
Clara, Brayen, papa Sonya, segera keluar menyambut keluarga Sanjaya dengan penuh rasa kehormatan.
"Clara.." sapa Sinta, memeluk Clara yang bentar lagi bakal jadi besannya.
"Sinta,, akhirnya datang juga" ujar Clara tersenyum.
"Hai.. mama,, papa" jawab Syifa, mencium punggung tangan Clara Brayen disusul Surya dibelangnya.
"Wah,, kalian berdua cantik dan juga tampan sayang, sepertinya,, ayah kamu kalah" kata Brayen membuat semua orang tertawa.
"Makasih papa" sahut mereka barengan.
"Enak aja,, dulu,, aku, juga seganteng anakku jugalah" ucap Sanjaya tidak mau kalah.
Begitu juga Sanjaya dan Brayen saling menyapa satu sama lainnya disusul Wanda Fardi dan Dodi keluarga Sanjaya satu-satunya dan juga ada bapak penghulu.
Keluarga Dimas dan Dias juga ada disana, ia tampak sibuk menjamu semua para tamu yang datang dihari pernikahan Sonya karena memang Sonya juga Diass adalah sepupuan dari Brayen.
"Maaf pak,, apa kita bisa mulai sekarang saja?" tanya bapak penghulu.
"Ohya pak sekarang aja lagian sudah mulai waktunya kok" sambung Sanjaya setelah mengecek jamnya.
Surya duduk didepan Brayen dan pak penghulu, Syifa jangan di tanyakan lagi ia juga pun dah meminta izin kepada Sinta untuk pergi ke kamar Sonya, iparnya.
__ADS_1
Semua orang sudah siap, termasuk Dias, juga Dimas yang sudah duduk di bagian saksi bersama keluarga lainnya yang ada disana.
"Baik,, saya mulai sekarang ya pak?" bapak Penghulu tegas menatap mempelai lelakinya yang dianggukan oleh semua orang yang ada disana, "Iya pak".
Surya dan bapak penghulu bersalaman.
"Bismillahirrahmanirrahim.... Saya nikahkan engkau,,, saudara Muhammad Surya Sanjaya,,,,, dengan Sonya Auliyah binti Brayen,,, dengan seperangkat alat shalat dan emas kawin tersebut TUNAI" kata pak penghulu.
Surya mengeratkan salaman bapak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Sonya Auliyah binti Brayen dengan seperangkat alat shalat,,,,,,, dan emas kawin tersebut TUNAI" tegas Surya namun tegang.
"Bagaimana para saksi?" tanya bapak penghulu.
"SAHHH" balas semua barengan.
"Selamat ya bang Surya, wah salut Dimas melihatnya lancar banget bang" jelas Dimas bersalaman, disusul Dias setelahnya, "Ntar malem, sikat bang" balas Dias tersenyum mengode Surya, sedang Surya tersenyum sebagai jawabannya.
"Sayang.. tolong panggilkan Sonya kemari" ujar Clara menyuruh Dimas memanggil Sonya di kamarnya.
"Siap ma" jawab Dimas segera berlalu menuju kamar Sonya sedang Dias masih tenang menunggu disana.
Ceklek
__ADS_1
Syifa masuk, tanpa mengetuk pintu, membuat kedua sahabatnya dibuat begitu terkejutnya, akan ulah anak gadis cantik satu itu.
"Hi gaes,, ketemu lagi sama Aqila Assyifa gadis yang paling cuantik di SMA Bintang" sapa Syifa tersenyum menatap kearah kedua sahabatnya, yang terlihat dah begitu anggun.
"Syifa.. wah, lo cuantik buanget pake gaun itu" jawab Sonya dan Sarah berengan menatap takjub Syifa.
Syifa tersenyum malu.
"Wah.. Sonya,, lo cuantik buanget Nya" tutur Syifa tak berpaling melihat wajah cantik Sonya beda hari ini.
"Iya dong Sonya" jawab Sonya songong.
"Syif.. gue,,, kagak cuantik nih?" tanya Sarah berharap dibilang cantik juga sama Syifa.
"Aa elah,, tanpa ditanya pun tentu kedua sahabat gue cuantik buanget lah" balas Syifa tersenyum.
Ceklek
Pintu tib-tiba terbuka lagi, tanpa ada mengetuk pintu, dari luar seketika muncul seorang lelaki tampan, dan berjalan mendekati ketiga gadis itu, siapa lagi Dimas lah orang yang dimaksud lelaki tampannya.
"Wah.. lo cantik Nya" ujar Dimas namun matanya ada kearah Syifa sembari tersenyum manis.
"Aduh.. kak Dimas kok liatin gue sih, bukannya Sonya apa jangan-jangan.. dia masih menyukai gue?" sahut Syifa dalam hati menatap kearah Dimas
__ADS_1
"Iyalah bang.. orang Sonya, emang terlahir cantik kok aduh.. abang pasti lupa" tutur Sonya tertawa, sedang Dimas masih menatap Syifa dalam-dalam.
"Ohya.. mama Clara, suruh gue, manggil lo buat turun jadi, mending lo, turun sekarang deh" kata Dimas lalu segera berlalu menuju bawah.