Rosaline Denisa

Rosaline Denisa
Laporan Mendadak


__ADS_3

Tak terasa, tiga bulan sudah Aline menjadi bagian dari divisi marketing. Hari ini hari Senin. Ia baru saja memasuki ruangan pak Rahman, Manajer HRD.


"Selamat pagi, Aline."


"Selamat pagi, Pak."


"Bagaimana hari-harimu di divisi Marketing? Ada kendala?"


"Kendala pasti ada, Pak. Tapi Alhamdulillah semuanya bisa diatasi dengan baik berkat bantuan dan bimbingan anggota tim yang lain," jawab Aline diplomatis.


"Baguslah. Saya mendapat laporan positif tentang kinerja kamu."


"Terima kasih, Pak."


"You're welcome. Saya senang mendengarnya." Pak Rahman lalu menyeruput kopinya. Hening sejenak. Aline menunggu apa yang akan diucapkan oleh manajer HRDnya itu meskipun ia sudah bisa menebak kenapa ia dipanggil pagi itu.


"Kamu pasti sudah tau kenapa kamu saya panggil hari ini," lanjutnya.


"Sepertinya, Pak."


"Bagus. Kalau begitu kita to the point saja! Seharusnya kita bicarakan ini minggu lalu. Seperti yang kamu ketahui, Nita memperpanjang masa cutinya untuk seminggu ini. Dan karena Bu Mira masih membutuhkan kamu, makanya kamu baru saya panggil hari ini," jelasnya panjang lebar. Lelaki paruh baya itu berhenti sejenak mengatur nafasnya. Sedangkan Aline, ia masih setia menunggu kelanjutan nasibnya.


"Ada dua divisi yang sedang kekurangan anggota saat ini. Divisi Teknik dan Perencanaan serta Divisi Akunting. Saya ingin kamu yang menentukan divisi mana yang menurut kamu bisa membuat kamu memberikan kontribusi maksimal untuk perusahaan. Saya tahu kamu memiliki potensi di kedua bidang tersebut. Tetapi, saya minta kamu memilih salah satu dari dua divisi tersebut untuk kamu menggali potensi kamu lebih baik lagi. Saya beri waktu tiga hari. Hari Kamis, kamu bisa menemui saya di jam yang sama untuk memberi jawaban. Bisa dimengerti permintaan saya?"


"Bisa, Pak."


"Baiklah, nanti akan ada staf saya yang mengirimi email tentang kedua divisi tadi. Semoga itu bisa membantu kamu dalam menentukan pilihan."

__ADS_1


"Baik, Pak, terima kasih."


"Ya sudah. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu. Jangan lupa berikan saya jawabannya hari Kamis nanti."


"Baik Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aline segera meninggalkan ruangan HRD. Ia berlari mengejar lift yang akan menutup. Namun ia tetap saja terlambat dan terpaksa harus menunggu lagi. Aline terus saja memperhatikan angka yang menunjukkan keberadaan lift, tanpa ia sadari seseorang menatapnya sedari tadi.


Setelah lift berhenti, Aline dan orang tersebut memasuki lift yang sama dengan tujuan berbeda. Lelaki itu menatap Aline lekat. Namun ia meragu untuk sekedar menyapa hingga lift berhenti di lantai yang ia tuju, lantai dimana Divisi Teknik dan Perencanaan berada. Arya, nama lelaki itu, masih menatap lift yang membawa gadis yang dikaguminya sedari dulu.


Aline berjalan ringan menuju kubikelnya. Tampak bu Mira sudah menunggu di sana dengan wajah resah dan gelisah. Ia tahu kemana gadis itu pergi. Pak Rahman memanggil Aline melalui dirinya. Akan tetapi, saat ini ia sangat membutuhkan Aline. Jadi, terpaksa ia menunggu di meja Aline.


"Aline, saya butuh laporan triwulanan. Maaf sekali jika mendadak. CEO meminta laporan triwulanan seluruh divisi untuk dibahas pada rapat siang ini. Tolong kamu kerjakan segera. Dua jam lagi serahkan pada saya karena rapatnya akan dimulai pada jam 10.30 nanti", titahnya begitu orang yang ditunggunya sedari tadi berada tepat di depannya.


Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan kubikel Aline karena ia sendiri harus menyiapkan beberapa berkas untuk dibahas pada rapat nanti. Sungguh ini di luar prediksinya. Rapat yang diagendakan minggu depan dipercepat karena permintaan CEO mereka, Erlangga Eka Atmaja. Seharusnya Nita yang membuat laporan itu. Tetapi karena wanita itu masih cuti, jadi mau tidak mau ia harus menyerahkannya pada Aline dan berharap semoga saja gadis itu bisa diandalkan pada saat seperti ini.


Aline memasuki kubikelnya, menyalakan komputernya yang belum sempat ia lakukan tadi dan mulai menyelesaikan laporan yang diminta oleh atasannya itu. Aline sudah mengerjakan sebagian besar laporan tersebut. Semua data telah selesai ia kumpulkan sejak beberapa hari yang lalu, namun belum sempat ia input-kan semua. Sekarang hanya tinggal memasukkan angka-angka itu saja lalu semua akan terprogram sendiri lengkap dengan grafik. Tak berapa lama, Aline sudah selesai dengan laporan yang diminta oleh atasannya itu. Ia lalu membacanya sekali lagi. Setelah yakin, ia lalu mencetak dan memindahkan softcopy-nya ke dalam sebuah flashdisk. Ya, Aline sudah menduga akan adanya permintaan laporan triwulanan. Mungkin mbak Nita atau bu Mira tidak memberitahunya di awal karena mereka berpikir bahwa saat ini seharusnya mbak Nita sudah kembali bekerja. Nyatanya, masa cuti mbak Nita ditambah beberapa hari dikarenakan anak pertamanya dirawat di Rumah Sakit karena DBD.


Aline mengetuk pintu ruangan atasannya. Bu Mira mempersilakan gadis semampai itu masuk.


"Apa kamu ada kendala dengan laporannya, Aline?" tanyanya masih tetap fokus pada komputer di depannya.


"Ennngg, enggak kok, Bu. Saya ingin menyerahkan laporan yang Ibu minta tadi."


Jari Mira terhenti di udara saat akan menekan tuts keyboard komputer. Ia lalu menatap Aline tidak percaya. Bagaimana bisa gadis ini menyiapkan laporan dalam waktu hanya beberapa menit? Ia lalu melepas kacamatanya dan fokus pada gadis manis di depannya.

__ADS_1


"Ini print out-nya dan ini softcopy-nya, Bu." Aline menyerahkan satu bundel laporan dan sebuah flashdisk.


Bu Mira menerima laporan dari tangan Aline. Kemudian ia membaca isi laporan tersebut. Betapa tercengangnya ia mengetahui laporan yang dibuat Aline sesuai dengan harapannya. Lengkap dengan grafik pencapaian mereka dalam tiga bulan ini. Mira menatap takjub Aline, seolah bertanya "Kok bisa?"


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Bu?"


Bu Mira hanya menggeleng masih dengan wajah setengah bingung.


"Hhmmm, kalau begitu saya permisi, Bu," pamit Aline, mengabaikan pertanyaan tak bersuara atasannya itu.


Bu Mira mengangguk namun masih terdiam di posisinya hingga gadis itu keluar dari ruangannya.


Aline kembali ke meja kerjanya. Ia lalu memeriksa email. Ternyata ada pesan masuk dari stafnya pak Rahman. Email tersebut berisi company profile, dan profil dua divisi yang disebutkan oleh pak Rahman tadi. Aline mulai menekuri layar komputer, membaca dengan cermat tiap kalimat. Cukup banyak yang harus ia baca hingga suara bu Mira di depan kubikelnya memecah konsentrasinya.


"Lin, saya pergi rapat dulu. Jika nanti ada yang cariin saya, kamu minta nomor kontaknya saja, nanti akan saya call balik!" ucapnya.


"Baik, Bu."


"Ah ya, saya tadi memesan makan siang 2 paket. Nanti diterima ya, Lin. Yang satu paket buat kamu, yang satu lagi letakkan saja di meja saya."


"Tapi saya bawa bekal, Bu."


"Ya sudah, kamu bawa pulang saja makanannya. Kalau begitu saya ke atas (ruangan rapat) dulu," ucapnya berlalu meninggalkan Aline dan seluruh staf marketing.


Sepeninggal bu Mira, suasana ruangan divisi marketing menjadi ricuh seketika. Sebagian yang perempuan mulai berkumpul membentuk kelompok 3-4 orang di satu kubikel. Tentu saja untuk bertukar informasi alias menggosip.


Sementara yang lelaki, mulai mabar (main bareng) di smartphone mereka. Aline geleng-geleng kepala. Mereka seperti anak sekolah yang baru saja mengetahui adanya jam kosong karena guru-guru rapat mendadak.

__ADS_1


Aline beranjak dari kubikelnya menuju pantry. Email dari HRD telah selesai ia baca. Ia membuat secangkir teh lalu membawanya ke rooftop, tempat favoritnya di kala suntuk tidak ada kerjaan seperti ini. Lima belas menit kemudian, Aline kembali ke ruangannya dan mulai menyelesaikan apapun yang bisa ia kerjakan.


__ADS_2