
Seusai makan malam, mereka kembali pergi menuju kamar masing-masing, terlihat Syifa sudah berada di tepi tempat tidurnya sembari memainkan ponselnya.
Iya, Syifa sedang membuka whatshapp dan tak lama setelahnya. Seseorang yang tak asing untuknya kirim pesan.
Dias Pratama : "Ifa"
Syifa membaca dan mengetik untuk membalasnya.
Aqila Assyifa : "Ekm"
Dias Pratama : "Mulai deh cueknya"
Aqila Assyifa : "Auu ah males"
Dias Pratama : "Dulu, tunggu sebentar"
Aqila Assyifa : "Apaan lagi"
Dias Pratama : "Begini Syif besok kan hari minggu"
Aqila Assyifa : "Iya gue juga tahu besok hari minggu"
Dias menggerutu kesal membaca balasan Syifa kini cuek terhadapanya.
Dias Pratama : "Aduh Ifa, bukan gitu maksud gue"
Aqila Assyifa : "Terus?"
Dias Pratama : "Gue mau besok lo ikut sama gue"
Syifa bingung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aqila Assyifa : "Kemana?"
Dias Pratama : "Ada deh, besok juga lo bakal tahu"
Aqila Assyifa : "Pagi, siang, sore ato malem?"
Dias Pratama : "Semua boleh?"
Aqila Assyifa : "Ihh serius"
__ADS_1
Dias Pratama : "Ifa gue serius ini"
Aqila Assyifa : "Serah lo"
Dias Pratama : "Serius?"
Aqila Assyifa : "Menurut lo?"
Dias Pratama : "Nggak"
Aqila Assyifa : "Iya udah kalo gitu nggak usah"
Dias Pratama : "Ifa mah gitu"
Syifa mulai kesal entah mengapa ia merasa Dias ini hari begitu menyebalkan.
Aqila Assyifa : "Gue kenapa lagi?"
Dias Pratama : "Nggak, pokoknya lo harus bisa titik"
Syifa semakin dibuat bingung oleh sikap Dias.
Aqila Assyifa : "Serah lo"
Syifa membaca tanpa berniat untuk membalas chatt Dias karena menurutnya percuma membalasnya dan percakapan panjang lebarnya pun berakhir.
"Ada apa dengannya?" ujar Syifa semakin penasaran.
******
Di kediaman Pratama, Dias sedang berada di taman rumahnya. Ia terlihat senyam senyum menatap lurus ponselnya.
"Ifa, besok gue bakal buat lo bahagia" ujar Dias tetap dalam posisi tersenyum, namun, seseorang dari atas terlihat begitu serius menatapnya. Lelaki itu yang tak lain dan yang tak bukan adalah Dimas.
"Dias kenapa sebahagia itu? apa dia menang undian" tanya Dimas memperhatikan kembarannya.
"Gue mendingan,, masuk kamar cepetan istirahatnya biar besok tambah fresh" bangkit Dias beranjak pergi masuk rumah menuju kamarnya.
******
Syifa mulai meluruskan dirinya,segera memfokuskan diri, karna masih di buat penasaran akan tingkah laku Dias yang menurutnya begitu ganjil. Setelah capek ia pun tertidur beranjak dari alam sadar menuju mimpi.
__ADS_1
Sinta sedang menyiapkan sarapan pagi, untuk suami anak, dan juga menantunya. Sinta bersama bibi Surti pelayan di rumahnya.
"Selamat pagi mami" sapa Sonya dengan senyuman.
"Eh,, menantu cantik mami sudah bangun" ujar Sinta.
"Mi, aku bantunya apa?" tanya Sonya bingung.
"Ekm sayang kamu bantunya memotong bawang aja ya, bisa kan?" tanya Sinta balik. Sonya mengiyakan.
Sinta sibuk membuat nasi goreng, sedangkan Sonya, yang mengupas bawang merah, hingga matanya kini memerah bagaikan mata ikan yang tinggal di laut.
"Bawangnya jahat mi" ucap Sonya seketika nangis.
"Sayang kamu nangis?" tanya Sinta memastikan.
"Ekm,, bawangnya nakal mi" balas Sonya kini terisak.
Sinta menahan tawanya, menuju mengecek keadaan menantu kesayangannya. Iya, gimana nggak menjadi menantu kesayangan orang Sonya menantu pertama keluarga Sanjaya.
"Iya udah sayang, udah ya biar yang lanjutin bibi Surti aja" perintah Sinta. Sonya menghentikan aktivitasnya dan mengiyakan perkataan mertuanya.
"Sayang kamu pergi bersihin tangan kamu dulu udah itu pergi panggilin suamimu dan Syifa ya?" ujar Sinta yang dituruti Sonya.
Sonya beranjak, menuju kamarnya, untuk memanggil suaminya tapi di kamarnya terlihat Surya telah keluar dari dalam kamar mandi bertelanjang dada.
"Kamu sudah mandi?" tanya Sonya.
"Iya dong sayang, kamu sendiri?" tanya Surya balik.
"Sudah" balas Sonya singkat.
"Matamu kenapa kok merah gitu?" tanya Surya lagi.
"Itu tadi aku kupas bawang, eh tau-tau jadi gini" ucap Sonya. Surya malah tertawa.
"Kamu kok ketawa sih,, orang istrinya lagi kesusahan juga" kesal Sonya beranjak menuju kamar mandi.
"Hehhe nggak lucu aja gitu" jawab Surya ikut masuk.
"Sana nggak usah deket-deket deh" ujar Sonya kesal.
__ADS_1
Surya menahan tawa, "Kamu marah ya,?" tanya Surya memastikan, "Menurutmu?" balas Sonya masih kesal melihat suaminya yang tak peka seketika Surya maju membantu Sonya membasuh matanya yang lagi-lagi masih merasa perih.