
Setelah mereka keluar dari rumah, Dias segera pergi, membukakan pintu mobilnya agar Syifa bisa masuk.
"Silahkan masuk" pintah Dias memancarkan senyum tampannya.
"Kok,, gue malah jadi salting gini sih,,? lihat wajahnya Dias tambah cakep kalo lagi senyum" batin Syifa.
Dias melambaikan tangannya, "Malah bengong,, sini cepetan masuk" seru Dias menunjuk masuk mobil.
"Baru juga sosweet, eh,, udah kasar aja, dasar bocah aneh. Baru juga sweet, sekarang?" imbuh batin Syifa merontah-rontah.
"Cepatan!" seru Dias lagi namun sedikit berteriak.
"Iya iya,, ini juga baru mau masuk" tutur Syifa menuju masuk mobil Dias, sedang Dias segera memasukkan dirinya masuk lalu melajukan mobilnya.
******
Di perjalanan menuju tempat tersebut. Sesekali, Dias menatap Syifa sembari fokus menyetir mobilnya dan Syifa juga fokus, hehhe fokus makan cemilan :V
"Ekm,, kita mau kemana sih?" tanya Syifa penasaran.
"Adeh deh,, ntar lo juga bakal tahu" jawab Dias santai namun Syifa masih bingung melihat tingkah Dias.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, ia pun berhenti disebuah jembatan gantung yang indah akan pemandangannya.
"Ayo turun" seru Dias setelah memarkirkan mobilnya.
"Disini?" tanya Syifa melihat disekitarnya.
"Iyalah Ifa, ayo" Syifa pun mengangguk lagi-lagi Dias turun membukakan pintu mobilnya untuk Syifa.
"Maacih" balas Syifa tersenyum kini memperlihatkan lesung pipinya yang begitu indah.
__ADS_1
Setelah mereka keluar dari mobil, Dias dan Syifa pun saling berpegangan tangan melangkah pergi tempat tersebut yakni menuju jembatan gantung Cinta.
"Kamu suka?" tanya Dias setelah berada di tengah.
Syifa mengagguk, "Iya indahnya" balas Syifa senang.
"Ekm,, iya tapi masih indahkan kamu" goda Dias tapi dengan tatapan serius, Syifa tersenyum bahagia.
"Ye, makin lama lo makin pinter ambil hati cewek aja sih" ucap Syifa spontan memukul bahu kekar Dias.
"Gue sebenarnya enggak pinter gombalnya tapi demi lo gue bisain" tutur Dias menatap Syifa dalam-dalam dan semakin mengeratkan genggamannya.
Setelah mereka menikmati pemandangan, dan udara segar yang ada ditepi pengunungan diatas jembatan gantung tersebut mereka pun memutuskan pergi.
"Dias" panggil Syifa menatap Dias lagi, juga Dias pun menatap mata Syifa yang berada disampingnya.
"Iya,, ada apa Ifa?" tanya Dias penasaran.
Dias tersenyum licik, "Iya,, kamu mau apa?" ujar Dias penaran.
"Gue mau pipis" jawab Syifa menggaruk kepalanya.
"Ekh,, sekarang?" ujar Dias bercanda.
"Iyalah Dias masa iya tahun depan sih" balas Syifa.
"Iya,, kali aja gitu" receh Dias membuat Syifa kesal.
"Dias" teriak Syifa dalam kemarahannya.
"Hehhehe becanda kok, ayo," imbuh Dias memegang tangan Syifa, bergegas menuju mobil dan melajukan kembali mobilnya mencari toilet umum.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh mereka kini berhenti tepat di depan rumah lumayan besar.
"Ini rumah siapa?" tanya Syifa keluar mobil bersama Dias.
"Ekm,, ini rumah kakek,, sama nenek," jawab Dias lalu menarik Syifa segera masuk ke rumah tersebut.
"Kakek,, nenek,, Dias dateng" teriak Dias mencari-cari keberadaan kakek dan nenek dari ayahnya, Pratama.
Setelah berada di ruang tamu, mereka melihat kakek dan nenek yang sedang duduk berdua saling pelukan layaknya orang berpacaran.
"Kakek,, nenek" sapa Dias tersenyum melihatnya.
"Eh,, cucu kesayangan nenek dateng" kata Ara, nenek Dias dan Dimas berdiri memeluk Dias.
"Ini siapa Dias?" tanya Darwis, kakek Dimas dan Dias sembari menunjuk Syifa yang berdiri dihadapannya.
Dias tersenyum, "Biasalah kek,, calon" jawab Dias.
"Calon apa? istri?" imbuh Darwis lagi, seketika Syifa sama Dias terkejut, saling memandang, melototkan matanya tidak tahu harus menjawabnya apa.
Arah dan Darwis, memang pasangan tua, pernikahan menurutnya suatu yang sangat sakral yang tak dapat dipermainkan. Mereka berharap ketururunnya seperti layaknya dia yang sangat menghargai penikahan.
Darwis juga Arah, mempunyai dua anak. Satunya laki laki satunya lagi perempuan. Anak-anaknya meminta mereka untuk tinggal bersamanya namun Darwis tak mau itu, begitu pula dengan Arah, mereka tidak ingin merepotnya kedua anak-anaknya diusia tua mereka.
"Ekm kakek,, nenek, aku Syifa" tutur Syifa menyalami kedua punggung tangan Darwis dan Arah.
"Oh,, nak Syifa,, Cantiknya,, kamu nak" kata Arah yang sedang mengelus puncak kepala Syifa lembut. Syifa, hanya tersenyum membalasnya.
"Iyalah nek, temen Dias" sombong Dias tersenyum.
Syifa pun gelisah, "Nenek,, apa boleh, Syifa numpang buang air kecil soalnya Syifa kebelet nek" tanya Syifa menunggu jawaban Arah, Arah mengagguk. Seketika itu Arah mengantar Syifa pergi ke toilet.
__ADS_1