Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Bosan Belajar Sejarah


__ADS_3

Ibu Widya berjalan berdampingan dengan Dias menuju ruang BK disusul Sonya, Sarah dan Syifa yang diam-diam menguntit mereka dari belakang karena Sonya ngotot ingin melihat kejadian berikutnya.


Syifa dkk tiba diruang BK, ibu Widya dan Dias terlihat sudah masuk kedalam ruangan yang berwarna hijau toska sedangkan ketiga gadis cantik itu hanya berdiam diri diluar ruang BK yang lebih tepatnya mereka sedang mengintip disudut jendela besar yang bisa melihat segala sesuatu yang terjadi didalam ruangan hijau toska tersebut.


Dias terlihat begitu pasrah mengikuti langkah ibu Widya dari belakang menuju kedalam ruangan ibu Helmi. Dias merasa sangat bosan dengan ruangan tersebut karena dari dulu sampai saat ini lelaki tampan itu terus-terusan keluar masuk kedalam ruang bercat hijau toska ini.


Ibu Widya membuka pintu ruangan ibu Helmi, "Dias.. masuk kamu" bentak ibu Widya kesal melirik kearah ruangan ibu Helmi sedang Dias mau tidak mau hanya mengikuti arahan ibu Widya dan setelah ibu Widya melihat Dias masuk ia pun segera meninggalkan ruang BK kembali ke kelas.


Ibu Helmi berdecak kesal, "Dias.. ada apa sih kamu ini.. apa kamu tidak ada bosan-bosannya.. keluar masuk ruang BK hah!! ibu aja sudah bosen lihat kamu menjadi penghuni tetap ruangan ini" seru ibu Helmi menatap tajam kearah lelaki tampan tersebut.


Dias menghelah napasnya, "Iya bosenlah bu.. sudah tahu jawabannya iya.. eh.. masih nanya juga.. dasar" umpat Dias santai membuang wajahnya kearah samping.


Ibu Helmi menggelengkan kepalanya, "Terus kenapa.. kenapa kamu.. terus-terusan masuk kedalam ruangan ini?" tanya ibu Helmi lagi-lagi menatap serius wajah lelaki tampan yang ada dihadapannya.


"Siapa juga sih yang mau masuk keruangan ini lagi.. orang tadi.. ibu Widya yang menamjewer paksa telinga saya hingga kesini" jawab Dias memegang telinganya yang masih terlihat memerah.


"Maksud ibu.. kenapa kamu suka melanggar aturan sekolah? apa kamu nggak sadar.. kamu itu berbeda sekali dengan kembaranmu Dimas yang selalu membuat harum nama sekolah ini harum.. sedangkan kamu? mengharumkan kelas saja belum pernah" imbuh ibu Helmi panjang lebar masih menatap siswa yang ada dihadapannya


Dias menoleh kembali kearah ibu Helmi sembari melototkan kedua matanya, "Stop bu.. nggak usah banding-bandingkan saya dengan orang itu.. apa? kembaran? mohon maaf bu.. saya sama sekali tidak memiliki kembaran dan juga saya pun tidak mengenal nama yang ibu sebutkan tadi" bentak Dias dengan nada setengah berteriak hingga ibu Helmi memilih untuk berdiam menyaksikan kemarahan lelaki tampan tersebut.

__ADS_1


"Lagian kan.. saya juga nggak melanggar peraturan.. orang saya cuman tertidur di kelas doang kok.. udah itu aja dan sama sekali tidak mengaggu para siswa lainnya dan juga setahu saya di tata tertib sekolah ini tidak ada yang bertulis 'DI LARANG TIDUR DI KELAS'' benar kan bu?" sambung Dias kembali dengan menekankan kalian terakhirnya sedang ibu Helmi menggelengkan kepalanya.


"Iya.. ibu tahu Dias, tapi ... " belum sampai penuturan kalimat dari ibu Helmi lagi-lagi Dias memotongnya.


"Udahlah bu.. cukup.. kalo masalah ngebandingkan orang itu lagi.. saya juga mempunyai alasan sendiri.. ibu.. sebagai guru konseling di sekolah ini harusnya tahu dong kalo setiap siswa berbeda-beda.. bahkan semua orang memiliki kekurangan bu.. dan enggak sempurna tidak seperti dia itu" bantah Dias lagi.


Ibu Widya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "Ngomong sama kalian berdua membuat kepala ibu pusing" ucap ibu Helmi ikut kesal menatap siswa lelaki yang ada didepan matanya.


"Kalian? masuk ibu siapa?" tanya Dias ikut bingung.


Ibu Helmi mendengus kasar, "Iya.. siapa lagi.. kalo bukan kembaranmu Dimas!! dia juga tadi masuk kesini mengomeli ibu seperti halnya kamu sekarang" tutur ibu Helmi kesal memandang Dias sedang lelaki tersebut melototkan kedua matanya.


"Udahlah bu.. lagian.. saya juga pusing sekaligus bosen dengerin ocehan ibu tiap hari yang nggak guna itu" sambung Dias santui namun ibu Helmi hanya melototkan kedua matanya sembari memberikan hadiah cubitan dilengan kanan Dias.


"Nih.. ambil dan berikan itu kepada pak Prata, ayahmu.. awas.. kalo tidak sampai lagi" ucap Ibu Helmi memberikan surat yang sudah sering diterima oleh lelaki tampan itu ketika ia masuk keruang BK, yakni surat peringatan dari sekolah.


Dias mengagguk, "Iya udah.. saya pamit mengundurkan diri dulu ya ibu!! sampai ketemu besok" pamit Dias pamit meninggalkan BK sedang ibu Helmi menatap kepergian lelaki itu dengan gelengan kepalanya.


*****

__ADS_1


Syifa dkk kembali dari ruang BK dengan harapan hampah setelah ketahuan mengintip oleh ibu Widya saat keluar dari ruang BK hingga membuat ketiga gadis cantik itu tidak sempat menguping apapun yang terjadi kepada lelaki tersebut.


Bosan? hanya kata itu yang pantas mewakili si pemilik wajah cantik tersebut yang setiap kali belajar sejarah hanya membuatnya ingin tertidur karena menurutnya tidak ada gunanya mengingat-ingat akan masa lalu yang kelam harusnya dilupakan saja.


Syifa berdiri mengangkat tangannya, "Ibu.. saya Syifa.. mau izin ke toilet" ucap Syifa tersenyum sembari melangkah kearah ibu Widya sedang ibu Widya mengagguk tanda mengiyakannya untuk pergi.


"Iya pergilah" jawab ibu Widya menatap gadis cantik tersebut yang masih berdiri menjelaskan mengenai materi manusia purba.


Syifa yang mendapatkan izin dari ibu Widya segera melangkahkan kakinya untuk keluar kelas namun gadis cantik itu bukannya pergi ke toilet ia malah naik keatas gedung menuju loteng kelasnya.


Setibanya diatas loteng, gadis cantik tersebut melebarkan kedua tangannya kesamping lalu menghelah napas panjangnya sembari mendongakkan kepalanya menatap langit yang terlihat mendung hari ini.


Suasana tersebut membuat gadis cantik itu melakukannya berulang-ulang kali hingga dirinya pun merasa puas akan sentuhan alami yang ia rasakan disana.


"Huffft.. bosen di kelas mulu.. bukannya belajar matematika masa depan.. eh.. ini malah disuruh mikir masa lalu yang nggak jelas.. apa lagi tentang manusia purba lagi.. kan jadinya bosen" sahut Syifa dengan nada ketus.


Gadis cantik itu pun melangkahkan kakinya menuju pinggiran gedung tersebut karena ingin melihat semua pemandangan sekolahnya dengan keberadaannya saat ini diatas loteng kelasnya yang terdiri dari enam lantai itu namun belum sampai langkahan kakinya kepinggiran gedung itu ia pun terkejut saat mendengar suara aneh bagaikan suara seseorang yang lagi tertidur pulas sembari mendengkur tidak terlihat ada orang disana kecuali dirinya sendiri.


Dengan penuh keberanian gadis cantik itu mencari letak keberadaan dengkuran orang itu hingga beralih melangkahkan kakinya menuju ke samping sebuah tembok yang ada disana.

__ADS_1


"Siapa?" teriak Syifa berjalan pelan mencari sumber suara orang yang mendengkur itu hingga ke samping tembok yang terlihat ada disana.


__ADS_2