
Seketika Syifa mengagguk tersenyum manis hingga kedua lesung pipinya muncul begitu saja di pipinya.
"Ini, aaaaa" ujar Dias memberi es creamnya ke mulut Syifa, gadis itu terlihat begitu senang setelah es krim coklat masuk ke dalam mulutnya.
"Enak?" kata Dias lagi setelah melihat tingkah konyol dari gadis yang disuapinya begitu bahagia, "ini, coba lagi" balas Dias, menyuapi Syifa lalu Syifa, terus saja menikmati suapan es krim dari tangan Dias.
Dias hanya menggelengkan kepalanya seraya begitu gemes melihat tingkah laku gadis manja yang ada di hadapannya sekarang.
"Imutnyaaaa" ucap batin Dias menatap Syifa.
Lagi-lagi mulut Syifa terbuka lebar-lebar.
"Mau lagi" kata Syifa dengan manja.
"Ini ambil saja" ucap Dias memberikan es krimnya.
"Nggak mau, maunya disuapin" jawab Syifa manja.
"Lo manja banget" kata Dias, tapi begitulah tetap aja menyuapi es krim masuk ke dalam mulut gadis itu.
__ADS_1
"Biarin, emang iya" balas Syifa hanya tersenyum kini menikmati setiap es krim yang masuk di mulutnya.
Beberapa menit setelahnya, es krim Dias telah habis dimakan oleh Syifa. Dias beranjak pergi kearah kasir dan membayarnya bersama Syifa.
"Totalnya.. keseluruhan berapa mba?" ucap Dias lalu membuka dompetnya.
"80 ribu dek" jawab pelayan tersebut.
Lalu dengan segera Dias mengeluarkan uang ratusan ribunya selembar memberikan pelayan itu, setelah ia mendapatkan kembaliannya Syifa Dias memutuskan untuk pulang, karena Syifa merasa ibah, melihat Dias telah membawa paper bag yang lumayan banyak.
Di perjalanan menuju rumah Dias yang sedari tadi itu hanya fokus menyetir mobil milik Syifa sesekali Dias mencuri-curi pandang menatap gadis yang ada tepat disampingnya sedang sedang memakan cemilan.
Seketika Syifa mendengar ucapan Dias barusan, lalu tersendak oleh cemilan yang dikunyah dimulutnya ia segera mengambil air yang ada di kursi belakang.
Uhuk uhuk
Syifa meminum air, "Lo kalo mau gombal kode dong, nggak usah langsung bilang" kata Syifa muka datar.
"Emang ada sejarah, kalo orang mau gombalin orang harus mesti pake kode dulu?" tanya Dias tertawa liat ekspresi yang muncul disetiap selah wajah Syifa.
__ADS_1
Syifa seketika menggeleng kepalanya, "Iya nggak sih tapi khusus lo harus gitu" ujar Syifa, ia membalasnya dengan memasang wajah datar seperti laki-laki itu.
Perjalanan yang di tempuh kira-kira setengah jam itu berakhir di halaman rumah Syifa, seketika Dias pergi memakirkan mobil Syifa kembali ke tempatnya lagi.
"Lo mampir dulu?" tanya Syifa membuka pintu mobil menatap kearah laki-laki yang bersamanya seharian.
"Nggak usah gue pamit pulang aja" sahut Dias lalu ia melakukan hal sama seperti Syifa yang keluar mobil.
Dias tersenyum, "Oke gue pamit pulang ya?" kata laki laki tersebut sambil mengacak puncak kepala Syifa.
"Udah.. pulang lo sana" balas Syifa seraya menyuruh laki-laki itu pergi meninggalkannya.
"Ok tuang puteri, pangeran pulang dulu. Awas jangan rindu ya?" goda Dias namun dengan tatapan serius.
"Ih.. siapa juga mau kangen sama lelaki brutal kek lo" ujar Syifa mendorong badan lelaki itu hingga menuju depan motornya namun lelaki itu hanya diam pasrah mengikuti dorongan Syifa.
Dias berjalan menaiki motornya memasang helmnya kemudian menyalakan mesin motor namun sebelum ia beneran pergi menjauhkan dirinya dari Syifa ia lalu membuka kaca helmnya.
"Gue bisa main disini lagi kan?" kata Dias tersenyum menungggu jawaban gadis itu sedang Syifa senyum mengiyakan jawaban Dias.
__ADS_1