Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Rencana Ethan


__ADS_3

Ethan baru saja keluar dari mobilnya. Langkah panjangnya menuntunnya memasuki lift yang sudah mulai ramai. Banyak karyawan dan karyawati yang menyapanya dan ia membalas sapaan mereka dengan anggukan ataupun senyuman. Sejak sebulan belakangan Ethan selalu bersemangat lebih untuk datang ke kantor. Berjalan menuju ruangannya dan melewati meja gadis yang selalu mengenakan pashmina itu. Pagi ini, Aline mengenakan blouse abu-abu muda dengan rok hitam bermotif senada dengan warna bajunya. Pashmina silver yang dibentuk sedemikian rupa membuat penampilannya semakin anggun. Ethan melempar senyum kepada gadis yang mengucapkan selamat pagi itu padanya. Hanya sebuah sapaan dan itu berhasil membuat moodnya naik berkali lipat. Sesederhana itu.


Ethan memulai pekerjaannya. Ia mulai meraih dokumen demi dokumen dan mempelajarinya satu per satu hingga matahari meninggi. Diakhirinya kegiatannya lalu bersiap menuju ruangan pak Aditya, atasannya.


"Assalamu'alaikum," Ethan memasuki ruangan pak Adit setelah sekretaris atasannya itu menyuruhnya untuk langsung masuk saja.


"Wa'alaikumsalam. Silakan duduk, Ethan!"


"Terima kasih, Pak."


"Ingin minum sesuatu?" tawar Pak Adit.


"Oh, gak usah, Pak. Terima kasih. Saya gak lama," tolaknya.


"Apa ada masalah?" tanya pak Adit membuka percakapan mereka siang itu.


"Gak ada, Pak. Semua aman dan terkendali, walau sedikit keteteran."


"Lalu?"


Ethan diam sejenak untuk merangkai kata. Ia sudah memikirkan hal ini semalaman. "Saya ingin meminta Aline menjadi staf tetap di Subdiv Legal, Pak!" jawabnya mantap.


Pak Adit menaikkan sebelah alisnya mendengar permintaan seorang Ethan.


"Dengan alasan?" tanyanya balik.


"Saya menyukai hasil kerja Aline. Begitu juga dengan anggota tim yang lain. Kinerja tim menjadi lebih baik sejak kedatangan Aline sebulan ini, terlebih meningkatnya project dan penjualan apartemen dalam beberapa bulan belakangan, kedatangan Aline sungguh membantu. Beberapa hari yang lalu, dalam rapat rutin bulanan bersama tim, salah satu agenda kami adalah membahas kinerja Aline. Dan kami semua sepakat untuk meminta Aline menjadi staf tetap di Legal," jelas Ethan sembari menyerahkan laporan bulanan pada atasannya itu.


Pak Adit mengusap-usap dagunya mendengar penjelasan rinci dari Ethan lalu mengambil laporan yang disodorkan Ethan dan mulai membacanya. Laporan yang diberikan Ethan sejalan dengan cerita dari bu Mira, wanita yang pernah menjadi atasan Aline saat di Divisi Marketing dulu. Nilai positif untuk Aline.


Setelah membaca beberapa saat, pak Adit mengangkat kepalanya dan menatap bawahannya itu sejenak.


"Saya tidak bisa memberikan keputusan sekarang. Sejujurnya, Subdiv Proyek juga membutuhkan tambahan tenaga mengingat jumlah project yang meningkat sejak awal tahun, namun pihak HRD belum melakukan perekrutan hingga saat ini. Arya dan timnya sudah sedikit kewalahan. Tadinya saya sempat berpikir untuk memindahkan Aline ke Proyek".


Ethan mendengar penjelasan pak Adit. Ternyata Arya sudah bertindak duluan. Ia tidak akan membiarkan Aline dipindahkan ke sana.


"Sebenarnya jika dari pola ketenagaan, tim saya membutuhkan tiga orang staf lagi. Penambahan jumlah project tidak hanya berdampak pada tim proyek, tetapi juga pada tim saya. Terlebih, pekerjaan kami masih berlanjut hingga penjualan berlangsung. Semua sudah saya rinci dalam pola ketenagaan di bagian belakang laporan. Dan mengenai Aline, keberadaannya dalam tim sampai saat ini sangat membantu, namun belum bisa dikatakan semua sudah memenuhi kebutuhan," paparnya.


Pak Adit mendengarkan paparan Ethan . Apa yang disampaikan oleh anak muda di depannya ini memang benar. Penambahan project apartemen tentu lebih berdampak pada tim nya. Pak Adit memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Saya akan bicarakan ini dulu dengan HRD. Saya harap pak Rahman bisa memberikan solusi yang terbaik untuk divisi kita," ucapnya.


"Baik, Pak. Terima kasih."


"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan, Ethan?"


"Tidak ada, Pak. Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Ethan berjalan kembali menuju ruangannya. Dalam hati ia merutuki Arya yang telah duluan selangkah darinya. Namun ia tak akan membiarkan lelaki itu mengambil Aline dari tim nya.


Bukannya Ethan tak tahu siapa Arya bagi Aline. Beberapa hari lalu, ia tak sengaja mendengar percakapan kedua orang itu.

__ADS_1


Flashback on:


Ethan sedang berada di lobby ketika ia melihat Aline keluar dari lift dengan terburu-buru. Dari lift yang lain, keluar Arya, rekannya yang merupakan Kepala Subdivisi Proyek, seperti sedang mengejar seseorang. Ethan mengikuti sepasang manusia itu. Arya berhasil mengejar Aline saat gadis itu beberapa langkah keluar dari pintu masuk lobby.


Arya menarik lengan Aline namun segera ia lepaskan begitu mendapat tatapan tajam dari gadis itu.


"Maaf," gumamnya sembari mengatur napas.


"Mau apa lagi sih?" tanya Aline jengkel.


Arya menatap balik Aline dengan garang. Gadis di depannya ini sungguh keras kepala.


"Selamat ulang tahun, Princess!" ucapnya seraya memberikan sebuah paperbag kecil berlogo butik terkenal. Namun Aline bergeming.


Melihat Aline yang terdiam dengan ekspresi kaget yang kentara membuat Arya gemas sendiri.


"Aku gak akan lupa hari ulang tahun kamu." Arya menyerahkan paperbag itu, memaksa Aline menerimanya. Setelah paperbag itu berpindah tangan, Arya kembali mengucapkan kata-kata yang sudah ingin ia ucapkan sejak pertama kali ia bertemu kembali dengan gadisnya itu.


"We need to talk. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan, Sayang. Bagiku, kamu masih pacarku!"


Aline tersenyum miring mendengar kalimat Arya barusan. "Pacar? Pacar yang mana? Pacar yang berciuman dengan wanita lain di depan pacarnya? Atau pacar yang hanya bisa berjanji akan menghadiri acara kelulusan pacarnya tanpa bisa menepati? Jangan ngigau, Aryaka Revanno! Hubungan kita sudah berakhir lima tahun yang lalu!" ucapnya dingin tak terbantahkan.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku bersumpah kembali ke Sydney mencari kamu setelah kondisi mama membaik, tapi kamu sudah lulus dan kembali ke Indonesia. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kita bisa bicara baik-baik kan?"


"Tolong mengertilah! Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita. Semua sudah berakhir!" Aline lalu berlari memasuki taksi yang baru saja menurunkan penumpang tak jauh dari mereka, meninggalkan Arya begitu saja.


"Aku akan membuat kamu kembali, Sayang. Aku akan membuat kamu memaafkan aku!" janji Arya dalam bisikan yang masih dapat di dengar oleh Ethan.


Flashback off.


Ethan lalu teringat bahwa Arya mengucapkan selamat ulang tahun pada Aline pada hari itu, yang artinya hari itu adalah hari ulang tahun Aline. Bodoh. Kenapa ia bisa melewatkan hal ini? Ethan merasa tertinggal satu langkah lagi karena tidak mengetahui apapun tentang gadis itu, bahkan hari ulang tahunnya. Oleh karena itu, ia bertekad untuk mencari cara agar bisa lebih dekat lagi dengan Aline.


Ethan yang sedang suntuk menyibukkan diri dengan tenggelam dalam dokumen dan file-file di meja kerjanya hingga malam menjelang. Hampir semua karyawan telah kembali ke rumah mereka, bergabung bersama keluarga tercinta. Namun tidak dengan lelaki jangkung itu. Setelah menunaikan sholat isya, ia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya hari itu. Ethan berputar-putar di jalanan Jakarta menghilangkan suntuk yang tidak juga hilang. Ia membuka smartphone-nya, lalu membuka aplikasi ojek online dan mencari tempat makan terdekat dengan posisinya saat ini. Bukan berarti ia akan memesan makanan lewat aplikasi itu. Bukan. Ia hanya ingin mencari tempat makan favorit yang tak jauh dari tempatnya sekarang yang direkomendasikan oleh aplikasi itu, lalu memutuskan untuk mengisi perutnya di sana.


Mobil Ethan berhenti di Resto dan Cafe Abah sesuai rekomendasi aplikasi ojek online yang dibukanya tadi. Ethan memasuki resto dan mengambil posisi lesehan. Setelah memesan, Ethan menanyakan posisi toilet pada pelayan.


Saat hendak kembali ke mejanya, Ethan mendengar nama Aline disebut-sebut dan suara gadis itu dari arah dapur sedang bercakap-cakap. Ethan berjalan menghampiri dapur yang letaknya tak jauh dari toilet.


"Aline ... Aline .... Gue bikinin makanan enak lo malah mintanya telur dadar, ampun gue sama selera lo!" Suara seorang laki-laki yang dari pakaiannya adalah koki di resto ini. Sementara Aline dan seorang perempuan lagi duduk tak jauh dari meja dapur.


"Udah deh, Bang Ical. Gak usah banyak komentar. Sesekali doang Mbak Aline pengen makan telur dadar buatan Bang Ical apa salahnya?" Suara gadis lain di ruangan itu yang membela Aline.


"Bener, dek. Mbak kangen masakan rumahan. Lagipula, telur dadar yang Abang buat ini sama dengan makan dua ekor ayam sekaligus. Kebayang kan gimana gizinya?" celoteh Aline mengada-ada.


"Hahahahahaha .... Lo kalo ngomong suka ngaco ya Lin. Kasihan Hana kalo sampe percaya omongan lo, hahahahaha."


"Emang bener kok. Satu butir telur kalo dierami dan ditetaskan kan jadinya seekor ayam, Bang. Dari mana ngaconya coba?" Aline masih dengan teorinya.


"Teori lo yang ngaco. Ah udah deh. Nih udah mateng dadar lo. Hush ... hush sana .... Lo makan di dalem aja. Pusing pala gue dengerin celotehan lo berdua di sini, bikin gak konsen. Dan Hana, mendingan lo naik, Dek, belajar sana. Dah mau ujian. Jangan ikut-ikutan Aline deh. Nanti keseleo otak lo!" usirnya.


"Idih, sewot. Btw, makasih ya Bang Ical untuk dadar yang menggugah selera ini," goda Aline.


"Lebay lo!"

__ADS_1


"Hahahahahaha ...."


Aline dan gadis bernama Hana itu keluar dapur dan berjalan ke arah Ethan.


"Eh, Pak Ethan? Kok ada di sini?" tanya Aline yang melihat atasannya itu berdiri di sekitaran dapur.


"Oh, saya baru dari toilet. Kamuuu ... kerja di sini?" tanya Ethan.


"Iya, Pak. Mbak Aline kalau malam kerjanya di sini," gadis kecil itu yang menjawab.


"Oh iya, Pak. Kenalin ini adek angkat saya, Hana. Dek, ini atasan Mbak di kantor, namanya Pak Ethan."


Mereka lalu bersalaman.


"Kalo gitu aku naik dulu ya, Mbak, Pak. Mau belajar," pamit Hana meninggalkan dua orang itu.


"Kamu mau makan?" kembali Ethan bertanya menyadari bahwa Aline membawa piring berisi telur dadar yang ia yakini baru dimasak tadi.


"Eh, iya Pak. Tadi belum makan malam," Aline tersenyum kikuk.


"Ya udah, kalo gitu sekalian saja, temani saya makan di dalam."


Aline terdiam, mencoba mencari cara menolak, namun Ethan lanjut berkata.


"Saya sudah pesan makanan sebelum ke toilet tadi, mungkin sekarang sudah dihidangkan. Ayo!"


Mau tak mau Aline mengekori Ethan menuju meja yang telah dihidangkan beberapa menu di atasnya. Aline duduk di seberang Ethan. Beberapa karyawan malah menatap Aline dengan penuh arti melihat keduanya. Yah, mau bagaimana lagi. Aline menghela napas.


"Lin, boleh nanya-nanya gak?" tanya Ethan di sela kunyahannya.


"Eh? Mau nanya apa, Pak?"


"Kalau di luar kantor, jangan panggil 'bapak'. Panggil Kak Ethan aja, biar kelihatan mudanya."


Aline mengangkat sebelah alisnya pertanda protes tanpa kata atas kalimat Ethan barusan.


"Hahahahaha ... segitu amat reaksinya. Aku ini baru 29 tahun. Belum terlalu tua untuk dipanggil 'kakak' sama kamu", ucapnya sambil terkekeh geli dengan reaksi Aline.


"Oke oke. Bos mah bebas," canda Aline.


"Hahahahaha ...." Ethan tertawa lepas, membuat ketampanannya naik berkali lipat.


"Eh, malah ketawa ngakak. Emmm, tadi mau nanya apa, Kak?"


"Kamu udah lama kerja di sini?"


"Lumayan, udah setahun ini, sejak aku di Jakarta. Bapak, eh Kakak baru pulang kantor?" tanya Aline mengalihkan topik. Ia tak ingin Ethan bertanya lebih dalam tentang masa lalu dan keluarganya.


"Iya. Tadi habis pelajari file project 11 yang di Jogja. Ada beberapa halaman yang harus di revisi. Udah aku taruh di meja kamu tadi. Besok tolong diperbaiki ya, Lin!"


"Siyap, Pak Bos!"


Begitulah, pertanyaan demi pertanyaan menyelingi makan malam mereka membuat keduanya menjadi lebih akrab.

__ADS_1


__ADS_2