
Sekarang tinggalah Dias sendirian menemani Syifa.
"Anak ini kalo dilihat dari dekat cantik juga" ujar Dias, "Tapi sayang, judes banget ke nenek lampir dia" balik Dias lagi.
Beberapa saat setelahnya, Syifa perlahan sadar dan membuka matanya. Ia terkejut setelah melihat yang menemani dirinya adalah cowok rese tersebut.
"Eh.. lo sudah sadar? kata Dias, "Gimana? keadaan lo dah enakan?" ujar Dias lagi memastikan.
"Lo lagi, lo lagi, bosen gue liatin muka monyet lo tiap hari" jawab Syifa.
Dias mulai kesal.
"Apa? lo bilang wajah gue apa barusan?" balas Dias.
"Wajah lo mirip monyet budek, idih.. selain lo rese lo rupanya budek juga ya?" tanya Syifa.
"Lo.. bener-bener buat gue kecewa. Bukannya bilang terima kasih, eh.. ini malah ngejatuhin gue" ujar Dias.
"Yang suruh lo bantu gue siapa? gue? iih, najis bener" celutuk Syifa.
Dias mencoba menahan amarahnya setelah melihat sebungkus nasi bungkus dan sebiji obat diatas meja.
"Ini makanlah, ntar lo pingsan lagi gara-gara perut lo yang nggak ada isinya dan satu hal juga lo berat" ujar Dias.
"Enak aja.. lo ngatain gue gendut? iya?" bentak Syifa.
Seketika Dias menyuapi makan ke mulut Syifa yang lagi mangap.
__ADS_1
"Ini makan.. nggak usah banyak bacot" balas Dias.
Syifa terkejut namun tak bisa menolak lagi, ia segera mengunya makanan yang ada di dalam mulutnya itu, karena memang ia tidak makan malam semalam.
"Nah gini dong, nggak usah manja" ujar Dias lagi-lagi menyuapkan makan namun Syifa menolaknya.
"Udah.. sini, biar gue aja. Gue bukan anak manja kali" kata Syifa mengambil sendok di tangan Dias namun tak sengaja memegang tangan Dias.
Dias yang sadar akan hal itu kemudian membuatnya salah tingkah karena tangannya di pengang Syifa.
"Kok gue jadi deg-degan gini ya?" batin Dias.
Syifa sedari tadi memegang sendok itu tidak merasa hal serupa seperti halnya Dias.
"Beriin nggak" teriak Syifa lagi.
"Biarin" jawab Syifa.
Syifa kini melanjutkan makannya sesekali menatap wajah Dias dengan berbagai macam pertanyaan.
"Lo bener kembaran Dimas?" ujar Syifa penasaran.
"Iye, emang kenape?" ketus Dias.
"Iya.. nggak, gue cuma heran, kenapa lo sama Dimas sangat berbeda jauh. Lo orangnya rese, Dimas nggak terus lo bodoh, Dimas pinter" balas Syifa meledek.
"Idih.. gue pinter kali cuma gue nggak mau sombong ke orang lain nggak kek dia sombong" jawab Dias.
__ADS_1
"Masa?" tanya Syifa tertawa.
Mereka berdua pun saling menatap, membuat kedua mata tersebut saling bertemu. Dan lagi-lagi Dias pun merasa akan hal itu.
"Nape lo? lihatin gue gitu amat? gue tahu gue emang cantik" ujar Syifa.
"Idih, pede amet lo. Mana ada lo cantik cantikan juga nenek gue daripada lo" jawab Dias tertawa.
"Emang lo punya nenek?" tanya Syifa serius.
"Iyalah, emang lo nggak punya?" balas Dias.
Seketika raut wajah Syifa berubah menjadi sedih.
"Iya nenek gue sudah meninggal jadi sisa kakek" ujar Syifa.
"Oh maaf gue nggak tahu itu terus nyokap bokap lo?" tanya Dias lagi.
"Ada kok, gue juga punya abang lebih tampan dari lo" kata Syifa memberitahu.
"Masa? lalu gantengan mana gue atau Dimas?" tanya Dias lagi namun Syifa seketika menatap serius Dias.
Syifa tertawa.
"Iya.. gantengan Dimas dimana-mana lah, dah pinter, ketua Osis lagi" sidir Syifa.
Dias mendengus, lalu mengacak-acak rambut Syifa.
__ADS_1
"Idih.. dasar lo ya, wajah gue yang mirip Kang Daniel. Masa dikalah sama kang odong-odong" ujar Dias.