
Erlangga memimpin rapat tertutup dengan beberapa petinggi Atmaja Corp. Ia mengenakan kemeja putih, dasi abu-abu gelap dengan jas dan celana bahan warna hitam membuat auranya sebagai pemimpin menguar di ruangan rapat pagi itu. Dalam rapat yang mengagendakan keuangan perusahaan itu, setiap divisi terkait diminta memberikan laporan dan presentasi mengenai perkembangan di divisi masing-masing.
Setelah presentasi akan diadakan sesi tanya jawab. Seluruh peserta rapat telah selesai menyampaikan presentasinya, begitupun sesi tanya jawab dan penyusunan program-progam perusahaan. Rapat yang berlangsung hampir empat jam itu berjalan alot namun semuanya tetap aman terkendali. Ada beberapa catatan yang dibuat oleh Erlangga dan ia akan membahas lebih lanjut di ruangannya nanti dengan divisi terkait setelah rapat selesai. Dalam rapat ini pula, dibahas sedikit mengenai perayaan ulang tahun perak Atmaja Corp yang tinggal beberapa bulan lagi. Erlangga menunjuk Rendi, Direktur Keuangan, sebagai ketua pelaksana acara kali ini dan meminta beliau untuk membentuk timnya sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 ketika rapat berakhir. Erlangga menutup rapatnya siang itu dengan penuh wibawa lalu kembali ke ruangannya diikuti oleh Rendi. Sebelum memasuki ruangannya, Erlangga meminta sekretarisnya untuk mencarikan laporan Divisi Marketing empat bulan terakhir dan juga membuat jadwal temu dengan Bu Mira setelah jam istirahat nanti.
"Ngapain lu panggil bu Mira nanti, Lang? Apa ada masalah?" tanya Rendi mulai kepo.
Elang tidak menjawab pertanyaan Rendi karena sekretarisnya, Dira, mengetuk pintu dan memberikan laporan yang diminta oleh atasannya itu lalu pamit untuk makan siang.
"Sholat Dzuhur dulu, Nyet!" ajaknya. Rendi meng-iyakan lalu mereka sholat berjamaah di musholla mini yang sengaja dibuat Elang di ruangannya.
Setelah selesai sholat, mereka duduk di sofa. Elang menyerahkan laporan-laporan yang dibawakan sekretarisnya tadi kepada Rendi.
"Lo lihat sendiri, trus lo bandingin sama laporan yang tadi!" titahnya.
Rendi lalu mengambil dan membaca kilat laporan-laporan itu. Sementara Elang mulai menyantap makan siang yang telah dipesankan oleh sekretarisnya untuk dirinya dan juga untuk Rendi.
"Gimana menurut lo?"
"Serupa tapi tak sama. Mirip sih, tapi laporan yang lalu-lalu ini lebih detail. Penyajiannya lebih apa ya? Lebih sistematis, rinci, namun tetap jelas dan padat. Lebih enak baca yang ini sih ketimbang laporan tadi."
"Nah, itu dia. Sekarang coba lo baca yang ini!" katanya sambil menyerahkan laporan Divisi Teknik dan Perencanaan. Rendi kembali membaca laporan yang diberikan oleh sahabat sekaligus atasannya itu.
"Ada beberapa bagian, khususnya di Subdiv Legal, gaya penyampaiannya mirip dengan yang tiga ini. Trus, maksud lu nyuruh gue baca ini apa?"
"Lo pikir aja sendiri! Makan tuh makanan lo, biar otak lo gak tersumbat!"
"Sialan Lu, Nyet!" Rendi membuka makanannya lalu mulai menyantap.
Setelah makan, Elang memberikan arahan mengenai konsep untuk acara HUT perusahaan nanti. Elang juga menyampaikan pesan bahwa kedua orang tuanya meminta adanya acara amal atau semacam penggalangan dana untuk yayasan-yayasan yang dibina di bawah asuhan perusahaannya.
"Ok, noted."
"Oh iya, satu lagi. Gue mau acara ini tertutup, jangan ada media yang ngeliput di dalam. Sisanya gue serahin sama lo dan tim lo nanti."
"Oke. Udah gue catat semua. Lo tenang aja. Gue bakal buat acara yang beda dari yang udah-udah. Lihat aja nanti!" ucap Rendi jumawa.
"Nyet, kalau dipikir-pikir sepertinya yang buat laporan ini sama yang ini orang yang sama?" tanya Rendi serius kemudian menunjuk laporan Divisi Marketing beberapa bulan lalu dan laporan Divisi Teknik dan Perencanaan tadi.
Sementara Elang menaikkan sebelah alis dan tersenyum devil. "Ternyata otak lo bener-bener bekerja kalo perut lo udah diisi ya?" cemoohnya.
"Sialan lu! Gue serius. Apa perlu kita minta daftar rotasi/mutasi karyawan sama HRD?"
"Gak perlu. Cukup lo carikan aja nama-nama karyawan Divisi Marketing sama Legal dalam enam bulan terakhir dari daftar penggajian!"
"Okelah kalo gitu. Gue balik dulu, ada kerjaan yang harus gue selesaikan skalian nyariin daftar nama yang lu minta."
"Nanti balik lagi ke sini, Nyet!"
"Sip!"
Elang kembali sibuk dengan dokumen di mejanya sampai bunyi ketukan pintu mengganggu konsentrasinya.
Setelah dipersilakan masuk, bu Mira mengambil posisi duduk di sofa yang menghadap ke meja kerja Erlangga setelah ia dipersilakan duduk oleh sang empunya ruangan. Tak lama kemudian, Rendi juga memasuki ruangan CEO nya itu.
__ADS_1
Erlangga kemudian ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan bu Mira. Sedangkan Rendi mengambil posisi di sofa lain.
"Selamat siang, Bu Mira."
"Selamat siang, Pak Erlangga, Pak Rendi."
"Bu Mira. Ibu tahu saya bukan orang yang pandai berbasa basi. Jadi maaf sebelumnya jika saya akan langsung saja ke permasalahan kenapa saya memanggil Ibu," Erlangga berhenti sejenak untuk melihat reaksi Bu Mira. Wanita itu hanya mengangguk tanda mengerti.
"Oke," lalu Erlangga mengambil keempat laporan yang dikenali oleh Bu Mira sebagai laporan divisinya dan menyerahkannya kepada wanita itu.
"Saya menyukai cara penyajian tiga dari empat laporan tersebut. Sekilas mungkin tidak nampak perbedaannya tetapi jika dibaca lebih seksama, ketiga laporan itu memiliki analisa yang lebih tajam dan terperinci. Dan jujur, itu sangat membantu saya memahami kondisi divisi yang Ibu pimpin. Saya berpendapat bahwa laporan ini disusun oleh orang yang berbeda. Benar, begitu?"
Bu Mira sedikit tergagap mendengar pertanyaan atasannya itu. Perasaannya, Nita sudah membuat laporan yang menyerupai laporan-laporan yang dibuat Aline. Aline sendiri yang mengajari staf nya itu. Dan ia sendiri pun telah membaca laporan yang dibuat oleh Nita dan hasilnya bisa dikatakan serupa. Lalu, kenapa atasannya ini bisa mengetahui yang membuat laporan ini adalah orang yang berbeda? Sungguh luar biasa jelimet CEO-nya ini, pikirnya.
"Benar, Pak." Akhirnya bu Mira memilih berkata jujur. "Laporan yang tadi saya presentasikan itu dibuat oleh staf tetap saya, Nita. Sedangkan yang lainnya dibuat oleh anggota lain yang menggantikan Nita selama beliau cuti melahirkan selama tiga bulan."
Erlangga mengangguk tanda mengerti.
"Jika begitu, bisakah saya minta agar yang membuat laporan bulan depan adalah pengganti Nita saja? Saya terlanjur menyukai gaya penyajian laporan yang dibuatnya." Erlangga mulai memancing cerita.
"Maaf, Pak Erlangga. Saya rasa itu tidak bisa."
"Kenapa bisa tidak bisa, Bu Mira? Apakah yang bersangkutan sedang cuti atau mungkin sudah resign?"
"Bukan, Pak. Karyawan tersebut sudah dipindahkan ke Divisi Teknik dan Perencanaan sejak sebulan lalu".
Erlangga mengangguk-angguk, ia mulai paham benang merah laporan Divisi Marketing dan Divisi Teknik dan Perencanaan. Kemungkinan orang ini dipindahkan ke Subdiv Legal. Namun yang jadi pertanyaannya adalah, berdasarkan laporan yang diberikan Rendi, tidak ada karyawan yang dimutasi/rotasi dalam enam bulan terakhir.
"Apa maksud, Ibu? Di dalam laporan yang saya terima, tidak ada karyawan yang dimutasi atau dirotasi dalam enam bulan terakhir. Bagaimana bisa ada karyawan yang dipindahkan ke divisi berbeda tanpa terdaftar di bagian keuangan? Bisa Ibu jelaskan?"
"Aline?" tanya Elang dan Rendi serentak, dengan dahi yang sama-sama berkerut.
"Benar, Pak Erlangga, Pak Rendi," jawabnya sedikit bingung dengan kekompakan para pria muda di depannya ini.
Erlangga lalu menghubungi sekretarisnya melalui intercom, meminta agar Manajer HRD segera ke ruangannya.
Pak Rahman datang tergopoh-gopoh menuju ruangan Erlangga.
"Pak Rahman, maafkan bila saya mengganggu waktu Anda. Saya membutuhkan sedikit penjelasan yang menurut Bu Mira hanya Anda yang bisa menjawabnya," Erlangga membuka cerita, lagi.
"Silakan, Pak Erlangga. Apa yang bisa saya bantu?"
"Menurut Bu Mira, ada staf tidak tetap yang dipindahkan dari divisinya ke divisi lain. Se-pe-nge-ta-hu-an saya," katanya dengan menekankan pada kata 'sepengetahuan', "saat ini kita sedang tidak menerima mahasiswa magang ataupun karyawan baru. Lalu kenapa ada karyawan yang dipindahtugaskan dari divisi satu ke divisi lain tanpa terdaftar di keuangan? Apa Anda sedang merencanakan sesuatu, Pak Rahman?" tanya Erlangga menusuk pertanda ia sedang menahan amarahnya.
Pak Rahman yang ditanyai begitu hanya bisa menghirup udara pasrah karena dituduh sedang merencanakan sesuatu yang terdengar bermakna konotatif.
"Baiklah. Izinkan saya untuk menjelaskan semuanya!" ucapnya penuh kesabaran.
Setelah mendapat anggukan, iapun melanjutkan.
"Beberapa bulan yang lalu, ayah Anda, pak Gunawan, menghubungi saya. Beliau menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan di perusahaan sebagai staf biasa. Saat itu saya menjawab bahwa perusahaan kita tidak sedang melakukan perekrutan. Akan tetapi pak Gun memaksa untuk mencarikan posisi apa saja. Awalnya saya berniat untuk menambah anggota di Subdivisi Proyek, karena prioritas penambahan karyawan ada di sana. Akan tetapi, calon karyawan yang dimaksud ternyata tidak memiliki dokumen pendukung apapun maupun kartu identitas. Ditambah lagi dia tidak bisa bekerja fulltime, sehingga saya sangat kesulitan untuk mencarikan posisi. Namun, atas desakan ibu Anda, saya membantu dengan cara menjadikan Aline sebagai karyawan pengganti bila ada karyawan yang cuti melahirkan atau ke divisi yang tidak terlalu menuntut adanya skill khusus, mengingat Aline ini tidak bisa menunjukkan ijazahnya. Mengenai kenapa namanya tidak terdaftar di daftar karyawan penerima gaji, itu karena Aline digaji langsung oleh orang tua Anda dan dibayarkan cash melalui saya setiap bulannya," paparnya panjang lebar.
"Namanya Aline?"
"Benar, Pak. Menurut cerita bu Luna, Aline ini pernah menolong beliau saat serangan jantung."
__ADS_1
Erlangga terdiam di tempat duduknya. Apa benar ini semua karena kedua orang tuanya. Tetapi penjelasan pak Rahman tentang Aline yang pernah menolong mamanya itu benar adanya. Dokter bahkan mengatakan untung saja mamanya segera mendapat pertolongan pertama saat itu. Erlangga memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Pak Rahman, terima kasih atas penjelasannya. Maafkan saya karena sudah menuduh Bapak merencanakan sesuatu." ucapnya gentle.
"Tidak apa-apa, Pak Erlangga. Saya sudah menduga ini akan terjadi. Pak Gun meminta saya merahasiakan ini dari Anda, karena beliau sendiri yang akan menyampaikannya pada Anda. Tapi saya pikir, baik pak Gun maupun bu Luna belum memberitahu Anda."
"Ya, Bapak benar. Mungkin papa dan mama lupa."
Hening sesaat. Erlangga seperti sedang memikirkan sesuatu. Baik ,pak Rahman maupun bu Mira tidak ada yang berani bersuara.
"Bagaimana kinerja Aline ini di divisi Anda, Bu Mira?" kali ini giliran Rendi yang bersuara.
"Baik, Pak. Sangat baik. Aline mampu mengimbangi kinerja anggota tim yang lain, bahkan secara tidak langsung ikut mendongkrak kinerja anggota tim yang lain."
"Menarik." ucap Rendi.
"Baik, Bu Mira. Ibu bisa kembali ke ruangan. Terima kasih untuk waktunya," ucap Erlangga menyela pembicaraan Rendi dan bu Mira.
"Baik, Pak. Saya permisi."
"Silahkan."
Sementara itu, Erlangga kembali mencecar Pak Rahman dengan berbagai pertanyaan. Setelah menjawab semua pertanyaan atasannya itu, Pak Rahman diizinkan kembali ke ruangannya.
"Nyet, gue pikir sebaiknya si Aline ini kita awasi."
"Kita awasi gimana maksud lu?" timpal Rendi.
"Lo kan denger sendiri dari cerita pak Rahman kalo dia ini mampu beradaptasi dengan divisi bu Mira maupun Ethan. Gue sedikit curiga."
"Curiga kalau si Aline ini mata-mata lawan bisnis kita?"
"Yah, kurang lebih begitu. Gue cuma jaga-jaga aja. Ada ribuan karyawan yang menopang hidupnya dari perusahaan ini. Dan gue gak mau tiba-tiba bangkrut."
"Berlebihan lu, Nyet. Trus apa rencana lu?"
"Gue akan minta dia dipindahin ke bagian lu."
"Gila lu. Curiga curiga tapi lu letakin dia di Keuangan."
"Justru itu. Gue pengen cepat ngebuktiin apa kecurigaan gue benar apa enggak."
"Jadi, gue yang harus ngawasin dia, gitu?"
"Yap"
"Nambah-nambah kerjaan gue aja lu, Bro!"
"Di perusahaan ini, siapa lagi yang bisa gue percaya buat ngelakuin tugas mulia ini, Nyet? Gak ada. Cuma lo yang gue percaya!"
"Trus gue harus merasa terhormat gitu dapat tugas ini dari lu? Emang Bos semena-mena lu, Nyet."
"Yes, I am." Erlangga terbahak mendengar kalimat terakhir sahabatnya itu.
"Ya udeh, kapan eksekusi?"
__ADS_1
"Secepatnya!"