
Seketika wajah Sonya dan Sarah itu ikutan terbelalak mendengar ucapan siswa siswa yang telah berbicara mengenai Syifa si wanita cupu.
"Iya Nya kalo lo butuh bukti kalian pergi aja ke papan dan lihat semua foto-foto lo yang ada disina" ucap si siswa B menunjuk kearah keluar kelas.
Syifa mendengar ucapan siswa tersebut pergi berlari menuju lapangan tempat dimana biasanya ditempeli info pengumuman penting disusul Sonya Sarah yang berlari tepat dibelakang gadis yang berlari cepat itu.
Dilapangan terlihat sudah banyak para siswa kumpul termasuk Dimas dan anak Osis lainnya, Syifa sedang berjalan perlahan mendekati foto-foto yang di depan papan dan kini ada siswi menyadari kehadiran Syifa.
"Huh dasar cewek cupu kalo cupu ya cupu aja nggak usah pamer kecantikan gitu dasar.. nggak punya urat malu" ucap siswi A menatap kesal kearah Syifa.
"Paling kecantikannya oplas" sahut siswi B tertawa.
"Ataukah dapet duit karena hasil nyolong" kata siswa C ikutan mencibir Syifa dengan suara teriakannya.
Syifa berusaha sabar tak ingin membuat masalah itu hanya segera fokus kini mengambil semua foto-foto yang terpangpang nyata di papan pengumuman.
Sarah Sonya yang tidak terima akan perlakuan siswa siswi yang menjelekkan sahabatnya itu, mengangkat bicara.
__ADS_1
"Heh.. mulut lo di jaga nggak boleh bicara seenaknya gitu, lagian Syifa itu an--" ucap Sonya terpotong Syifa segera membekap mulut Sonya yang hampir bocor.
"Aduh Syif, lepasin biar mereka tahu dan berhenti irih sama kecantikan lo" ujar Sonya menatap Syifa.
"Sudahlah Nya biarin aja mereka bilang apa ini itu ini haknya mereka. Mau bilang gue jelek, cupu, misquin, itu haknya mereka" sahut Syifa tersenyum membuka mulut Sonya yang tadi terbekap olehnya.
"Oh.. lo nggak mau kalo identitas lo kebongkar sama anak-anak sekolahan kita" bisik Sarah, tapi terdengar sampai ke telinga Sonya dan di balas anggukan oleh gadis yang tadi terintimidasi oleh para siswa siswi.
Sosok lelaki yang sedari tadi menatap kerumunan itu segera berjalan, ketika melihat gadis yang terusan ia ganggu berada ditengah-tengah kerumunan siswa.
"Gu-gue lagi --" belum sampai ucapan Syifa, lelaki itu telah membawa Syifa keluar dari kerumunan siswa.
Semua siswa melihat kejadian itu begitu tercengang ketika melihat Dias membawa Syifa pergi menuju ke tempat jauh dari kerumunan karena tak percaya Dias yang sukanya cuek, namun ikut menimpali setelah ia membawa Syifa pergi dari lapangan.
Begitu pula Dimas, niatnya tadi yang ingin menolong Syifa namun terhalangi ketika Dias tiba-tiba datang.
"Ada apa dengannya? kok bisa?" bisik batin Dimas.
__ADS_1
"Woy begong aja lo bro" ucap Kevin membuat Dimas ikut terkejut.
"Yah yah, gue juga sepemikiran dengan lo" ujar David ikut memukul pundak Dimas yang masih tak percaya akan hal yang ia barusan lihat.
"Apa Dias dekat sama Syifa? kalo iya? apa kabar gue yang juga mulai menyukai Syifa?" bisik batin Dimas.
*****
Dias berhenti berjalan setelah dilapangan basket lalu ia melepas genggaman tangannya ketika merasa dia dan Syifa telah aman tak dilihat sama para siswa.
"Lo kenapa lagi?" ujar Dias menatap kearah Syifa.
Syifa melongok menatap wajah tampan Dias namun ia tak bisa menampung air matanya lagi hingga saat ini terjatuh di pipi mulusnya itu.
"Ifa lo kenapa sih?" balas Dias semakin penasaran.
"Lo, kalo nggak mau cerita sama gue iya udah nggak pa-apa" ujar Dias lagi, namun kali ini Dias meraih pipi Syifa dan menyekah butiran air mata yang tadi turun.
__ADS_1