
Bel sekolah berbunyi begitu merdunya membuat semua orang yang mendengarnya ikutan girang sampai segera berhamburan keluar kelasnya.
"Syifa.. kantin yuk!!" seru Sarah sendiri tanpa Sonya yang hari ini memang tidak sempat masuk sekolah karena kurang enak badan. Syifa tersenyum tanda mengiyakan akan ajakan sahabatnya tersebut.
"Lo.. mau.. ke kantin ya?" tanya Dino menarik tangan Syifa, membuat gadis itu hampir terjatuh, untungnya Dias cepat menimang tubuh mungil gadis cantik itu.
"Uhh.. sorry sorry" imbuh Syifa, masih dalam pelukan Dias hingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Sweet deh kalian jadi guenya mau juga" sahut Sarah membuat mereka pun kembali pada posisi normal.
"Apa sih Sar" elak Sarah blushing.
"Hahha.. emang iya kok.. gue juga mau kek kalian ini yang tiap harinya ketemu teros" sambung Sarah.
Doni tersenyum, "Tenang aja Sar.. gue masih ada kok jadi bisalah" kata Doni menyenggol bahu Sarah.
"Ckckck.. idih najis gue" balas Sarah berdecak kesal.
Dias juga Syifa melihat kejadian itu, seketika tertawa sedangkan Sarah dan Doni saling membelakangi.
"Sudahlah.. nggak usah marahan gitu,, entar jodoh lo" sambung Syifa membuat kedua sejoli itu melangkah namun terus saling bertabrakan.
"Ehh.. ngapain lo ngikutin gue terus sih!!" ujar Sarah melangkah kearah kiri, Dino pun begitu sebaliknya.
"Kok gue, jelas-jelas lo yang ngikutin gue" balas Doni ikutan kesal menunjuk gadis yang ada dihadapannya dengan tatapan tajam sembari lelototkan matanya.
"Cieeehhhh cocweet" ledek Dias dan Syifa barengan.
Sarah tambah kesal, "Apa sih.. lo berdua nggak lucu" ujar Sarah lalu pergi tanpa menatap ketiga temannya itu.
__ADS_1
"Gara-gara lo sih Syif" lirik Dino ikut berlalu.
Syifa menggeleng kepalanya, "Kok, jadi gue? lo juga" seru Syifa menunjuk lelaki tampan disampingnya itu lalu ikutan berlalu menyusul Dino dan Sarah.
"Biarinlah.. semuanya menyalahkan gue termasuk lo, yang penting itu.. lo sudah nggak marahan lagi sama gue" kata batin Dias ikut berlalu menyusul Syifa.
Seperti hari biasanya mereka makan rame-rame seperti hal dihari-hari sebelumnya namun kali ini suasananya terlihat berbeda. Para siswa menatap Syifa sembari tersenyum, Dias melihat itu terlihat begitu risih.
"Syifa!!" panggil Sonya.
"Ekm.. apaan" sahut Syifa cuek karena masih fokus memakan makanan pesanannya.
"Coba nengok disekeliling deh.. semuanya sedang perhatiin lo terus Syif" sahut Sonya hingga membuat gadis cantik itu tiba-tiba tersendak.
Uhukk uhukk
Syifa yang tersendak, segera mengambil air putihnya sembari menatap pandangan siswa disekelilingnya.
"Aduh.. yang gue takuti selama ini terjadi lagi" imbuh Syifa yang berhasil membuat semuanya melongok.
"Maksud lo?" tanya Sonya menatap gadis cantik itu.
Syifa menghelah napas kasarnya, "Iya ini yang nggak suka.. gue nggak suka perlakuan ini" tambah Syifa.
"Ekm.. jangan bilang ini alasan lo memilih jadi cewek cupu, semasa SMP dulu?" tanya Sarah lagi. Syifa pun menggelekkan kepalanya tapi Dino malah membuka mulut karena tak melihat gelengan Syifa.
"Iya itu.. tumben banget lo nggak telmi Sar" ujar Dino yang dipelototi mata sama Syifa, Sarah dan Dias.
"Dinosaurus" ucap Syifa setengah berteriak sehingga semua tatapan mata mengarah ke cewek cantik itu.
__ADS_1
"Uppst.. maaf Syif, gue ceplosan" kata Dino menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Syif,,ceritain dong" imbuh Sarah semakin penasaran sedang Dias memilih untuk menyimak semuanya.
"Au Ahh.. gue.. males cerita" balas Syifa melanjutkan makanannya tanpa memperhatikan Sarah lagi. Sarah melihat itu ikutan fokus menyantap makanannya lagi karena menurutnya entar juga Syifa bakal cerita.
******
Dikamar minimalis yang berukuran luas itu sepasang suami istri sedang tertidur saling berpelukan dengan penuh ketulusan. Mereka adalah Surya dan Sonya.
"Sayang cepet sembuh!!" ujar Surya mencium kening istrinya, Sonya yang terlelap dalam tidurnya. "Jangan sakit.. entar aku yang jagain siapa?" sambung Surya.
Ceklek
Setelah berbicara dalam kehinangannya pintu kamar Surya terbuka lebar hingga memunculkan Sinta jalan menuju kearah Sonya dan Surya.
"Sayang.. gimana dengan istrimu?" tanya Sinta mulai khawatir setelah melihat Sonya yang terlihat pucat.
Surya beranjak duduk, "Eh.. ada mami.. ini mi.. Sonya udah baikan kok entar juga dia past bakalan sembuh kok" tutur Surya tersenyum. Sinta mengangguk.
"Ekm.. baiklah nak.. tapi, kamu udah berikan dia obat kan?" tanya Sinta lagi yang segera diangguki Surya.
"Syukurlah nak, kalo semisal nanti suhu Sonya masih belum turun juga kamu langsung telpon dokter indra" jelas Sinta memperingati Surya. Surya mengganguk.
"Kalo gitu, mami keluar sekarang!! kamu jaga istrimu baik-baik ya sayang!!" seru Sinta tersenyum.
Surya ikut tersenyum, "Siap mi" imbuh Surya melihat Sinta berlalu sembari menutup pintu kamarnya.
Suami tampan itu membaringkan diri disamping istri tercintanya tersebut sembari memeluknya erat.
__ADS_1
Sonya menggelengkan kepala, "Mama.. papa.." sahut Sonya mengigoh memanggil orang tuanya.