belom pernah lihat si Aline ngetik kan Sis, Nat? Gila beuh ... kenceng beneeeerr," cerita Irwan lebay.


"Yeee, mana bisa gue deket2 sama kubikelnya si Aline, kubikel gue sama kubikelnya Natalie kan agak jauh dari kubikelnya Aline. Lagipula, lo ga lihat bu Mira udah kayak guru pengawas ujian nasional aja kalo nyangkut Aline. Heran gue!"


"Lo tau dari mana, Sis?" tanya Irwan.


"Gue sering kok lihat bu Mira berdiri di samping kubikelnya Aline. Kayak merhatiin gitu."


"Ah yang bener, Mbak Sis?"


"Yee, dibilangin enggak percaya. Meja gue kan posisinya menghadap ke ruangannya Bu Mira.


Ketiga orang lainnya hanya angguk-angguk meng-iyakan.


"Eeemmmm, Lin. Gue boleh ngomong atau nanya sesuatu ga?" Natalie berdehem kecil menunggu jawaban Aline.

__ADS_1


"Jangankan sesuatu, dua-atu tiga-atu pun boleh, hehehehe ..." jawab Aline enteng setengah bercanda. Entah mengapa sahabatnya tampak begitu tegang. Aline cukup penasaran dengan apa yang akan ditanyakannya.


"Eehhm ... begini," ucapnya sedikit gugup, "katanya lo di marketing cuma buat gantiin Nita. Ini kan udah mau tiga bulan. Gak lama lagi Nita udah masuk. Apa setelahnya lo gak kerja di sini lagi?"


"Ooooh ... nanyain itu. Kirain ada hal penting apaaaa gitu. Kok serius banget sepertinya, hehehehe ...."


"Mungkin bagi lo gak penting, Lin. Tapi bagi gue, gak taulah kalo yang lain (melirik Siska dan Irwan), ini penting. Lo kan sering banget bantuin gue naikin cetak faktur, kerjaan gue terasa enteng, hidup gue selama hampir tiga bulan ini tanpa beban. Kalo ke kantor gak ada tertekan-tertekannya. Apalagi di bulan-bulan seperti ini. Penjualan selalu meningkat. Dan gue cukup keteteran kalo berdua aja sama Lola. Mana nama sama sifat sama lagi. Duuuh, kok gue udah stres aja ya kalo ingat lo bakal gak bareng kita lagi," curhatnya.


Siska dan Irwan membenarkan. Pasalnya, sejak ada Aline, kinerja mereka ikut terdongkrak. Bagaimana tidak? Laporan yang akan diminta minggu depan saja sudah ia tagih data-datanya hari ini. Mau tidak mau, mereka tidak boleh lamban dalam merekap data yang menjadi tugas mereka. Jika terlambat, Aline pasti akan menagihnya sampai-sampai si pengumpul data menjadi malu sendiri karena ditagih setiap hari sehingga mau tidak mau mereka bekerja dengan lebih cepat. Itulah sisi baiknya kinerja Aline yang juga diakui oleh bu Mira.


Dan mengenai Natalie, seperti yang disampaikan bu Mira di awal, Aline kadang akan diperbantukan di bagian faktur dan pengarsipan. Natalie adalah fakturis, bersama dengan Lola. Di awal tahun seperti ini, permintaan pasar meningkat sangat tajam, sehingga dengan adanya Aline, proses naik cetak faktur pun menjadi terbantu.


"Ya, gitulah kira-kira Mbak. Akunya sih tetap kerja di sini, tapi di divisi mananya nanti, itu yang aku gak tau. Dari awal pak Rahman udah menyampaikan ini. Kondisi aku yang ga bisa fulltime di sini yang bikin aku ga bisa punya posisi tetap. Jadi, selama aku bisa belajar, aku yakin insya Allah aku pasti bisa ditempatkan dimana aja. Itung-itung cari ilmu dan pengalaman, Mbak," jelas Aline.


"Emang lo kenapa ga bisa fulltime, Lin? Dari kemaren-kemaren gue mau tanya, tapi lupa terus," cecar Irwan.


"Kasih tau gak yaa ..." canda Aline dengan mimik wajah yang teramat imut. Membuat ketiga orang temannya gemes.


"Eh, lo ingat tuh si Aira, main gemes-gemes aja sama anak orang!" tegur Siska mengingatkan Irwan akan pacarnya.


"Pa-an sih lo? Selagi janur kuning belum membentang, masih ada kesempatan ... aduh duh duh ...." Tiba-tiba saja perkataan Irwan terpotong karena Siska sudah menjewer telinganya. Aline dan Natalie terkikik melihat tingkah dua sahabat itu.


"Walau gimanapun, sebagai perempuan gue gak rela laki kayak elo mainin hati perempuan!"


"Ampuuun, Sis!!!"


"Huuusshhh ... udah. Noh lihat kita jadi tontonan!" bisik Natalie.


"Yaudah, balik lagi deh, Lin. Pengen tau pake bingits gue, secara gue yang merasa paling berdampak gak ada lo nanti," lanjut Natalie.

__ADS_1


"Ehem ... ehem ...." Aline berdehem jahil, mengerjai ketiga sahabatnya. Tampak sekali mereka sangat ingin mendengar jawaban dari mulutnya.


"Jadi begini. Sebelum bekerja di sini, aku kerja di resto milik Abah. Tapi bukan berarti aku bisa dicontoh ya, Mas, Mbak. Aku part time di sini itu karena pak Rahman gak bisa menolak permintaan bu Luna".


"Kenapa, Lin?"


"Jadi singkat cerita, aku pernah menolong bu Luna. Beliau dan suaminya mendatangi rumahku dan menawariku pekerjaan. Kebetulan aku sedang mencari pekerjaan untuk shift pagiku. Beliau dan suaminya menawari untuk bekerja part time di sini. Jadi aku terima."


Aline mengakhiri ceritanya dan melirik ketiga sahabatnya yang sama-sama ber-oh ria.


"Jadi, bener kalo lo titipan owner, Lin?" Siska kelepasan bicara, buru-buru ia menutup mulutnya.


"Santai aja kali, Mbak Sis. Emang kenyataannya gitu, kan?"


"Sorry, Lin. Gue gak maksud menyinggung perasaan lo".


"Ya kali aku tersinggung, Mbak. Emang kenyataan. Tapi jangan bilang-bilang ya. Cukup kalian aja yang aku kasih tau. Yang lain biar tau dari sumber lain aja!"


"Sorry ya Lin."


"Gak papa kok, Mbak Sis. Masih ada yang mau ditanyain lagi gak? Mumpung aku masih ada waktu nih buat sesi introgasinya," canda Aline.


"Idih, sombongnyaa, hahahahaha ...." Mereka tertawa berbarengan.


"Kalo udah gak ada yang mau ditanyain, aku mau promosi nih, mumpung tadi udah disinggung juga. Restonya Abah. Kapan-kapan mampir ya, Mbak, Mas. Makanannya Te-O-Pe-Be-Ge-Te. Delivery juga bisa. Buat nongkrong juga asyik!"


"Boleh dicoba nih, Lin. Sapa tau nanti kita kumpul-kumpul di sana."


"Iya, Mbak. Nanti aku shareloc nya ya!"

__ADS_1


"Udah hampir jam 1.10. Balik yuk. Kerjaan gue ditunggu bu Mira nih," ucap Siska sembari melirik jam tangannya. Akhirnya mereka bertiga bergegas meninggalkan kantin yang masih ramai.


__ADS_2