Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Tanda-Tanda


__ADS_3

Seusai kedua gadis cantik itu mengganti pakaian sekolahnya, mereka pun langsung menuruni anak tangga. Langkah kakinya membawanya menuju keruang tamu namun setelah berada disana tampak wajah Sarah terlihat begitu kesal.


"Dino" panggil Syifa mendudukkan dirinya disamping Sanjaya sedang Sarah mau tidak mau dia pun duduk disampingnya Dino.


"Syifa.. eh.. ternyata ada Sarah" ujar Dino tersenyum menatap Sarah yang duduk disampingnya.


Sarah mengangguk tersenyum, "Hai Dino" sapa Sarah. Dino pun memilih hanya mengangguk membalas sapaan gadis cantik itu.


"Oh iya No.. bunda mana? kok nggak bareng?" sahut Syifa lagi mencari keberadaan Wanda, bunda Dino.


"Ada kok bentar lagi juga bunda dateng" balas Dino.


"Ekm gitu.. tumben banget lo dateng kesini.. apa karena lo tahu ada Sarah disini jadi lo datang kemari? iyakan? ayo ngaku deh" goda Syifa mengedipkan matanya kearah Doni membuat kedua sijoli itu malu.


"Ihh.. apaan sih Syif" sahut mereka barengan, sontak mengukir senyuman diwajah Syifa, Sanjaya dan Sinta karena ulah anak-anaknya.


"Cieeehhhh cieeehhhh" sahut Syifa lagi.


Ceklek


Suara pintu rumah terbuka lebar terlihat wanita cantik muncul membawa sekeranjang buah-buahan dan berjalan menuju tempat berkumpulnya mereka.


"Bunda.." sapa mereka barengan sembari menyalami punggung tangan Wanda begitu pun dengan Sanjaya dan Sinta ikutan saling berpelukan.

__ADS_1


"Ini kak.. kata Doni.. Sonya lagi sakit ya?" tanya Wanda lalu memberikan Sinta sekeranjang buah-buahan untuk Sonya.


Sinta mengangguk, "Iya Nda.. tadi pagi.. badan Sonya suhunya panas jadi nggak masuk sekolah untungnya Surya nggak ada kuliah jadi terus menemani istrinya" jelas Sonya yang diangguki Wanda.


"Ekm.. aku rada-rada agak curiga sih kak" ujar Wanda yang membuat semua mata disana menatapnya.


"Maksudmu Nda?" tanya Sinta penasaran.


"Iya.. cuma prasangka aja sih.. kali aja kan kalo Sonya diberi hadiah secepat ini kak" balas Wanda tersenyum. Sinta yang mulai paham akan penuturan adik iparnya itu ikutan tersenyum begitu pun yang lainnya namun tidak untuk Sarah.


Sarah menggeleng kepala, "Hadiah? nggaklah bunda orang ultah Sonya masih jauh juga" ujar Sonya tanpa dosa dengan suara setengah berteriak.


Pletak


Tanpa berbasa-basi lagi, Syifa menjitak kepala Sarah dengan kasarnya hingga Sarah menjerit kesakitan.


Syifa menggeleng kepala, "Adduh.. Sarah, kenapa sih otak lo nggak perna encer? tangan gue ini dah bosen jitakin pala lo terus" ujar Syifa kesal menatap Sarah.


"Emang.. letak kesalahan gue dimana sih Syif? orang ultah Sonya masih jauh" ucap Sarah penasaran. Sinta melihat kejadian tersebut pun ikut angkat bicara.


"Sayang.. maksud dari bunda Wanda itu bukan dapat hadiah ultahnya. Tapi dapat hadiah dari tuhan" imbuh Sinta berhasil membuat Sarah menggangguk paham akan semuanya.


Sarah tersenyum, "Oh gitu mi, hehhe maaf" sambung Sarah cengengesan sendiri yang di balas tawa orang orang yang ada disana terlebih Dino.

__ADS_1


"Jadi,, maksud mami Sonya hamil mi?" tanya lelaki yang baru turun dari tangga bersama istrinya, Sonya.


Semua mendengar sahutan itu segera menolehkan kepalanya kesumber suara tadi terlihat pasutri itu telah berjalan menuruni anak tangga dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Iya mi.. apa benar Sonya sudah hamil?" tanya Sonya menimpali dengan penuh harap bersama Surya.


"Ekm.. begini sayang.. bunda dulu.. pas hari pertama bunda tahu kalo bunda hamil persis seperti kamu ini badan bunda demam, terus berasa pusing gitu" ujar Wanda menjelaskan semuanya.


Sonya mengangguk, "Tapi.. sepertinya.. bunda bener deh.. karena dari tadi kepala Sonya sakit mulu" balas Sonya lagi sembari memegang kepalanya.


Wanda tersenyum lebar, "Sayang.. memangnya kamu sudah berapa minggu nikahnya?" tanya Wanda lagi memastikan.


"Ehh kalo nggak salah bunda udah jalan tiga minggu deh.. oh iya bener udah tiga minggu" sahut Syifa ikut mengingat-ingat hari pernikahan Sonya.


"Iya bunda.. dan akhir-akhir ini.. Sonya menunggu datang bulan tapi belum juga, padahal aku sudah telat seminggu" ujar Sonya yang membuat semua orang tersenyum menatap Surya dan Sonya.


"Berarti itu sudah kemungkinan besar dong sayang, mudah-mudah aja bener.. mami udah nggak sabar nimang cucu soalnya" kata Sinta bersemangat.


Sanjaya tersenyum, "Bukan mami aja.. papi juga kali" balas Sanja yang berhasil membuat semua tertawa.


Wanda tersenyum menatap Sonya, "Gimana.. kalo kita tesnya sekarang aja? kebetulan tadi bunda udah beli testpeck sewaktu perjalanan kemari" sambung Wanda mengambil testpeck dari dalam tasnya.


Semua yang ada disana tersenyum bahagia dalam satu harapan, berharap apa yang mereka bikirkan benar adanya kalo memang itu benar hari ini adalah hari yanh paling bersejarah untuk mereka semua.

__ADS_1


Surya tersenyum, "Sayang.. apa kamu sudah siap?" tanya Surya menatap tulus kearah istri cantiknya yang terlihat begitu gelisah.


Sonya menundukkan kepalanya, "Sebenernya.. aku takut.. aku takut, kalo ternyata kita salah mengirah itu sebabnya aku nutupin semua ini dulu, sebelum semuanya pasti" lirih Sonya dengan nada sedih.


__ADS_2