
Semua keluarga menikmati sarapannya, dengan rasa khidmat dan sesekali mereka menambahnya dengan canda tawa dari pertanyaannya.
******
Bel sekolah sudah berbunyi Syifa dkk telah berada di kantin dan terlihat semua siswa berada dalam kantin menatap kesal ke arah mejanya.
"Lihat si culun itu semakin menjadi-jadi, iya,, kemarin ia mendekati Dimas eh sekarang Dias. Dasar,,, cewek gatel*n" ujar siswa A menatap sinis Syifa.
"Iya jelaslah, secara dia kan memang cantik terus dia katanya pinter pula, jadi, siapa pun pasti maulah yah" balas siswa B ikutan menatap tajam Syifa.
"Gue denger-denger,, dia,, dulunya pernah suka sama temen SMP-nya dulu, tapi yah gitu deh kan dia masih culun gaes jadi di tolak" ledek siswa C tertawa.
Sarah mendengar omongan para siswa ikutan emosi seketika memukul meja dengan begitu kerasnya.
"Apa-apaan kalian ini,, kalian,, kalo, mau ngomong itu bicara didepanlah, jangan bicara dibelakang aja yang kalian berani" sindir Sarah begitu emosi.
"Iya nih, emang kenapa kalo juga kalian yang terusan ikut campur urusan Syifa,, memangnya kalian pernah dengerin Syifa omongin kalian? nggakkan? iya sudah tahu nggak masih aja gitu" tutur Dino ikut menimpali.
Syifa memilih diam mendengarkan teman-temannya yang begitu antusias, membelanya tanpa ikut angkat bicara sembari menghela napas panjang.
__ADS_1
"Huffft udahlah gaes kalian nggak usah dengerin apa mereka semua, daripada kita buat masalah, eh pastu masih tambah ribet jadi biarin ajalah" ujar Syifa tidak ingin menambah masalah.
"Loh,, kok gitu sih Syif. Kita berdua,, udah bela-belain juga ngebantuin lo bukannya join, malah lo diem gitu di perlakukan seperti binatang sama mereka?" tanya Dino yang masih belum terima.
Syifa mengelus dada Dino dengan lembutnya sambil tersenyum paksa menatap kedua temannya.
"Sabar Dino,, sudahlah,, gue nggak pa-apa kok lagian ini udah bisa buat gue, lo kan tahu gue banget" sahut Syifa tersenyum. Dino mulai redah dalam emosinya.
"Iya udah deh nggak pa-apa, hari ini,, gue biarin untuk mereka berkata sepuasnya tapi besok-besok mereka bakal tahu rasa, kalo masih berbicara seperti ini" ujar Dino menatap sinis kearah siswa yang tadi.
"Iya setuju" balas Sarah mengernyitkan keningnya.
"Iya dong Sarah gitu loh" puji Sarah tersenyum.
Syifa dan Dino hanya bisa ikut senyum lebar seketika mendengar ucapan Sarah yang memuji dirinya itu.
*******
Dikediaman Brayen semua orang telah berada dalam ruang keluarga, mereka tampak begitu bahagia tidak terkecuali pengantin baru, Sonya dan Surya.
__ADS_1
"Mama Papa Sonya sama bang Surya mau izin untuk pamit sekarang" ujar Sonya tersenyum disusul Surya.
"Iya mama papa, kami pamit pulang sekarang. Mami dari tadi nelpon Surya mulu soalnya" balas Surya.
Brayen Clara tersenyum memandang anaknya begitu pula menantunya yang terlihat begitu bahagia hari ini dengan senyuman begitu indahnya di wajah mereka.
"Oh gitu, kalo gitu kalian hati-hati" jawab Brayen.
"Iya sayang awas jangan ngebut ya? Oh iya titip yang jagain anak mama yang satu ini" ujar Clara menunjuk Sonya seketika memeluk puteri semata wayangnya.
"Siap ma pa" sahut Surya antusias.
Sonya melihat ekspresi Clara yang seketika berubah, segera membalas pelukan Clara, dengan memasang senyum tulusnya.
"Mama nggak boleh sedih ya? Sonya kalo rindu pasti bakal pulang nemuin mama sama papa" tutur Sonya berusaha meyakinkan Clara agar tidak bersedih lagi.
"Mama,, sudahlah, nggak boleh seperti ini, lagian kan kita juga bisa pergi ke rumah Sinta" balas Brayen kini mengerti akan keadaan.
Clara mengangguk, "Iya sudah deh" ucap Clara mulai melepas pelukan puterinya dan kedua pasutri melaju pergi meninggalkan Clara juga Brayen, setelah saling bersalaman.
__ADS_1
Brayen Clara mengantarkan anak dan menantunya ke depan pintu rumah hingga keduanya telah pergi.