
Aline melirik jam tangannya. "Masih cukup lama," lirihnya. Biasanya ia akan rebahan barang sejenak di barisan syaf paling belakang dari musholla, namun tidak untuk hari ini. Ia hendak mengambil waktu istirahat sore ini dengan menikmati sore hari dari rooftop barang 20-30 menit. Pikirannya terasa sangat amat mumet dengan banyaknya laporan yang harus ia periksa ulang dan rekap kembali. Lelah rasanya lembur berturut-turut setiap hari begini, namun apa dayanya, ia hanya pekerja. Pikiran untuk berhenti akan benar-benar ia pertimbangkan setelah mbak Dira kembali nanti.
Setelah membuat secangkir green matcha latte, Aline menuju mejanya. Mencari-cari botol penyemprot tanaman yang sengaja ia simpan untuk menyirami bunga-bunga di rooftop yang terlihat tidak terurus padahal bunga-bunga itu diberi pot yang cantik, bila terawat pasti akan sangat indah. Aline menuang air dan mencampurnya dengan produk penyedap rasa legend. "Kira-kira cukuplah ya untuk semua tanaman di atas?" tanyanya pada diri sendiri sambil menggoyang-goyangkan botol agar racikannya tercampur merata. Bukan tanpa alasan ia mencampurkan produk legend itu, menurut si Mbok, ramuan ini bisa membuat tanaman segar dan cepat berbunga dan tentu saja ia sudah membuktikannya pada bunga-bunga di rumah Bunda.
Aline kembali beranjak menuju tangga, menapaki anak tangga yang jumlahnya tidak seberapa. Ia mengepit botol penyemprot di ketiaknya untuk membebaskan satu tangannya membuka handle pintu rooftop. Terlihat sangat tidak elegan, tapi ia tak peduli. Ia berjalan santai, membiarkan pintu terbuka setengahnya, meletakkan cangkir di bangku kayu yang sudah terkelupas catnya, dan mulai menyemprotkan pupuk buatannya ke tanaman terdekat sambil bersenandung riang. Gadis itu tak menyadari bahwa ada orang lain di sana. Fokusnya hanya pada tanaman saja.
Seseorang yang sedari tadi menikmati kesendirian di spot favoritnya dari atas gedung A.C mulai terusik dengan senandung ringan suara wanita. Ia pun berbalik mencari sumber suara. Bukannya merasa terganggu, justru ia merasa sangat bahagia begitu melihat siapa yang sedang menyirami tanaman dan bersenandung indah. "Benar-benar gadis yang penyayang," pikirnya.
Ethan menikmati pemandangan di depan mata. Memasukkan tangan ke dalam saku celana dan bersandar pada dinding pembatas gedung yang hanya setinggi pinggangnya. Tersenyum kecil menikmati gadis yang tengah bergerak lincah memberi asupan pada bunga-bunga. Menatap lekat punggung gadis yang tengah asyik dengan kegiatannya itu.
Menunggu berapa lama akhirnya gemas sendiri karena si gadis belum juga menyadari sekitar. Ethan berdehem untuk menyatakan keberadaan dirinya di sana. Tak tahan juga dianggap tidak ada. Gadis itu sontak terdiam dan celingak celinguk kiri kanan mencari sumber suara.
"Hai... lama tak ketemu," Ethan menyapa kala netra mereka bertemu. Sengaja ia menjeda kalimatnya, memberi waktu si gadis untuk balas menyapa.
"Oh.. hai Kak. Di sini juga?" Alih-alih memberi alasan, gadis itu malah memberikan kalimat tanya basa basi yang tak butuh jawaban sama sekali.
Ethan hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "Aku pikir kamu sudah tidak pernah mengunjungi tempat ini lagi sejak hari itu." Ethan melanjutkan kalimatnya merujuk pada hari dimana ia memposting siluet gadis itu di laman sosmednya yang menuai pelbagai reaksi netizen. Dan lagi-lagi, gadis itu tak menjawab, hanya tersenyum singkat lalu kembali berbalik, melanjutkan kegiatannya menyirami bunga, namun kali ini tanpa senandung.
Ethan menatap siluet gadis itu, lama, menunggu tanpa kata. Lalu berbalik, mengalihkan diri dengan melihat hiruk pikuk di bawah sana dari sisi yang lain, meredam kecewa karena tanyanya tiada terjawab.
Lama hening hingga gadis itu membuka suara. "Aku sering ke sini, cuma gak jumpa aja. Sepertinya Kakak sering mencariku di sini?" Dengan tetap asyik menyirami bunga, gadis itu berusaha melunak, memecah suasana, setelah lama keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, berharap dapat mengusir canggung yang kian terasa.
Ethan membalikkan dirinya lagi menghadap punggung ramping yang masih asyik. Ia bahagia gadis itu tidak jadi menjaga jarak.
__ADS_1
"Aku merindukanmu!" ucapnya tanpa ragu, terlontar begitu saja tanpa ia sadar, sebuah kejujuran yang berasal dari kalbu, tak bisa menunggu, atau menunda lagi.
Aline menghentikan kegiatannya, mematung sejenak, akhirnya memutuskan berbalik menghadap laki-laki yang sudah menatapnya entah sudah berapa lama. Gadis itu hanya diam, sedang mencerna atau sedang menyusun kata membalas pengakuannya barusan. Yang mana saja, Ethan tak peduli. Lelaki itu hanya ingin mengaku pada gadis berpashmina kelabu tentang rasa yang menggebu. Aline berusaha mengabaikan ungkapan hati yang tak semestinya itu. Tak mungkin karena itu lantas ia berbalik dan meninggalkan rooftop. Euuh, sangat tidak dirinya!
Dalam hatinya, Ethan sadar bahwa pernyataannya barusan sangat tidak pantas, mengingat ia adalah suami orang. Namun, dorongan untuk mengakui sangat amat kuat. Wajar bila gadis itu bingung dan memilih diam. Tergambar jelas gurat ragu di wajah cantiknya. Sedikit rasa bersalah menyelinap di hati lelaki tampan itu, namun ia hiraukan. Sesekali, ia ingin menjadi orang yang egois. Namun pikiran itu segera ia tepis. Tak tega rasanya membuat sang gadis terlarut dalam rasa yang ia sendiri tahu itu salah.
Ethan lalu berjalan ke arah bangku tua yang ia tahu merupakan tempat favorit gadis itu. Duduk di sana dan mulai menyeruput minuman yang dibawa sang gadis tanpa memintanya terlebih dahulu, berharap mendapat respon si empunya yang masih betah berdiam.
"Hei, itu minumanku, baru juga diminum seteguk, ck..." Aline berdecak tak suka tanpa aba-aba, spontan dari dalam dada, terpaksa merelakan minuman buatannya dinikmati orang lain sesukanya. Tapi mau bagaimana lagi, lelaki itu bahkan sudah terlanjur meminum tanpa rasa jijik dari gelas bekas dirinya. Mau marah pun tak ada guna. Gadis itu hanya bisa cemberut.
"Hmmm, enak." Ethan seakan tuli akan omelan dari gadis berpashmina. Ia mengangkat cangkir itu lebih tinggi sebagai penghormatan. Aline malah memberikan lirikan maut sebagai jawaban yang terlihat jenaka di mata seorang Ethan, membuatnya menyimpulkan seutas senyuman sejuta volt miliknya, bermaksud menggoda namun gadis itu malah kembali melanjutkan kegiatan yang terjeda sambil menekuk muka, sebal karena ulah mantan atasannya namun tak urung semburat merah tampak di pipi mulusnya yang putih.
"Apa aku bisa meminum ini setiap hari?" tanya pria kemudian, masih mengulum senyuman. Mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan, mencoba mengikis jarak yang tercipta.
"Aku rasa aku sudah kecanduan walau baru pertama kali meminumnya. Apa bisa aku pesan saja dari sini dan langsung diantar ke meja ku setiap paginya? Minuman ini lebih enak dari kopi yang biasa aku minum. Mumpung ada baristanya juga di gedung yang sama. Lumayan untuk menghemat pulsa dan data," candanya.
Aline mendelik, namun tak urung juga ia tersenyum. Senyuman dari hati yang mengenai matanya. Membuat si pria berbunga-bunga.
"Aku sangat sibuk belakangan ini." Hanya kalimat singkat itu yang diucapkannya kemudian, namun bisa menjawab seluruh keingintahuan Ethan. Pertanda perempuan itu sudah mau diajak berbicara perihal rasa.
"Aku kira karena sikap Aura kamu sengaja menghindariku. Aku baru tahu belakangan tentang perbuatannya. Padahal waktu lalu, ia meraung-meraung mengaku kalah darimu. Aku minta maaf atas namanya. Kamu boleh marah sama aku karena dia, tapi jangan hindari aku." Elang langsung menyambar, memohon. Tak ingin kehilangan kesempatan mumpung gadis itu sudah membuka percakapan. Ia harus berbicara kepada gadis yang masih mengisi hatinya kendati ia sudah beristri. Kekesalan Aura kepada dirinya karena ia menyimpan rasa tak semestinya pada gadis di depannya ini membuat perempuan itu bertindak diluar dugaan, Aura melempar kekesalan pada gadis yang tak bersalah ini. Jujur, Ethan sudah berusaha membuka hati, namun kesalahan Aura seakan membuat hatinya semakin tertutup.
"Atas alasan apa aku marah pada Aura? Aku mengerti perasaannya sebagai istri. Toh apa yang disampaikannya juga tidak benar. Aku sama sekali tak seperti yang dituduhkan. Jadi aku gak mau ambil pusing. Capek kalau semua omongan orang mau didengerin."
__ADS_1
"Ya, kamu benar."
"Ya, dan aku juga tak bermaksud menghindari Kakak. Bukankah aku sudah berjanji? Aku hanya terlalu sibuk. Lembur bahkan sudah menjadi rutinitasku," curhatnya.
"Hhhh... kamu benar. Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak melakukannya." Lelaki itu membuang napas gusar. Gadis ini tahu ia memiliki perasaan istimewa padanya, namun berpura-pura tak ada apa-apa. Meskipun itu atas permintaannya, namun Ethan tetap merasa tak terima cintanya bertepuk sebelah tangan kendati kondisinyalah yang tak memungkinkan.
"Apa Elang menyulitkanmu? Setahuku, Elang bukan tipe bos yang suka lembur." Ucapnya prihatin.
Jika pria ini belum menikah, mungkin Aline akan sangat bahagia mendapat perhatian kecil seperti ini. Tapi sayang, kenyataan tak seindah harapan. Alih-alih menjawab, Aline memilih menegaskan batas.
"Aku sedang tak ingin membahas apapun. Semuanya sudah sangat jelas, kuharap Kakak tahu batasan!"
Ethan termangu dengan ucapan gadis itu barusan. Hatinya bergejolak namun tak kuasa membantah.
"Bagiku, kamu selalu istimewa!" Hanya itu yang pada akhirnya mampu ia ucapkan. Ethan mulai tak kuasa mengontrol getaran rasa kecewa pada suaranya. Kecewa pada dirinya dan keadaan dirinya.
"Aku tahu, terima kasih. Kamu sudah mengatakannya berkali-kali!" Aline mencari netra yang rapuh itu, lalu tersenyum teduh, memaklumi. "Perasaanmu padaku itu tidak pada tempatnya, Kak. Perjuangkanlah rumah tanggamu. Aku tahu itu tak mudah, tapi bukan berarti tak mungkin. Maka berusahalah. Aku akan mendo'akannya," lanjutnya.
Ethan menatap netranya dalam dan lama membuat gadis itu jengah. Namun ada rasa yang tertinggal dari tatapan mereka. Aline memilih mengalihkan pandangan dari lelaki tampan di depannya. Sementara Ethan masih betah menatap gadis yang enggan memandangnya. Asyik berkutat dengan pikiran yang entah. Sayang waktu terlambat mempertemukan mereka.
Sore hari itu mereka habiskan dalam obrolan ringan seputar pekerjaan, hingga tepat pukul 16.00 alarm gadis itu berbunyi, menandakan waktu istirahat sorenya telah usai. Aline pamit meninggalkan rooftop, dan seorang Ethan yang termangu dengan cintanya. Bagai sebuah sengketa, rasa dalam dadanya benar-benar melumpuhkan jiwa. Hatinya tertawan pada si gadis berpashmina, sedangkan raganya milik Aura, istri yang dipilihkan orang tuanya.
***
__ADS_1