
Syifa hanya me-read isi pesan cowok rese tersebut.
Dias Pratama : "Lo emang cewek rese ya?"
Dias Pratama : "Balas kek jangan di read mulu"
Dias Pratama : "Kalo nggak lo bakal menyesal"
Syifa mulai kesal, kemudian memblokir nomor orang yang merupakan cowok yang paling rese sedunia.
"Rasain, siapa suruh gangguin gue mulu" ujar Syifa.
******
Di koridor sekolah, Syifa hanya berjalan santai, pergi berjalan menuju kelasnya karena tadi ia diantar pagi oleh Surya yang lagi masuk kuliah pagi.
"Selamat pagi cewe rese" sapa seorang siswa lelaki, benar saja ia adalah Dias. Lelaki semalam ia blokir.
Syifa mulai kesal.
"Cemberut aje.. muka lo kenapa di tekuk gitu?" ucap Dias mengacak-acak rambut Syifa.
"Ihh jangan setuh gue, emang kita kenal?" ujar Syifa.
"Oh iya, nama lo Aqila Assyifa kan? kenalin gue Dias" jawab Dias melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Egp.. gue nggak mau kenalan sama cowok rese kek lo" balas Syifa berjalan cepat meninggalkan Dias.
Dias sigap mengikuti Syifa hingga berada kembali di hadapannya.
"Idih.. sana lo jauh-jauh dari gue" sahut Syifa lagi.
"Kita kan sekelas, itu berarti kita searah dong" jawab Dias menarik tangan Syifa hingga tiba di kelas.
"Lepasin nggak? kalo nggak gue tampol nih, mau lo?tangan gue gatel soalnya pengen nabok" balas Syifa memperlihatkan tangannya ke arah Dias.
"Mau nabok? iya? ok.. ini silahkan. Mau yang kiri atau yang kanan? gue siap kok asal blokiran harus lo buka gimana? setuju?" ujar Dias menunggu jawaban Syifa.
"Ogah" tegas Syifa.
"Baiklah kalo lo nggak mau tangan lo pokoknya akan kek gini sampe lo buka blokiran itu" balas Dias lagi.
Dias terus memegang tangan Syifa hingga pelajaran mulai, yang tadinya Sarah sebangku dengan Syifa ini malah Dias yang duduk disampingnya dan Sarah kini duduk di belakang tempat dimana Dias berasal.
"Adit, kamu kenapa duduk disitu" ujar pak Fardi, guru Matematika.
"Dias pak, bukan Adit" balas Dias membenarkan.
"Iya iya maksudnya saya Dias. Kamu kenapa disitu?" kata pak Fardi lagi.
"Ini pak.. duduk dibelakang tulisannya nggak keliatan jadi pindah kesini" jawab Dias.
__ADS_1
"Emang sejak kapan kamu fokus belajar setahu saya kamu tinggal kelas karena nilaimu yang begitu buruk tak seperti kembaranmu Dimas yang terusan bagus" bentak pak Fardi, guru yang terkenal paling tegas.
"lagi lagi dan lagi, nama itu lagi bosen gue denger itu mulu" bisik batin Dias.
Syifa terkejut mendengar ucapan pak Fardi barusan, mengenai Dias rupanya saudara kembar dari Dimas.
"Hah? mereka kembaran? oh.. pantas saja, wajahnya sangat mirip dengan Dimas" kata batin Syifa.
"Dias, kenapa kamu nggak ngejawab pertanyaan dari saya? itu tangan kamu kenapa lagi?" ujar pak Fardi.
Syifa mulai ketakutan sedangkan Dias biasa saja.
"Oh.. tangan saya? ini pak?" jawab Dias mengangkat tangannya dan melepaskan tangan Syifa.
"Baik, kita lanjutkan lagi" balas pak Fardi serius.
Semua siswa dikelas X.8 mulai serius belajar hingga akhirnya jam istirahat tiba, semua murid keluar kelas ada yang menuju perpustakaan, kantin, taman, dll.
"Hey.. lo ikut gue sekarang" ucap Dias menarik paksa tangan Syifa.
"Apa sih, gue nggak mau lepasin nggak?" balas Syifa memberontak.
"Bang, lo nggak boleh kasar gitu" ujar Sonya.
"Stop.. ada apa ini? kenapa kalian bertengkar?" balas Dimas dan anak Osis lainnya datang.
__ADS_1
"Ini bang.. bang Dias narik paksa tangan Syifa" jawab Sonya lagi, menunjuk tangan Syifa dan Dias.