Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Arya VS Ethan = Rendi


__ADS_3

Keesokan harinya, Erlangga bertandang ke ruangan pak Rahman. Tentu saja Manajer HRD nya itu sedikit kaget kedatangan bos besar di ruangannya.


"Silakan duduk, Pak Erlangga. Mau minum teh atau kopi?" tawarnya.


"Gak usah, terima kasih Pak Rahman. Saya gak lama," tolaknya.


"Oke. Jadi, ada gerangan apa yang membawa Bapak ke ruangan saya?" tanya pak Rahman.


"Melanjutkan apa yang sudah kita bicarakan kemarin, saya pikir sebaiknya Aline ditempatkan di bagian keuangan saja. Saya sudah membicarakan ini dengan Pak Rendi, dan beliau setuju. Pak Rendi akan sangat sibuk dalam dua tiga bulan ini, karena beliau saya tunjuk menjadi Ketua Pelaksana HUT perak Atmaja Corp. Saya harap kehadiran Aline bisa sedikit membantu beliau di sana."


Pak Rahman yang dimintai begitu hanya manggut-manggut. "Baik, Pak Erlangga. Saya akan bicarakan ini dengan pak Adit dan pak Ethan."


"Kalau bisa secepatnya, Pak Rahman! Mungkin dalam minggu depan?" tawar Erlangga.


"Akan saya usahakan, Pak!"


"Bagus kalau begitu. Mengenai penambahan tenaga di beberapa divisi seperti yang Bapak minta kemarin, saya rasa kita perlu membahas ini lebih lanjut dengan Pak Rendi. Mungkin dalam dua minggu ke depan setelah saya kembali dari Lombok. Saya perlu mempelajari terlebih dahulu laporan Anda. Nanti sekretaris saya akan menghubungi Anda untuk jadwalnya."


"Baik Pak."


"Baiklah. Itu saja. Kalau begitu saya permisi. Selamat siang."


"Selamat siang."


Sepeninggal Erlangga, pak Rahman terduduk diam di kursinya. Pasalnya, ia tahu bahwa bos nya itu sedang menaruh curiga pada Aline yang mampu beradaptasi dengan baik di setiap divisi yang disinggahinya, hanya saja tidak terucapkan. Tapi sebagai orang yang telah lama makan asam garam, pak Rahman bisa membaca kecurigaan Erlangga. Tentu saja Aline bisa beradaptasi dengan baik. Keponakan jauhnya itu memang pernah mengenyam pendidikan di ekonomi maupun hukum, di luar negeri. Bila ia dipindahkan ke subdivisi proyek pun, Pak Rahman yakin bahwa Aline akan mampu bekerja dengan sangat baik, karena ia juga seorang lulusan arsitek. Hanya saja, ia tak mampu menyampaikan itu semua. Permasalahan Aline dengan keluarganya menghalangi pak Rahman membeberkan identitas gadis itu. Saat ini, pilihan terbaik adalah dengan menuruti permintaan CEO-nya itu. Biarlah waktu yang akan mengungkap semua. Sekarang tugasnya adalah mencari cara untuk memindahkan Aline ke Bagian Keuangan tanpa menimbulkan spekulasi dari stafnya dalam waktu satu minggu ini seperti permintaan sang atasan.


Sementara itu, Aline yang saat ini sedang bersiap-siap untuk pulang dimintai tolong oleh Manda, rekan sesama di Subdiv Legal.


"Lin, tolong antarin ini ke ruangan pak Ethan ya! Mbak kebelet pipis. Tolong ya, Lin, dah ditungguin bos tuh!" katanya tak sabaran sambil menyerahkan sebuah map berisi dokumen untuk project terbaru Atmaja Corp lalu berlari ke arah toilet.


Aline geleng-geleng kepala geli hati sendiri melihat tingkah mbak Manda yang langsung kabur ke toilet. "Pipis kok ditahan sih, Mbak Mandaa ... Mbak Mandaa ..." ucapnya sambil berjalan menuju ruangan atasannya itu.


Aline mengetuk pintu ruangan Ethan dan masuk setelah dipersilakan oleh sang empunya ruangan.


"Taruh aja di meja, Man!" ucapnya tanpa melihat siapa yang menyerahkan map itu.


"Baik, Pak," jawab Aline.


Seketika Ethan mengangkat kepalanya menatap gadis pashmina itu. Perasaannya tadi dia meminta Manda yang membawakan map itu, kenapa sekarang menjadi Aline?


Aline yang melihat kebingungan di raut tampan di depannya hanya nyengir kuda. "Mbak Manda ke toilet jadi minta tolong saya. Sekalian saja mau pamit," jelas Aline.


"Ooh, ya udah. Taruh di meja aja Lin. Kerjaan Kakak nanggung nih. By the way, thanks ya." Ethan dalam mode non-formalnya. Sejak pertemuan dan makan malam bersama yang tidak disengaja di Resto Abah waktu itu, Aline dan Ethan menjadi semakin dekat, dan mereka sudah sepakat untuk tidak berbicara formal bila tidak ada orang lain bersama mereka.


"Iya, Kak. No problem. Aku pamit ya. Assalamu'alaikum."


Aline lalu berjalan menuju pintu tanpa menunggu jawaban salam dari Ethan.


"Wa'alaikumsalam. Lin!" panggil Ethan.


"Ya?" Aline berbalik menghadap bosnya itu.


"Tungguin bentar bisa? Temenin Kakak makan di Resto Abah, nanti aku antar pulang skalian."


Aline terlihat menimbang-nimbang permintaan Ethan. "Bentar doang ini. Nanggung dikit lagi. Mau ya!"


"Iii ... iya udah deh. Tapi aku tunggu di lobby aja ya."


"Gak usah. Kamu tunggu di mobil aja. Nih kuncinya." Aline mengambil kunci dari tangan Ethan lalu berlalu menuju basemen dimana mobil Ethan diparkir.


Dari lobby, Aline berjalan menuju basemen. Arya yang kebetulan sedang berada di lobby mengikuti Aline yang berjalan sendirian dan ia pun tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Arya menghadang langkah Aline saat gadis itu sedang mencari di mana posisi mobil Ethan.


"Rosaline!"


Aline terdiam di tempat, antara kaget dan takut ada orang yang mendengar lelaki itu memanggil nama aslinya. "Mau apa lagi sih?" Aline berbalik dengan jengkel.

__ADS_1


"Aku gak akan berhenti sampai kamu kasih aku kesempatan buat bicara!"


"Udah berapa kali saya bilang. Udah gak ada yang perlu dibicarakaaan! Kamu ngerti nggak sih?!"


"No. Terlalu banyak yang harus kita bicarakan, Sayang. Please, kasih aku kesempatan buat jelasin semua!"


Aline berbalik badan, berjalan menghiraukan ucapan Arya. Sebenarnya Aline sedang mempertimbangkan permintaan mantan pacarnya itu yang menurutnya patut untuk dipertimbangkan. Namun sebelum ia sempat menjawab, Arya yang sudah mulai habis kesabaran terlanjur mencekal tangannya dengan kuat membuat langkah Aline terhenti dengan paksa.


"Aline!!!" Ethan berlari ke arah Aline melihat Arya, rekan kerjanya, mencekal paksa tangan gadis yang dimintanya untuk menunggu di mobilnya tadi.


Ethan mendekat ke arah sepasang manusia itu. Namun pegangan tangan Arya tak melonggar sedikitpun dari tangan Aline membuat Aline sedikit meronta. Sementara Ethan yang menyaksikannya langsung tak terima.


"Lepasin tangan Aline!" ucap Ethan tajam.


"Gua gak ada urusan sama lo, Than!"


"Akan selalu ada kalau itu menyangkut Aline!" jawab Ethan tak kalah emosi, membuat Arya semakin terbakar cemburu. Arya lalu menyeret Aline menuju mobilnya, sementara gadis itu masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman kuat Arya. Pergerakannya sangat terbatas karena hari ini ia menggunakan rok span panjang, bila tidak, mungkin ia sudah menghajar mantan pacarnya itu.


Ethan mengejar Arya dan berusaha melerai cengkraman Arya. "Lo yang sopan dikit sama cewek, Ar!" Ethan mendorong Arya.


"Minggir, Than! Gua gak punya urusan sama lo!"


"Udah gue bilang akan selalu ada kalo itu menyangkut Aline. Gue yang minta dia nunggu di mobil gue!" tantang Ethan.


Arya sudah tak mampu lagi menahan cemburunya. Arya melepaskan Aline dan seketika meninju Ethan, Ethan yang tidak siap terkena pukulan Arya jatuh terjerembab ke lantai basemen yang dingin. Dan perkelahian pun tak terelakkan. Sementara Aline berusaha melerai dua lelaki itu namun tentu saja tak semudah itu. Rok yang ia kenakan benar-benar membuatnya tak leluasa. Keduanya terus saja melayangkan pukulan sampai dua orang security ditambah dua orang karyawan lelaki lain memisahkan mereka.


Dan di sinilah mereka bertiga berada, di ruangan pak Rahman, seperti sedang berada di ruangan sidang. Security dan karyawan lelaki tadi sudah kembali ke posisi mereka masing-masing.


"Ada apa ini!!!" gelegar suara pak Rahman bertanya pada Ethan dan Arya yang masih saling melempar tatapan tajam.


Baik Arya, Ethan maupun Aline tidak ada yang bersuara. Aline bahkan hanya menunduk antara takut dan malu.


"Aline?" Kali ini Pak Rahman bertanya pada Aline dengan suara yang menuntut jawaban namun tidak sekeras tadi.


Aline mengangkat kepalanya, lalu mau tak mau ia menjawab, "Masalah pribadi, Pak!"


"Jelaskan!" titahnya tak terbantahkan.


Aline menghirup udara sebanyak yang ia mampu, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menyusun kalimat yang tidak memberatkan kedua lelaki di depannya ini. Jika saja ia memberi pengertian pada Arya untuk memberinya waktu, mungkin semua ini tak perlu terjadi. Bagaimanapun, Aline merasa ialah pihak yang paling bersalah di sini, dan ia akan bertanggung jawab. Ia tak ingin kejadian ini berdampak pada karir kedua lelaki di depannya ini.


"Biar saya yang menjelaskan, Pak!" suara Arya dan Ethan serentak menyela.


"Kesempatan kalian berdua sudah lewat. Sekarang saya bertanya pada Aline! Aline?"


"Iya, Pak. Tadi ketika saya berjalan di basemen, Pak Arya memanggil saya. Tapi saya tidak menghiraukan membuat Pak Arya berlari dan menghentikan langkah saya."


"Kenapa kamu berada di basemen? Apa kamu membawa mobil? Setahu saya kamu tidak memiliki identitas baik KTP maupun SIM?" tanyanya menuntut jawaban.


Aline terdiam beberapa saat. "Itu karena saya meminta Aline untuk menunggu saya di mobil saya, Pak," Ethan yang menjawab. Pak Rahman mengangguk tanda mulai mengerti. "Baik, Pak Ethan, terima kasih atas jawabannya. Sekarang, biarkan Aline menyelesaikan ceritanya."


"Baik, Pak," jawab Ethan pasrah.


"Kenapa Pak Arya memanggil kamu, Aline?" tanya pak Rahman kemudian sambil menatap Arya. Saat Arya hendak membuka mulut, pak Rahman menghentikan niatnya, "Saya meminta Aline yang menjawab, bukan Anda, Pak Arya!" Membuat Arya kembali bungkam.


"Itu karena ... karena ..." Aline tergagap.


"Karena apa, Lin?"


"Itu karena ada urusan antara saya dan Pak Arya di masa lalu yang menurut Pak Arya belum selesai," jawab Aline jujur. "Tetapi saya tak menggubris saat beliau meminta waktu untuk menjelaskan semuanya sehingga membuat beliau kesal dan mencekal tangan saya. Pak Ethan yang melihat meminta Pak Arya melepaskan cekalannya, tapi Pak Arya tidak mau sehingga terjadi perkelahian itu," Aline mengakhiri ceritanya.


Pak Rahman yang mendengarkan terdiam beberapa saat. Ia berpikir bahwa mungkin inilah kesempatan yang baik untuk melaksanakan perintah CEO-nya.


Ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya, mengangkat gagang telepon lalu menghubungi sekretaris pak Aditya dan meminta agar lelaki yang merupakan atasan dari ketiga anak muda yang berada di ruangannya ini untuk segera ke ruangannya.


Tak berapa lama, Aditya sudah berada di ruangan Manajer HRD yang merangkap PLT Direktur SDM dan IT itu.

__ADS_1


"Silakan duduk, Pak Adit!" ucapnya mempersilakan rekan kerjanya itu.


"Terima kasih, Pak Rahman," ucapnya yang kebingungan karena ia tidak sendiri di ruangan itu, ada dua orang Kepala Subdivisi dan seorang staf nya yang juga berada di ruangan pak Rahman. Seketika perasaan pak Adit menjadi tidak enak.


"Maafkan saya mengganggu waktu Anda, Pak Adit. Tetapi seperti yang Anda lihat, ada tiga staf anda di ruangan ini. Pak Arya dan Pak Ethan telah melakukan perkelahian yang secara sengaja atau tidak disebabkan oleh Aline. Oleh karena itu, saya akan memberikan sanksi kepada ketiga staf Anda ini."


Pak Adit diam mendengarkan kelanjutan sanksi yang dimaksud pak Rahman.


"Saya memberikan peringatan lisan kepada Pak Arya dan Pak Ethan atas kesalahannya hari ini. Saya anggap kejadian ini tidak memberikan dampak buruk pada perusahaan, akan tetapi saya berharap Anda dapat membina kedua Kepala Subdivisi Anda ini agar kejadian hari ini tidak menurunkan kinerja mereka dan kerjasama tim di kemudian hari." Pak Rahman menatap ketiga lelaki lain di ruangannya secara bergantian. Sementara Arya dan Ethan hanya bisa menerima. Berbeda dengan pak Adit, beliau tampak tenang menanggapi hal ini, "Baik, Pak Rahman. Lalu bagaimana dengan Aline?" tanyanya kemudian sambil menatap Aline yang juga menatapnya.


Pak Rahman tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan. "Aline akan saya tarik dari divisi Anda dan saya pindahkan ke bagian lain. Sepertinya Keuangan akan membutuhkan tenaga karena setahu saya, Pak Rendi ditunjuk sebagai ketua pelaksana acara HUT Perak perusahaan. Beliau pasti akan sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Saya harap kehadiran Aline bisa membantu beliau di sana."


"Pak Rahman, sebenarnya, divisi saya juga sangat membutuhkan tambahan tenaga. Dan terlepas dari masalah ini, kehadiran Aline tentu sangat membantu karena sudah menunjukkan kinerja yang sangat baik selama ini. Akan tetapi, jika menurut Anda ini adalah keputusan terbaik, saya ikut saja."


"Baik, Pak Adit. Terima kasih untuk kerjasamanya. Aline sengaja saya tarik karena saya tidak ingin tim anda terpecah nantinya karena permasalahan pribadi. Mengenai tambahan tenaga, saya ada sedikit kabar gembira untuk Anda. Insya Allah saya dan pak Erlangga akan membahas masalah ini, nanti setelah beliau kembali dari perjalanan dinasnya. Jadi saya harap, Anda bisa bersabar dan bertahan dengan jumlah tenaga yang ada untuk sementara waktu ini!".


"Baik, Pak Rahman. Terima kasih."


"Pak Arya, Pak Ethan, saya harap kalian berdua mempertahankan profesionalitas dalam bekerja. Jangan sampai masalah ini mengurangi performa dan kinerja kalian ke depannya yang dapat merugikan perusahaan. Dan saya harap, kejadian hari ini tidak terulang lagi!"


"Baik, Pak."


"Baik, Pak."


"Pak Arya, Pak Ethan, kalian boleh ikut Pak Adit kembali ke ruangan. Terima kasih untuk kerjasamanya. Dan Aline, kamu tetap di sini. Saya akan membicarakan hal ini dengan Pak Rendi. Bila beliau berkenan, mulai Senin kamu sudah berada di bawah kepemimpinan beliau."


Pak Adit berdiri diikuti Arya dan Ethan. Pak Adit mempersilakan kedua lelaki muda itu duluan meninggalkan ruangan pak Rahman dan menunggunya di ruangannya. Sementara ia sendiri menghampiri Aline. Beliau mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang baik dan meminta maaf atas kesalahan yang disengaja/tidak. Setelah itu meninggalkan ruangan pak Rahman.


Setelah kepergian pak Adit, Arya dan Ethan dari ruangannya, pak Rahman kembali duduk di sofa, berhadapan dengan Aline. Kali ini raut wajahnya sudah melunak. Tak ada lagi raut tegas. Yang tersisa adalah raut penuh kasih sayang, yang pertanda pak Rahman sedang dalam mode sebagai oomnya Aline.


"Rosaline, sekarang jawab pertanyaan Om. Ada urusan apa antara kamu dan Arya?"


"Aku dan Arya pernah menjalin hubungan, kami pacaran, Om. Di tahun-tahun terakhir aku di Sydney," jawab Aline jujur. Sebenarnya ia agak risih membicarakan hal ini dengan sepupu jauh maminya itu, tapi mau bagaimana lagi.


"Om tebak, pasti hubungan kalian tidak berakhir dengan baik-baik."


Aline mengangguk meng-iyakan.


"Kalau Om boleh saran, anggaplah Om sebagai pengganti orang tua kamu. Om gak akan ikut campur urusan pribadi kamu. Bagi Om kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Tetapi sebagai orang tua yang juga seorang lelaki, Om hanya ingin menyarankan sebaiknya kamu memberi kesempatan pada Arya untuk menjelaskan apapun yang ingin dia jelaskan. Dengarkan dia, baru putuskan apa yang menurut kamu yang terbaik untuk KALIAN BERDUA," terangnya menekankan kata 'kalian berdua'. "Selama kamu menghindar, Arya akan tetap mencari kamu setiap kali ada kesempatan."


"Iya, Om. Tadinya aku sempat berpikiran begitu juga. Tapi sudah keburu terjadi kejadian tadi."


"Kalau begitu, carilah waktu yang tepat, hubungi Arya dan selesaikan masalah kalian!"


"Iya, Om. Nanti aku cari waktu yang tepat."


"MengenaiEthan, jauhi dia! Saat ini Ethan sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Pernikahan dia dan istrinya dikarenakan perjodohan setahun yang lalu, yang hingga saat ini memang tidak pernah berjalan baik. Ayah mertua Ethan adalah sepupu aunty kamu dan ayah Ethan adalah teman Om. Jadi Om tahu betul kondisi rumah tangga mereka saat ini. Bagaimanapun, yang namanya perceraian, orang akan tetap menyangkut pautkan apapun untuk tidak membenarkan tindakan itu, dan Om tidak mau kamu dituduh sebagai orang ketiga yang merusak rumah tangga Ethan dan istrinya. Kamu paham apa yang Om maksud?"


"Paham, Om."


"Oke. Sekarang sebaiknya kamu pulang. Tolong kamu buatkan janji makan siang dengan orang tua angkat kamu besok, di restonya saja, bila ada di private room nya. Om dan aunty kamu pingin beramah tamah dengan mereka."


"Tapi, Om ...."


"Gak ada tapi tapian, Rosaline! Selama kamu tidak berbaikan dengan papi kamu, maka Om dan aunty Jessy yang akan menggantikan mereka. Kami hanya ingin beramah tamah dan berterima kasih karena telah menjaga kamu, itu saja!"


"Tapi Abah dan Bunda gak tau siapa aku, Om. Mereka taunya aku bernama Aline dan diusir dari rumah karena menolak dijodohkan. Dan ...."


"Sudahlah, aturkan saja! Atau Om akan menelpon kedua abang kamu sekarang juga agar mereka menjemput kamu."


"Om ngancam aku?"


"Iya!"


"Om memang nyebelin. Aku pulang. Jangan lupa besok makan siang di resto. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Pak Rahman tertawa di ruangannya karena berhasil membuat kesal keponakannya yang sangat disayangi oleh istrinya itu. Bagaimanapun, walau diterpa badai sekuat apapun, seorang princess yang tadinya sangat manja takkan mampu menghilangkan sifat manjanya itu dalam sekejap mata. Walaupun ia berusaha sekuat apapun, tak akan menghilangkan sifat manjanya itu!


__ADS_2