
Di perjalanan menuju rumah, Surya menatap baju Syifa kembali yang terlihat begitu kotornya.
"Fa, ceritain sekarang" ujar Surya memulai obrolan.
"Oh ini kak, ini cuma salah paham aja kak" kata Syifa menjelaskan.
"Salah paham apanya? Fa, jelas-jelas itu kotor parah" balas Surya lagi.
Syifa tak bisa berbasa-basi lagi menceritakan semua kejadian yang terjadi kepadanya di sekolah.
"Lo nggak cantik, nggak cupu, eh.. di bully mulu, apa lo nggak bosen?" tanya Surya.
"Taulah kak.. alasan gue ngecupu dulu itu karena gue nggak mau punya temen fake, yang mereka terpaska berteman sama gue, karena tahu kalo gue kaya" kata Syifa menjelaskan.
"Lalu.. sekarang gimana? enak?" ujar Surya kembali.
"Iya, lumayan sih kak yang terpenting gue nggak fake lagi dan sekarang menjadi diri gue lagi" balas Syifa.
"Baguslah, kalo lo sudah ngerasa damai" ujar Surya.
Beberapa saat setelah perjalanan yang cukup jauh, Syifa dan Surya tiba di rumahnya. Rumah bernuansa begitu mewah dengan halaman yang begitu luas.
Syifa dan Surya masuk ke dalam rumah.
"Surya, Syifa kalian kok pulang cepet?" sapa seorang wanita paruh baya, Sinta Purnama. --Mami Syifa dan Surya.
"Iya mi, tadi jam kuliah kosong lagi. Makanya pulang cepet" jawab Surya.
"Oh gitu, kalo Syifa? gimana hari pertama di sekolah sayang?" balas Sinta penasaran.
__ADS_1
"Seru mi, seru banget" kata Syifa tertawa.
"Loh.. baju Syifa kok kotor gitu?" tanya Sinta lagi.
Seketika Surya tertawa.
"Oh ini mi, biar kakak yang jelasin ya? soalnya Syifa mau ganti baju ini dulu" balas Syifa.
"Baiklah sayang, jangan lupa mandi yang bersih ya?" pintah Sinta.
"Siap, itu pasti mi" jawab Syifa.
Syifa beranjak pergi meninggalkan Sinta juga Surya di ruang tamu, menuju masuk kamar segera mandi.
*****
Disisi lain, masih di ruang tamu. Surya dan Sinta kini bercerita mengenai permasalahan Syifa.
"Sudahlah nak, biarin aja. Itu mungkin sudah menjadi pilihan terbaik adikmu" jawab Sinta.
"Tapi mi, aku nggak tega melihat Syifa diginiin terus" balas Surya dengan nada cetusnya.
"Ada apa ini, kalian pasti lagi gibahin papi kan?" sapa lelaki paruh baya, Sanjaya Aditya. --Papi Syifa, Surya.
"Eh.. papi sudah pulang. Gimana pi kerjaannya? hari ini lancar kan?" tanya Sinta mengambil tas Sanjaya.
"Iya, seperti biasa mi alhamdulilah semuanya lancar" ujar Sanjaya duduk, "Ohiya mi, Syifa dimana?" balas Sanjaya lagi.
"Ada kok pi di kamarnya, dia lagi mandi" balas Sinta.
__ADS_1
Setelah beberapa menit setelahnya, Syifa menuruni tangga dengan pakai dress selutut berwarna navy.
"Papi" sapa Syifa berjalan memeluk Sanjaya.
"Anak papi makin cantik aja" ucap Sanjaya mencium kening Syifa.
Syifa melepas pelukannya, "Iya jelas dong papi, Syifa kan habis mandi" balas Syifa.
"Anak papi ini walau nggak mandi beberapa hari pun tetap aja cantik" goda Sanjaya.
"Ih.. papi nih suka gombal mulu" jawab Syifa.
Surya dan Sinta hanya menyimak.
"Pi, kalo Surya gimana?" tanya Surya penasaran.
"Kalo kakak sudah jelas" balas Syifa tersenyum.
"Jelas? jelas apanya dek?" kata Surya lagi.
"Iya gitulah kak, masa kakak nggak peka sih? jawab Syifa tertawa.
Surya semakin dibuat bingung oleh ucapan Syifa.
"To the point ajalah dek, nggak usah di gantung kek jemuran basah" ujar Surya mulai kesal.
"Kakak itu mirip sama orang yang adek sangat suka" kata Syifa.
"Suka? wah.. pasti ganteng tuh" jawab Surya.
__ADS_1
"Iya.. jelas dong kak. Sudah ganteng, imut, lucu lagi" kata Syifa.