Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Mengakhiri dan Berdamai


__ADS_3

Minggu pagi setelah sarapan, Aline bersiap untuk pulang ke rumah kontrakannya. Om Rahman dan aunty Jessy memaksa untuk mengantarkan Aline. Sebenarnya Aline ingin langsung ke mall saja, karena jarak mall dan rumah om Rahman tidak terlalu jauh, tetapi karena om dan aunty nya memaksa, jadi ya mau gak mau Aline harus pulang dulu baru nanti ke mall lagi untuk bertemu Arya.


Sesampainya di kontrakan mungil Aline, om Rahman dan istrinya singgah untuk melihat tempat tinggal keponakan jauhnya itu. Aline menghidangkan sirup cocopandan dingin dan kue nastar yang ia buat beberapa hari yang lalu.


"Rumah kamu mungil sekali. Kamu betah tinggal di sini, Sayang?" Aunty Jessy membuka obrolan mereka pagi itu.


"Betah banget, Aunty. Walaupun mini, rumah ini mampu memberikan kenyamanan dan ketenangan buat aku."


"I see. Aunty lihat lingkungannya pun juga aman. Tapi, coba kamu pikirkan sekali lagi tawaran Om dan Aunty. Rumah kami sangat besar, sepi rasanya hanya ditinggali berdua. Aunty akan senang sekali jika kamu mau tinggal bersama kami lagi," bujuknya agar Aline mau tinggal bersama mereka.


Aunty Jessy memang sangat menyayangi Aline karena ia menginginkan anak perempuan. Ketiga anaknya berjenis kelamin laki-laki semua. Sewaktu melahirkan anak bungsunya, Bryan, persalinannya mengalami masalah, maka rahimnya mau tak mau diangkat dan Bryan tidak bisa memiliki adik. Sewaktu Aline tinggal bersama mereka di Sydney dulu, Jessy sangat memanjakan Aline. Ia benar-benar menyayangi gadis itu. Bahkan saat suaminya mengizinkan Aline untuk pindah ke apartemen yang dekat dengan kampusnya, ia mendiamkan suaminya itu selama berhari-hari. Sebegitu sayangnya Jessy pada Aline.


"Sudahlah, Sayang. Rosaline sudah mengambil keputusan. Hargalah sedikit. Lagipula, jika kamu kangen, kamu tinggal datang ke sini atau menemuinya di kantor," lerai Rahman mencoba menghentikan drama istrinya, membuat Jessy semakin cemberut.


Aline mengambil dan menggenggam tangan aunty nya itu. "Aunty, aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik seperti Aunty, Om, Abah, Bunda. Biarkan aku berproses menjadi pribadi yang tangguh, Aunty. Cukup dampingi dan arahkan aku. Apa yang aku jalani sekarang, itu semua merupakan proses yang harus aku jalani. Kehidupan mewah memang dengan mudah mampu memberikan segalanya untukku, tapi kehidupan sederhana ini mampu memberikan kedewasaan dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Aku bahagia lahir bathin, Aunty, sungguh. Jadi, Aunty gak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja."


"Tapi, Darling, kamu itu gak pernah hidup susah. Aunty gak tega lihat kamu kerja siang malam seperti ini."


"No, Aunty. Aunty salah. Memang saat di Sydney hidupku dibiayai penuh oleh papi karena selama empat tahun itu aku hanya kuliah dan kuliah, siang dan malam. Tapi saat aku menyelesaikan magister teknik ku di Berlin, aku kuliah sambil bekerja di sebuah cafe milik temanku, dan aku membiayai hidupku sendiri, walaupun papi, bang Cris dan bang Rio selalu mengirimiku, tapi aku sudah tidak pernah menggunakan uang mereka lagi sampai saat ini. Jadi, jika Aunty pikir aku tidak biasa mengerjakan pekerjaan seperti ini, Aunty salah. Percaya sama aku," terang Aline mencoba menenangkan aunty Jessy.


Aunty Jessy yang mendapat penjelasan panjang lebar hanya mengangguk tanda ia mengerti. "Tapi, kamu harus janji sama Aunty. Setiap Sabtu atau Minggu dimana kamu libur bekerja, kamu akan hubungi Aunty. Kita bisa menghabiskan waktu berdua."


"Honey, jika libur sebaiknya Rosaline istirahat. Sesekali tidak apa jika kalian pergi bersama." Rahman geleng-geleng kepala dengan ide istrinya.


Jessy yang mendapat teguran seperti itu hanya tersenyum masam. Ingin membantah takut dosa.


Akhirnya, om Rahman dan aunty Jessy pamit pulang. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih. Segera Aline memesan ojek online langganannya untuk mengantarkannya ke Cafe Green.


Di Cafe Green


Arya sudah duduk manis di pojok cafe, menikmati secangkir americano favoritnya sembari mengecek sosmed miliknya. Ia sengaja datang lebih awal begitu semangatnya bertemu Aline sampai-sampai ia tak bisa tidur semalaman.


Aline memasuki cafe yang masih sedikit sepi. Ia melihat keberadaan Arya di pojok kanan cafe yang mengarah ke area permainan anak. Segera ia langkahkan kakinya ke meja untuk dua orang itu.


"Assalamu'alaikum, maaf aku sedikit telat," ucapnya merasa tidak enak karena terlambat tujuh menit dari waktu yang ia janjikan.


"Wa'alaikumsalam, gak papa. Nungguin kamu bertahun aja aku sanggup, apalagi cuma hitungan menit," seloroh Arya. Sementara Aline, ia merasa semakin tidak enak, hidungnya bahkan sudah memerah menahan malu. Aline adalah tipe orang yang sangat menghargai waktu. On time adalah ciri khasnya. Namun karena tadi om dan aunty berkunjung ke rumahnya, rencananya jadi sedikit meleset.


Arya memanggil waitress untuk memesan.


"Ada tambahan, Mas, Mbak?" tanyanya ramah.


"Pesan flat white nya aja satu, Mbak!" jawab Aline setelah membaca buku menu.


"Minum aja? Kamu udah sarapan?"


Aline mengangguk "Udah tadi di rumah."


"Kalau gitu, saya pesan flat white nya 1, easy potato Snack nya 1, chicken crispy nya 1, salad buah 1, sama air mineral dinginnya 2 ya, Mbak."


Setelah mengulang pesanan Arya, waitress itu meninggalkan meja mereka.


"Kamu pesan sebanyak itu, memangnya belum sarapan?" tanya Aline mencoba memecah keheningan di antara mereka. Bukannya ia ingin memberikan perhatian lagi pada lelaki di depannya ini. Walau bagaimanapun, mereka pernah bersama, pernah memiliki rasa yang sama, sedikit berbasa basi tidak ada salahnya.


Arya mengangkat bahunya. "Semua menu itu yang kita pesan waktu pertama kali jadian," jawabnya mengenang masa lalu. Sementara Aline, ia hanya diam tak memberi respon apapun.


"Jangan dikenang lagi. Itu semua sudah berlalu."


Arya yang mendapat jawaban kalimat itu menatap lekat Aline.


"Apa tidak ada lagi harapan untuk kita kembali bersama?" Entah mengapa justru kalimat itu yang terucap dari bibirnya, sangat jauh dari apa yang telah disusunnya tadi malam.


Aline menghela napas lalu menghembuskannya perlahan.


"Kamu sudah tahu jawabannya. Sesuatu yang pecah walau disatukan lagi tetap akan menimbulkan bekas."


Sementara waitress datang mengantar pesanan mereka. Aline segera menyesap flat white kesukaannya. Arya terkekeh melihat tingkah Aline.


"Kamu masih saja gak tahan lihat minuman ini."

__ADS_1


Aline hanya mengedikkan bahunya. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian karena bahasan mereka sudah mulai cukup berat.


"Ini, saladnya dimakan sambil dengerin cerita aku." Arya menyodorkan salad buah, lalu ia sendiri mengambil chicken crispy.


"Aku tau aku salah." Arya memulai ceritanya lalu menerawang ke masa lampau. "Waktu itu, aku bermaksud untuk bilang ke kamu kalau aku harus segera pulang, mama masuk ICU karena serangan stroke. Aku udah pesan tiket. Aku ketemu Nadia waktu nungguin kamu. Seperti yang dikatakannya, dia mantan pacar aku. Aku sama dia menjalin hubungan dari SMA hingga aku kuliah semester tiga. Kami putus karena aku gak bisa LDR. Aku kuliah di Sydney, sementara dia di Malang," Arya berhenti sesaat, ia ingin melihat reaksi Aline. Namun gadis itu tak menunjukkan respon yang berlebihan seperti yang diharapakan Arya membuatnya sadar bahwa harapannya sangatlah tipis. "Lalu tak sengaja ketemu di lobby apart kamu. Kami ngobrol cukup lama karena aku masih nungguin kamu dan dia nunggu dijemput temannya ..."


"Lalu, ciuman itu?" potong Aline.


"Jujur, aku juga gak tahu kenapa aku biarin dia ngelakuin itu. Saat kesadaranku kembali, aku benar-benar merasa sangat bersalah sama kamu," jawabnya jujur. "Aku benar-benar menyesal, Sayang." Arya mencoba meraih tangan Aline, tapi gadis itu terlebih dahulu menarik tangannya.


"Jangan seperti ini!" pinta Aline lembut.


Arya menatap dalam gadis di depannya. Sementara yang di tatap hanya diam.


Arya lalu melanjutkan ceritanya. "Mama koma, hampir dua bulan dan harus menjalani banyak terapi. Begitu kondisi mama stabil, aku balik ke Sydney cariin kamu, tapi waktu itu kata teman-teman kamu, kamu udah lulus dan balik ke Indonesia."


"Kamu ninggalin aku berbulan-bulan tanpa kabar, ya wajar aja aku udah lulus," celetuk Aline mencoba mncairkan suasana canggung yang tercipta.


"Itu karena kamu blokir nomor aku, kalau-kalau kamu lupa," jawab Arya, geram sendiri dengan gadis di depannya ini. Padahal setiap hari selama di Jakarta, ia selalu mengirimi pesan kepada gadis itu, tapi pesan-pesannya hanya dibaca, tanpa pernah dibalas. Sebulan setelah itu, pesannya sudah tak terkirim lagi karena gadis itu memblokir nomornya.


"Sekarang, gimana kondisi mama kamu?"


"Alhamdulillah kondisi mama membaik walaupun harus menjalani terapi hampir setahun lamanya. Balik dari nyariin kamu, mama minta aku kerja dan menetap di Jakarta sampai sekarang."


"Lalu?" tanya Aline setelah keduanya terdiam cukup lama.


"Lalu, aku tersadar bahwa harapanku tak kan terkabul." Ada gurat kesedihan yang nyata di wajah tampan itu saat mengucapkan kalimat yang sungguh tak ada dalam daftar kalimat yang telah disusunnya tadi malam. Lalu hening menghampiri mereka.


"Aku sungguh mencintai kamu, Rosaline!" ujarnya terdengar putus asa, namun tatapan mata lelaki itu menyiratkan ketegaran.


"Maafkan aku!" ucap Aline berkaca-kaca. Bagaimanpun, Aline merasa beruntung dicintai begitu dalam oleh pria tampan di hadapannya ini. Namun, rasa itu sudah terkikis oleh kejadian malam itu.


Arya hanya mengangguk, pasrah. "Setidaknya, aku udah jelasin ke kamu semuanya."


"Maafkan aku. Rasa itu ... rasa itu terkikis oleh bayangan kejadian malam itu. Hatiku tak bisa menerimanya. Maaf. Kamu berhak bahagia dengan wanita yang memiliki rasa yang sama."


"Tapi itu bukan kamu?"


Sementara Arya tersenyum getir mendengar jawaban Aline. "Jadi?" tanyanya kemudian.


"Jadi?" tanya balik Aline dengan raut bingung.


"Jadi, kita putus?"


"Itu udah lima tahun yang lalu" ucap Aline geli. Arya pun ikut tersenyum.


"Kamu tambah cantik mengenakan hijab," ucapnya mengalihkan topik.


Aline tersipu mendengar pujian Arya. "Ceritanya panjang. Kapan-kapan deh aku ceritain".


"Aku punya waktu seharian buat dengerin cerita kamu," godanya.


"Sayangnya, aku harus bekerja hari ini," elak Aline.


"Hari Minggu kerja? Apa pak Rahman menghukum kamu lembur karena kejadian Jum'at kemarin?"


"Bukan itu. Pak Rahman gak kasih hukuman. Dia cuma pindahin aku ke keuangan mulai besok."


"Baguslah, biar kamu gak dekat-dekat dengan si Ethan itu."


"Apaan sih?"


"Dia itu sudah punya istri, Lin."


"Aku tahu. Kedekatan kami gak seperti yang kamu pikirkan. Udah ah, jangan dibahas."


"Aku gak rela kalau kamu sama dia!"


"Udah ya. Jangan di-ba-has!"

__ADS_1


"Oke oke."


"Sekarang pilih", ucap Aline. "Kamu mau aku panggil Mas Arya atau Kak Arya?"


"Aku pilih dipanggil 'sayang' sama kamu."


"Aku serius!"


"Aku juga serius".


"Ya udah. Kalau gitu aku balik," lalu berdiri dari duduknya.


"Iya iya. Sorry. Gitu aja ngambek. Aku gak biasa dipanggil gitu sama kamu."


"Gak usah ngarang, dulu waktu belum jadian, kamu asyik-asyik aja aku panggil Kak Arya. Ya udah deh. Aku panggil Kak Arya aja."


"Terserah kamu aja."


....


"Lin ..." panggilnya dengan nada serius setelah hening sekian lama. Aline menatap lelaki di depannya.


"Janji jangan berubah ya. Jangan menghindar dari aku."


Aline mengangguk, mengucapkan janjinya walau tanpa kata.


"Janji sama aku, kalau kamu akan move on," Aline meminta janji yang sama.


"Aku janji. Tapi gak dalam waktu dekat. Aku perlu menata hati pasca ditinggal kamu."


Aline mengangguk mengerti. "Seharusnya itu udah kamu lakuin sejak lima atau empat tahun yang lalu," jawab Aline sekenanya.


"Memangnya kamu sudah move on dari aku?" tanya balik Aline.


"Sudah, namanya Mario. Orang Meksiko. Kami berpisah dua tahun lalu, karena berbeda agama dan budaya," cerita Aline membuat wajah Arya muram.


"Sudahlah, jangan cemburu gitu. Hubungan kami sudah berakhir. Tapi intinya, aku berhasil move on dari kamu, Kak, walau aku akui sangat sulit untuk memulai suatu hubungan yang baru."


"Ya. Akan sangat sulit untukku."


....


" Kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu butuh. Aku selalu ada untuk kamu," ucap Arya kemudian.


"Udah ah. Kok jadi melow gini. Kamu gak seperti Arya yang biasanya."


"Emangnya gimana Arya yang biasanya?"


"Udah deh, Kak. Jangan godain aku terus!"


"Hehehehehe," Arya nyengir kuda.


"Ya udah, aku balik ya. Makasih buat traktirannya."


"Aku antar."


"Gak usah."


"Gak nerima penolakan."


"Ya udah, dengan satu syarat."


"Kebanyakan syarat."


"Mau gak nih?"


"Iya... iya."


"Move on ya!"

__ADS_1


"Ya udah. Ayo." Jika boleh memilih, Arya tak ingin melupakan gadis ini. Hatinya sudah terlanjur ia serahkan pada gadis yang saat ini sedang berjalan di sisinya. Seandainya saja ia tak membuat kesalahan fatal malam itu, mungkin saat ini gadis cantik di sebelahnya ini sudah menyandang status Nyonya Aryaka Revanno. Tapi sayang, takdir berkata lain.


Dan ia sudah memutuskan mulai saat ini akan berdamai dengan takdir namun akan tetap menitipkan nama gadis ini di setiap do'anya.


__ADS_2