Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Menolong Bu Suci


__ADS_3

Sudah hampir enam bulan Aline berada di Jakarta, dan sudah lima bulan ia menjalani double job di restoran Abah dan Bunda, dan di rumah keluarga Pak Raffi dan Bu Suci.


Kehidupan di Jakarta tanpa kartu identitas maupun ijazah membuatnya mau tak mau harus rela menjadi pegawai rendahan. Tapi, Aline sudah ikhlas dan sangat menikmati hidupnya sekarang, ia bahkan sangat bersyukur masih dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau menerima dia apa adanya. Itu saja sudah merupakan nikmat tak terhingga baginya.


Tabungan Aline sudah semakin banyak. Ia akan mengirim uang pada si mbok untuk mengganti uang yang dipinjamnya dulu. Gaji yang diberikan oleh Abah dan Bu Suci terbilang cukup besar untuk ukuran karyawan rendahan seperti dia. Bahkan, Bu Suci seringkali memberikan bonus karena hasil kerja Aline yang katanya begitu rapi dan cepat, ditambah Aline yang rajin. Memang, ia bukanlah tipe karyawan yang hanya datang, bekerja lalu pulang. Walaupun Aline hanya bekerja dua kali seminggu untuk menyetrika saja, namun ia tak segan-segan membantu Bu Suci entah itu membantu Bibi membersihkan rumah atau membantu Bu Suci memasak atau keperluan lainnya bila pekerjaannya telah selesai namun waktu yang dimilikinya masih banyak sebelum ia ke resto Abah untuk bekerja.


Seperti hari ini, Bu Suci meminta Aline untuk membantunya mengantarkan sesuatu ke rumah seorang kenalannya, Bu Luna.


"Bu, saya pamit pulang dulu."


"Eh, kamu udah mau pulang aja?"


"Iya, Bu. Semua udah selesai, udah disusun di ruang laundry."


Bu Suci melihat jam tangannya. "Terimakasih ya Lin. Kamu memang the best lah. Rapi, wangi, express lagi. Ngalah-ngalahin laundry terkenal, hehehhe ...." Bu Suci terkekeh sendiri dengan leluconnya.


"Ah, ibu bisa aja!"


"Beneran lho, Lin. Bapak sama Rendi paling seneng sama hasil setrikaan kamu. Rapi banget dan yang penting bekas lipatan kainnya gak berubah."


"Ah, Ibu. Yaudah deh, Aline pamit ya."


"Hmmmm Lin, Ibu boleh minta tolong? Tolong antarkan ini ke rumah teman Ibu, Bu Luna namanya. Rumahnya searah kok sama jalan ke restonya Bu Halimah," ucapnya tak enak hati seraya menyerahkan sebuah paperbag. Aline menerima paperbag tersebut.


"Maaf nih Ibu sering banget ngerepotin kamu. Tadi kamu juga udah bantu Ibu ngerjain kerjaan rumah, ini sekarang Ibu minta tolong lagi. Tapi Ibu gak tau mau minta tolong siapa lagi. Si Bibi lagi sakit, Maya sama Bapak baru sore nanti pulangnya. Si Rendi apalagi, jangan ditanya, gak jelas pulang jam berapa," jelas Bu Suci panjang kali lebar.


"Boleh, Bu. Gak papa. Kan searah juga."


"Makasih ya Lin."


"Alamatnya dimana, Bu?"


"Biar kamu diantar supir aja ya Lin. Tadi Ibu udah bilang sama Mang Dadang."


"Oh, iya deh Bu. Kalo gitu Aline langsung jalan aja. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Tolong pastiin kalau Bu Luna sendiri yang menerima ya Lin!"


"Ashiyaap Bu!" jawabnya seraya megacungkan kedua jempolnya.


Bu Suci yang melihat tingkah Aline hanya tersenyum geleng-geleng kepala. "Ternyata anak itu bisa juga bercanda. Aku pikir datar-datar aja saking pendiamnya," Bu Suci bermonolog sembari mengunci pintu rumahnya.


Aline sedang berada di dalam mobil Bu Suci menuju rumah seorang kenalannya. Tadinya ia berniat untuk langsung mencari sebuah kontrakan terlebih dahulu sebelum pulang lalu bekerja di resto sore nanti. Aline sudah berniat untuk pindah karena merasa sangat tidak enak dengan keluarga Abah dan Bunda yang begitu baik padanya. Lagipula ini sudah enam bulan. Tak baik menumpang di rumah orang selama itu, sekalipun Abah dan Bunda bersikeras agar Aline tetap tinggal di rumah mereka. Namun Aline tetaplah Aline yang keras pada dirinya sendiri.


Aline yakin dengan gaji yang ia miliki sekarang ia bisa hidup mandiri dengan menyewa sebuah kontrakan sederhana seperti kontrakan kepunyaan Bunda yang tak jauh dari rumahnya. Namun, kontrakan Bunda hingga saat ini belum juga ada yang kosong. Terlihat sekali mereka nyaman dan betah tinggal di sana.


Mobil yang mengantar Aline sudah sampai di rumah yang dimaksud. Sebuah rumah megah dan besar berada di depannya. "Sebelas dua belas dengan istana Tiocandra," pikirnya.


Aline lalu turun dan menyuruh Mang Dadang untuk langsung pulang, karena setelah menyerahkan titipan kepada Bu Luna, Aline juga akan segera pulang. Urusan mencari kontrakan terpaksa ia urungkan dulu.


Aline mengetuk pintu jati besar dengan ukiran yang sangat rumit. Tak berapa lama, seorang perempuan yang diyakini Aline sebagai ART di rumah ini membukakannya pintu.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam. Maaf Neng mau cari siapa?" tanya ART itu.


"Saya Aline. Mau ngantar titipan buat Bu Luna dari Bu Suci."


"Oh, Ibu sedang keluar, Neng. Udah dari tadi. Palingan sebentar lagi baru balik. Enengnya mau nunggu atau mau titip di Bibi aja?" tawarnya.


"Saya nunggu aja deh, Bi. Tadi Bu Suci pesan kalau harus diserahkan langsung ke Bu Luna nya", dengan sopan Aline menolak tawaran ART yang memanggil dirinya dengan sebutan Bibi itu.


"Oh ya udah. Kalo gitu tunggu di dalem aja Neng. Biar bibi ambilkan minum dulu."

__ADS_1


"Eh gak usah Bi! Ga usah repot-repot! Saya tunggu di sini aja".


"Oh yaudah, Bibi tinggal ya, Neng."


"Iya, Bi. Silahkan!"


Tak selang berapa lama Aline menunggu, sebuah BMW mewah memasuki pelataran parkir di depan teras rumah. Aline yang sedang menunggu memperhatikan seorang wanita paruh baya yang masih cantik turun dari balik kemudi.


Wanita itu kemudian memanggil Pak Satpam untuk menurunkan barang-barang belanjaannya. Aline yakin bila wanita inilah yang bernama Bu Luna.


Wanita itu kemudian menghampiri Aline.


"Kamu Aline?"


"Iya, Bu. Apakah Ibu yang bernama Bu Luna?"


"Iya, saya Luna. Tadi Jeng Suci sudah telpon kasih tau saya kalau kamu mau ke sini. Ini kenapa ga nunggu di dalem? Mana gak dibikinin minum lagi sama si Bibi? Bibiiii .... Bi...!" teriaknya nyaring.


"Eh gak papa, Bu. Tadi saya yang meminta untuk menunggu di sini saja dan menolak tawaran minum dari Bibi," jelasnya. Aline takut bila nanti ART-nya kena marah karena kesalahan yang tidak ia buat. Ibu ini sepertinya galak.


"Iya, Nyonya?" si bibi datang tergopoh-gopoh.


"Bi, kok tamunya dibiarin nunggu di sini? Lain kali suruh tunggu di dalem ya!"


"Iya, Nya."


"Yaudah, sekarang Bibi bantuin Pak Harto nurunin belanjaan di mobil ya!"


"Iya, Nya."


Aline sedari tadi hanya melihat interaksi antara majikan dan pembantunya itu. "Ternyata gak galak," pikirnya.


"Ayo, Mbak Aline. Masuk dulu!"


"Eh, gak usah Bu. Saya harus segera pulang. Ini titipannya, Bu."


"Insya Allah, Bu. Saya permisi kalau begitu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Baru beberapa langkah Aline menuju pagar kediaman Bu Luna, telinganya mendengar suara bibi meminta tolong.


"TOLONG .... Ya Allah, Nyonya!!!"


Aline segera bergegas kembali ke teras. Diikuti Pak Harto yang juga berlari dari ruang security.


"Kenapa Nyonya, Bi?" tanya Pak Harto.


"Mungkin jantungnya tiba-tiba kambuh. Tadi tiba-tiba aja jatuh."


Aline yang mendengar kata jantung, langsung menghampiri Bu Luna yang terkulai tak sadarkan diri di pangkuan Bibi.


Ia memeriksa denyut nadinya.


Segera saja ia memposisikan Bu Luna di lantai sambil memanggil-manggil dan mencubit Bu Luna. Aline juga melonggarkan pakaian Bu Luna dan memeriksa jalan napasnya.


Pak Harto dan Bibi hanya menyaksikan majikan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.


Aline menyuruh Pak Harto segera mencari bantuan.


Sedangkan ia sendiri bersiap melakukan CPR.


Dua menit melakukan CPR, Ibu Luna kembali bernapas.

__ADS_1


"Apa ada obatnya, Bi?"


"Ada Neng. Biasanya Nyonya selalu bawa."


Aline segera memeriksa kantong dan tas Bu Luna. Diambilnya sebutir obat, lalu diletakkannya di bawah lidah Bu Luna.


"Kita bawa langsung ke RS aja, Bi".


"Tapi ambulance-nya belum datang, Neng," kata Pak Harto.


"Yaudah, Pak. Pakai mobil ini aja. Bapak bisa nyetirnya kan?"


"Aduh Neng. Bapak gak pandai nyetir," kata Pak Harto kemudian.


Aline melihat Bibi. Yang dilihat hanya menggelengkan kepala.


Aline menarik napas lalu menghembuskannya.


"Yaudah, biar saya yang nyetir. Bibi ikut sama saya. Bapak tolong kabari keluarga Bu Luna!" titah Aline.


Bibi dan Pak Harto mengangguk mengiyakan.


Pak Harto membantu mengangkat Bu Luna ke bangku belakang bersama bibi.


"Bibi gak mabuk darat kan?"


"Enggak, Neng."


"Kalau mual bilang ya, Bi. Soalnya Bu Luna harus segera mendapatkan bantuan medis sebelum terjadi hal buruk, jadi saya akan sedikit ngebut."


Aline segera menstarter mobil mewah itu. Ia menjalankannya dengan sedikit ngebut menuju RS. Dalam hati, rindunya kepada BMW kesayangannya yang ditinggalnya di Batam sedikit terobati. Apa kabar ya sekarang? Apa masih dirawat atau sudah dijual oleh papinya. "Ah, sudahlah Aline. Itu hartanya Tiocandra, dan sekarang kamu bukan seorang Tiocandra lagi!" otaknya mengingatkan. Untung jalanan masih sepi karena masih jam kantor membuat mereka sampai tepat waktu di RS.


Aline memarkir mobilnya tepat di depan IGD. Beberapa orang perawat segera datang membawa brankar.


"Tolong Sus! Tadi pasien terkena serangan jantung."


"Mbaknya tunggu di sini! Kami akan segera menangani pasien."


Aline dan si bibi menunggu di ruang tunggu IGD. Dalam hati, mereka berdoa untuk keselamatan Bu Luna.


Tak berapa lama, Dokter memanggil mereka. Aline dan bibi duduk berhadapan dengan dokter yang menangani Bu Luna. Dokter menyampaikan bahwa kondisi Bu Luna sudah stabil namun tetap harus dilakukan observasi untuk mencegah terjadinya serangan jantung ulangan. Untuk itu, Bu Luna harus dirawat di RS.


"Maaf, Dok. Saya bukan keluarga beliau. Saya tadi hanya membantu. Sedangkan Ibu ini ART beliau. Kami tidak bisa memberikan persetujuan rawat inap. Kita menunggu keluarga beliau saja ya, Dok. Kami tadi sudah menghubungi keluarga beliau," jawab Aline.


"Baik, Mbak. Sementara menunggu, Bu Luna diobservasi di sini dulu," ucap dokter yang bernama Auryn itu. Lalu mereka keluar dari ruang dokter di IGD itu.


"Bi, Bibi tunggu di sini sebentar ya! Saya mau pindahin mobil ke parkiran RS."


"Iya, Neng."


Aline lalu menuju parkiran IGD untuk memindahkan mobil Bu Luna ke parkiran RS lalu kembali ke IGD.


"Ini kunci mobil Bu Luna ya Bi. Saya parkir di pojokan sebelah kiri, biar gampang carinya."


"Iya, Neng."


"Apa keluarga Bu Luna sudah dihubungi, Bi?"


"Sudah, Neng. Bapak sudah dalam perjalanan ke sini."


"Kalau gitu, saya langsung permisi pulang aja ya, Bi. Bibi gak papa kan saya tinggal di sini?"


"Iya, Neng. Bibi nungguin nyonya aja. Hati-hati ya, Neng. Terimakasih banyak. Kalau gak ada Neng, Bibi gak bisa bayangin ...."

__ADS_1


"Huuush ... jangan ngomong yang jelek-jelek, Bi. Mendingan berdo'a aja buat kesembuhan Bu Luna. Kalau gitu saya pulang ya, Bi. Assalamu'alaikum."


"Wa"alaikumsalam."


__ADS_2