Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Dias Sosweet


__ADS_3

Dias hanya mengangguk.


"Nanti juga bakal ada yang lewat" balas Dias santai, "Tapi" lanjut Dias lagi.


"Tapi apa? perjelas dong" cetus Syifa akibat panik.


"Gue kan sudah bilang kalo tempat ini angker. Mana ada yang mau lewat sini" balas Dias menakut-nakuti.


Tiba-tiba lampu hidup-mati.


"Dias" panggil Syifa ketakutan menghampiri Dias.


"Ifa, jangan takut" balas Dias memeluk Syifa.


"Nggak usah pake modus" tukas Syifa.


Dias menyengir menatap Syifa.


"Iya iya, duduk yuk" seru Dias, mereka pun duduk di salah satu bangku. tapi tiba-tiba, "Aww" teriak Syifa dengan nada begitu kerasnya.


"Kenapa lo, ngagetin gue aja" tanya Dias terkejut.


Syifa berdiri dan melihat roknya yang sudah begitu basah terkena air lumpur.


"Ini" kata Syifa memperlihatkan roknya yang sudah basah.


"Apaan tuh? kok item?" balas Dias bingung.


"Nggak tahu mungkin lumpur, ihh bau lagi" ujar Syifa.


"Ihh.. jorok lo" sindir Dias membuat Syifa malu.


Beberapa saat kemudian Dias berkutat mencoba lagi membuka pintu, Syifa menatap bosan mengeluarkan ponselnya.


"Halo" Sapa Syifa menelpon seseorang.


"Syif? lo kenapa nggak masuk?" tanya Sonya.


"Gue kekunci di lab sama Dias" jawab Syifa.

__ADS_1


"Hah? kok bisa? balas Sonya penasaran.


"Ceritanya nanti aja, nanti gue jelasin" kata Syifa.


"Okey, gue kasih tahu guru dulu ya" kata Sonya.


Syifa segera mengakhiri panggilannya beberapa saat setelahnya, kemudian terdengar suara orang didepan ruangan lab lalu pintu terbuka.


Pak Jayus, penjaga sekolah tampak di ambang pintu "Kok bapak bisa tahu kalau kami disini?" tanya Dias.


"Tadi.. ada siswa yang ngasih tahu bapak" jawab pak Jayus.


"Oh, makasih pak" balas Dias, sementara pak Jayus sudah pergi setelah Syifa dan Dias keluar lab.


Dias semakin dibuat penasaran.


"Siapa yang ngasih tahu ya?" tanya Dias.


"Sonya, sepupu lo. Gue yang suruh" jawab Syifa.


"Kok bisa?" tanya Dias lagi.


"Hah? yang bener?" sahut Dias serius.


Syifa mengelah napas kasarnya.


"Aduh lo itu, **** atau apa sih?" tanya Syifa balik.


"Yeh.. gue cerdas kali" jawab Dias memuji diri.


"Lalu?" ujar Syifa singkat.


"Lalu.. lalu apanya?" tanya Dias bingung.


"Bicara sama lo buat gue marah" ujar Syifa kesal.


"Makanya next, biar cepet" balas Dias penasaran.


Syifa seketika mengambil napas panjang dan segera menghembuskan dengan kasarnya.

__ADS_1


"Aduh lo itu ya, gue telponlah" ketus Syifa.


"Kok lo nggak bilang sih?" tanya Dias lagi.


"Lo nggak nanya" jawab Syila tertawa.


"Ah, kalo lo kasih tahu gue, kan gue nggak perlu buka pintu gedor-gedor kayak orang gila" kata Dias kesal.


"Kan lo emang gila" ledek Syifa.


Seketika Dias melangkah pergi meninggalkan Syifa.


"Eh, kok lo pergi? ngambek?" ujar Syifa berada persis disamping Dias.


"Apa lagi?" tanya Dias kesal.


"Mau pulang" kata Syifa merengek.


"Iya udah pulang aje sono" ucap Dias.


"Dias" teriak Syifa, "Tapi gue malu" lanjutnya lagi.


"Kenapa malu?" tanya Dias.


"Kan it --"


"Oh itu" Dias memotong ucapan Syifa lalu membuka kancing baju sekolahnya.


"Mau ngapain lo?" tanya Syifa menghindar.


"Buka baju" jawab Dias santai.


"L-lo mau ngapain gue?" pekik Syifa gugup.


Dias mendekati Syifa lalu menaruh jarinya di bibir Syifa hingga membuatnya tidak bisa berkutik lagi.


Syifa menatapnya ngeri.


"Gue cuma mau ngasih baju gue buat nutupin rok lo" ujar Dias lembut.

__ADS_1


__ADS_2