
Sudah satu minggu berlalu. Elang dan Aline berada di kota kembang dengan segudang rutinitas yang sangat padat, membuat keduanya kelelahan. Jadwal kunjungan yang tadinya tak lebih dari satu minggu itupun harus diperpanjang mengingat tiba-tiba saja Elang menginginkan beberapa proyek diselesaikan dalam waktu bersamaan. Tentu saja urusan perusahaannya kali ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran Elang dan seluruh petinggi cabang perusahaannya di sini.
Bukan tanpa alasan, Elang membaca akan ada kesempatan yang sangat bagus dalam beberapa waktu dekat ini. Elang selalu dapat melihat prospek besar yang akan menguntungkan bagi perusahaannya. Naluri dan intuisinya dalam berbisnis tak perlu diragukan lagi. Seperti namanya, Elang. Mata seekor elang selalu mampu melihat di kejauhan.
"Lin, besok kamu ada acara?" Karena besok weekend, Elang berencana mengajak sekretarisnya itu keliling kota Bandung. Keduanya sedang menikmati makan malam di apartemen.
Ya, Elang memutuskan untuk menginap di apartemennya yang berada di kota Bandung. Tentu bukan tanpa alasan dirinya memilih pilihan ini. Apartemen tiga kamar yang telah lama tidak ia tempati ini letaknya berada di tengah-tengah di antara lokasi-lokasi yang akan ia tuju selama di Bandung. Lagipula mereka akan membutuhkan ruangan dan waktu untuk bekerja bersama membahas dan berdiskusi mengenai perkembangan serta kemungkinan yang ada, di dalam maupun di luar jam kerja. Daripada di hotel, tentu apartemen ini menjadi pilihan yang layak dan lebih praktis tentunya. Walaupun pada awalnya gadis itu menolak, namun dengan berbagai alasan yang memang masuk akal, Elang berhasil meyakinkan sekretarisnya.
Selepas makan malam, keduanya belum akan beranjak dari meja makan. Mereka menunggu Bik Imah membereskan meja makan dan mencuci peralatan bekas makan mereka. Bik Imah adalah ART yang mengurus villa keluarga Atmaja di Bandung dan orang yang dipercaya Elang untuk membersihkan apartemennya ini, yang sengaja dibawa oleh Elang untuk menginap selama mereka di Bandung. Bila Bik Imah tidak diinapkan di apartemennya, sudah dipastikan bahwa sekretarisnya akan tidak mungkin untuk dibujuk tinggal berdua di apartemen tersebut, dan ia sendiri pun juga takut, takut khilaf.
"Tidak ada, Pak. Saya hanya akan mengerjakan pekerjaan di resto yang sudah di-email Hana tadi pagi," jawabnya seadanya karena memang begitulah keadaannya.
Gadis itu kembali meneguk air putih ke mulutnya tanpa menyadari lawan bicaranya tersindir oleh ucapannya barusan.
Bagaimana tidak tersindir, sudah jelas ia yang menahan agar gadis itu tidak mengundurkan diri dari perusahaannya. Makanya ia memberikan kebebasan dan ruang bagi sekretarisnya yang memutuskan bekerja secara online untuk pekerjaannya di resto Abah selama di Bandung. Abah sendiri tidak keberatan dengan semua itu, menurutnya itu solusi terbaik karena ia sendiri tidak ingin mempersulit posisi Aline.
"Apa kerjaannya begitu banyak?" celetuk Elang.
"Gak banyak juga karena selalu saya cicil tiap malam", akunya jujur.
Elang garuk kepala mendengar pengakuan sekretarisnya. Tak menyangka gadis itu begitu gigih dalam bekerja, padahal gaji yang ia berikan sebagai sekretaris CEO bukanlah nominal yang sedikit, ditambah lagi kenyataan kalau mama dan papanya ternyata juga secara diam-diam menambahkan gaji gadis itu setiap bulannya, sebagai ucapan terima kasih ketika gadis itu menolong mamanya dulu. Memang ia akui, gadis di depannya ini cekatan luar biasa, pekerjaan apa saja mampu ia selesaikan dengan cepat dan ringkas, tapi ya gak harus segitunya juga, pikir Elang. Emangnya robot yang kerja melulu dan gak butuh istirahat?
"Kamu bekerja segitunya buat apa, sih, Lin? Maaf nih, bukannya aku kepo ya. Cuma penasaran aja." Akhirnya pemuda tampan itu menyuarakan keingintahuannya juga.
__ADS_1
"Ye, itu ya sama aja kepo namanya," cibir gadis berpashmina hitam itu.
"Bukan gitu. Dalam penglihatan aku, kamu tuh bukan tipikal perempuan yang hobi belanja, apalagi gila barang-barang branded yang butuh modal banyak. Buat beli mobil juga kayaknya kamu gak tertarik, buktinya ke kantor masih aja pakai ojek. Rumah? Sepertinya kamu masih betah di rumah kontrakan itu. Jadi kamu itu capek-capek kerja buat apa? Apa kamu punya tanggungan yang harus kamu biayai?"
Aline menatap terharu atasannya itu. "Ternyata perhatian juga," bathinnya.
"Gak ada satupun dari alasan yang Bapak sebutkan itu. Bapak kan tau sendiri, sebenarnya saya sudah mau mengundurkan diri dari perusahaan Bapak dan fokus membantu orang tua angkat saya mengembangkan usaha kafe mereka. Tapi Bapak nya aja yang maksa saya gak boleh berhenti. Jadi mau gimana lagi," jawabnya memasang tampang pasrah agar bos nya itu semakin merasa bersalah dan terprovokasi mempertimbangkan permohonan pengunduran dirinya.
"Jadi, apa alasan kamu kerja segininya?" tanya pemuda itu tak sabaran tanpa terpengaruh siasat Aline.
"Yah mau mengamalkan ilmu aja, Pak. Biar nanti klo dihisab gak banyak ditanyain," jawabnya sok serius padahal di pendengaran bos nya itu, jawaban itu gak ada serius seriusnya sama sekali.
Malas berdebat lebih lama, akhirnya Elang mengalah.
"Hhmmmm, boleh deh, Pak!"
"Eh, segampang itu ngajakin kamu?" celetuk Elang dengan ekspresi keheranan. Tadinya ia pikir harus berdebat dulu, tapi ternyata enggak. Mungkinkah gadis itu jenuh dengan pekerjaan namun enggan mengucapkan? Ah, Elang tak mau ambil pusing.
"Bapak serius ngajak gak sih? Tadinya ngajak, sekarang pas udah di-iya-in malah protes. Kalau gak niat ya mending Bapak gak usah basa basi begitu, bikin keki aja nih si Bapak!" rajuk Aline.
"Bisa gak kamu gak usah panggil aku 'Bapak' kalau kita sedang tidak bekerja? Aku merasa tua dan itu gak nyaman!" ucapnya mengabaikan protes dari sekretarisnya itu.
"Eh? Kok malah jadi bahas panggilan?" lirih gadis itu.
__ADS_1
"Terus saya musti panggil Bapak apa?" tanyanya kemudian.
"Terserah kamu saja. Asalkan bukan Bapak, Pak, Om atau sebutan lain yang membuat aku terdengar sangat tua, padahal umur kita cuma berbeda beberapa tahun aja. Panggil namapun aku gak keberatan. Senyamannya kamu saja!" pinta lelaki itu, lalu menghabiskan sisa air di gelasnya pertanda makan malam mereka telah berakhir.
"Jangan panggil namalah, Pak. Walau gimanapun, Bapak kan lebih tua dari saya? Kalau lebih tua setahun atau dua tahun sih gak masalah panggil nama. Tapi kan Bapak lebih tua dari itu. Panggil "kakak" aja gimana?"
Elang langsung teringat akan panggilan sekretarisnya itu untuk Arya dan Elang, dan ia merasa tidak suka dengan pemikirannya itu.
"Panggilan yang lain aja! Aku merasa punya tambahan adik saja, padahal adikku sudah banyak sekali, tiga ekor!" tawarnya yang mendapat cebikan dari sang sekretaris.
"Yeee, tadi katanya terserah saya, tapi sekarang malah protes!" Aline mengerucutkan bibirnya, membuat Elang tersenyum gemas melihat tingkah gadis yang sedang duduk di seberangnya itu.
"Kalau panggil "abang" kayanya kurang cocok juga, Bapak kan gak ada darah Sumateranya, jadi berasa panggil abang bakso, abang kerak telor, hehehehe... trus kalau panggil "aa atau akang" kayak kurang dapet aja feel nya. Panggil "kokoh" juga ga punya darah chinesenya dan gak ada sipit-sipitnya juga." Gadis itu terus saja berceloteh, berbicara pada diri sendiri seakan lelaki yang tengah duduk di depannya hanyalah bayangan tak kasat mata.
"Hmmmm... panggil apa ya? Kalau panggil "mas" rasanya kita yang akrab banget padahal enggak. Kalau panggil "bro" kedengarannya aneh." Aline masih saja berbicara sendiri, belum bisa memutuskan panggilan apa yang akan ia berikan pada bosnya itu.
"Ah, kamu kelamaan mikir. Kebanyakan pertimbangan gak penting."
"Eh, kok jadi salah saya? Bapaknya aja yang banyak maunya!" sewotnya.
"Lho? Kok aku yang dibilang banyak maunya??? Kamu tuh... Ah, udahlah panggil "mas" aja! Mas Elang, kedengarannya keren juga," putus Elang sekenanya.
"Serah deh... bos mah bebaaaas!" sindir Aline tak mau kalah.
__ADS_1