Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Prolog


__ADS_3

Seorang gadis cantik berseragam putih abu-abu berlari menuju sekolah barunya. Hari ini adalah hari pertama gadis cantik itu masuk sekolah di SMA Bintang, sekolah menengah atas yang paling populer di kota Bandung. Ia berlari begitu tergesah-gesah menuju gerbang sekolah yang sudah hampir ditutup rapat oleh satpam.


Aqila Assyifa adalah gadis cantik yang sering disapa Syifa oleh keluarganya itu memiliki rambut bergelombang yang membuatnya terlihat sangat cantik. Sewaktu di SMP dulu gadis cantik ini sering disapa cewek cupu karena terus memakai style jaman dulu akan tetapi setelah ia naik SMA ia pun memberanikan dirinya untuk mengubah style yang dulunya jaman old menjadi style jaman now.


Syifa orangnya sangat pendiam, cuek dan dingin dari dulu ia hanya memiliki seorang sahabat yang setia itu pun laki-laki yang merupakan sepupunya sendiri namun saat ini gadis cantik tersebut kembali kesepian tidak mempunyai teman karena sepupunya itu sudah tidak sekolah ditempat dirinya bersekolah.


Syifa berjalan lurus menelusuri lapangan dan saat ini sedang fokus memperhatikan para kakak kelas yang sedang memberi perintah kepada siswa-siswi baru. Gadis cantik itu berjalan tanpa memperhatikan kanan, kiri, depan dan belakangnya hingga ia tidak sengaja menabrak seseorang.


Brukkk


Gadis cantik itu tidak sengaja menabrak seorang siswi sampai mereka sama-sama terpental hingga terjatuh bersama.


Syifa segera berdiri, "Maaf kak.. saya benar-benar tidak sengaja" sahut Syifa mengulurkan tangan kanannya kepada siswi yang ditabraknya itu yang terlihat masih belum beranjak dari posisi terjatuhnya hingga siswi itu menatap begitu tajam kearah tangan Syifa.


Siswi itu seketika menepis uluran tangan Syifa, "Maaf maaf.. kalo jalan pake mata ini woyyy.. bukannya pake mata kaki" bentak siswi tersebut beranjak berdiri sembari menunjuk matanya.


Syifa tertunduk, "Maaf kak.. saya benar-benar minta maaf" kata Syifa semakin merasa bersalah karena menurutnya semua yang terjadi saat ini karena dirinya yang tidak berhati-hati hingga membuat orang lain celaka.


Dari kejauhan seorang siswa lelaki tampan berjalan menuju tempat kejadian brutal yang sedari tadi ia saksikan, lelaki itu tampak begitu risih melihat kejadian tersebut.


Lelaki tampan itu pun tiba dihadapan Syifa, "Ada apa ini? apa yang sedang kalian lakukan?" tanya lelaki tampan tersebut menatap kedua siswi yang sedang berselisih dihadapannya itu.

__ADS_1


Dimas Pratama adalah lelaki tampan yang lebih kerap disapa Dimas, lelaki ini begitu terkenal di SMA Bintang. Iya, bagaimana tidak? ia adalah Ketua Osis, siswa tertampan, terpintar dan terkenal jadi jangan heran jika ia termasuk cowok terpopuler di SMA Bintang.


Syifa tertunduk sangat malu, "I-ini kak.. saya nggak sengaja menabrak kakak ini" jawab Syifa hingga membuat kedua bibirnya gemetaran sedang siswi yang ditabraknya terlihat biasa-biasa saja.


Dimas menghelah napas kasarnya menatap siswi yang ditabrak Syifa, "Sandra.. apa itu bener?" tanya lelaki tampan itu dengan nada ketus yang berusaha menahan amarahnya.


Sandra menggeleng kepalanya menunjuk Syifa yang berada disampingnya, "Nggak Dim.. dia jelas-jelas sengaja menabrak gue tadi" ujar Sandra santai membela diri sedangkan Syifa masih tertunduk tidak berani menatap keatas.


Dimas menggelengkan kepalanya sembari menatap Sandra dengan tatapan tajam pertanda memberi kode untuknya kalo siswi itu lagi-lagi melakukan kesalahan.


Sandra yang mengetahui akan kode tersebut tidak mau kalah, "Dim.. tolong percaya sama gue.. anak baru ini boong" jelas Sandra membela diri masih dengan menunjuk kearah gadis cantik yang berdiri disampingnya.


Seketika semua siswa siswi berhamburan keluar kelas dan mengelilingi halaman lapangan sekolah akibat suara Dimas yang begitu kerasnya membuat seluruh siswa ikutan berkumpul menyaksikan kejadian tersebut.


Salah seorang siswa lelaki menghapiri Dimas, "Lo kenapa Dim? apa yang terjadi disini?" tanya David, wakil ketua Osis yang saat ini sedang memasang raut wajah bingung bertanya-tanyanya setelah melihat para siswa-siswi berkumpul di lapangan sekolah.


Dimas mendengus kasar, "Itu" lelaki tampan itu menunjuk Sandra dengan wajah memerah karena berhasil dibuat marah akan kelakuan Sandra yang menurutnya sudah sangat kelewatan.


David pun mengikuti kearah tangan Dimas sembari menghelah napasnya, "Oh pantas.. lagi-lagi dia lagi" balas David menatap kearah Sandra dengan raut wajah ikut memerah persis Dimas.


Lelaki tampan tersebut menaikkan kelima jari tangan kanannya, "Oke.. dalam hitungan kelima nanti.. kalo kalian masih nggak ada yang mau ngaku dengan sangat terpaksa gue bakal hukum kalian berdua" jelas Dimas dengan nada menekan sembari menatap kedua gadis yang ada didepannya itu dengan tatapan sangat-sangat tajam.

__ADS_1


Syifa yang mendengar desakan dari Dimas pun memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya untuk maju kedepan sembari mengangkat tangan kanannya pertanda ialah yang jadi biang keladinya.


David melototkan kedua matanya sembari menunjuk kearah Syifa, "Oh jadi lo? lo yang berhasil membuat keonaran hebat ini?" tanya David sinis menatap Syifa dengan tatapan yang begitu tajam.


Spontan lelaki tampan itu dibuat terkejut akan pengakuan gadis cantik yang ada dihadapannya, "Bener.. ini semua ulah lo?" tanya Dimas nada cetusnya sembari menatap Syifa dalam-dalam.


"Apa yang dia ucapkan? kenapa dia berbohong? jelas-jelas gue tadi lihat sendiri kalo yang salah itu Sandra.. si gadis pembuat onar" sambung Dias dalam hatinya.


Syifa menunduk sangat malu, "I-iya kak.. ini semua salah saya.. andai saja saya melihat jalan pasti kejadian ini tidak akan terjadi" jelas Syifa mengakui semua kesalahannya akan kejadian tersebut.


Semua siswa-siswi melihat kejadian itu bersorak sembari sibuk membuat sesuatu dengan menggunakan selembar kertas dari bukunya.


Para siswa-siswi melempar gulungan kertas bundaran sembari meleparnya kearah Syifa, "Huhhhhh!!" seru para siswa-siswi barengan masih diposisi yang sama sedang Syifa tertunduk begitu malunya.


Dimas membalikkan badannya untuk melindungi Syifa, "Sudah.. sudah.. kalian semua bubar" usir Dimas pergi menghalangi dirinya dihadapan gadis cantik yang terlihat begitu malu hingga membuat para siswa-siswi berhenti melempari Syifa kertas.


Semua siswa-siswi beranjak pergi kecuali Syifa dan Dimas, "Lo nggak apa-apa kan? apakah lo ada yang luka?" kata Dimas melihat kearah Syifa sedangkan Syifa membalasnya dengan anggukan masih dalam keadaan tertunduk.


"Siswi baru ini memiliki hati yang sangat baik.. dia bukannya mengelak seperti Sandra.. tapi dia malah mengakui semua kesalahan yang bukan seluruhnya adalah kesalahanya" ujar batin Lelaki tampan itu sembari menatap seluruh badan Syifa dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Dimas menggenggam tangan Syifa, "Sini.. lo.. ikut gue sekarang juga" ajak Dimas menarik tangan Syifa menjauhkan diri dari lapangan tempat mereka berdiri sekarang sedang Syifa hanya pasrah akan perlakukan lelaki tersebut.

__ADS_1


__ADS_2