
Hari ini, Aline kembali menerima sebuah paket yang ukurannya jauh lebih besar dengan yang ia terima kemarin. Ia dan Shayna kembali meneliti paket tersebut namun tetap tidak ada nama pengirim ataupun kartu yang terselip di sana. Aline kemudian menyingkirkan paket itu dari meja kerjanya, memindahkannya ke kursi kosong yang berada di sisi kiri kursi kerjanya. Lalu melanjutkan pekerjaan hingga jam istirahat tiba.
Setelah makan siang bersama, Aline dan Shayna mengobrol sebentar menghabiskan sisa jam istirahat mereka. "Oia, paket yang kemarin apa isinya, Lin?" tanya Shayna setelah mengingat bahwa kemarin partnernya itu mendapat kiriman juga.
"Belum aku buka, Ce. Tuh masih di situ," katanya menunjuk sebuah kotak yang masih terbungkus rapi di laci meja kerjanya. Rada-rada takut bukanya sendiri di rumah, takut isinya yang aneh-aneh dari para haters, jadi aku tinggal aja, hehehehe ... " Aline nyengir menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. Mencoba membercandai keadaan dirinya sendiri yang menjadi bahan gunjingan karyawan lain beberapa hari ini.
"Ada-ada aja lo, Lin. Gimana kalau kita buka sekarang?" usul Shayna.
Mereka berdua pun membuka kertas kado pembungkus paket yang datang hari itu setelah mendapat anggukan dari Aline.
"Waaaah, indah banget gaunnya, Lin! Pasti mehong deh ini! Lihat detail-detailnya, indah sekali!" seru Shayna.
Aline menilik sebuah gaun, lengkap dengan clutch, sepatu dan hijab yang merupakan isi dari paket yang ia terima tadi. Benar kata Shayna, gaun ini indah. Dan sepertinya pas dengan badannya. Si pengirim pastilah sangat mengenal dirinya sampai tahu ukuran sepatu dan seleranya yang sederhana namun elegan.
"Eh, ada kartunya, Lin!" Shayna meraih lembar kecil berbentuk oval yang terjatuh ketika ia mengangkat gaun itu lalu membaca isinya.
"Aku tau kamu akan butuh gaun ini dalam waktu dekat. Semoga suka. -Prita-"
Aline tersenyum mendapati bahwa sahabatnya lah yang mengirimkan paket ini padanya. Memang kemarin pagi Prita mencoba menghubunginya, namun karena kemarin pagi dirinya terburu-buru berangkat ke kantor maka telpon dari sahabatnya itu ia abaikan dan ia lupa mengabarinya kembali.
Lalu masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya, Aline segera mendial nomor Prita. Aline tahu gadis itu sedang sibuk namun tak urung ia tetap mencoba menelpon. Panggilan dijawab di seberang sana, suara hiruk pikuk melatarbelakangi pembicaraan mereka karena Prita berada di gedung untuk peragaan busana miliknya. Setelah berbasa basi sedikit dan mengucapkan terima kasih, Aline mengakhiri panggilannya. Ia tak ingin menyita waktu sahabatnya itu terlalu lama.
Sementara Shayna, ia sedang berusaha membuka paket yang diterima Aline kemarin siang. Dan betapa terkejutnya kedua gadis itu mengetahui isinya adalah satu set perhiasan dengan desain sederhana namun sangat anggun dan elegan. Dari kartu yang menyertainya, hanya satu kalimat tanpa nama jelas yang mereka dapati. "Mereka indah, layak untuk dirimu yang sempurna. -JP-"
"Ce, aku gak merasa punya kenalan bernama JP ini. Kayaknya ini salah kirim deh, Ce."
"Lo yakin perhiasan ini bukan punya lo?"
Aline menggeleng. "Maksud Cece gimana?"
"Yah, kali aja waktu lo lihat-lihat di toko perhiasan ada babang-babang tamvan dan tajir melintir ngelihat elo mupeng sama nih perhiasan, dia kasihan terus dibeliin deh." Racau Shayna.
"Ck, aku lagi serius loh ini, Ce. Cece tega banget sih ngusilin aku!" rajuk Aline. "Aku gak pernah ke toko perhiasan selama di sini. Duit dari mana coba sampai aku berani keluar masuk toko perhiasan? Ah, udah deh Ce, kita mesti balikin perhiasan ini. Itu ada nama tokonya. Temenin aku ke sana nanti ya, Ce? Mau ya?"
Mau tak mau Shayna mengangguk.
Aline dan Shayna keluar dari sebuah toko perhiasan ternama ibukota dengan langkah kecewa. Pasalnya, pemilik toko tidak bersedia menerima kembali perhiasan tersebut, pun tidak mau memberikan informasi apapun mengenai siapa pengirim perhiasan mahal itu.
"Udah deh, Lin. Lo terima aja. Itu pemberian. Namanya berkat, rezki. Rezki gak boleh ditolak. Anggap aja rezki anak sholeh!" Shayna coba berkelakar menghibur sahabat sekaligus partner kerjanya itu.
"Tapi Ce ...."
"Udah, gak usah dipikirkan. Lo simpan aja! Sekarang kita pulang ya? Lo kan mesti ke resto, ntar telat loh," bujuk Shayna.
__ADS_1
Aline mengangguk lalu diantar pulang oleh Shayna.
Hari berganti. Kamis ia lewati dengan penuh kesibukan. Sama seperti hari ini. Aline menjalani rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Karena Shayna dan Rendi makin sibuk dengan persiapan HUT Perak A.C yang akan digelar satu minggu lagi, berdampak dengan beralihnya sebagian besar pekerjaan Shayna pada dirinya. Belum di sela-sela kesibukannya, Aline juga harus berkoordinasi dengan Dira, sekretaris CEO yang akan digantikannya sebentar lagi. Jadwal yang sangat padat membuat gadis itu harus pulang terlambat dan membolos di resto orang tua angkatnya. Seperti malam ini, baru jam 9 malam ia beranjak meninggalkan gedung A.C.
Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam ini. Udara dingin menusuk tulang. Aline mengeratkan pashmina cadangan yang selalu ia bawa, untuk ia jadikan kain penghangat di sekitar bahunya. Aroma hujan yang khas memenuhi indera penciumannya. Aline dan beberapa karyawan yang juga lembur terpaksa menunggu hujan di lobby. Cukup banyak juga yang lembur malam sabtu ini. Sama seperti dirinya, mungkin semua orang tidak ingin membebani diri dengan memikirkan pekerjaan saat weekend besok, jadinya mereka lembur berjamaah hari ini.
Aline mulai memesan taksi online, namun karena kondisi hujan yang sangat lebat, membuat ia kesulitan mendapat driver. Sudah beberapa kali pesanannya di-reject oleh si driver hingga akhirnya seorang driver menghubunginya dan menanyakan titik penjemputan.
Erlangga turun menggunakan lift khusus petinggi A.C. Ia telah meminta security untuk membawakan mobilnya ke depan lobby. Malam ini ia sangat lelah sekali. Banyak sekali pekerjaannya yang deadline hari ini dan beberapa hari ke depan. Belum lagi dengan persiapan acara HUT Perak A.C yang cukup menyita waktunya. Ia berjalan dengan menyandang jasnya di bahu sebelah kiri, dengan tangan kemeja yang telah terlipat hingga siku. Rambutnya sudah tak serapi pagi tadi, namun justru menguarkan aura ketampanan yang mutlak.
Ia berjalan membelah lobby yang tidak sesepi biasanya karena memang banyak karyawannya yang lembur sedang menunggu hujan reda. Hampir semua yang berada di sana menatap kagum akan bos besar mereka yang masih muda dan tampan ini dan menyapa hormat. Namun dari sekian banyak orang di lobby saat itu, sudut mata elangnya menangkap sosok perempuan berpashmina yang sedang merapatkan lilitan kain selendang di sekitar bahunya dan sibuk dengan gawainya. Ia mengenali perempuan itu, lalu berjalan mendekat ke arahnya. Dalam langkahnya, ia mencari cara agar tidak menarik perhatian bahkan menjadi bahan pergunjingan karyawan lain nantinya.
"Aline," panggilnya seraya menepuk bahu kanan seorang gadis membuat sang empunya terlonjak kaget. Begitu juga dengan karyawan lain yang berada di sekitar mereka, mencuri-curi pandang dan mencuri dengar apa yang akan dilakukan oleh CEO muda mereka dengan gadis yang menjadi buah bibir akhir-akhir ini.
"Astaghfirullah bikin kaget. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" jawab Aline sambil mengelus-elus dadanya.
"Eh, sori sori. Syukurlah kamu masih di kantor. Ada yang ingin saya tanyakan mengenai laporan yang dikirimkan oleh Dira tadi."
"Tapi, Pak, maaf, saya harus pulang. Taksi online saya sudah menuju kemari."
"Batalkan dan ikut saya ke ruangan! Ini sangat penting!" titahnya, mengabaikan tatapan karyawan lainnya. Ada yang menatap iba pada gadis itu, ada juga yang mencibirnya. Namun tak ada yang menyalahkan Erlangga. Mereka memaklumi sikap CEO mereka itu.
Mau tak mau, dengan berat hati Aline membatalkan pesanannya dan menerima mentah-mentah omelan dan makian dari driver taksi online tersebut. Dengan gontai dan setengah hati, ia mengikuti Erlangga kembali ke ruangannya.
"Lo ngomong apa barusan?" tanya Erlangga kembali ke bahasa nonformalnya setelah hanya mereka berdua di lantai ini.
"Eh, gak ada, Pak. Gak ngomong apa-apa."
"Nih, coba lo cek yang ini! Dira bilang tadi udah serahkan data-datanya ke elo. Kenapa masih belum kelar ini? Gimana sih kerja gak becus! Dira gak salah apa rekomendasikan lo ke gue? Katanya cekatan, smart, bla bla bla ... nyatanya gak begitu begitu amat," gerutu Erlangga.
Aline pun geram mendengar gerutuan gak mendasar dari Erlangga. Tapi namanya juga bos, mana bisa disalahkan. Tetap aja kroco yang salah, apalagi dirinya yang hanya remah-remah kwaci di sudut perusahaan ini. Jadilah ia menarik napas dan membuangnya perlahan, menampilkan sikap manis dan sopan di depan bos besarnya itu.
"Oh, yang itu maksud, Bapak? Tadi Mbak Dira bilang deadline-nya masih Rabu depan, Pak. Jadi tadi saya kerjakan yang lain dulu. Senin baru kerjakan yang itu." Aline menjelaskan dengan nada yang dibuat semanis mungkin namun giginya rapat.
"Ya sudah. Lo kerjakan sekarang kalau gitu. Senin sudah harus ada di meja gue!" Elang mengucapkan kalimat itu dengan nada ringan tanpa dosa membuat orang yang diperintahnnya beristighfar berkali-kali menahan amarah di dalam dirinya.
"Tapi, Pak? Sekarang udah sangat malam. Mana hujan. Bapak tuh gak tau tadi saya susah banget dapetin driver buat nganter balik?" Tanpa sadar Aline mengucapkannya dengan sedikit merajuk, membuat Erlangga tertegun sesaat. Tak menyangka jika gadis yang biasanya jutek dan dingin itu bisa merajuk juga layaknya perempuan normal pada umumnya.
"Ck, alesan!" Erlangga melirik arloji mahal miliknya.
"Baru jam 9 lewat dikit!" ucapnya malas lalu berjalan menuju sofa tunggu yang ada di sana.
Dengan malas, Aline mulai bergerak ke meja kerja Mbak Dira. Menyalakan komputer dan membuka beberapa berkas yang tadi siang diberikan oleh Mbak Dira. Lalu ia mulai membaca dan mengetik dengan serius. Empat puluh menit kemudian Aline telah selesai dengan laporannya. Setelah selesai, ia memindahkan data ke USB. Lalu mulai mencetaknya menjadi dua rangkap. Satu akan ia serahkan pada laki-laki yang sedang duduk santai mengawasinya di sofa empuk itu dan satu lagi akan ia tinggalkan di meja Mbak Dira untuk arsip.
__ADS_1
"Nih, Pak. Sudah selesai. Kalau gitu saya permisi dulu. Driver taksi online saya sudah menunggu di bawah." Aline pamit dengan menahan sedikit kesal. Badannya sungguh lelah hari ini. Dan bosnya ini cukup menyebalkan, membuat kadar lelahnya bertambah-tambah. Dengan tergesa Aline memencet tombol lift dan mulai menunggu kotak besi itu menjemputnya.
Erlangga meraih tangan gadis itu, mengajaknya, bukan, tapi sedikit menyeret gadis itu memasuki lift khusus petinggi yang langsung terbuka ketika ia menekan tombol pada dinding di samping kotak besi itu.
"Batalkan pesanan lo! Gue antar pulang!" kata lelaki itu, terdengar seperti perintah saja.
"Gak usah, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri," jawab Aline ketus.
"Pinjam HP!"
"Buat apa?"
"Buat batalin pesanan ojol lo lah!"
"Gak usah, Pak Elang yang terhormat. Terima kasih."
"Ck, dasar keras kepala!"
Aline hanya mendelik sebal lelaki yang berdiri di sampingnya.
Sesampainya di lobby, suasananya sudah cukup sepi. Tentu saja, ini sudah jam setengah sebelas malam. Hanya tinggal beberapa karyawan laki-laki yang sedang menunggu hujan reda. Mungkin mereka menggunakan motor dan lupa membawa mantel hujan.
Aline berjalan tergesa ke pintu keluar, meninggalkan Elang yang berjalan dengan langkah panjangnya, memastikan taksi online yang menunggu di sana atas nama dirinya. Saat akan memasuki mobil di bangku penumpang belakang, seseorang menarik paksa Aline membuat kepalanya terantuk pada pintu mobil. Siapa lagi jika bukan bos menyebalkannya itu.
"Awww" Aline mengusap-usap kepalanya yang sangat sakit, membuatnya semakin pusing saja.
Namun Elang mengacuhkannya, malah mengetuk kaca mobil di sisi pengemudi. Sesaat ia berbincang pada si driver dan menyerahkan dua lembar uang berwarna merah sebagai imbal balik pembatalan sepihak olehnya.
Taksi online itu pergi, meninggalkan Aline yang masih mengusap-usap kepalanya yang terasa sangat sakit. Aline menghela napas lalu membuangnya dengan kasar menggerakkan kakinya dengan terpaksa karena diseret oleh bos menyebalkannya itu. Sementara Elang mendengus kesal dengan tingkah gadis keras kepala yang sedang menduduki bangku penumpang belakang mobilnya. Oh, ingatkan ia besok-besok menggunakan mobil sport terbarunya yang hanya memiliki dua bangku saja.
Elang mengantarkan Aline dalam keheningan. Tidak ada pembicaraan diantara mereka karena gadis itu sudah terlelap di belakangnya.
"Ck. Coba lo naik taksi yang tadi, bisa habis lo digarap si driver." Elang mengucapkannya saat mendengar dengkuran halus dari bangku di belakangnya.
Melihat Aline yang tertidur pulas, membuat Elang tak tega membangunkan gadis itu padahal mereka telah sampai di depan kontrakan Aline. Elang kembali menghidupkan mesin mobil, dan menjalankannya.
Lama ia berputar-putar di sekitaran sana. Rasa lelah dan lapar menjadi satu, membuat lelaki itu mengarahkan mobilnya mencari warung yang masih buka di jam selarut ini. Hujan masih setia di luar sana, walaupun hanya rintik-rintik kecil.
Saat akan turun, netranya menangkap pergerakan di bangku belakang, menandakan si gadis telah bangun.
"Akhirnya bangun juga. Buruan turun! Temenin gue makan! Laper!" ucapnya lalu pergi meninggalkan Aline yang masih bingung dengan kondisi di sekitarnya. Tak lama, Aline menyusul Elang duduk di bangku kayu yang berhadapan dengan atasannya yang sedang menikmati sepiring nasi goreng yang baru saja dimasak.
Elang kembali mengantarkan Aline ke kontrakannya setelah menyantap habis dua porsi nasi goreng. Tubuhnya lelah dan menyetir butuh tenaga. Satu kalimat yang selalu diingatnya walaupun yang mengucapkan sudah tak ingat pernah mengucapkannya.
__ADS_1
Aline memasuki rumahnya, lalu mengganti baju. Lalu rebahan di kasur. "Huuuh..... Minggu ini benar-benar berat. Dari paket hingga lembur! Sama-sama menguras tenaga dan pikiran." Aline lalu melafadzkan doa pengantar tidur dan alam mimpi segera menjemputnya.