
Hari ini hari Jum'at. Aline merasa menjadi sekretaris seorang Erlangga benar-benar membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra. Dan entah kenapa hari ini ia merasa membutuhkan "baterai" berkali-kali lipat. Mood Pak Elang sangat mudah berubah dalam seminggu terakhir, ditambah ucapannya yang kasar menuding Aline sebagai wanita murahan berkedok muslimah hari Rabu lalu. Hatinya sakit mendengarkan, tapi ia pendam. Tak ingin abang-abangnya mengetahui hal ini dan berujung pertikaian.
Aline mulai mengira-ngira apa gerangan yang membuat Pak Elang seolah-olah membencinya. Ia mulai mengabsen dirinya pergi bersama lelaki. Seingatnya ia hanya pergi bersama ketiga abangnya. Awalnya di HUT AC, dirinya digandeng Ricky, lalu malam Minggu-nya, saat menghadiri acara makan malam hasil lelang amal HUT AC, ia datang bersama Rio sebagai pemenang lelang. Hari Minggu ia jalan bersama ketiga abangnya ke salah satu pusat perbelanjaan, dan secara tidak sengaja ia bertemu dengan Pak Elang ketika mereka sedang nongkrong di salah satu kafe selepas ashar. Senin, bang Cris menyempatkan mengantarnya ke kantor sebelum kembali ke Batam, dan lelaki itu melihatnya turun dari mobil bang Cris. Selasa, Aline dijemput Ricky yang langsung membawanya membeli oleh-oleh di salah satu gerai oleh-oleh ternama untuk ia bawa pulang ke Bali. Selanjutnya, ia diantar jemput oleh bang Rio yang baru akan pulang lusa. Lalu, dimana letak salahnya? Ia bahkan bisa dibilang tidak memiliki teman lelaki sama sekali.
Aline duduk termenung sambil menggigiti ujung pena yang sedang ia pegang. Lalu menepuk jidat sendiri ketika terngiang suara Aura yang tidak sengaja bertemu di lift waktu itu. Mungkinkah? Sejurus kemudian, gadis berpashmina itu menggeleng tanda tak setuju dengan pemikirannya sendiri. Ia beristighfar dalam hati berkali-kali. Tidak boleh shu'udzon pada saudara sendiri. Bukankah setiap muslim bersaudara?
"Lagi ngapain Lo?" Suara bariton sedingin es serasa mengguyur gadis yang sedang sibuk dengan pemikirannya.
"Ha?" tanyanya polos, pena yang tadi digigiti sudah terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai karena ia kaget.
Lelaki itu menunjukkan muka datar dan senyuman sinisnya. "Geleng-geleng seperti di club malam. Kenapa? Gak puas clubbing tadi malam?" ucapnya dengan seringai ejekan.
Wajah putih gadis itu memerah mendengar tuduhan dari bosnya. Club malam katanya. Cukup sudah seminggu ini ia bersabar. Kali ini benar-benar sudah keterlaluan. Ia tak terima disebut gadis tak benar yang doyan clubbing. Masalah ia dituduh bukan wanita baik-baik berkedok muslimah, ia masih bisa menekan dalam-dalam rasa sabarnya. Urusan amal cukuplah urusan dirinya dengan Allah. Bos menyebalkannya ini tak perlu ikut campur. Namun kali ini, kesabarannya benar-benar habis.
Aline berdiri dari duduknya. Beranjak keluar dari meja kerjanya mendekati Elang. Elang terpaku menatap gadis itu yang seperti menghampiri dirinya dalam gerakan slow motion. Perlahan namun pasti, Aline mengitari meja menuju Elang. Memegang bahu lelaki itu dengan tangan kanannya, mengulas senyum semanis madu yang membuat Elang terpukau. Lalu, secepat kilat tangan kirinya meninju tepat di perut lelaki itu, membuatnya terhuyung ke belakang dan memuntahkan sedikit makan siangnya tadi.
"Makanlah yang baik agar yang ada di pikiran Lo dan yang keluar dari mulut Lo juga yang baik-baik!" Wajah manis yang tadi dihiasi senyuman kini berubah beringas, berbeda seratus delapan puluh derajat, mengabaikan laki-laki yang tak lain adalah bosnya yang sedang meringis kesakitan memegangi jejak keganasan perempuan di depannya. Wajah merah gadis itu menunjukkan kemarahan dan kekecewaan yang teramat sangat. "Ini belum seberapa. Skali lagi mulut Lo ngomong yang enggak-enggak, gue pastiin itu bakal dijahit!" ucapnya tegas menunjuk tepat di muka Elang tanpa gentar sedikitpun. "Gue pulang!" katanya kemudian, meraih tas kerja dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Elang menatap kepergian sekretarisnya dengan perasaan yang tak dapat ia deskripsikan. Tak ada lagi bahasa formal nan lemah lembut dari bibir merah muda itu. Tak ada pula tatapan penuh hormat yang biasa ia dapatkan dari netra indah itu. Apakah ia sudah keterlaluan? Masih berpegangan pada meja dan dinding, Elang berjalan menuju ruangannya. Tertatih menahan perih di bagian perut.
__ADS_1
Sementara itu, Aline berjalan dengan kesal memasuki lift menuju lantai paling bawah. Di lobby, ia bertemu dengan Satria yang memang akhir-akhir ini kerap menghubunginya, tepatnya sejak bertemu saat acara makan malam hari Sabtu lalu di salah satu restoran hotel mewah milik keluarganya. Walau diabaikan, lelaki itu tetap semangat menghubunginya, berusaha menjalin komunikasi.
"Lin!" Lelaki jangkung itu sedikit berteriak memanggil gadis yang sedang diliputi amarah itu.
Aline menoleh ke asal suara. Lelaki itu nyengir melihatnya. Seulas senyum tipis dan anggukan diberikan gadis berpashmina apricot itu namun tak urung menghentikan langkahnya menuju pintu keluar. Satria berlari kecil ke arah gadis yang sudah menarik minatnya sejak pertemuan pertama mereka.
"Dah mau pulang?" tanyanya setelah mensejajarkan langkah mereka, melihat Aline yang sudah menenteng tasnya. Gadis itu mengangguk meng-iyakan. Diliriknya jam di pergelangan tangan kirinya. "Kamu sakit?" tanyanya perhatian, menyadari tidak biasanya gadis itu pulang sepagi ini.
Aline menatap lelaki tampan di hadapannya. Menghela napas melepas amarah lalu menggeleng menanggapi.
"Enggak, Mas. Memang udah jam pulang saya jam segini." Memang di kontrak kerja ia hanya bekerja sampai jam segini. Hanya saja, bosnya yang menyebalkan itu selalu saja mencari cara untuk membuatnya pulang selarut mungkin. Sudah seminggu ini jadwalnya ke resto berantakan. Untung saja Abah dan Bunda memaklumi, walaupun ia harus membawa pekerjaan resto yang belum kelar pulang ke rumah sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya. Mengerjakannya setelah subuh, mengorbankan waktu membuat bekal makan siang.
"Oh." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh pemuda tampan itu menyadari air muka yang tak biasa dari wanita pujaan hati.
"Wa'alaikumsalam."
Satria berbalik berjalan gontai setelah taksi yang ditumpangi Aline menjauh meninggalkan area kantor. Satria berjalan menuju lantai dimana sang kakak berkantor. Ia datang karena diminta sang ayah untuk mengantarkan beberapa berkas yang harus diserahkan kepada sang kakak siang ini juga. Tentu saja ia tidak menolak tugas ini, karena ini kesempatan untuk bertemu gadis cantik yang sudah berhasil memikat hatinya sejak pandangan pertama.
Di dalam lift, Satria kembali memutar pertemuan singkatnya dengan Aline di lobby tadi. Gadis itu terlihat tidak sedang baik-baik saja. Memikirkan Aline, ia mengeluarkan ponsel canggih mahalnya, membuka ruang chat si telpon hijau dan mulai mengetikkan beberapa kalimat di sana. Hingga lift berhenti di lantai tujuan, chat itu masih belum dibaca. Menghela napas pasrah, ia menuju ruangan sang kakak.
__ADS_1
Satria memasuki ruangan Elang setelah mendapatkan izin dari sang kakak.
"Kenapa Lo, Kak?" tanyanya melihat Elang yang seperti meringis menahan sakit.
"Gak kenapa-napa. Cuma perut gue agak sakit. Dikit," jawab Elang tanpa menutupi rasa sakitnya.
"Lo telat makan atau salah makan barangkali?" tebak Satria.
"Enggak sama sekali. Tumben Lo mampir?" Elang mengalihkan topik.
"Nih, bokap nitipin ini. Katanya musti Lo pelajari hari ini juga." Satria lantas meletakkan beberapa berkas dalam map ke atas meja Elang.
"Thanks, Bro. Kalau Lo mau minum, ambil sendiri aja di kulkas." Elang sudah membuka dan mulai membaca berkas yang dibawa Satria sambil sesekali meringis memegangi perutnya.
"Gak usah. Gue langsung cabut aja!"
"Oh, yaudah. Thanks ya."
Satria mengacungkan kedua jempolnya dan beranjak meninggalkan kantor sang kakak.
__ADS_1
Elang mendial nomor sekretarisnya setelah beberapa saat membaca dokumen yang dibawakan Satria tadi. Ada beberapa bagian yang harus direvisi dan diketik ulang. Setelah beberapa saat telepon di meja Aline tak jua dijawab. Elang mendadak kesal sendiri karena baru menyadari bahwa sekretarisnya itu sudah pergi, pulang katanya. Yang pasti kekesalannya bertambah karena saat ini ia membutuhkan sekretaris dan sekretarisnya tidak di tempat, entah sedang marah, atau merajuk. Dan semua itu karena ulahnya.
***