Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Bocah Resek Vs Bocah Manja?


__ADS_3

Syifa mengangguk, "Kalo soal ini saya ikut Dias saja bu kalo dia mau iya Syifa setuju" balas Syifa.


Sedangkan Dias, sedari tadi hanya menatap kesal ke arah Syifa, iya begitulah. Sejak kejadian itu, Syifa dan Dias sudah tak pernah saling berbicara lagi, atau pun saling menegur sapa, karena Dias merasa, kini sudah tak mungkin mendekati Syifa, yang sudah tergila-gila akan Dimas saudara kembaranya.


"Nggak usah bu biar saya tinggal kelas saja daripada belajar bareng sama dia" ujar Dias menunjuk Syifa.


Ibu Helmi menggelengkan kepalanya.


"Kalian kalo ada masalah iya diomongin jangan kyak gini, pusing tahu ibu liatnya" celutuk ibu Helmi.


Syifa merasa dirinya tak ada masalah membela diri.


"Syifa nggak ada masalah kok bu sama bocah resek ini" kata Syifa ikut menunjuk kearah Dias.


"Apa? lo bilang gue bocah resek?" tanya Dias kesal.


"Iyalah emang iya lo bocah resek" jawab Syifa serius.


"Enak aja.. lo tuh si bocah manja" ledek balik Dias.


Setika ibu Helmi memukul mejanya membuat siswa itu ikut dibuat terkejut masih melototkan matanya.


"Stop.. apa-apaan ini ibu memanggil kalian kesini itu bukan untuk ini" teriak ibu Helmi berdiri.

__ADS_1


Spontan Dias dan Syifa ikut berdiri.


"Kalo kalian,, nggak mau saling baikan sekarang juga terpaksa kalian berdua akan ibu kunci disini sampai.. kalian berdua baikan" tutur ibu Helmi namun mereka berdua masih tak mengubris ucapan ibu Helmi.


"Ya sudah.. ibu pergi" ujar ibu Helmi keluar mengunci pintu dari dari luar.


Syifa yang terkejut, akan tindakan bijaknya ibu Helmi segera berlari menuju pintu namun naas pintunya tak kunjung terbuka juga yang berarti mereka beneran di kuncikan dalam ruang BK.


"Dasar.. lo ya ini semua gara-gara lo" ujar Syifa kesal.


"Enak aja lo" sewot Dias tidak terima.


Syifa mencoba menahan amarah, "Terus ini gimana? kan nanti masih ada pelajaran?" tanya Syifa panik.


"Jalan satu-satunya iya harus baikan lah" ketus Dias.


"Ye.. emang gue pernah marahan sama lo? lo aja tuh yang marah entah kenapa?" balas Syifa nyolot.


"Lo pikir.. gue nggak cemburu? liat lo hari itu" Dias to the point mengingatkan Syifa akan hari itu.


"Oh jadi lo cemburu?" elak Syifa padahal ia tahu.


"Iyalah" balas Dias singkat.

__ADS_1


Syifa seketika tertawa pecah melihat ekspresi lelaki itu telah berubah cemberut memanyungkan bibirnya.


"Lo kenapa ketawa?" tanya Dias lagi.


"Hahaha lo lucu" jawab Syifa masih ngakak.


"Udahlah.. gue males ngobrol sama lo buat hati gue sakit aja" ujar Dias membelakangi Syifa.


Sedangkan Syifa kini berhenti berbicara dan segera melangkah kearah wajah tampan lelaki itu berada.


Cuppp


Syifa mencium sekilas bibir punya lelaki itu, lelaki itu yang sadar akan tindakan gadis yang ia sukai segera menatap ke arah gadis mungil, bertubuh berisi, putih dengan lesung pipi menghiasi wajah cantiknya.


"Oh.. lo cemburu karena ini?" tanya Syifa menjinjit ke arah lelaki itu karena memiliki postur tubuhnya tinggi kekar, putih dan tentunya begitu sangat tampan.


"Aduh.. gue kok spontan gini ya?" ujar batin Syifa lalu sadar akan tindakannya barusan tapi bukannya malu ia malah merasa bahagia akan kejadian tersebut.


Dias melototkan matanya secara tiba-tiba, "Lo, apain gue woyyy?" tanya Dias memegang bibirnya, padahal sungguh hati lelaki itu sedang berbunga-bunga.


Syifa hanya tersenyum menatap mata Dias.


"Please.. jangan marah lagi?" rengek Syifa memohon dihadapan lelaki itu dengan tingkah manjanya.

__ADS_1


"Terus.. lo kan juga pernah janji sama gue,, bilangnya nggak ninggalin gue, eh tapi ini apa?" sambung Syifa lagi, namun kali ini air matanya kini tumpah ke wajah cantiknya.


__ADS_2